Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 86 Pertemuan Kembali


__ADS_3

Kendaraan lain berbelok dengan cepat. Kendaraan mereka bertabrakan. Dua kendaraan yang mengerem sedari tadi berbenturan namun tak terlalu keras di telinga orang-orang yang berlalu-lalang. Tetap saja dua kendaraan itu dikerubungi oleh banyak orang.


"Minggir kalian! Dorong mobil mereka ke bahu jalan agar tak menimbulkan kemacetan!" Seorang sekuriti dari perumahan setempat menghampiri mereka.


Dendi keluar dari mobil, dia melihat mobil di depannya yang saling bertabrakan tadi.


"Sialan, keluar kamu!" Dendi merasa pusing, tapi emosi menguasai dirinya.


"Bapak tenang! Apakah ada orang lain di mobil bapak?" Si sekuriti yang membantu melerai Dendi.


"Clara, anakku," Pria itu teringat tentang anaknya. Dia kembali ke mobilnya dan mengurungkan niatnya untuk melabrak pengendara mobil itu.


"Panggil Ambulans secepatnya!" Pekiknya lantang.


"Tenang dulu pak! Sebentar lagi ambulans tiba, rumah sakit hanya berjarak sekitar sepuluh menit," Bapak sekuriti tadi menenangkan Dendi yang membuka pintu mobil belakang.


Ambulans tiba dan membawa Clara yang masih tak sadarkan diri.


***


Kediaman Keluarga Malik


Ervin yang berada di kamarnya berusaha menghubungi sekuriti rumah Clara. Dia baru saja teringat dengan ponsel jadul yang sengaja dibeli.


"Pak, bagaimana keadaan Clara? Dimana dia sekarang? Bisakah aku berbincang dengannya?" Tanyanya bertubi-tubi.


"Mas Ervin, bos sama nona pergi ke rumah sakit. Tadi bapak menggedor pintu nona. Nona pingsan tak sadarkan diri," jawab Sekuriti.


"Rumah sakit mana pak? Aku akan ke sana!" Pria tersebut sungguh tak sabar.


"Itu dia masalahnya mas, bapak tidak tahu non Clara dibawa ke rumah sakit mana," Sekuriti kebingungan.


Tanpa aba-aba pria itu memutuskan panggilan begitu saja. Dia keluar dari kamar dan mengambil kunci mobil.


"Mau kemana kamu Vin?" Tanya Malik berkacak pinggang. Kebetulan dia ingin pergi ke dapur untuk mengambil air.


"Bukan urusan papa!" Jawabnya tak sopan.


"Jadi anak nggak ada sopan-sopannya. Letakkan kunci itu! Kamu tidak boleh pergi kemana-mana!" Perintah papanya.


"Ervin bukan anak kecil pa!" Pekik Ervin, matanya nyalang menatap ayahnya.


"Kamu ... kamu sungguh ... " Malik menekan dadanya yang terasa sesak.

__ADS_1


Ervin langsung pergi meninggalkan Malik, dia tak menghiraukan ayahnya yang sedang sesak napas.


Malik tiba-tiba saja jatuh dari anak tangga, kakinya yang berusaha untuk turun ternyata bergeser dan tak berpijak karena pandangannya kabur.


Ervin terus berlari ke garasi dan mengeluarkan kendaraan. Dia menekan klakson berkali-kali sampai sekuriti rumah membuka pagar untuknya.


"Lama amat tuh pak tua bukanya," Geramnya sudah tak sabar.


Mobil meluncur ke jalanan utama. Pria itu harus pergi ke rumah kekasihnya dan mengecek setiap rumah sakit terdekat dari rumah wanita itu.


Malik yang berguling begitu saja tentu menimbulkan kegaduhan. Suaranya terdengar bergetar memanggil istrinya. Bibi yang pada saat itu hendak mengambil baju di mesin cuci melihat keadaan Malik yang sudah tak sadarkan diri.


"NYONYA! TUAN TERJATUH!" Teriaknya setelah berada tepat di hadapan Malik.


Nissa yang mendengar suara ribut-ribut keluar dari kamar. Mata yang masih mengantuk dia kucek berkali-kali agar rasa kantuknya berkurang.


Dia berjalan menghampiri bibi yang gemetar.


"Pa-papa--" Suaranya tercekat.


"Mas Kino!" Nissa kembali masuk dan menarik tubuh suaminya yang terlelap dalam mimpi.


"Mas, papa mas! Ayo kita bawa papa ke rumah sakit!" Nissa menepuk-nepuk pipi suaminya sampai terbangun.


