Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 60 Butuh Penjelasan?


__ADS_3

Ervin melangkah lesu, dia keluar dari garasi dan pergi berjalan ke dapur. Dia mengambil air minum yang telah disediakan di sana. Barulah kemudian dia naik ke rooftop dan mencari sudut yang sepi.


"Aku harus mencari tahu apa tugas selanjutnya," Pria itu menghela napas.


Tugas pertamanya berjalan dengan mulus dan mendapatkan respon positif dari tuan D dan Frank. Mereka semakin yakin bahwa Ervin akan setia dan tidak akan berbelok menjadi pengkhianat.


"Halo, saya diberikan nomor ini oleh pak Frank Kusuma," Ervin berusaha menormalkan napasnya yang memburu karena gugup.


["Owh, kamu pasti Ervin ya? Kalau begitu kamu pergi ke alamat ini!"]


Pria di ujung telepon mengucapkan sebuah alamat lengkap.


"Tapi sebenarnya apa tugasku?" Ervin penasaran sekali.


["Aku tunggu kamu di sana! Setelahnya barulah aku akan menjelaskan tugasmu,"]


Ervin tidak bisa menyahut dan bertanya lagi. Suara pria tersebut sudah tidak terdengar karena telepon sudah terputus.


"Masalah dengan Clara belum beres. Ini harus memulai tugas lainnya," Ervin menyimpan ponselnya di kantong.


Dengan langkah tegap dan wajah datar dia turun dan mengambil kunci mobil di dalam rumah.


"Hey supir," panggil sebuah suara bariton yang agak serak.


Ervin menoleh, dia menundukkan kepalanya sebentar kemudian menyahut.


"Ada apa tuan?" Tanyanya.


Pria itu menghentikan langkahnya ketika tuan D sudah berada di anak tangga paling bawah.


"Kenapa dengan Clara? Tadi aku mendengarnya masuk ke kamar dan membanting pintu dengan keras. Bukankah kalian tadi keluar berdua?" Mata tuan D menyelidik wajah di depannya.


"Owh mungkin nona kesal karena saya bertemu dengan sepupu saya di pusat perbelanjaan tadi," Ervin merasa bersalah.


"Sepupu perempuan?" Tuan D berkerut.


Ervin mengangguk saja. Dalam matanya tidak terlihat sebuah kebohongan. Tuan D tidak bertanya tentang anaknya lagi.


"Ya sudah, seperti biasa carilah Frank!" Serunya.


"Saya sudah bertemu dengan pak Frank, tuan. Ini saya mau ke lokasi," Ervin mengambil kunci mobil dan pamit pada majikannya.


Setelah Ervin keluar rumah tuan D memikirkan sesuatu.


"Wajah anak itu, sepertinya aku pernah melihatnya. Entah kenapa lama kelamaan aku seakan familiar dengan wajahnya," tuan D duduk menyilangkan kaki.


"Apakah dia salah satu anak dari sainganku yang tidak aku ketahui? Tapi, semua datanya jelas kecuali ...." tuan D mengingat hal yang terlupakan.


Dia kembali naik dan menuju ke ruangannya. Dia mencari keberadaan sebuah berkas yang belum dibuka.

__ADS_1


Sementara itu, Ervin berada di jalan raya utama. Dia mencari alamat yang dikatakan oleh pria suruhan Frank. Tak lama kemudian dia sampai di alamat tersebut. Tampak bangunan tua terbengkalai, dia merasa aneh.


"Kenapa aku harus kemari? Sepertinya tidak ada orang," Ervin celingukan mencari keberadaan orang-orang yang mungkin saja ada tapi entah dimana.


"Sebaiknya aku menghubungi dia lagi," Pria itu merogoh kantong dan mengeluarkan ponselnya.


Sebelum panggilan tersambung, ada yang menepuk pundak Ervin. Pria itu menoleh dan mengurungkan diri untuk berjalan lebih jauh.


"Kamu Ervin yang disuruh om Frank?" Tanya pria yang menepuk pundak Ervin.


"Iya, saya Ervin. Memangnya kali ini tugas apa? Aku tidak tahu kenapa tuan D punya banyak sekali gudang tak terawat," Ervin melihat sekeliling.


"Bisnis tuan D banyak, dia rajanya dalam hal ini. Kamu tahu Pablo Escobar? Ya, seperti itulah kira-kira tuan D tapi versi lokalnya," ucap pria tadi yang menyuruh Ervin mengikutinya dengan cara mendorong tubuh Ervin.


