
Dendi mendengar seksama, dia memakai earphone agar Firda tidak mendengar apa yang ada di rekaman tersebut.
Mata Dendi melotot tajam pada Firda. Tangannya mengepal erat, rahangnya mengeras dan menghampiri istrinya.
Plakkk!
Firda merasakan nyeri di pipinya karena tamparan Dendi. Mulutnya hendak mengatakan sesuatu, karena tersumpal kain ucapannya tidak jelas.
"Wanita ******! Setelah ini aku tidak akan pernah membiarkan kamu berada di rumah ini!" Tunjuknya dengan tampang emosi.
Firda meronta-ronta, mulutnya berusaha mengucapkan sesuatu walaupun itu tidak mungkin terjadi. Dendi tidak mau melepaskan sumpalan mulut si istri.
"Dengarkan ini Frank! Setelah itu kamu pasti tahu apa yang seharusnya kamu lakukan!" Perintahnya seraya menyodorkan ponsel Ervin.
Frank mendengar rekaman itu dan mulai meradang. Ternyata Firda lebih licik, apa yang dipikirkannya selama ini salah besar. Wanita itu licik dan licin bagai lintah.
"Pergi temukan dia Frank! Kalau orang tuanya ikut campur berikan rekaman ini! Aku akan mengirimkan rekaman ini padamu! Lekas bergerak! Sisakan dua orang saja di sini untuk menjagaku wanita ular ini!" Dendi memberikan perintah.
"Tuan, Ervin membawa tiga orang di depan. Bagaimana kalau dia nanti--" Frank menoleh pada Ervin, tatapan matanya tidak percaya.
"Pergilah! Biarkan aku yang mengurus Ervin! Bagaimana pun dia sudah berbaik hati memberikan sebuah informasi penting padaku," Dendi sudah bertitah dan tidak mau dibantah.
Mau tidak mau Frank turun dan mengajak beberapa orang body guard yang berjaga di sekeliling rumah. Seperti yang diperintahkan Dendi, dia hanya menyisakan dua orang untuk menjaga Firda.
"Tuan Dendi, apa yang harus kami lakukan?" Dua anak buah sudah masuk ke ruangannya.
"Kalian bawa lintah ini ke rooftop! Ikat tangan dan kakinya! Sumpal mulutnya dan jemur dia di sana sampai pingsan!" Pekik Dendi.
Firda yang mendengar perkataan Dendi terbelalak lebar. Dia mencoba untuk memberontak, mulutnya terus berusaha untuk berbicara.
"Cepat kerjakan!" Perintah Dendi.
"Laksanakan tuan," Keduanya menghampiri Firda dan mendorong tubuhnya agar mau berjalan keluar dan menuju rooftop.
"Sekarang urusan om dan wanita itu sudah beres, bagaimana denganku? Apakah aku akan diijinkan untuk menemui Clara?" Ervin yang sedari tadi hanya diam memulai untuk bicara.
"Aku bukan seorang yang ingkar janji. Aku berikan waktu dua jam untuk bertemu anakku. Tapi ingat! Hanya di rumah ini saja! Tidak boleh keluar!" Dendi memperingatkan.
"Baiklah om, kalau begitu aku pergi dulu. Nanti jam tujuh malam aku akan kemari!" Ervin keluar dari ruangan Dendi.
Rencana berjalan dengan lancar. Ervin tidak perlu repot-repot memakai jasa dua anak buahnya yang sudah dia sewa. Dia keluar dari rumah dan melenggang begitu saja.
__ADS_1
"Pak, bukain pagarnya!" Pekiknya.
"Eh, kenapa dia tidak babak belur?" Batin sekuriti melihat penampilan Ervin yang masih sama sebelum dia masuk rumah.
"Pak!" Panggilnya lagi.
"Eh, iya mas." Sekuriti tersadar dari lamunannya dan segera menekan tombol pagar agar terbuka.
"Lama banget, sudah hampir satu jam menunggu kayak orang bego di sini," gerutu Jefrey.
"Bawel banget jadi cowok, nanti aku plester mulutmu itu!" Ervin mendorong kepala Jefrey.
Kedua anak buah Ervin hanya melihat tingkah polah keduanya. Mereka kembali masuk ke mobil masing-masing setelah mendengar ucapan Ervin.
Jefrey mengemudi dengan perasaan dongkol. Wajahnya tertekuk dan malas berbicara dengan si bos yang ada di sebelah.
Setelah terdiam beberapa lama, Ervin mengingat sesuatu.
