Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 29. Merepotkan


__ADS_3

"Astaga kenapa bisa jatuh sih Bik?" salah satu pria itu setengah berlari dan menghampiri pembantu rumah.


Dia mengulurkan tangannya untuk membantu si bibi.


"Terimakasih banyak mas, aku terpeleset di sana," tunjuk si bibi pada sebuah lantai.


"Hati-hati Bik, memangnya Bibi ngapain kemari? bukannya sebentar lagi jam makan siang? emang dapur udah beres Bik?," tanya pria yang satunya.


"Aku di telepon Non Rara tadi, makanya aku ke sini dan menyampaikan amanat Nona," jawab bibi sambil menepuk-nepuk pantatnya.


"Memangnya Nona perlu sama siapa Bik?" mereka saling berpandangan dan menoleh berbarengan ke wanita paruh baya itu.


"Supir baru itu mas, aku ke atas dulu ya!" bibi berjalan perlahan. Dia masih menahan sakitnya.


"Tunggu Bik, biar aku saja yang menyampaikan," cegah salah satu pria, tangannya mencengkram pelan lengan bibi.


"Tidak perlu, biar bibi naik saja sampai tangga tengah, bibi gak kenapa-napa kok," senyum terkembang dari bibirnya.


"Pelan-pelan aja ya Bik!" seru mereka bersamaan dan meninggalkan tempat itu, mereka kembali berjaga di teras depan.


Tak... tak... tak


Suara anak tangga yang dipijak terdengar nyaring di telinga Ervin. Dia melongo melihat siapa yang datang.


"Lho, Bibi kenapa kemari?" Ervin melongo melihat wanita paruh baya itu sedang bersusah payah menaiki anak tangga satu demi satu.


Ervin tidak tega melihatnya, dia spontan turun dan menghampiri si bibi.


"Ada pesan dari Nona kalau Nona ingin makan siang di kantornya dengan menu masakan yang bibi buat Mas," bibi langsung berucap ketika Ervin sudah ada di depannya.


"Kalau begitu biar aku bereskan di atas sebentar ya Bik? dikit lagi udah selesai kok," Ervin tersenyum ramah.


Anak itu sopan sekali, senyumnya juga manis, ah seandainya dia anak orang kaya, pasti udah aku ejekin terus dengan Nona Clara. ( Bibi )


"Bik! kenapa bengong? mau aku anterin turun?" tawarnya.


"Eh, nggak usah! kamu lanjutin ajah dan langsung pergi anterin makan siang Nona!" bibi mulai menuruni anak tangga.


Ervin mengangguk dan kembali ke atas, dia mulai mengelap meja yang masih kotor dengan kain lap basah. Tidak lama, dia memakai kembali kaosnya yang sudah kering terkena terik matahari. Setelah itu dia mencuci wajahnya di wastafel dekat dengan toilet.


Dia pun membawa plastik sampah yang isinya lumayan penuh. Dia turun dengan menggotong kantung plastik tadi.


"Ah, sudah siap," ucapnya lega setelah menaruh kantung sampah tadi di luar pagar. Tak lama dia mengambil kunci mobil dan mencari bibi di dapur.


Walaupun ini hari pertamanya, tapi entah kenapa Ervin tidak merasa asing berada di rumah itu.


"Bik, mana makan siangnya Nona?" senyum merekah sempurna di wajahnya.


Ervin tidak menyadari bahwa ada seseorang yang tengah duduk di ruang tamu sedang membuntuti dirinya dan mengamati tindak tanduknya selama masuk rumah.

__ADS_1


"Ini Mas, sudah aku siapkan," bibi memberikan dua kotak makanan.


"Yang kotak berwarna merah itu punya Nona, kalau yang ini punya mas Ervin," ucap bibi.


Mendengar penuturan si bibi, Ervin merasa heran dan bertanya-tanya.


"Lho? punyaku juga ada bik?" Ervin menunjuk wajahnya sendiri.


"Iya Mas, semua yang bekerja di sini mendapatkan jatah makan siang tanpa terkecuali," jawabnya.


"Terimakasih ya Bik, kalau begitu aku pergi dulu," Ervin berbalik arah dan bergegas keluar rumah.


Orang yang mengikuti tadi langsung bersembunyi di balik sebuah pintu dapur yang terbuka lebar.


"Entah kenapa aku sepertinya tidak asing dengan rupa anak itu," orang itu ternyata tuan D yang mulai penasaran dengan supir baru anaknya.


Ervin sudah masuk ke dalam mobil, dia mengambil tas pinggang di dalam dashboard dan menyalakan ponselnya yang sudah nonaktif beberapa jam. Banyak panggilan tidak terjawab.


