Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 70 Keluarga Parasit


__ADS_3

Clara mengangguk cepat.


"Dua-duanya asli sana om," tambah Clara.


"Owh begitu, aku pikir kamu asli orang kota ini," Malik mengangguk saja.


"Pa, masalah Royan udah kelar. Aku mau kembali ke kantor lagi. Bisa-bisa bahaya kalau kelamaan di luar rumah," Ervin tak sabar ingin segera kembali.


"Baru saja sampai udah mau pergi lagi," Elisa melotot pada anaknya.


"Waktunya kerja ma, setelah dari sini aku juga harus mampir ke apotek mengecek si Jef apakah dia udah melakukan tugasnya," Ervin tidak mau didebat lagi.


Pria itu pamit dan menarik lengan kekasihnya. Wanita itu berdiri dan menyalami tangan orang tua kekasihnya bergantian. Langkah mereka dipercepat, sepertinya pria itu tengah diburu waktu.


Setelah di mobil, pria itu menoleh pada kekasihnya yang entah kenapa lebih banyak diam ketika tiba di rumah ini.


"Kamu kenapa? Kagok ya karena pertama kali ke rumahku?" Pria itu menebak.


"Sebenarnya ada juga perasaan seperti itu. Tapi aku heran aja kenapa kamu bisa meninggalkan rumah semewah ini dan menjadi sopir di rumahku. Aku tadi tengah memikirkan hal itu," Wanita itu tersenyum penuh makna.


Kehangatan dan perhatian dari Ervin selama membuatnya perlahan membuka diri dan hati.


"Kamu sudah tahu apa alasannya," Pria itu tersenyum lembut.


"Semoga aja tidak hanya sesaat, karena terus terang aku takut akan seperti mommy yang--," Clara tak melanjutkan ucapannya.


"Shuttt ... Jangan pernah mengatakan hal itu! Nasib kamu dan mommy pasti berbeda," Pria itu menghibur kekasihnya.


"Kita ke apotek dulu ya!" Ajak Ervin setelah melihat senyuman kekasihnya terbit.


Mobil melaju cepat di tengah kota. Jalanan tak terlalu padat karena waktu makan siang sudah selesai. Tak berapa lama mereka turun dari mobil setelah kendaraan itu berhenti tepat di depan Apotek.


"Kamu seenaknya aja memecatku. Aku yakin ini semua ulah kamu kan Jef?" Suara keras terdengar.


Ervin dan Clara saling berpandangan sesaat. Mereka setengah berlari masuk ke apotek untuk mencari tahu apa yang terjadi.


Beberapa pelanggan yang mendengar suara ribut-ribut memilih pergi dan menjauh dari sana.


"Ada apa ini ribut-ribut? Kalian pikir ini pasar?" Ervin berkacak pinggang menatap kedua karyawannya yang saling menunjuk.


"Kalian berdua masuk ke ruangan saya!" Seru si bos yang tak lain dan tak bukan adalah Ervin.


Baru kali ini Clara melihat kekasihnya berkata keras. Bagaikan kerbau dicucuk hidungnya, keduanya bungkam dan menuruti kemauan si bos.


"Maaf ya ibu-ibu dan bapak-bapak! Silakan menunggu antrian dengan damai dan santai," Ervin mencoba mengambil hati pelanggan.


Mereka membalas senyuman si pemilik apotek.


Sesampainya di ruangan, Ervin meminta penjelasan pada Jefrey dan Royan. Sementara Clara tengah duduk bersandar pada sebuah sofa sambil memainkan ponselnya seolah tidak peduli. Sesekali lirikannya melihat raut wajah Ervin yang tampak garang, rahang kekasihnya mengeras menahan amarah.

__ADS_1


"Jelaskan sekarang juga!" Setelah terdiam Ervin memulai pembicaraan.


"Ini semua salah Jefrey ... Vin," Royan mendengus kesal.


Karyawan kepercayaannya hendak menyahut tapi dengan cepat disanggah oleh Ervin.


"Apa salah Jefrey?" Dia bertanya pada teman sekaligus karyawan.


"Dia bilang kalau aku dipecat. Aku menanyakan alasannya apa dia bilang kinerjaku tak becus, padahal aku sudah berusaha menjadi karyawan yang baik," Roy menata emosi.


"Aku tidak menyangka sikap kamu seperti anak kecil Roy. Kamu harus menyadari bahwa kerjaan kamu memang tidak ada yang beres. Melayani pelanggan selalu merengut. Ketika memasukkan barang ke gudang selalu melempar seolah obat itu tak ada harganya," Ervin menghela napas.


Hari ini juga dia harus menyelesaikan masalah ini.


Roy tersentak, tapi bukan Royan namanya kalau tidak punya bantahan.


"Kapan aku merengut? Aku bahkan menyapa pelanggan. Kalau di gudang itu aku hanya terantuk oleh kardus yang menumpuk di dalam," bantahnya.


"Ternyata kamu masih saja berkilah," Pria itu bersedekap.