"Pablo Escobar? Bukannya dia itu orang yang berhubungan dengan dunia kriminal?" Ervin tersentak dengan apa yang diucapkannya.


Dia menoleh pada pria di sebelah, pria itu hanya tersenyum lebar.


"Baru tahu kamu sekarang? Ha-ha-ha," Pria itu tertawa kencang.


"Tugasmu ada di dalam sana! Ayo kita masuk!" Ajak pria itu.


Mau tak mau Ervin harus mengikuti, dia tidak ingin berjauhan dengan Clara jadi jalan ini harus dilakukannya.


"Kirim ke alamat ini! Setelah itu hubungi orang tersebut pakai ponsel sekali pakai," Pria itu menyodorkan sebuah ponsel jadul pada Ervin.


"Ingat, itu barang cair. Kamu harus berhati-hati agar isi di dalamnya tidak pecah," Pria tersebut memperingatkan dirinya.


"Ternyata kekayaan Tuan D dari jualan beginian. Tapi perusahaan itu miliknya apa punya nyonya yang sudah almarhum ya?" Supir itu bertanya-tanya.


Namun dia tetap tidak bisa mendapatkan jawaban yang pasti.


Dia kembali mengendarai mobil dan meluncur ke jalan raya. Yang ada di pikirannya sekarang hanya ingin cepat mengantarkan barang itu dan kembali ke rumah untuk membujuk Clara.


****


Sore itu Clara tertidur di kamarnya. Beberapa kali bibi mengetuk pintu namun tak ada sahutan dari nonanya.


"Nona masih marah atau gimana ya? Dari siang tidak keluar kamar," keluhnya.


Si bibi turun dan pergi ke dapur untuk memasak makanan untuk makan malam.


Setelah bibi turun, Clara yang ingin buang air kecil mau tak mau bangun dari tidurnya. Dengan mata sembab dia masuk ke toilet dan menuntaskan hajatnya.


"Wajahku kenapa bisa begini?" Dia menatap wajah sembabnya di cermin.


Clara menggumam dan membuka pakaiannya satu persatu. Dia mandi disaat itu juga agar wajah dan badannya terasa segar dan tidak kusut lagi.


Sepuluh menit lebih berlalu, dengan handuk kimono dia keluar dari kamar mandi. Rambutnya yang basah tergerai. Wanita itu menyalakan hair dryer untuk mengeringkan rambut dengan cepat.

__ADS_1


Suara ketukan pintu membuatnya mematikan pengering rambut. Dia melangkah mendekati pintu.


Namun enggan membukanya.


"Siapa sih itu?" Tanyanya.


"Nona, ini bibi bawakan minuman hangat," suara bibi terdengar khawatir.


"Bentar ya bi!" Clara mengambil kunci di atas meja rias.


"Memangnya bibi bawa minuman apa?" Clara membuka pintu.


Dia berdiri mematung di ambang pintu dan melotot tajam pada orang di depannya.


"Kamu? Mana bibi?" Clara berkacak pinggang.


"Aku masuk ya?!" Entah itu pertanyaan atau pemaksaan.


Orang di hadapan Clara masuk begitu saja sebelum wanita itu menutup pintunya. Tenaga wanita itu terlalu lemah dibandingkan dengan orang di depannya.


"Please Ra, aku mau menjelaskan semuanya tentang tadi," Ervin memohon.


"Memangnya aku kenapa? Kenapa kamu harus menjelaskannya?" Clara duduk di pinggir ranjangnya.


Ervin menutup pintu dan menguncinya dari dalam.


Sekarang pria itu lebih berani dari sebelumnya.


Supir Clara menghampiri dan duduk di hadapannya.


"Kamu cemburu karena mereka mendekati aku kan?" Ervin meraih tangan Clara.


"Lepaskan!" Clara menghentakkan lengannya agar terlepas dari cengkraman si supir.


"Katakan kalau kamu sebenarnya memiliki perasaan padaku!" seru Ervin.


"Apa? Kamu nggak salah? Sadar diri kamu itu siapa! Kamu hanya 'Supir' di sini, tidak lebih. Kamu tahu statusku apa? Majikan kamu," Clara bersedekap.


Raut wajahnya memerah menahan emosi yang membuncah di dalam dada.


"Tapi walaupun begitu kamu menyukai aku kan?" Ervin masih menggoda majikannya.


"Mimpi kamu supir sialan!" Clara mencemooh.


Ervin tiba-tiba saja membuat Clara terbelalak.


Tapi dia tidak bisa menahan pria yang sedang berbuat sesuatu padanya.


*

__ADS_1


*


*Bersambung


__ADS_2