"Mama nelpon, Papa nelpon, Royan nelpon, Jeffrey juga nelpon, sebenarnya ada apa sih dengan mereka?" Ervin melempar ponselnya dengan malas di kursi sebelah.


Kini mobil sudah bergerak dan keluar dari rumah megah Clara. Sampai separuh perjalanan, Ervin di kejutkan oleh dering ponsel khusus. Dia mencoba menyalakan speaker ponsel dan menjawab panggilan itu.


[ "Ada apa Mam?" ] Ervin.


[ "Kamu gak pulang makan siang? kami udah nunggu lho!" ] Elisa.


[ "Nggak bisa Mam, aku ada perlu dan sekarang aku sedang berada di jalan, aku tutup ya Mam!" ] Ervin.


Cuuuuuuzzzzz.


Mobil terasa aneh, dengan tampang berkerut Ervin mematikan mesin kendaraan dan keluar dari mobil.


Dia melihat ke semua ban mobil.


"Sial bener, belum sampai ke kantor udah bocor ajah ini ban," dia menendang ban mobil itu karena dongkol.


Dirinya mencari bengkel terdekat melalui ponselnya dan langsung menghubungi nomor itu. Setelah menunggu beberapa saat satu orang muncul dengan mobil derek.


"Aku terburu-buru, jadi aku serahkan mobil ini pada kalian agar cepat beres!" serunya.


Sebuah mobil berhenti di depannya, dia kemudian teringat sesuatu.


"Heiii... tunggu sebentar! ada yang tertinggal di sana," Ervin bergegas membuka mobil yang hendak di derek. Dia mengambil kotak makanan dan tas pinggang, kemudian langsung masuk ke Taksi online yang sudah di pesan.


Sepuluh menit berlalu, dia sampai di kantor Clara.


Penampilan Ervin yang terkesan santai menjadi perhatian karyawan di sana. Dia ke bagian resepsionis dan menanyakan Clara.


"Maaf kalau tidak ada janji tidak boleh masuk ke ruangan Miss Clara," ketus resepsionis.

__ADS_1


"Saya ini 'Supir barunya yang mengantarkan makan siang buat Non Clara' masakan Bibi rumah," Ervin menekan kata-katanya dan menunjukkan kotak makan.


"Nggak percaya," resepsionis masih tidak peduli.


"Kalau tidak percaya panggil saja Non Clara kemari!" Ervin membentak karena tidak sabar.


Kedua orang itu menjadi perhatian orang-orang yang berlalu-lalang.


"Ada apa ini? kenapa kalian malah beradu mulut di tempat ini?" sebuah suara mengejutkan keduanya.


"Eh, ma-ma-af Miss Rara, ini orang mau menerobos masuk, dia bilang mau mengantarkan makan siang untuk Miss," jawab resepsionis tadi.


"Saya kan memang benar supir baru Anda kan Non?" Ervin berkata mantap.


"Astaga Mbak Deli, dia itu memang benar supir aku, kenapa Mbak gak nanya dulu sama aku?" Clara meluruskan.


"Tadi saya tanya dia, tapi dia bilang tidak ada janji dengan Anda Miss," Deli berasalan.


"Pelayanan yang buruk, resepsionis tapi judes," cemooh Ervin dengan tampang datar.


"Sudahlah! lupakan saja!" Clara masih menengahi.


Dia menatap Ervin yang masih malas untuk menatap Deli. Dilihatnya Ervin tengah membawa dua kotak makanan yang disusun dalam sebuah kantong plastik transparan.


"Itu makan siangku?" tanyanya berbinar-binar.


"Iya Non, ini dari Bibi!" Ervin mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah.


"Ayo kita ke kantin dulu, dekat kok dari sini!" entah kenapa dengan spontan Clara menarik lengan Ervin.


Sesampainya di kantin banyak pasang mata memperhatikan mereka. Ervin hanya terkekeh dalam hati karena Clara tidak menyadari perbuatannya.


"Eh maaf, aku spontan menarik kamu tadi," reflek dia melepaskan cengkeramannya.


"Tidak apa-apa Non, mau ditarik, dielus-elus atau bahkan dicium saya rela banget Non," Ervin tersenyum simpul.


"Kamu..." Clara melotot dan berkacak pinggang.


"Maaf Non sengaja, ini kotak merah punya Nona, ini bagian aku," Ervin melangkah pergi setelah meletakkan jatah makan Clara di atas meja.


"Tunggu..."


Clara menarik baju Ervin, dirinya berpikir sejenak.


"Lebih baik kamu...


*


*

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2