"Ini pasti akal-akalan Jef ajah tuh," tunjuknya dengan dagu.


Ervin tersenyum meledek, dia beringsut ke kursinya dan menekan sebuah tombol yang ada di balik laci meja kerjanya. Sebuah layar hologram yang terbelah menjadi beberapa bagian tiba-tiba muncul.


Mereka tersentak, tak menyangka bahwa bosnya selama ini mengawasi gerak-gerik karyawannya.


"Mau aku tunjukkan kapan kamu merengut? Walaupun hampir setiap hari kamu merengut. Mau aku tunjukkan kapan membanting obat di gudang?" Pria itu tersenyum puas.


Roy terdiam, pria itu sudah tak bisa membantah lagi. Semua bukti sudah jelas.


"Kamu mau tahu lebih jelas kenapa aku memecatmu?" Ervin bersedekap, kakinya berjalan mengitari tubuh Royan.


Royan terdiam namun tatapannya menahan emosi diri.


"Itu semua karena Andi dan Rosyanti, orang tuamu sendiri. Mereka berdua mencarimu ke rumah. Padahal bukankah selama ini kamu selalu pulang sesuai jam kerja? Mereka dengan 'tak tahu malu' malah melabrak papa dirumahnya sendiri," Ervin menegaskan kata yang membuat Roy semakin geram.


"Baiklah aku juga tidak sudi bekerja di sini lagi!" Roy membuka id card yang melingkar di kepalanya.


Dia membuang id card tersebut di depan Ervin.


"Silakan pergi dari keluargaku! Kalian semua memang pantas menyandang predikat keluarga parasit. Anaknya tak tahu diuntung, orang tuanya tak tahu malu," dengan keras Ervin mengatakan itu semua.


Clara benar-benar tersentak karena dia melihat kekasihnya itu mirip seseorang tapi entah siapa.


(Bilang aja sama kayak kelakuan elu Ra 🙄🙄)


"Jangan bawa-bawa keluarga aku Vin!" Roy menunjuk wajah Ervin.


"Kamu lupa kalau utang 200 juta itu belum dibayar? Selama bekerja di sini penghasilan kamu 5 tahun pun tak akan mampu untuk membayarnya," Ervin meremehkan Roy.

__ADS_1


"Sayang, nggak usah emosi gitu lah! Jelek kayak hantu comberan," Clara yang sedari tadi diam, mulai bersuara.


Royan dan Jefrey menoleh padanya. Mereka mengernyit tak percaya.


"Bos, sejak kapan ... " Jef menggantung ucapannya.


"Diam Jef!" Sahut bosnya.


"Aku akan membalas semua penghinaan ini!" Roy berkata dingin.


"Terserah kamu kalau mau di bekuk oleh pihak kepolisian. Sudah salah tapi tetap tidak mau mengakuinya," cibir bosnya.


Roy langsung pergi meninggalkan mereka di ruangan Ervin.


"Lihat saja nanti!" Geramnya tak terima dengan perlakuan Ervin. Pria itu pergi dari apotek dan mengendarai motornya dengan kencang.


"Bos, siapa itu?" Jef menyikut si pemilik apotek.


"Dia itu calon tunangan aku ... eh bukan, tapi calon istri aku tepatnya," Ervin menghampiri kekasihnya dan memeluk pinggang Clara dengan hangat.


"Please! Jangan mesra-mesraan di sini!" karyawannya yang jomblo jengah melihat kemesraan pasangan itu.


"Kamu yang seharusnya keluar dari sini Jef! Kamu lupa kalau ini ruangan kerjaku?" Si bos protes.


"Baiklah bos, sebentar lagi aku akan keluar setelah bersalaman dan berkenalan langsung dengan wanita cantik jelita nan anggun tiada tara," Jefrey mendekati Clara dan mengulurkan tangannya.


"Calon bini bos, kenalin saya Jefrey karyawan andalan di sini," Pria itu mengulurkan tangannya.


Namun Ervin menepis tangan karyawannya.


"Ayo kembali ke kantor!" Ajak kekasihnya.


Ervin mengangguk mantap.


"Kamu jaga baik-baik apotek ini Jef! Bonus akan aku bagikan sebelum lebaran nanti," Ervin melambaikan tangan dan melangkah pergi meninggalkan si jomblo yang melamun memandang wajah Clara.


Ketika mereka sudah berada di dalam mobil, dering suara ponsel membuat perhatian mereka teralihkan.


"Apa?" Clara menoleh pada kekasihnya, wajahnya terlihat begitu khawatir.


"Kenapa sayang?" Tanya kekasihnya.


"Itu ... di kantor ada--," Clara masih shock.


Wajahnya terlihat begitu pucat setelah mendengar kabar dari suara di balik telepon.


*


*

__ADS_1


*Seperti biasa, jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, komen, favorit, rate ⭐ 5, dan vote Mingguan gratis. Terimakasih banyak bagi yang sudah membaca sampai sejauh ini.


__ADS_2