Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 111 Rencana Ervin


__ADS_3

Malik berdecak dan menyuruh pengawal yang dia bayar tadi untuk mengusir si tamu yang tidak di undang. Raut wajah Malik terlihat jelas menahan emosi, Ervin menyadari itu. Ervin mendekati si ayah untuk mencari tahu apa yang sedang mereka bicarakan.


"Kenapa sih Pa?" Kernyitnya heran.


"Mungkin ada orang salah tempat, dia ngotot mau masuk kemari," Malik berbohong.


"Sebaiknya ditanyakan saja dulu, baru kita bisa bertindak," Ervin serius menatap si ayah.


Suara pembawa acara mengalihkan perhatian mereka. Setelah puas awak media meliput acara pertunangan, mereka kembali ke tempatnya semula. Ervin dan anggota keluarga yang lain kembali ke meja untuk menyantap makan malam. Semua tamu yang hadir turut berbahagia melihat dua keluarga tersebut.


"Vin! Pindah duduknya di sebelah Mimi sana! Ngapain kamu duduk di sini?!" Elisa berbisik di telinga anaknya.


"Males Mam," sahutnya acuh.


Elisa mencubit paha anaknya, Ervin meringis dan mencoba menahan sakit.


"Mama kenapa sih? Sewot amat," gerutunya kesal mendapatkan perlakuan tersebut.


"Lagian kamu tuh cari gara-gara. Sana duduk di sebelah Mimi!" Elisa melotot tajam pada anaknya karena selalu melawan.


Terpaksa Ervin beranjak dari tempat duduknya, dia berpindah di samping kursi kiri Jasmine yang memang kosong.


"Ehem," Fatma menoleh pada Ervin yang dingin.


"Rileks Vin!" Evans menatap calon menantu.


"Iya, Om ... Tante," sahutnya menoleh sekilas pada mereka bergantian.


"Seharusnya kamu tidak perlu lagi memanggil kami om dan tante. Kamu juga boleh manggil Daddy sama Mommy kok, sama seperti Jasmine memanggil kami," Fatma menoleh dan menatap Ervin intens.


"Tapi kan, ini hanya tunangan Tante. Belum tentu kami berdua menikah, 'kan?" Ervin membalas tatapan dari Fatma.


Malik yang mendengar ucapan anaknya menghardik.


"Ervin! Jaga sikapmu! Pernikahan kalian akan kami adakan seminggu lagi. Siapa yang bilang kalau ini hanya tunangan saja?" Malik menyeruput secangkir teh hangat yang dia tuang dari teko.


Dia tidak mau melihat reaksi si anak walaupun Ervin terlihat bersabar dan menahan emosinya yang menentang keras acara ini.


"Kalian semua tidak ada yang peduli dengan perasaanku," batinnya berteriak kencang. Dia diam, tak menanggapi perkataan ayahnya tadi.

__ADS_1


Ervin diam ketika jemarinya digenggam oleh Jasmine. Wanita itu mengambil kesempatan untuk mendekat pada tubuh Ervin yang bersender di kursi.


Pria itu menoleh, dia mendekati telinga Jasmine dan berbisik.


"Kamu bisa menang malam ini. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa mencintaimu. Cinta ini hanya untuk Clara, ingat itu!" Ervin menekan nada suaranya.


Jasmine terdiam, ia menatap mata Ervin yang berusaha keras untuk menerima acara ini. Keterpaksaan terlihat jelas di manik matanya.


"Aku tidak akan pernah menyerah," suara Jasmine bergetar. Ada genangan air di pelupuk matanya. Wanita itu berusaha untuk menahan tangisnya.


"Kalian berdua kenapa?" Elisa yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik keduanya mulai bersuara setelah menyantap hidangan yang tersaji di atas meja.


"Nggak apa-apa Mam," Ervin memaksa untuk tersenyum lebar.


Jasmine melepaskan genggaman tangannya. Dia harus kuat dan tangguh dalam menyikapi kondisi seperti ini. Sementara Ervin menyeringai lebar, dalam benaknya mendadak muncul sebuah ide yang akan dia gunakan selanjutnya.


***


Clara tengah duduk di sofa ruang keluarga, dia ditemani oleh bibi di sana. Banyak body guard yang dikerahkan untuk menjaga area rumah.


"Bi, nyalain TV dong! Aku bosen liat video di sosial media," Clara menatap pembantunya.


