Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 73 Kisah Pilu Clara


__ADS_3

"Vino, kupikir kamu ..." Wanita itu tak melanjutkan ucapannya.


Dia melihat Ervin yang tengah menggenggam tangan Clara yang sedang tertidur atau lebih tepatnya masih belum sadarkan diri.


"Ngapain kamu kemari? Berisik lagi," ketus Pria itu.


Jasmine terburu-buru keluar dari sana tanpa berbicara sepatah kata pun lagi. Dia berlari di lorong RS dan keluar dari rumah sakit. Fatma dan Evans yang memanggil anaknya tak dihiraukan. Wanita itu masih saja berlari dan masuk ke mobil.


"Lho, kenapa malah kemari non?" Tanya pak sopir.


Pak sopir yang hendak berjalan menjauh dari parkiran menyapa majikannya.


"Kita pulang sekarang pak!" Ajak Jasmine terburu-buru.


"Tapi nyonya dan tuan masih ada di dalam," kernyit pak sopir.


"Jalan sekarang! Pulang sekarang juga!" Jasmine mengeratkan giginya.


"Ba-baiklah non," Sopir menuruti kemauan majikannya.


"Udah capek-capek kemari ternyata wanita itu yang kenapa-napa, bukan Vino. Tau gitu males banget deh kemari," batin Mimi menggerutu.


Mobil membawa Jasmine kembali ke rumah. Sementara tuan D menyuruh Frank untuk menjenguk anaknya karena dirinya masih berada di kantor polisi.


Frank sudah berada di lobi rumah sakit. Pria itu bertanya pada beberapa suster jaga tentang Clara.


Langkahnya terburu-buru agar segera sampai di kamar anak majikannya.


"Lho, kenapa banyak orang di depan kamar itu?" Frank mengernyit, langkahnya terhenti sejenak.


Ada seorang pria yang keluar dari kamar tersebut. Pria itu menyalami tangan mereka bergantian.


"Ternyata keluarga si Ervin," gumamnya seorang diri.


"Pak Frank!" Panggil Ervin ketika menoleh ke arahnya.


Lorong rumah sakit kala itu tak banyak orang yang berlalu lalang. Mereka dengan leluasa duduk di kursi yang tersedia.


"Mau kemana Vin?" Pandangan beberapa orang yang berada di sana menoleh pada pandangan Ervin.


"Siapa dia?" Tanya Malik.


"Pak Frank itu tangan kanan Tuan D, Pa," jawab Ervin santai.


"Tuan D? Siapa dia?" Malik bertanya lagi.


"Ayahnya Clara, namanya tuan D, ibunya Diana," jawab Ervin.


"Owh begitu, papa tetap tidak kenal nama itu," Malik mengendikkan bahu.


"Lampung itu luas mas, aku ajah yang lahir dan besar di sana tidak tahu nama itu," sahur Elisa.


"Nanti pas ke rumah Clara sekaligus nyari hari baik untuk pertunangan kita ajah barulah papa dan mama kenalan sama tuan D," Ervin menyengir lebar.


"Udah nggak sabar ya Vin?" Evans angkat bicara.

__ADS_1


Pembicaraan mereka terhenti karena Frank sudah mendekat.


"Kenalin pak, mereka berdua orang tua kandung saya. Sementara mereka om dan tante tapi sudah seperti orang tua sendiri," Ervin tersenyum lebar.


Setelah berkenalan satu persatu, Frank menanyakan keadaan Clara.


"Clara baik-baik saja. Kata dokter, dia menunjukkan respon terhadap trauma masalalu. Makanya dia shock dan pingsan. Kini dia sudah tenang dan tertidur karena efek obat penenang," Ervin berkata mantap.


"Syukurlah, aku pikir kalian sudah ... mengingat kondisi mobil yang terbakar," Frank menghela napas panjang.


"Kami keluar sebelum mobil terbakar pak. Untunglah Clara berteriak ketika melihat percikan api," jelasnya.


"Aku harus menceritakan semuanya pada tuan," Frank undur diri.


"Wajahnya sangar Vin," bisik Elisa pada anaknya.


"Tapi orangnya baik kok mam, ya walaupun dulu aku pernah dikerjain," gerutu anaknya.


"Hah ... dikerjain apa maksudnya?" Elisa mengernyit.


"Nggak usah dibahas mam!" Ervin kembali ke dalam kamar.


"Tuh anak masih seenaknya," Elisa berkacak pinggang.


Suaminya menenangkan dirinya dan mengajak si istri agar duduk kembali.


Evans dan Fatma pamit pada mereka berdua. Dia tidak ingin membiarkan Jasmine berdua bersama adiknya. Walaupun ada bibi di rumah.


