Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 51 Pengintaian


__ADS_3

Ervin tidak tinggal diam, dia bergerak lebih cepat daripada gerakan pria itu. Ervin mulai melumpuhkan lawannya dengan cara menendang kaki pria itu. Clara mulai melepaskan tangan dari cengkeraman pria yang menariknya. Wanita itu berlari menjauh dari mantan tunangannya.


Suara sirine polisi terdengar nyaring, beberapa orang polisi masuk ke dalam kantor. Dua orang petugas kepolisian meringkus pria tersebut setelah Ervin meninju perutnya sampai jatuh tersungkur di lantai.


"Beginilah kalau kamu berurusan denganku. Kamu pikir aku tidak bisa berkelahi? Aku itu supir sekaligus bodyguard nona Clara. Jadi, jangan sekali-kali kamu mendekati nona lagi!" Ervin memperingatkan pria tersebut.


"Hahaha," Pria itu tertawa dengan sombongnya. Walaupun, tangannya sudah di borgol oleh polisi.


"Kamu tidak tahu siapa aku supir br3ngs3k! Lihat saja sebentar lagi aku pasti akan terbebas! Bukan dalam hitungan hari tapi dalam hitungan jam," mantan tunangan Clara itu tersenyum licik.


"Penjara kan dia yang lama pak polisi! Aku tidak akan membiarkan dia berkeliaran di luar!" Clara mendekat, dia berdiri di samping supirnya.


"Kami akan menindaklanjuti kejadian ini," salah satu polisi berucap.


"Lihat saja Clara, aku pasti akan kembali sayang," Dia menyeringai lebar.


"Ih jijik deh, males banget dipanggil sayang sama kamu," Clara bergidik.


Clara kembali naik ke ruangannya. Ervin mengikuti di belakang wanita itu, dia tidak mau kecolongan lagi.


"Sudah aku bilang lebih baik kamu pulang saja!" perintah Clara.


"Aku akan menunggu Nona sampai Nona pulang. Keselamatan Nona adalah tanggung jawabku," Ervin masih keukeh dengan perkataannya.


Seharian Ervin menunggu Clara beraktivitas di kantor. Dia mulai merasa bosan dan turun untuk melihat-lihat keadaan.


Dia masuk ke dalam mobil dan beberapa saat kemudian entah karena kecapean atau mengantuk pria itu tertidur begitu saja.


Suara gedoran pintu mobil mengagetkan Ervin yang yang tengah tertidur pulas. Pria itu memicingkan matanya dan mengerjap-ngerjap agar bisa menerima cahaya dengan jelas. Dia tersentak begitu melihat Clara yang berdiri berkacak pinggang di depan pintu mobil.


"Maaf nona aku ketiduran," Ervin membuka pintu mobil dengan cepat. Dia melihat raut wajah Clara yang sudah merah karena menahan emosi.


"Sudah aku suruh pulang malah tidur di sini gaji kamu mau aku potong ya?" ancam Nona mudanya.


"jangan nona aku mohon. Aku baru saja tertidur, mungkin aku terlalu capek, semalam kan aku terkunci di kamar mandi," dia beralasan.


"Jadi kamu terkunci? Aku pikir kamu memang akan menghilang selamanya dari rumah," Clara masuk ke dalam mobil.


"Aku butuh pekerjaan ini nona, aku sudah nyaman dengan pekerjaan ini," sahut Ervin cepat.


Clara diam saja tidak mau berdebat dengan supirnya. Dia mulai berselancar di dunia maya. Supirnya itu mengintip wajahnya dibalik kaca spion mobil.


"Mau marah, mau senyum, mau dongkol, mau kesel, mau sedih, tetap aja cantik," batinnya.


Mereka sudah sampai di depan rumah. Clara keluar dari mobil setelah supirnya itu membuka pintu.


Ervin memarkirkan mobilnya, dia kemudian naik ke rooftop untuk berkemas karena sebentar lagi dia akan pulang.


"Akhirnya pulang juga, pasti Mama ngomel-ngomel nggak jelas tuh," keluhnya.


Frank mendekati Ervin yang keluar dari kontainer, dia tersenyum lebar pada pria itu.

__ADS_1


"Jadi pulang kan?" tanyanya.


"Iya Pak jadi, sebentar lagi saya pulang," sahut Ervin.


"Aku pikir besok pagi pulangnya," tangan kanan Tuan D mengernyit heran.


"Kalau harus sekarang juga boleh kan pak? soalnya saya sudah mengabari kedua orang tua saya. Saya khawatir mereka menunggu saya pulang," Ervin beralasan.


Frank berpikir sejenak. Pria paruh baya tersebut mengangguk setuju.


"Boleh tapi nanti agak malam ya! soalnya ada beberapa hal yang harus kamu lakukan dahulu," ujarnya mengulur waktu.


"Apa yang harus aku lakukan pak?" kerutnya.


