
"Siapa sih? Datang-datang bukannya nanya baik-baik malah ketus begitu. Kenapa juga dibukain pintu pagar sama si bapak," batin bibi ngedumel.
"Cepat panggil!" Pekik Pria paru baya tersebut. Raut wajahnya memerah menahan emosi diri yang membuncah.
"Tunggu sini dulu pak!" Bibi langsung menutup daun pintu, ia masuk ke dalam ruangan keluarga karena Malik tengah duduk di sana menunggu di istri.
"Maaf tuan, ada orang yang mencari. Dia tidak mau menyebutkan nama," Bibi pamit setelah menemui tuan rumah.
Malik beringsut dari tempat duduknya, ia melangkah cepat dan membuka pintu.
"Anda siapa? Bertamu ke rumah orang tapi tidak sopan," Malik tak kalah sengit, dia mendengar teriakan tamunya ketika menyuruh bibi tadi.
"Memang seharusnya begitu, pemilik rumah ini sudah menculik anak saya. Katakan dimana anak saya?" Pria paru baya seumuran Malik berucap kasar.
"Menculik? Apa maksudnya? Aku benar-benar tidak mengerti! Seharusnya kalau anak anda diculik langsung lapor polisi bukannya datang kemari," Malik tak mau kalah.
"Ada apa Mas?" Elisa mendekati suaminya, dirinya sudah bersiap dengan tas yang ada di lengan.
"Ini—ada orang stres nyari anaknya yang diculik. Tapi malah menyalahkan penghuni rumah ini," Malik menunjuk pria tersebut dengan dagu.
"Mana Ervin? Pasti dia yang menculik anak saya. Anak saya selalu saja memanggil namanya sebelum dia pergi meninggalkan rumah," Pria itu tidak menanggapi perkataan tuan rumah.
"Anakku ada di kamarnya. PUAS ANDA?!" Malik menarik lengan istrinya. Dia mendorong tubuh pria itu agar menjauh dari pintu rumah.
Dengan cepat Malik mengunci pintu rumahnya dari luar.
"Kami tidak ada urusan dengan anak anda itu. Seharusnya laporkan penculikan tersebut pada kepolisian bukan malah datang ke sini!" Ketus Malik tak sabar.
"Ayo kita berangkat Sayang! Nanti malah kehabisan jas yang bagus untuk 'pertunangan' anak kita," Malik merendahkan intonasi suara.
"Oke," Elisa melengos ketika pria itu menatapnya dengan tatapan penuh arti.
Mobil sudah berada di depan teras rumah. Malik dan istrinya masuk tanpa mempedulikan pria paru baya tersebut.
__ADS_1
"Pak! Ke pos jaga bentar ya! Suruh pak sekuriti usir orang itu. Aku tidak mengenalnya," Seru Malik pada si sopir.
Kendaraan melaju kencang meninggalkan kediamannya setelah mereka melihat sekuriti rumah menghampiri tamu tak diundang tersebut.
Elisa dan Malik berbelanja di sebuah butik terkenal langganan keluarganya selama bertahun-tahun. Mereka memilih jas yang cocok dan pas untuk Ervin setelah mengetahui warna apa yang akan dikenakan Jasmine pada gaunnya. Hampir dua jam Malik menemani si istri. Dia mulai bosan berada di sana.
Satu ide melintas di kepala Malik, dia merogoh kantong celana untuk mengambil ponsel dan menghubungi seseorang yang dia kenal baik dari dulu sampai sekarang.
"Pokoknya kamu harus datang besok malam! Jangan lupa permintaanku tadi ya!" Malik langsung memutuskan panggilan setelah mendapatkan respon.
"Aku udah selesai mas. Aku juga beli untuk keluarga kecil Nissa biar busana yang kita kenakan seragam." Elisa tersenyum lebar.
"Kalau sudah beres, kita pulang sekarang! Beristirahat untuk acara besok malam." Senyumnya sumringah sekali.
Mereka menyuruh karyawan toko agar membawakan barang belanjaan yang mereka borong. Kendaraan sudah kembali ke kediaman keluarga besar Malik.
Di kediaman keluarga Dendi
Sifatnya yang biasanya keras kepala dan suka seenaknya mulai berubah melow karena penculikan tersebut masih membekas dalam ingatan.
Kini dia berada di kamar miliknya ditemani sang ayah sampai dirinya tertidur.
"Untung saja ada manager yang mengurus perusahaan. Kalau tidak, aku enggak tau lagi apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan perusahaan," Dendi bernapas lega. Dia memandang wajah anak satu-satunya yang sudah terlelap.