"Mas, apa kita pulang ajah ya? Lagian Ervin nggak kenapa-napa. Kita juga harus menyiapkan oleh-oleh untuk keluarga Clara, tiga hari lagi kita akan ke sana," Istrinya mengajak.


Ervin mengangguk mengiyakan. Pria itu kembali fokus pada kekasih hatinya.


"Ehm," mulut kekasihnya bersuara.


Wanita itu mulai bergeser dan bergerak. Tiba-tiba dia memicingkan mata agar cahaya yang masuk tidak membuatnya silau.


"Clara? Kamu udah bangun?" Tanya Ervin tak percaya.


Wanita itu tersentak dan bangkit dari tidurnya. Dia duduk bersandar pada bantal yang ada di brankar.


"Mommy, mommy kecelakaan," ucapnya sambil menutup mata.


"Kamu kenapa sayang?" Ervin mengelus rambut kekasihnya.


"Mommy ... mommy terbakar, mobilnya terbakar," ucapnya panik hendak turun dari brankar.


"Clara! Jangan mulai lagi!" Bentak Ervin akhirnya.


"Huhuhu," Wanita tersebut mulai terisak.


"Jelaskan apa yang terjadi!" Pria itu berpindah tempat duduk. Kini dia ada di sebelah kekasihnya dan merengkuh kepalanya dalam dekapan.


"Kamu tenang saja! Mommy kamu sudah tenang di surga," Ervin masih mengelus rambut kekasihnya.


"Mommy, aku melihatnya terbakar," sontak Clara mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Air mata mengalir tanpa henti.


"Kenapa bisa? Bukankah kamu bilang mommy Diana meninggal sejak kamu kecil?" Tanya Ervin cemas.


"Iya, waktu itu umurku baru berusia sekitar 8 tahun. Aku pulang dari sekolah dan ingin bertemu dengan Daddy di kantor. Waktu itu aku ...." Wanita itu tak melanjutkan ucapannya.


"Waktu itu kenapa? Kenapa kamu bisa melihat kecelakaan itu?" Tanya Ervin mengguncang bahu kekasihnya.


Dia tahu bahwa ini hal yang tersulit dalam hidup kekasihnya. Namun, disatu sisi dia harus membuat wanita itu menceritakan semuanya agar hatinya merasa lega dan tenang.


Clara menatap manik mata Ervin, wanita itu mengusap air mata yang menetes. Ervin mengelus pipi kekasihnya.


"Ceritakan semuanya padaku! Jangan pernah kamu menyimpan luka itu sendirian!" Bujuk Ervin lembut.


Mata Clara nanar mengingat kembali kenangan pahit dalam hidupnya. Selama ini dia berusaha mengubur kenangan tentang masalalu. Tapi sayangnya, kecelakaan tadi membuat ingatannya seperti mengulang hal itu kembali.


"Waktu itu, karena Daddy tidak pulang beberapa hari. Aku memutuskan untuk mencari daddy di kantornya." Clara menghela napas berat.


Kenangan belasan tahun yang lalu terekam jelas hingga kini.


"Pak Jon, itu Daddy kenapa?" Tanya Clara kecil masih di dalam mobil.


"Nona mau turun? Bilangnya kangen sama Daddy," Joni menawarkan diri untuk membuka pintu.


"Tapi Daddy sedang bersama seseorang pak," mata Clara kecil masih menatap ayahnya tanpa kedip.


"Mommy ... itu ada mommy juga pak!" Tunjuknya masih di dalam mobil.


"Lho, mommy mau kemana? Kenapa mommy menangis?" Clara yang polos belum memahami apapun.


"Bagaimana non? Kita harus kemana sekarang? Turun atau tidak?" Joni memberikan pilihan.


"Aku kasian sama mommy, kita pergi kejar mommy yuk pak Joni!" Ajaknya.


Mobil melaju di tengah jalan kota, Joni berusaha menyalip beberapa kendaraan untuk menyusul kendaraan Diana dan sopirnya.


"Non, itu mobil Daddy ada di sana!" Tunjuk Joni pada sebuah mobil sedan hitam.


"Kenapa mommy dan Daddy main kejar-kejaran pak?" Clara mengerjapkan mata berulang kali.


"Mereka jahat, main kejar-kejaran hanya berdua saja," Clara ngambek.


Tangan mungilnya dilipat di dada.


"Non, maaf ya ... bapak mau ke kamar kecil dulu, sudah tidak tahan," Joni memarkirkan mobilnya dan terburu-buru keluar tanpa mengunci pintu.


"Ah pak Joni kelamaan," Clara berusaha keluar.


Bocah berusia sekitar delapan tahun tersebut berlarian di pinggir jalan dan mencoba untuk memanggil orang tuanya.


*


*


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2