
"Royan dia seperti orang linglung dan ketawa-ketawa sendirian. Tante udah ngasih obat tidur biar dia tidak berkeliaran di luar rumah," ucapnya khawatir.
"Kalau begitu panggil saja Dokter untuk memeriksa keadaannya Tan! Aku tidak punya waktu untuk ke sana. Dan pekerjaan aku menumpuk karena Royan," ucap Ervin tegas.
Dia tidak mau lagi terbebani dengan keadaan Royan dan keluarganya. Setelah dipikir-pikir dengan matang dan pertimbangan Jefrey. Akhirnya, Ervin memilih untuk tidak ikut campur lagi masalah sahabatnya itu. Dia juga sudah meringankan beban Royan dan keluarganya dengan mempekerjakan Royan di Apotek orang tuanya.
"Tapi nak, Royan itu kan..." belum sempat ibunya Roy berucap, Ervin memutuskan panggilannya.
"Dasar anak kurang ajar!" gerutu ibunya Roy dengan kesalnya.
Ervin sudah selesai memeriksa pesanan untuk dia gunakan besok pagi. Malam yang telah larut membuat rasa kantuknya menguasai. Ervin terlelap, tak lama setelah dia berbaring dan memeluk guling.
***
Di Kamar mewah nan besar di rumah megah Tuan D.
Clara menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan cepat. Dia tidak menyangka bahwa Ervin si supir baru juga merangkap sebagai seorang bodyguard. Dia ingat pesan dari ayahnya beberapa jam yang lalu saat di meja makan.
Saat itu Tuan D, Clara dan ibu tirinya duduk dengan nyaman dan tengah menyantap hidangan yang sudah disiapkan oleh pembantu. Tidak ada suara yang terdengar kecuali dari benturan sendok dan piring.
Namun, beberapa menit kemudian Tuan D mengingat hal yang di lupakannya.
"Astaga Ra, aku lupa kalau Daddy itu sudah memutuskan sesuatu yang penting," ucapnya sambil menaruh garpu dan sendok di tangan ke atas meja sebelah piring.
Clara menghentikan makannya sebentar. Dia menoleh ke arah ayahnya dan menatap dengan rasa penasaran.
"Memangnya ada apa Dad?"
"Itu si supir baru siapa namanya?"
"Owh, si Ervin ya Dad. Memangnya kenapa dengannya Dad?" Clara menaruh perhatian pada ayahnya.
__ADS_1
"Mulai besok dia yang akan menjadi supir sekaligus Bodyguard kamu. Kalau kamu libur dan ingin keluar rumah kamu harus pergi dengannya! karena dia yang akan menjaga keselamatan kamu di luar sana!" jelas tuan D panjang lebar.
Clara yang tengah minum langsung terbatuk dan meletakkan gelasnya dengan pelan. Dia menepuk dadanya agar napasnya normal kembali setelah tersedak.
"Daddy nggak salah? apa hebatnya sih dia itu sampai Daddy menyuruhnya menjadi bodyguard segala?" Clara meremehkan Ervin.
"Dia pandai berkelahi dan berpikir cepat dalam situasi sulit. Dia lolos dari tantangan yang sudah disiapkan Daddy dan Frank. Bukankah dia sudah masuk dalam kriteria seorang bodyguard?!" Tuan D menjelaskan panjang lebar.
Clara mendelik, dia malas membahas tentang supir barunya.
"Berhenti membicarakan dia Dad! aku ingin makan dengan tenang," Clara mendengus.
"Pokoknya kalau kamu pergi kemanapun harus bersamanya!" tuan D tidak berbicara lagi.
Dentingan sendok yang beradu dengan piring menjadi irama yang menemani ke tiga orang tersebut.
Clara yang sudah selesai makan langsung pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
Di video yang dia tonton ada seorang pria yang sepertinya dia pernah melihatnya tapi entah dimana. Pria paruh baya yang tengah di wawancarai oleh salah satu akun sosial media yang memiliki ratusan ribu pengikut. Topik yang di bahas adalah tentang dunia usaha. Dia menyimak sambil mengingat siapakah pria tersebut, namun nampaknya otaknya masih tidak mendapatkan petunjuk.
