
"Ingat apa kamu Vin?" Frank mengernyit.
"Saya ingat Clara pernah bilang, ketika Delima pergi ke toilet atau beranjak dari tempatnya ada seseorang yang mengganti posisi Delima. Coba selidiki lagi besok dan tanyakan pada beberapa orang karyawan wanita," jelas Ervin.
"Bisa jadi pertimbangan. Besok aku akan kembali ke kantor polisi bersama tuan D. Kamu jaga nona dengan baik! Aku akan pulang sekarang, sudah malam," Frank pamit. Dia beranjak dari tempat duduknya.
Langkahnya dipercepat karena segera ingin lekas sampai rumah.
Ervin membuka pintu pelan, dia mengintip di balik pintu dan melihat kekasihnya sudah terlelap.
Dia berjinjit agar suara tapak kakinya tak terdengar.
Pria itu kemudian duduk pada sofa single dan bersandar. Sejenak matanya terpejam, tubuhnya terasa kaku karena menggendong Clara sambil berlari.
Matanya awas menatap kekasihnya, kemudian setelah dirasa aman barulah dirinya memejamkan mata dan mencoba untuk beristirahat.
*Rumah Evans
Jasmine masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam. Dia mencoba untuk menenangkan diri dan menghapus bekas air mata. Hatinya terasa berat ketika melihat Ervin memegang tangan Clara, bahkan pria itu hendak mengecup kening wanita itu.
"Kenapa, kenapa sampai sekarang aku belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan ini?" Jasmine tergugu.
Beberapa saat kemudian, suara ketukan pintu terdengar. Namun dirinya tidak peduli, Jasmine berbaring dan memakai selimut sampai menutupi kepalanya. Dia tidak mau siapapun tahu tentang ini semua. Dia harus menyembunyikan perasaannya pada Ervin di hadapan anggota keluarga.
"Mimi? Kamu udah tidur nak?" Fatma berusaha mencari tahu tentang anaknya.
Tak ada sahutan, Fatma menggerutu dan meninggalkan pintu kamar anaknya.
"Gimana? Ada sahutan?" Evans bertanya setelah istrinya berada di kamar.
"Nggak ada sahutan apapun. Entahlah, mungkin dia sudah tidur atau memang males bertemu denganku," kesal Fatma.
"Lha, emak sama anak kenapa kelakuannya sama? Sama-sama doyan ngambek," ejek Evans.
Fatma meraih bantal dan melemparnya ke kepala Evans.
"Nggak kena weekk!" Goda Evans semakin gencar.
Fatma menubruk badan suaminya di ranjang. Dia mencubit pinggang suaminya gemas.
"Udah tua masih ngambek," ledek suaminya.
"Aku bukannya ngambek lho mas, ada yang salah dengan sikap anak kita. Apalagi waktu Ervin berdua dengan Clara. Apa jangan-jangan anak itu--," Fatma menggantung ucapannya.
"Suka sama Ervin maksud kamu? Ah, nggak mungkin. Mereka itu dari kecil sukanya berantem, mana mungkin Mimi suka sama Ervin," bantah Evans.
"Semoga aja perkiraan aku salah mas, aku tahu rasanya ketika orang yang kita suka dan cinta tak ada perasaan apapun pada kita," Fatma menghela napas.
"Ingat Malik lagi," Evans memutar bola mata, dia malas menanggapi istrinya.
"Ih, bukannya gitu. Kasian Mimi kalau sampai dia bertepuk sebelah tangan," Fatma memeluk suaminya dari belakang.
"Sudah malam, sebaiknya tidur! Besok kita panggil Mimi dan bicarakan lebih lanjut tentang perasaannya," seru suaminya.
Lampu kamar dimatikan, hanya ada lampu bercahaya redup yang menemani tidur sepasang suami istri itu.
__ADS_1
***
Pagi hari di sebuah rumah sakit.
Clara merasa haus, matanya terbuka perlahan. Dia melihat sinar mentari yang menelusup masuk melewati jendela kaca yang tertutup tirai. Perlahan tapi pasti, dia bangkit dari brankar dan berdiri.
Kakinya berjalan menghampiri Ervin yang masih tidur di sofa.
"Wajahnya manis kalau sedang tidur," gumamnya sembari tersenyum lebar.
Wanita itu mencari botol minuman, dia duduk di brankar dan meminum air putih tersebut. Langkahnya pelan menuju kamar mandi, dirinya tidak ingin membangunkan sang kekasih hati yang masih terlelap.
Getaran alarm ponselnya terasa. Pria itu memicingkan mata dan meluruskan kakinya yang terasa kebas.
Wajah mengantuk masih sangat jelas terpampang.
"Kamu udah bangun?" Clara menyapa ketika keluar dari kamar mandi. Dia sudah berganti pakaian yang dibawa Frank.
