Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 36 Ervin Kecewa


__ADS_3

Pria yang menyiram Ervin turun dengan langkah gontai. Dia menyeringai lebar, bau alkohol menguar dari mulutnya.


"Aku adalah calon suami dari Clara Adeline," ucapnya sambil tersenyum senang.


Ervin terhenyak mendengar perkataan pria mabuk di depannya. Namun dia tidak mau mempercayai ucapan pria itu. Frank mendekati mereka karena takut terjadi sesuatu. Apalagi pria mabuk itu terkenal suka membuat onar.


"Siapa yang menyuruhmu kemari? pasti kamu menginap di rooftop kan?" Frank mencengkram erat baju di lehernya.


"Hei pak tua! lepaskan tanganmu! mengotori bajuku saja," pria itu menepis tangan Frank dengan kasar.


"Pergi dari sini! dan jangan menyelinap masuk kemari lagi!" Frank mendorong tubuhnya.


Pria itu sempoyongan dan hampir terjatuh, namun dia masih bisa berdiri kembali. Ervin hanya menatap wajah pria itu dengan sejuta pertanyaan. Ada rasa ingin tahu tentang siapa pria itu.


"Kalian awas saja! akan aku laporkan pada Papa!" dia mengancam.


Dua bodyguard menghampiri pria tadi atas perintah Frank. Mereka berdua menyeret pria tadi menuju pintu gerbang.


"Ervin, kamu melamun?" Frank menatap pria di sampingnya.


"Eh, tidak Pak. Saya hanya penasaran siapa pria tadi," Ervin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Dia mantan tunangannya Nona Clara yang belum bisa move on. Mereka dijodohkan sedari kecil. Tapi semenjak remaja Nona Clara tidak mau berhubungan dengannya lagi," Frank menjelaskan.


"Astaga, kenapa aku menceritakan itu padamu," Frank menepuk keningnya sendiri.


Ervin menatap wajah Frank intens. Kemudian dia menatap badannya sendiri yang masih basah kuyup.


"Ini bagaimana Pak?" Ervin memasang tampang datar.


"Kamu pinjam baju pak Darto dulu sana!" Frank menyuruhnya.


"Ha, pak Darto sekuriti sini? saya make baju pak Darto?" Ervin mengulang pertanyaannya.


"Iya, mau bagaimana lagi. Cuma pak Darto yang membawa baju lebih karena harus lembur," Frank meninggalkan Ervin termangu seorang diri.


"Terpaksa deh," Ervin pun melangkah gontai sambil menghela napas.


Ervin memanggil Darto di dalam posnya. Darto terperanjat melihat keadaan Ervin yang basah kuyup.


"Perasaan nggak ujan deh, kenapa bisa basah kuyup?" Darto memiringkan kepalanya.


"Nggak usah bahas ini Pak! aku kemari mau pinjam baju yang layak pakai," Ervin menatap malas.


"Owh baju ganti?" Darto tersenyum tipis dan mengambil ranselnya. Dia mengeluarkan baju dan sarung yang biasa dia bawa.


"Hah, kaos sama sarung? gak ada celananya Pak?" Ervin melongo melihat pakaian di tangan Darto.


Darto menggeleng kepala dan menyodorkan tangannya pada Ervin.


"Mau make atau nggak?" Darto menahan tawanya.


Di kepalanya dia membayangkan Ervin memakai sarung dan kaos polos murah dan kusam miliknya.

__ADS_1


"Sini! terpaksa aku make, ingat itu pak! Terpaksa," Ervin merengut kesal sambil mengambil pakaian yang ada di tangan Darto.


"Ganti di sini aja sekalian, ada kamar mandi kok di dalam. Ya, walaupun kecil sih," Darto menawarkan kamar mandi dalam posnya.


"Boleh deh, aku nggak mau ketemu Clara dengan keadaan seperti ini," Ervin masuk dengan cepat dan berganti baju.


Di dalam rumah, Clara baru saja selesai sarapan. Dia terdiam di meja makan karena mengingat perkataan ayahnya dan ibu tirinya semalam. Tuan D merasa heran dengan tingkah anaknya yang tiba-tiba saja diam tak bersuara.


"Kamu kenapa?" tuan D mengamati wajah anaknya.


Clara tidak membalas, dia hanya menggeleng pelan.


Setelah selesai dengan sarapannya dia langsung melangkah pergi dari sana. Hatinya masih dongkol dan marah pada ayahnya.


"Aku akan berusaha mencari tahu tentang kematian Mama, aku hanya ingin tahu kalau Daddy itu jujur atau tidak selama ini," gumamnya sendirian.


Mobil sudah disiapkan oleh Ervin. Clara langsung masuk tanpa memperhatikan Ervin.


