
Ditatap dengan tajam seakan ingin menghabisi nyawa, akhirnya ia mengalihkan pembicaraan mereka.
"Kita skip ajah! sekarang tunjukkan pada kami cara kerja mesin minuman punyamu!" ia berhasil kembali ke topik pembicaraan sebelumnya.
Ervin menunjukkan pada mereka kalau mesin itu hanya bisa mendengar perintahnya.
"Kalian liat dan perhatikan baik-baik!" Ia berucap bangga.
"Ervin mau taro milk tea," ucapnya di atas tombol bagian kanan.
Mesin mengeluarkan sekaleng minuman dengan rasa yang Ervin pesan.
"Wah, keren nih aku juga mau punya mesin itu. Harganya berapa?" tanya salah satu dari mereka.
"Kalian kemari mau berisik, mau main apa mau apaan?" Nissa keluar dari sebuah kamar.
"Kak Nissa...maaf," mereka berkata bersamaan.
"Kalau mau berisik sana pergi ke Taman! Zeta sama eyang mau beristirahat," ia jengkel dengan ulah adiknya beserta teman-temannya.
"Ayo kita keluar saja!" ajak Ervin.
Mereka melangkah ke taman dan mulai mengobrol banyak.
***
Di suatu pulau ada seorang pria dan wanita tua yang berbincang dengan akrabnya. Si wanita tua duduk di sebelah kanan pria itu. Sepertinya mereka sepasang suami istri penghuni pulau terpencil di sana.
"Pak, anak kita kenapa belum pulang juga ya?" tanya si istri.
"Mungkin karena kesibukan dalam pekerjaan makanya mereka belum pulang Bu, mereka juga pasti merindukan kita," pria tua tersenyum pada istrinya.
"Padahal aku kangen sekali pada mereka Pak, apalagi dengan cucu-cucu kita," mereka berpegangan tangan seakan saling menguatkan dalam kondisi seperti itu.
"Kalau begitu kita pergi mengunjungi mereka ya Pak?!" namun si suami diam tak bergeming tak menyahut perkataan istrinya.
"Kenapa diam saja Pak?" tanya istri.
"Aku tidak bisa pergi Bu, aku sudah berada di pulau ini dan tidak boleh meninggalkan pulau ini," suaminya menundukkan wajahnya.
"Kenapa Pak? bukankah kamu rindu dengan mereka semua?" tanya istri.
"Iya, aku rindu berat pada mereka, tapi cukup jiwa ini saja yang merindukannya, ragaku sudah tidak bisa bangkit dan tidak bisa kemana-mana," alasannya membuat istrinya terkejut.
"Maksud Bapak apa? aku sungguh tak mengerti ucapan Bapak," ia mengernyit heran.
"Bukan apa-apa Bu, kalau Ibu sudah bertemu mereka tolong sampaikan salam hangat dan sayang dariku, maaf aku tidak bisa menemui mereka lagi. Aku akan selalu merindukan kalian," ia mencium kening keriput istrinya dan memeluk istrinya erat.
"Bapak aneh sekali," lirihnya yang masih berpelukan.
Tiiiiin.
__ADS_1
Suara klakson kapal yang nyaring dan menggema mengagetkan keduanya. Secara bersamaan mereka menatap kapal besar yang ada di sana. Ternyata mereka berdua berada di sebuah pelabuhan dan duduk di tempat tunggu untuk melakukan perjalanan panjang.
"Ibu, pergilah seorang diri! Bapak akan menunggu Ibu dan anak-anak serta cucu kita. Sampaikan salam dari Bapak pada mereka," sekali lagi pria tua itu mendekap istrinya sebelum istrinya menaiki kapal.
Istrinya berjalan tertatih dan menaiki anak tangga di kapal besar itu. Suaminya melambaikan tangannya dengan tersenyum lebar.
"HATI-HATI DI SANA NAK!" teriaknya kencang.
Tiba-tiba saja wanita tua itu berlinangan air mata dan berubah pikiran serta menolak saran dari suaminya. Ia bermaksud untuk kembali menemui suaminya, jalannya tertatih dan tanpa sengaja kakinya terbebat sebuah tali kapal yang tergeletak sembarangan, tubuh rentanya terjatuh.
Orang-orang di sekelilingnya seakan tak peduli dengan wanita tua itu. Air mata bercucuran membasahi pipinya yang sudah keriput. Ia memanggil nama si suami.
"Sugeng, kenapa kamu harus sendirian di sana?" ia menangis sesenggukan.
Tiba-tiba saja ia memicingkan mata untuk memandang sekeliling. Sebuah kamar besar, ada infus terpasang dan ada cucu kesayangannya yang sedang memperhatikan sesuatu. Nafasnya tersengal seperti sudah berlari jauh.
"Nisa...Nisa," panggilannya lirih dan mulai mengatur nafasnya.