Ervin hanya mengangguk, dia menunjuk ponselnya.
"Alarm nih yang bangunin," ucapnya.
"Pulang sekarang ya!" Ajak Clara tak sabar.
"Tapi kamu tidak boleh ke kantor sampai acara temu kedua orang tua kita!" Pria itu menatap tajam manik mata kekasihnya.
Clara menghela napas, dia terpaksa menyetujui permintaan kekasihnya.
"Baiklah, aku akan di rumah saja dan ikut kemanapun kamu pergi," jawab Clara akhirnya.
"Ih, baru saja sisiran di kamar mandi, udah diacak lagi," sungut Clara sebal.
"Nanti aku sisirin, aku mau cuci muka dulu. Kita pergi ke rumahku dan mengambil mobilku di sana," Ervin melangkah ke kamar mandi.
"Langsung ke rumahku aja! Toh mobil lain masih ada selain yang terbakar itu," sahut wanita itu.
Clara masih bersungut-sungut sembari merapikan rambutnya.
"Nggak usah! Biar kita pulang ke rumahku, sekalian sarapan di sana!" Sahut Ervin dari dalam kamar mandi.
Tak lama, Ervin keluar, dia merangkul kekasihnya dan keluar dari sana.
"Kita pulang sekarang!" Ervin menggandeng lengan Clara. Wanita itu menurut, dia melangkah di samping Ervin.
"Lho, administrasinya gimana?" Clara baru teringat.
"Papa udah bayar semalem, santai ajah!" Mereka kembali berjalan.
Mereka menggunakan taksi yang sudah tersedia di parkiran rumah sakit. Taksi meluncur cepat karena jalanan dipagi hari masih sedikit. Tak ada kesibukan berarti karena bagi pelajar waktunya libur panjang.
"Makasih ya pak!" Ervin membuka pintu untuk kekasihnya.
"Mayan, dikirim via e-wallet," Sopir taksi tersenyum lebar.
Taksi menjauh pergi, bapak sekuriti yang kenal dengan majikannya langsung menekan tombol untuk membuka pagar.
__ADS_1
"Selamat pagi Den Ervin," Sekuriti tersebut menyapa ramah.
"Mas ajah pak! Nggak usah pake aden segala," gerutunya.
Keduanya masuk disambut dengan pelukan hangat oleh orang tua Ervin.
"Udah dong mam, aku laper nih. Langsung makan ajah ya!" Pria itu menarik lengan kekasihnya.
"Kamu nggak mandi dulu yang? Kamu kan belum ganti baju!" Clara menatap Ervin dari atas sampai bawah.
"Aku udah laper, nanti ajah mandinya," Pria itu menyengir lebar.
"Ih, jorok," gerutu Clara.
"Biarin, asalkan udah ada yang punya," kekehnya.
"Mau makan nggak?" Elisa memanggil keduanya.
Pagi ini mereka sarapan bersama. Selesai sarapan barulah Ervin masuk ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Tak lama, pria itu bergabung bersama Clara dan orang tuanya di taman samping rumah sambil bersenda gurau.
Hari sudah hampir siang, Ervin pamit pada mereka karena harus bertemu dengan mata-mata yang diutusnya. Pria itu menawarkan Clara mau memakai mobil yang mana.
"Yang itu ajah deh, kalau jalan sore bisa dibuka," cengirnya.
Ervin mengiyakan, pria itu mengambil kunci mobil dalam tas selempang yang dikenakan. Mereka masuk dan mobil pun meluncur dengan lancar.
Hampir satu jam berlalu, mereka turun dari mobil ketika sudah berada di restoran Six Food sesuai perjanjian.
"Wah, ternyata kalian yang menunggu kami," Ervin tersenyum pada dua orang pria yang berpakaian rapi seperti orang-orang kantoran.
Clara dan Ervin menghenyakkan pantatnya pada kursi. Kedua pria tersebut mulai menunjukkan hasil pengintaian selama beberapa hari ini.
"Sebenarnya kejadian yang epic ada di dalam sini bos!" Tunjuk pria itu pada Ervin.
Clara dan Ervin berpandangan sejenak.
"Apa itu?" Ervin mengernyit.
"Ini sebuah drama epic di tahun ini bos," Pria itu mengambil tas yang ada laptop di dalamnya.
Hard disk itu dicolokkan ke sambungan laptop.
Ada adegan seperti sepasang kekasih yang tengah kasmaran.
"Sayang, benarkah itu?" Clara menutup mulutnya.
Dia setengah tak percaya pada apa yang dilihatnya.
Wanita itu tak menyangka, dia menoleh pada kekasihnya. Mereka berdua menggelengkan kepalanya.
*
*
*Bersambung
__ADS_1