"Nona, Pak Frank bilang saya harus membeli pakaian seperti orang-orang yang bekerja di sini. Dia menyuruh saya untuk membelinya bersama Nona," Ervin menoleh ke belakang.


"Pakaian? maksud kamu setelan jas hitam itu?" Clara mulai bersuara.


"Iya, pakaian seperti orang kantoran itu," Ervin pura-pura bodoh.


"Nanti kamu beli sendiri! aku akan kasih uangnya," sahut Clara malas.


"Tapi, tapi Pak Frank bilang saya harus pergi membelinya dengan Nona," Ervin tersenyum lebar seakan menggoda Clara.


"Tapi-," perkataan Ervin dipotong.


"Nggak ada tapi-tapian! berangkat sekarang!" bentak Clara mulai emosi.


"Iya Non, maaf," Ervin menyesal.


Raut wajahnya kecewa karena dia tidak bisa berduaan dengan Clara.


Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. Clara menghembuskan napasnya beberapa kali dengan cepat. Sementara Ervin fokus pada pandangan di depannya.


Tiga puluh menit berlalu, Perusahaan sudah terlihat. Ervin memarkirkan mobilnya di depannya dan segera turun untuk membuka pintu mobil Nona muda.


"Selamat bekerja Non," senyum Ervin mengembang sempurna.


"Hem," Clara malas meladeni.


Namun tatapannya beralih pada bawahan Ervin. Dia menutup mulutnya dan menahan agar tidak tertawa.


Semua orang yang melihat Ervin terkekeh geli.


Ervin heran kenapa mereka aneh.


"Nona kenapa?" Ervin berkerut.


"Sarung...Hufftt," Clara tidak tahan lagi.

__ADS_1


Tawanya mulai lepas, beban pikiran yang menghantuinya terlupakan sejenak.


Ervin melihat bawahan yang dia kenakan. Mukanya merah karena malu. Cepat-cepat dia menutup pintu mobil belakang dan masuk kembali ke kursi kemudi.


"Punya Pak Darto ya yang kamu pakai itu? wkwkwkwk," Clara masih tertawa.


"Kok tahu Non?" ternyata nona mudanya itu memperhatikan si Darto.


"Ya tahu lah, kan sarung itu dipakai setiap hari sama pak Darto, CP gituh," Clara mulai menormalkan kembali ekspresinya.


"CP? setau aku kalau CP itu couple lho Non," Ervin yang duduk di kursi kemudi belum menyalakan mesin kendaraan.


Clara yang berbicara di luar dengan kaca yang terbuka mulai bersikap seperti biasa. Dia sudah melepaskan tawanya.


"CP itu spesial untuk pak Darto, cuci pake itu sarungnya," Clara meninggalkan Ervin.


"Udah kayak anak kecil mau di sunat ajah cara make sarungnya. Kelihatan jarang ke masjid," lirih Clara tersenyum kecil.


Ervin mengutuk dirinya sendiri karena terlalu lama terpesona oleh kecantikan Clara. Andai saja dia membuka pintu dan langsung menutup kembali setelah Clara keluar pasti kejadiannya tidak seperti ini.


Dia pun pergi ke Apotek untuk mengawasi karyawannya sebentar saja. Dia menyalakan ponsel mahalnya. Ada puluhan miss called yang terlewati.


"Tuh kan, kalau bukan Mama yang nerror siapa lagi coba," wajahnya dingin.


Ervin menatap jalanan kembali, dia mempercepat laju kendaraannya.


Tidak sampai dua puluh menit, Ervin sampai di Apotek pertama yang harus di singgahi. Ada Rendy yang bertugas di sana. Ervin tidak keluar dari mobil, dia hanya menghubungi Rendy agar keluar dari ruangannya.


"Bos, kenapa gak turun?" tanya Rendy saat kaca samping diturunkan.


"Aku males turun, sekarang juga belikan aku motor butut tapi yang bagus dan gak mogok an! nanti antarkan ke Apotek tempat Jeffery bekerja!" perintah Ervin.


"Hah, buat apa Bos?" Rendy heran.


"Sudah jangan banyak tanya! lakukan saja sesuai perintahku!" Ervin menutup pintu mobil dan pergi.


Kini dia berada di jalanan lagi. Tiba-tiba saja ada suara keras yang menghantam kaca jendela belakang.


Ervin spontan mengerem mendadak dan melihat kondisinya.


"Ck, siapa sih yang jahil? ini masih pagi lho," tangannya terkepal erat.


"Keluar kamu!" seorang pria baru saja menepikan motornya dan mengetuk pintu kaca mobil.


Mata Ervin terbelalak melihat seorang pria yang tengah menantangnya untuk keluar.


"Cari gara-gara nih orang," Ervin mulai terpancing emosi.


*


*


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2