
"Tunggu! aku mau mengembalikan ini," pria itu tersenyum dan memberikan gelangku yang terjatuh tadi.
Aku mengambilnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Rasa jengkel menguasai karena gelang ini harus di sentuh oleh seorang pria seperti dia.
Aku kembali melangkah menghampiri sahabatku, mereka masih saja bengong melihat pria tadi.
"Ayo kita pergi dari sini!" aku menyeret mereka berdua.
Dasar sok cakep, padahal biasa aja mukanya.
"Ra, cowok itu buat aku meleleh," Mitha mengedipkan sebelah netranya.
"Ngarang, emangnya kamu eskrim bisa meleleh," cibirku padanya.
"Dia itu cowok ala-ala Korea, kita taruhan aja kalau cowok itu buka baju pasti badannya berotot dan seksi," Emi menempelkan kedua tangannya dan menepuk pelan. Pandangan mereka berdua masih tertuju ke belakang dimana pria tadi sedang mengobrol dengan teman-temannya.
"Aku malah berharap gak ketemu cowok menyebalkan sepertinya," ketusku meninggalkan mereka berdua.
"Ra! tungguin kita dong!" Emili dan Mitha mulai mengejarku.
*POV Clara off
...----------------...
"Vin, kamu ngapain tadi? mau kenalan sama cewek?" goda Edo.
"Balikin gelangnya yang terjatuh gegara aku tabrak tadi," sahut Ervin santai.
Padahal aslinya dia sedang menyembunyikan perasaannya yang sudah terjerat oleh gadis tadi.
"Kenapa gak sekalian kenalan? cewek tadi cakep lho," Tio memandang ketiga gadis yang sudah berlalu dari hadapannya sedari tadi.
"Sepertinya dia sedang kesal, makanya aku gak ngajak kenalan," sahutnya santai.
Mereka mulai masuk ke sebuah museum lilin yang terkenal di sana. Banyak patung lilin menyerupai artis-artis terkenal di dunia perfilman. Mereka berjalan sambil bercanda ala-ala cowok kebanyakan yang terkadang garing.
"Eh cewek itu lagi bro," Edo menyenggol lengan Ervin.
"Cakep, beneran deh," timpal Tio.
"Emang cakep sih, tapi dia gak mau ngomong sepatah katapun," Ervin mengendikkan bahu.
"Ayo kita ke sana dan pura-pura saja bercanda terus mendorong kamu deh agar nyenggol dia lagi," Sigit punya ide.
"Apa dia gak curiga tuh?" Ervin menggaruk rambutnya.
Sambil berjalan mereka merencanakan sebuah ide untuk temannya. Sementara EMili dan Mitha sedikit-sedikit mengintip para cowok tadi.
"Kelihatannya mereka memang bertujuan masuk ke sini juga, aku pikir mereka sudah masuk dan akan pergi tadi tuh," Emi mulai bersemangat.
__ADS_1
"Kalian kenapa lagi?" Clara yang memperhatikan kedua sahabatnya bingung dengan ekspresi mereka yang selalu cengar-cengir.
"Mereka masih ada di belakang kita Ra, dua orang dari mereka tampan, ada yang gendut tapi imut juga sih," Emili terkekeh.
Clara tak menyahut perkataan temannya. Akan tetapi dirinya langsung mengejar seorang pria.
Dengan cepat Clara menggapai kerah baju pria tersebut.
"Hey, gendut! berani-beraninya ambil fotoku diem-diem, emangnya aku gak tahu ya apa yang kamu lakukan tadi," dirinya ngos-ngosan dan berusaha mengatur nafasnya.
"Mana? aku tidak mengambil fotomu tapi mengambil foto temanmu," pria itu memperlihatkan ponselnya.
"Kenapa kamu lari tadi kalau tidak mengambil fotoku?" Clara mendelik.
"Sini aku lihat!" Clara langsung merampas ponsel itu.
Setelah melihat dengan mata kepala sendiri, akhirnya ia percaya dan mengembalikan ponsel pria gendut tadi. Ia pun melangkah kembali ke tempat teman-temannya yang masih kebingungan dengan sikapnya tadi.
"Dasar cewek bar-bar," gerutu Sigit.
Dia melangkah mendekati teman-temannya yang sedang terkekeh geli melihatnya yang seperti dikejar anjing gila.