Hari mulai beranjak senja, Pria itu keluar dari kamar anaknya. Dia memanggil Frank dan bertanya tentang Royan dan komplotannya. Setelah mendapatkan jawaban yang memuaskan dari orang kepercayaan, Dendi mulai menonton televisi dengan santai.
"Siapa itu yang mau kawinan? Meriah banget," Dendi berkomentar. Ada sebuah berita terbaru yang dia tonton selepas iklan. Di sana, ada foto seorang pria dan wanita. Si wanita tersenyum lebar, berbinar-binar. Berbeda dengan si pria yang wajahnya datar tanpa ekspresi sedikit pun.
"Lho, ternyata dia? Tapi, kenapa mendadak? Clara tidak boleh tau tentang ini," Dendi langsung mematikan televisi.
Malam mulai beranjak setelah senja tak terlihat lagi. Di sebuah ballroom hotel bintang lima sudah ada beberapa tamu undangan yang hadir. Dua keluarga besar berdatangan dan menunggu di sebuah kamar besar yang mereka sewa.
"Wah, kamu cantik banget Mi!" Nissa yang menggendong anak bungsunya terpukau oleh penampilan Jasmine. Seorang penata rias sudah selesai dengan pekerjaannya. Gaun yang dikenakan Jasmine begitu anggun dan menambah kesan elegan dalam setiap balutannya. Berpadu dengan dandanan minimalis sesuai permintaan Jasmine. Wanita itu tampil cantik mempesona membuat yang melihat terpukau.
__ADS_1
"Kalau Ervin liat, pasti dia enggak ngeh kalau ini kamu. Sumpah cantik banget," Nissa memuji calon iparnya.
"Biasa aja kak Nis, aku kan keturunan bule kak, makanya begini," Mimi terkekeh geli melihat tampang Nissa yang berlebihan.
"Nissa—keluar sana! Kamu ngerecokin Mimi ajah," Elisa yang ingin tahu tentang persiapan Jasmine mengusir si anak agar tak mengganggu mood Jasmine.
"Baru juga masuk Ma," Nissa keluar sebelum ibunya menambah panjang daftar omelannya.
Ervin yang sedari tadi bertampang datar mulai tidak nyaman berada di keramaian acaranya sendiri. Dia duduk menjauh dari keramaian, berulang kali dirinya menghubungi nomor ponsel Clara. Namun, tetap saja nomor itu tidak bisa tersambung.
Acara pun dimulai, pembawa acara membacakan rangkaian acara satu persatu. Sedari tadi Ervin masih saja datar dan cuek. Tibalah saatnya pasangan tunangan tersebut menukar cincin di atas panggung yang disediakan pihak hotel. Ada kue tar yang tersusun di hadapan Jasmine dan Ervin. Di atas kue itu terukir nama mereka dan tanggal acara pertunangan ini.
Malik dan Elisa menemani anaknya agar tidak membuat kekacauan. Begitu pula dengan Jasmine, dia ditemani orang tua yang begitu bahagia dengan acara ini. Ervin memasukkan cincin yang Elisa berikan di jari manis kiri Jasmine. Walaupun sedikit kasar, wanita itu tetap tersenyum dan mencoba untuk memaklumi sikap Ervin. Tepukan tangan para tamu yang hadir menambah acara semakin meriah. Mereka memotong kue bersama, kilatan dari lampu kamera membuat Ervin sadar dengan kehadiran beberapa orang media.
"Pa, papa manggil orang media kemari?" Ervin mengerutkan keningnya.
Dia tidak peduli pada Jasmine yang mengulurkan tangannya untuk menyuapi dirinya makan kue tersebut.
"Memangnya kenapa? Ini kan berita bahagia bagi keluarga kita. Jadi, harus memberi tahu pada semua orang yang ada di Indonesia ini," Malik menjawab santai.
"Tapi, pa ... enggak begitu juga caranya," Ervin merasakan cemas yang berlebihan.
"Memangnya kenapa? Udahlah enggak usah banyak protes!" Malik menarik Ervin agar kembali ke tengah panggung.
Awak media memotret dan mengabadikan momen itu dengan siaran langsung. Dua keluarga tersenyum lebar dan bahagia kecuali satu orang.
"Pak, ada keributan di pintu masuk." Tiba-tiba ada seseorang yang mendekat dan berbisik pada Malik.
*
*
*Bersambung
__ADS_1