"Nanti aku panggil kalau sudah tiba saatnya," Frank tersenyum tipis, dia langsung melangkah pergi meninggalkan Ervin.


Ervin mengatupkan mulutnya, mau tidak mau dia harus mengikuti kemauan Frank si tangan kanan Tuan D.


Frank dengan sigap merogoh kantong dan mengeluarkan ponselnya. Dia menghubungi seseorang untuk menemuinya di rumah tuan D sekarang juga.


Setelah itu dia mulai bernapas lega.


"Aku pikir anak itu mau pulang besok pagi, ternyata dia sudah bersiap untuk pulang," lirihnya sambil melihat rooftop.


Senja sudah pulang ke peraduannya. Ervin masih menunggu panggilan dari Frank tentang apa yang harus dia lakukan sebelum pulang.


Pria itu turun dan mencari keberadaan Frank.


"Oh iya aku lupa," Frank menepuk jidatnya.


"Kamu boleh pulang sekarang juga! biar nanti aku memanggil orang lain saja," ucapnya lagi.


"Baiklah pak, terimakasih ya pak. Kalau begitu saya permisi," pamitnya.


Ervin mengambil kunci motor, dia keluar dari rumah Clara dengan terburu-buru.


["Ikutin dia jangan sampai kamu kehilangan jejaknya selama dua hari ini! laporkan apa saja yang dia lakukan!"] perintah Frank pada orang di seberang telepon.


Ervin tidak mengetahui siapa yang mengikutinya. Dia pulang ke rumah orang tuanya sebelum melakukan pengecekan pada tiga apotek yang tengah dia kelola.


Dua jam kemudian, tibalah pria itu di rumah mewahnya. Dia memanggil ibunya yang berada di taman depan seolah-olah menunggu kepulangan anaknya.


"Hei Mam," sapanya sambil tersenyum senang tanpa perasaan bersalah.


"Hai hei, hai hei. Pake salam dong biar tahu kalau kamu yang datang," ibunya mengomel.


"Iya maaf Mam," dia bersalaman dan mencium punggung tangan ibunya.


Ibunya beberapa kali menepuk pundak anaknya dengan kuat.


"Sakit mam," Ervin mengelak.

__ADS_1


"Biarin, kamu sih lama banget baru mau pulang. Mama udah kangen berat," ucapnya.


Mereka berdua bercerita di depan taman tanpa tahu bahwa Malik tengah berdiri di belakangnya.


"Pulang bukannya masuk rumah malah ngumpul di sini," pria paruh baya itu berkacak pinggang.


"Pa," Ervin menoleh dan mencium punggung tangan ayahnya.


"Masuk sekarang juga!" perintahnya.


Mereka bertiga melangkah beriringan dan masuk ke rumah tanpa tahu ada seorang pria yang tengah memperhatikan.


"Ada yang bisa saya bantu? Anda mencari siapa?" Tanya sekuriti pada pria tersebut.


"Saya mau nanya tentang mas Ervin pak? Boleh kan?" pria itu tersenyum ramah.


"Boleh saja," jawab sekuriti tanpa membuka pintu pagar.


Mereka mengobrol santai dan terlihat akrab setelah beberapa saat. Pagar rumah seolah tidak menjadi penghalang untuk mereka.


"Wah makasih banyak ya pak atas informasinya. Soalnya saya mau mencari pekerjaan. Mungkin saja mas Ervin butuh pekerja baru. Kalau begitu saya pamit undur diri pak," pria tersebut tersenyum ramah dan mulai meninggalkan rumah Ervin.


Dia duduk di atas motornya dan menghubungi seseorang serta mengirimkan beberapa foto.


["Om, sepertinya Ervin memang bukan orang sembarangan"]


["Firasat tuan D ternyata terbukti. Siapa nama orang tuanya? apa pekerjaannya? kamu harus cari tahu semuanya tanpa terkecuali. Cari orang-orang yang berhubungan dengan keluarganya juga!"]


["Satu-satu dong Om, ini aku juga udah mulai mencari informasi lagi. Besok aku kabari lagi ya om!"]


"Dasar orang tua gak sabaran, memangnya gampang mau nyari informasi orang terpandang seperti mereka?" gerutunya kesal.


Frank tersenyum lebar, sebentar lagi dia akan tahu siapakah Ervin sebenarnya.


"Bersiaplah Ervin. Kalau terbukti kamu musuh dalam selimut siap-siap saja akan kami musnahkan," dia tertawa.


"Om, mana supir itu?" tanya majikannya.


"Nona belum tahu ya kalau dia libur dua hari?" Frank malah balik bertanya.


"Benarkah? ya udah deh," Clara terlihat kecewa.


Wanita itu pergi meninggalkan Frank yang berada di ruang tengah seorang diri dengan raut wajah kesal.


"Kenapa wajahnya berubah? apa jangan-jangan nona Clara....


*


*


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2