"Jef! Nanti malem jam tujuh kamu harus kembali ke rumah ini bersamaku. Kita antar dahulu pak sopir ke rumah. Berikanlah alasan yang tepat agar aku bisa keluar malam nanti!" Ervin menatap intens.
"Nggak salah bos?" Jeffrey menoleh sekilas.
Pikirannya tengah memikirkan ucapan bosnya yang tidak masuk akal dan seenaknya.
"Nanti malah aku yang kena omel sama tuan besar," protesnya.
"Sudahlah kamu tenang saja! Ada aku yang akan membelamu," Ervin menepuk dada.
"Merepotkan," gumamnya pelan.
"Apa kamu bilang Jef?" Ervin melotot tajam.
"Eh ... enggak apa-apa bos," Jefrey merasakan aura ancaman.
"Ya Tuhan, kenapa nasibku gini amat. Dapat bos yang suka seenaknya sendiri, walaupun gajinya gede tapi tetap aja selalu menyuruhku melakukan hal diluar pekerjaan," batinnya menjerit.
"Kenapa Jef?" Ervin memastikan.
"Nggak bos, aku hanya fokus pada jalanan di depan," Jef langsung merubah mimik wajahnya.
Sementara itu di rooftop, Firda telah di jemur di terik siang hari. Ponselnya sudah di sita oleh Dendi. Kedua body guard turun kembali untuk berjaga di halaman rumah. Langkah kaki yang mendekat membuat Firda menoleh ke asal suara.
__ADS_1
"Bagaimana siang ini? Tidak panas seperti biasanya kan?" Dendi menaikkan sudut bibirnya.
Firda terlalu letih untuk berontak, tenaganya sudah terkuras habis. Kepalanya yang semula bisa tegak kini menunduk karena lemas. Keringat bercucuran dari dahinya.
Dendi mengambil tongkat pemukul baseball yang ada di gudang dekat toilet rooftop. Dia mencoba mengayunkan pemukul tersebut seperti hendak memukul bola yang datang.
"Bangun! Siapa suruh tidur di sini?!" Dendi memukul kursi kayu.
"Atau mau aku pukul pake ini agar mata kamu bisa kembali menyapa langit biru?" Dendi tersenyum mengejek.
"Sudah bertahun-tahun aku selalu sabar menghadapi kamu. Kini, kelakuanmu begitu keterlaluan. Produk baru itu adalah hidup dan matiku. Kenapa kamu bisa mensabotasenya, ha?!" Dendi memekik di telinga Firda.
Firda terlonjak, kepalanya seketika mendongak menantang mentari. Hari sudah menjelang sore. Panas terik tak terlalu terasa lagi.
"Sebaiknya kamu di sini sampai esok siang. Aku ingin tahu kamu sanggup hidup dalam waktu berapa lama. Ini hukuman untukmu karena telah berani bermain-main denganku," Dendi memukul kursi dengan keras.
Firda sudah tidak bisa berbuat apapun. Dia pasrah tentang kejadian ini. Ini semua karena dia teledor membuka kartu As-nya sendiri pada Ervin.
Dendi turun dari rooftop dan kembali ke ruang kerjanya. Ponselnya mendadak berdering.
"Frank," kernyitnya.
["Bos, saya sudah menghubungi Toni agar anak buahnya menjaga rumah sana. Di sini kami sudah berhasil melumpuhkan lelaki brengsek itu dan beberapa anak buahnya. Kami sudah berhasil mengorek informasi tentang keberadaan produk baru kita."] Suara Frank terdengar memburu.
"Jadi orang tua anak itu juga ikut campur?" Kepal Dendi.
["Iya bos, saya khawatir kalau orang suruhannya sudah tiba sebelum antek-antek Toni. Bagaimana pun, rumah itu harus dilindungi sekarang juga!"]
"Aku akan menyuruh mereka untuk merantai sekeliling pagar rumah dan menyalakan mesin gas air mata untuk berjaga-jaga," Dendi memutuskan panggilan begitu saja.
"Rumah, Frank bilang rumah ini? Bagaimana kalau dia mencoba mencelakai Clara?" Seketika Dendi tersadar.
Secepatnya dia menghubungi Clara.
"Ra, Kamu harus segera tinggalkan kantor! Menghilangkan diri sejenak dari sana! Ganti bajumu dan menyamarlah. Daddy sedang terlibat masalah. Maafkan Daddy!" Dendi bergegas menyuruh anaknya.
["Tapi Dad ...."] Clara tak melanjutkan ucapannya.
"Tidak ada tapi-tapian! Cepatlah!" Dendi khawatir.
*
__ADS_1
*
*Bersambung