"Siapa ya bapak ini? Apoteknya sudah banyak cabang di setiap kota. Wajahnya itu terasa familiar," Clara berpikir keras namun dia masih tidak bisa mengingat.
"Ah entahlah, aku tidur saja deh kalau begitu," Clara beranjak dari kursi riasnya. Dia melompat dan berbaring di ranjang empuknya. Matanya ingin sekali terpejam. Namun rasa kantuk belum juga menguasai. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke ruangan kerja Daddy-nya. Dia ingin menanyakan perihal pekerjaan pada Daddy-nya. Langkahnya terdengar jelas karena malam sudah larut dan tidak ada suara yang berarti.
Di dalam ruangan kerjanya, tuan D tengah berbincang dengan istrinya. Mereka sepertinya berdebat tentang masalalu. Percakapan mereka memecah keheningan malam di ruangan tersebut. Clara masih melangkah pelan.
"Jangan sembarangan kamu membahas Diana, almarhumah istriku," Rahang Tuan D mengeras.
Wajahnya menampakkan emosi.
"Sudahlah mas, kamu tidak perlu repot-repot untuk membelanya. Bukankah Clara itu hasil selingkuhan istri kamu dengan pria lain?" Ibu tiri Clara berkacak pinggang.
__ADS_1
Entah apa yang menyebabkan mereka berdebat. Situasi yang tengah terjadi begitu sulit di pahami. Clara hampir menggerakkan gagang pintu, namun Clara yang mendengar ucapan ibu tirinya hanya bisa menutup mulutnya dan mata yang terbelalak karena tidak percaya dengan kenyataan yang ada. Dia berdiri mematung sambil menguping pembicaraan mereka di balik pintu.
"Apa benar yang diucapkan nenek sihir itu? aku tidak percaya," Clara bergumam seorang diri.
Tuan D menghampiri istrinya dan mulai membalas perkataannya tadi.
"Jangan pernah memperburuk keadaan dengan memfitnah Diana! Diana itu wanita baik-baik! dia berbeda sekali denganmu yang kasar dan angkuh!" tuan D menunjuk wajah istrinya saat ini.
"Owh, berani kamu berbicara begitu tentangku? bersiaplah untuk menghadapi masalah baru! aku tahu semua rahasia kamu selama ini mas! aku tahu kalau kematian Diana ada hubungannya denganmu!" Firda mulai tersulut emosinya. Matanya berapi-api dan badannya bergetar menahan amarahnya.
Clara masih menguping pertengkaran mereka. Dia bersender lemah di balik pintu dan kakinya terasa lemas karena perkataan yang diucapkan ibu tirinya.
"Jangan berlebihan! kamu tidak mempunyai bukti apapun! aku juga bisa melaporkan kamu atas pencemaran nama baikku," tuan D membela diri.
"Melaporkan aku? hey ingatlah! kita ini masih suami istri. Mana ada polisi percaya dengan ucapan kamu," Firda tertawa mengejek.
"Kamu kenapa meragukan kekuasaan aku? bukankah selama ini kamu tahu sendiri siapakah aku?" tuan D merasa menang dan tidak terkalahkan apalagi oleh istrinya sendiri.
"Aku tidak mau tahu pokoknya kamu harus menandatangani kontrak ini!" Firda melempar sebuah berkas, berkas itu jatuh di kaki tuan D.
"Jangan mimpi kamu Firda! kalau kamu ingin aku menandatangani kontrak itu kamu harus bersedia bercerai dariku dan hidup gembel seumur hidup kamu," tuan D mencibir istrinya.
"Aku akan memberikan waktu padamu! kalau kamu menolak jangan salahkan aku kalau Clara mengetahui kebusukan daddy-nya selama ini!" Firda tersenyum licik.
"Terserah kamu mau bilang apa pada Rara! dia tidak akan pernah percaya pada wanita ular seperti kamu. Dan kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu itu sebenarnya telah...
Bersambung
*
*Beberapa Bab kita akan membahas keluarga Clara yang menyimpan rahasia besar.
__ADS_1
So ditunggu saja 😄😄.