"Nyalain aja Bi! Kali aja ada berita bagus atau film televisi," Clara meletakkan ponselnya di atas meja.


Kini matanya menatap layar televisi yang mulai menampakkan wujudnya.


"Berita viral nih non! Ada acara besar di pusat kota. Ngalahin artis biaya yang dikeluarkan nih," si Bibi antuasias penuh semangat.


Namun, ketika melihat siapa yang bersanding di atas panggung ballroom hotel, matanya melebar dan tak berkedip. Pikirannya tertuju pada pria berwajah datar tersebut.


"Mas Ervin," lirihnya, mulut terbuka lebar. Pandangan bibi terkunci pada layar televisi.


Clara bereaksi dengan ucapan bibi tadi. Dia menoleh bibi sekilas dan memandang dengan fokus pada layar kaca.


"Mas Ervin tunangan?" Clara menutup mulut setelah sadar karena sudah berteriak, ia tak mau Dendi mendengar teriakannya barusan.


"Sepertinya benar-benar mas Ervin, Nona," Bibi menoleh pada majikannya. Tidak ada kesedihan di raut wajah Clara, dia pikir berita tentang itu hanya untuk akal-akalan orang tua Ervin agar dirinya dan Ervin tak bersama. Namun, semua perkataan orang tua Ervin tidak main-main. Clara melihat wajah Ervin yang datar dan dingin di layar kaca. Dirinya belum pernah melihat raut wajah tersebut.


"Ervin dipaksa itu Bi, lihat aja mukanya jutek begitu. Selama bersamaku wajahnya selalu sumringah walaupun dulu aku sering memakinya," Clara menghela napasnya perlahan.

__ADS_1


"Sepertinya iya sih Non, kasian juga mas Ervin," Bibi menggigit bibirnya.


"Kalian berdua kenapa? Melamun atau nonton TV?" Mendadak Dendi muncul dari lantai dua dan langsung duduk di samping si anak. Clara refleks mengambil remote dan mematikan layar kaca. Dia berusaha menutupi kenyataan ini dari ayahnya.


"Aduh, kena pencet lagi," ucap Clara.


"Apanya yang kena pencet?" Dendi berusaha mencerna perkataan si anak.


"Remotnya Dad, aku mau ganti channel malah kena pencet tombol off," jelas Clara seraya menyengir lebar.


Dendi bersandar pada sofa, dia hanya ingin memastikan anaknya sudah sembuh dari trauma penculikan. Walaupun sebenarnya harus memakan waktu secara bertahap, setidaknya ada perubahan pada diri Clara.


"Mas Ervin, kenapa kamu di sana tidak bahagia? Sama dengan keadaanku di sini. Ada yang kosong dalam hati ketika kamu sudah tidak ada lagi di sini," batin Clara.


"Daddy, aku ke atas dulu ya! Sepertinya aku harus mengerjakan tugas kantor karena mulai minggu depan aku akan bekerja kembali," Clara beralasan.


"Tunggu dulu! Kamu yakin?" Dendi mencengkram pelan pergelangan tangan anaknya.


Clara hanya mengangguk saja.


"Kalau kamu masih takut, sebaiknya tidak perlu repot-repot bekerja selama beberapa bulan. Biar Daddy cari pengganti sementara untuk bertanggung jawab penuh atas perusahaan," usul Dendi agar anaknya dapat beristirahat sejenak.


"Enggak usah Dad! Biarkan aku yang menyelesaikan tugas kantor. Aku pimpinan di sana, aku harus bekerja lebih ekstra," Clara menjauh dari mereka.


Setelah kepergian Clara, bibi juga pamit untuk kembali beristirahat. Clara sudah berada di kamarnya. Dia mengambil ponsel lamanya yang hanya diketahui oleh Ervin. Tiba-tiba saja dia ingin menyalakan ponsel itu kembali.


Ponsel itu berbunyi, dengan cepat Clara menurunkan volume agar tak terdengar ayahnya di lantai dasar rumah.


"Nomor siapa ini?" Keningnya mengernyit heran.


Ada keraguan menelusup, "Apa aku harus menjawab panggilan telepon ini?" Gumamnya sambil memandang layar ponsel jadul.


*


*


*Bersambung


Satu episode lagi sudah tamat, terimakasih banyak atas dukungan semuanya selama ini 💓

__ADS_1


__ADS_2