"Sepertinya cewek itu harus disuntik obat anti rabies," kesal Sigit.
Badannya terasa berat ketika berlari tadi.
"Lagian kamu langsung lari, kan kamu bisa langsung apus setelah di kirim ke aku," Edo tertawa mengejek.
"Sahabat kamu juga peak!" mereka semua berucap bersamaan.
Ervin yang ijin pergi ke toilet sebelum kejadian tadi berlangsung merasa heran dengan tingkah laku semua sahabatnya. Mereka seakan-akan menutupi sesuatu yang penting.
"Kalian kenapa? kenapa kalian cengengesan udah kayak mbak daster putih?" Ervin menempelkan telapak tangannya pada kening sahabatnya bergantian.
"Kita pindah tempat aja yuk! lagian aku udah bosen ke sini tiap tahun," Rafael menggerutu.
Kalau pergi dari sini pasti tidak bisa bertemu gadis itu lagi. Apa aku harus menuruti kemauan mereka?
"Vin, kamu kenapa? selalu saja melamun, entah apa yang dipikirkan," Edo menepuk pundak Ervin.
"Eh, nggak kenapa-napa, ayo kita pergi dari sini!" Ervin berusaha tersenyum.
"Tenang saja brother, kita udah punya foto gadis yang kamu taksir tadi. Kalau sudah pulang kamu bisa mencari semua data dan informasi tentangnya," Edo mengerjapkan netranya.
"Owh...." sahutnya singkat seakan acuh.
Mereka melangkah bersama ke arah parkir mobil dan masuk ke dalam Van travel. Mereka bersenang-senang dari tempat satu ke tempat lainnya.
Hingga malam mulai menjelang, barulah mereka kembali ke kamar hotel dan membersihkan badan sebelum turun untuk makan malam di restoran yang sudah tersedia di hotel tersebut.
__ADS_1
Sudah tiga hari mereka berada di Singapura, kini waktunya kembali ke negeri sendiri. Koper yang mereka bawa sudah penuh oleh berbagai macam oleh-oleh untuk keluarga masing-masing.
Pesawat sudah lepas landas dari bandara Changi Singapura ke bandara internasional Soekarno Hatta.
Sejam tiga puluh menit kemudian, mereka sudah sampai di tanah air.
Seperti biasa, Ervin dan sahabatnya selalu bercanda tanpa tahu situasi dan kondisi.
Kali ini mereka menabrak troli seorang gadis yang berada di sebelahnya.
"Kalian gak punya mata ya!" pekik seorang gadis.
"Maafkan aku," Sigit meminta maaf.
"Kalau jalan itu pake mata biar gak nabrak," gadis itu jengkel
"Aku jalan pake kaki, kalau make mata nanti mata aku dong yang melangkah, hi...hi," Sigit terkikik.
"Nggak lucu," ketus gadis itu langsung pergi meninggalkan mereka.
"Sepertinya Sigit mulai bertemu jodohnya, mereka sama-sama gendut," ejek Rafael.
"wkwkwk," semua tertawa sampai sakit perut.
Menurut mereka ucapan Rafael ada benarnya, hanya Sigit yang belum pernah berpacaran diantara mereka berenam.
"Hey kita gak boleh jahat sama sahabat sendiri, kalau usil boleh," Ervin terkekeh.
"Si*lan kalian, awas saja kalau ke rumah aku gak akan menyuguhkan apapun pada kalian semua," Sigit melangkah di depan sahabatnya, tak lupa dirinya juga sedang menggunakan troli bandara.
Keluarga mereka sudah datang menjemput, satu persatu mereka sudah berada di perjalanan menuju rumah.
"Kemana ya si Mam, tumben belum menjemputku," Ervin duduk di kursi tunggu luar bandara.
Beberapa kali Ervin menghubungi kedua orangtuanya.
Tapi, tidak ada yang menjawab telepon darinya.
Dengan santai Ervin duduk dan memakai earphone sambil mendengarkan musik. punggungnya bersandar dan kakinya bergerak mengikuti irama musik yang ia dengar.
Bruagh...
Entah kenapa kopernya jatuh begitu saja. Dia mulai mengalihkan perhatiannya, tiba-tiba saja dirinya terbelalak tak percaya..
*
*
*Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, komen, favorit, rate ⭐ 5 dan giftnya.
Terimakasih banyak atas dukungan selama ini.