"Ndalem Eyang," Nisa langsung menghampiri.
"Aku bermimpi Eyang kamu, dimana dia sekarang?" ucapannya sungguh melemah.
"Emm, Eyang itu sebenarnya... Eyang masih di rumah sakit," terpaksa Nissa berbohong.
"Aku bermimpi dia berada di sebuah pulau yang indah," ia mengingat kembali mimpinya.
"Eyang gak usah cemas, sebentar lagi Eyang uti akan sembuh dan bisa menjenguk eyang kung," Nissa menggapai tangan neneknya.
Maafkan aku Eyang yang telah berbohong padamu. Aku tidak tega membiarkan Eyang tahu kenyataan pahit ini.
"Eyang harus bertekad untuk sembuh ya! kami ada di sini menyemangati Eyang lho," Nisa berusaha untuk tersenyum.
***
Seminggu telah berlalu, Malik dan Elisa sudah sembuh seperti sedia kala walaupun harus secara berkala pergi untuk check up. Sumiyati yang sudah renta dan kondisinya yang lemah mengharuskannya duduk di kursi roda walaupun sesekali ia berjalan untuk melemaskan otot kakinya. Zeta kini telah hidup bersama di rumah Malik, di rumah itu Sumiyati dapat melihat semua cucunya walaupun kejadian itu merenggut nyawa suaminya. Ia sudah ikhlas dan tabah menghadapi segalanya.
"Eyang, Mimi datang nih!" Ervin menyalami tangan eyangnya yang keriput.
"Wah, Jasmine sudah besar dan cantik ya," ia menyambut uluran tangan Jasmine.
"Makasih Eyang," senyum Jasmine merekah.
"Kalian satu sekolahan ya?" tanya wanita tua itu.
"Iya Eyang, makanya kami sering bertemu dan bermain bersama," Ervin melepaskan tas sekolahnya.
"Eyang, kita pamit dulu ya. Kami mau ke taman samping," Ervin menarik tangan Mimi.
"Gak usah di tarik juga tau Vin, lumayan sakit lho," keluh Mimi.
"Sorry beb," ia terkekeh geli ketika memanggil beb pada Mimi.
__ADS_1
"Gak masalah," Jasmine tersenyum malu.
"Ngapain sih kamu ngajak aku kemari? untung saja Daddy gak bisa jemput," Mimi duduk di sebuah ayunan.
Ervin mendorong ayunan Mimi dan duduk di sebelahnya dengan cepat.
"Aku ingin menghubungi teman genk dulu," ia merogoh kantong.
"Hey kunyuk... kenapa langsung pulang? mau kemana sih buru-buru amat," kesal temannya ketika melihat tampang Ervin yang menyebalkan.
"Aku lagi duduk berduaan sama cewek cantik nih," ia memperlihatkan wajah Jasmine.
"Astaga, kalian kencan di taman ya. Kurang ajar kau kunyuk, pacaran mulu dan jarang main dengan kami," suara temannya yang lain mengumpatnya.
Ervin hanya terkekeh mendengar ucapan mereka, dan Jasmine yang berada di sampingnya hanya tersenyum kecil.
"Jasmine, kamu jangan mau pacaran dengan Ervin. Dia itu pacaran dengan kamu karena dia ingin menang taruhan," kesal salah satu temannya.
"Apa?" Jasmine melongo tak percaya.
Ervin langsung mematikan panggilannya.
"Ervin, apakah yang temanmu bilang itu benar?" Jasmine tersulut emosi.
"Easy Mi, bukannya kamu duluan yang memintaku untuk menjadi pacar boongan kamu? dan kebetulan teman-temanku bertaruh siapa yang duluan menjadi pacarmu maka dialah pemenangnya. Keberuntungan berpihak padaku kan?" ia menjelaskan.
"Tapi kenapa aku yang menjadi bahan taruhan kalian? aku gak suka itu dan kita putus sekarang juga!" Jasmine beranjak dari ayunan.
"Kita juga hanya pacaran boongan jadi jangan berlagak jadi pacar aku pake bilang putus segala," ia mencibir Mimi.
"Kamu..." gadis muda itu tak melanjutkan ucapannya, ia segera berlari keluar rumah Ervin.
"Ah, dasar cewek sensitif udah kaya test pack ajah," ia menggerutu sambil melihat Mimi keluar pagar rumahnya.
"Vin, itu Mimi kenapa? dia belum dijemput kenapa udah pergi duluan?" pekik Nissa yang melihat Jasmine berlari.
"Biarkan saja kak, gak usah pedulikan dia lagi," Ervin masuk ke dalam rumah dan bermain Game hologram.
Duagh, bruaaakk.
Ciiiiiiiitt.
Suara hantaman keras membuat perhatian Nisa teralihkan. Ia mengintip keluar rumah dan berpikir cepat.
"Tidak mungkin....
*
*
*Bersambung
__ADS_1