"Kenapa?" Tanyanya seraya menggaruk kepalanya.


"Papa, ayo kita keluar!" Nissa keluar menarik tangan suaminya. Mereka berdua berlari dan menghampiri Malik.


"Bi, papa kenapa?" Nissa duduk di lantai, meraih kepala Malik dan dibaringkan di atas pahanya.


"Sebaiknya bawa ke rumah sakit!" Kino terlihat khawatir.


"Bi! Panggil pak sopir!" Elisa memekik, dia baru saja tiba karena tadi dirinya sedang berada di kamar mandi dan tak mendengar suara ribut-ribut.


Bibi setengah berlari meninggalkan mereka. Di luar sana dia memanggil pak sopir yang berada di pos keamanan bersama pak sekuriti.


"Pak, tuan pingsan. Cepat siapkan mobil dan bawa ke rumah sakit!" Bibi cemas dan langsung menarik tangan sopir itu agar lekas menyiapkan mobil.


"Iya bi, sabar!" Pak sopir melangkah cepat dan mengambil kunci mobil di garasi. Dia menyalakan mesin kendaraan.


"Pak, masuk ke rumah dulu! Gotong tuan Malik," Bibi memanggilnya.


Pria paruh baya tersebut melangkah terburu-buru. Kino membantu pak sopir mengangkat badan Malik dan membawa ke kursi belakang.

__ADS_1


Elisa masuk menemani pak sopir. Mobil melaju kencang. Malam ini kendaraan tak banyak, kendaraan mereka leluasa menyalip beberapa kendaraan lainnya dengan cepat. Nissa dan Kino menitipkan anak-anaknya pada bibi. Mereka berganti pakaian dengan cepat dan menyusul kendaraan pak sopir.


"Hubungi mama! Kita sudah tertinggal jauh!" Kino fokus pada jalanan.


"Bentar mas," Nissa mengambil ponsel dari dalam tas dan segera menelpon Elisa.


Sayangnya, tak ada sahutan walaupun beberapa kali dia mencoba.


"Kita cari rumah sakit yang paling dekat dari sini mas! Pasti mereka ada di sana," Nissa merasa khawatir.


Semenjak kecelakaan maut yang merenggut nyawa kakeknya, Nissa sepertinya trauma akan kehilangan orang yang tersayang. Dia meremas tangannya sendiri.


Ervin yang mencari keberadaan kekasihnya di rumah sakit, belum menemukan titik terang. Dia sudah berusaha untuk menemukan rumah sakit yang mungkin saja ada Clara di dalamnya. Namun, hasilnya nihil. Pria itu tak pantang mundur, dia kembali melajukan mobilnya dan mencari keberadaan Clara di rumah sakit lainnya.


Dia melihat ada sebuah mobil yang familiar di parkiran. Dengan cepat dia masuk dan bertanya pada perawat yang sedang piket.


"Sus! Ada pasien yang namanya Clara tidak? Dia dirawat karena pingsan," Tanyanya tak sabar.


"Pingsan? Sepertinya nggak ada, kalau karena kecelakaan ada sih mas. Ada di ruang ICU sedang ditangani dokter," Suster itu menunjuk ruang ICU.


"Namanya beneran Clara? Clara Adeline?" Ervin masih belum yakin.


"Entahlah saya lupa, tadi kalau nggak salah dua orang yang dirawat. Satunya bapak-bapak, satunya wanita muda," Suster tersebut pamit undur diri karena ada rekan kerja yang memanggil.


Ervin mencoba berpikiran positif. Dia berjalan tergesa-gesa menuju kamar ICU dan melihat pasien.


Langkahnya berhenti setelah melihat wanita yang terbaring lemah di atas brankar beroda. Wajahnya terpaku melihat kekasihnya yang tak bergerak.


"Clara, mau dibawa kemana Sus?" Ervin mengikuti langkah dokter dan suster.


"Sebaiknya anda menyingkir! Pasien kritis karena benturan di kepala. Dokter spesialis syaraf hari ini libur, kami akan memindahkan pasien," jelas suster.


"Saya kekasihnya sus, saya akan menemaninya," seru Pria itu.


"Tunggu! Siapa kamu berani-beraninya mau menemaninya?" Seorang pria setengah berlari mendekati mereka.


"Kamu? Sejak kapan kamu keluar dari ..." Ervin tidak melanjutkan perkataannya. Mata pria itu menatap nyalang.


*


*


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2