Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 99 Clara Menghilang


__ADS_3

Panggilan terputus begitu saja. Royan menghampiri Clara. Pria itu menerima perintah dari Frank.


"Nona! Kita keluar dari sini sekarang juga!" Royan menarik tangan majikannya dengan kasar.


"Hey, lepaskan aku! Siapa kamu berani sekali menyentuhku!" Clara menepis tangannya.


"Maaf non, aku hanya melaksanakan tugas. Sebelum ada pengacau yang masuk ke mari. Seharusnya kita pergi dari sini!" Roy menjelaskan dalam lift.


Clara tidak menanggapi.


Lift turun ke lobi perusahaan. Roy dan Clara setengah berlari pergi ke area parkir dan masuk kendaraan. Dengan cepat Roy mengendarai mobil ke sudut kota karena di sana jarak tempuhnya sekitar dua jam. Mereka bisa bersembunyi di sana, entah ke restoran atau ke beberapa tempat yang ramai orang agar kalau diikuti mereka bisa mengandalkan massa yang suka main hakim sendiri.


Matahari sudah berwarna jingga, mereka sudah berada di sebuah outlet ayam geprek yang ramai pelanggan.


"Sebaiknya kita berlama-lama di sini non! Semoga saja mereka tidak menyusul kemari," Roy menatap sekeliling. Frank mengirimkan beberapa foto orang-orang yang bermasalah dengannya tadi.


"Ya sudah pesanlah beberapa menu! Kamu makanlah sepuasnya!" Seru Clara seraya menyodorkan kartu kredit.


"Hah? Emangnya nona belum mau makan?" Royan tidak percaya dengan ucapan majikan. Pria itu meraih kartu kredit tersebut.


"Terserah aku mau makan atau tidak," sahut Clara ketus.


"Aku ingin ke minimarket non, setelah memesan makanan aku keluar sebentar," ijin Roy.


"eum," sahut wanita itu jutek.


Roy mendengus di belakang Clara, seringai licik muncul di wajahnya. Akhirnya ada kesempatan untuknya membalas dendam pada Ervin melalui Clara.


"Sekarang kamu bisa berkata seperti itu padaku nona. Tapi sayangnya itu tidak akan lama," Sudut bibirnya terangkat sebelah.


"Permisi mbak, ini pesanannya," seorang pramusaji meletakkan pesanannya di atas meja.


"Makasih," sahutnya datar tanpa menoleh sedikitpun.


Clara masih sibuk memainkan ponselnya. Dia menonton beberapa video tentang harga saham dunia.


Setelah mata letih melihat layar ponsel terlalu lama. Dia melihat pesanannya.


"Sepertinya enak," ucapnya ketika melihat sambel yang menggiurkan.


"Mumpung masih anget, aku makan yang ini ah," Dia menyentuh beberapa macam menu dan memakan ayam goreng dan sambal. Nasi dia letakkan di pinggir. Kali ini dia malas memakan nasi. Royan baru saja masuk dan melihat majikannya yang sedang lahapnya makan. Roy berjalan ke arah tempat pemesanan, dia memesan dua jenis minuman tambahan.

__ADS_1


Setelah menunggu, Roy kembali ke mejanya.


"Laper ya non?" Ledeknya.


"Biasa aja," sahut Clara sambil mengunyah makanan.


"Ini minumnya non, yang itu nggak enak. Tadi ada pelanggan yang berbisik. Untung aja saya dengerin," Roy menaruh dua gelas minuman yang dia pesan.


"Aku yang ini," Clara mengambil salah satu gelas.


"Ambil semua juga bisa non," Royan tersenyum lebar.


Sopir itu meraih satu paket makanan yang belum terjamah. Clara menyuruhnya agar mencari meja lain.


Dengan gamblang Clara bilang kalau melihat wajah Royan dirinya tidak berselera makan.


Dengan menggerutu pelan, Roy duduk di meja sebelah Clara. Ternyata dia tidak salah memilih outlet makanan. Clara sudah siap dengan makanannya. Dia menyedot dua minuman yang di berikan oleh Roy bergantian untuk mencicipi rasanya. Perutnya membesar karena kekenyangan walaupun nasi putih tidak di sentuhnya sedikit pun.


"Aku tunggu di mobil!" Ketus Clara ketika melihat sopirnya terlalu lahap menyantap makanan tersebut.


Sesampainya di dalam mobil, dia menyandarkan punggungnya di kursi mobil. Entah kenapa mendadak kepalanya terasa berat. Matanya juga terasa panas. Seketika Clara entah tertidur entah tak sadarkan diri.


Roy selesai dengan makanannya. Dia kembali ke mobil dan langsung duduk di balik kemudi. Dia melihat pantulan Clara dari kaca spion. Lantas pria tersebut menoleh. Senyumnya menyeringai lebar.


"Nona, saya pergi sekarang," ucapnya seolah Clara mendengar.


Mobil itu melaju kencang memecah jalanan sore itu. Senja telah menampakkan dirinya, semburat jingga menembus kaca jendela. Setelah mendapatkan perintah dari Frank. Roy kembali ke rumah majikannya.


Hampir jam tujuh malam dia sampai. Keningnya berkeringat, ada tetesan darah yang sudah mengering terlihat jelas. Dia turun dari mobil dan bergegas mencari Frank atau Dendi. Pria itu berlari kencang seraya berteriak memanggil Frank.


"Om Frank, tuan Dendi," Pekiknya.


"Kamu kenapa Roy? Seperti orang kesetanan begitu," Frank mengernyit.


Roy mengatur napas, dia menunjuk ke arah luar rumah.


"Maaf om, nona Clara mencoba kabur. Saya sudah berusaha untuk mengejarnya namun nona menyerang balik. Saya takut terjadi sesuatu pada nona," Roy gelisah.


"Saya sudah berusaha semaksimal mungkin, namun dia menyerang dengan brutal. Saya tidak membalasnya karena cemas nona terluka nantinya," jelas Roy lagi.


"Kenapa kamu tidak langsung memberi tahu aku tentang kejadian itu?" Frank geram.

__ADS_1


"Ini orang sumbu pendek, tak pantas menjadi sopir nona," batin Frank kesal.


"Kita cari nona dulu! Kamu panggil beberapa orang untuk mencarinya! Dimulai dari lokasi tempat kalian berdebat," Frank menyuruh Royan untuk segera bertindak. Sementara dirinya naik ke lantai dua melaporkan kejadian tersebut pada Dendi.


"Baiklah om," Roy segera meninggalkan ruangan bersamaan dengan Frank yang beranjak dari tempatnya.


Royan membawa beberapa orang untuk mencari keberadaan majikannya. Frank menatap Dendi dengan perasaan bersalah karena dirinya tidak becus untuk mengarahkan Royan.


"Cari dia sampai ketemu Frank! Aku tidak mau anak itu berbuat nekat," Dendi cemas.


Frank berpikir sejenak, dalam pikirannya terbesit sebuah dugaan.


"Apa mungkin nona pergi ke rumah Ervin? Mereka ternyata pernah pergi ke sana, sebelum acara pertemuan keluarga tuan," Frank menyimpulkan.


"Dugaan kamu benar juga, ayo kita ke sana! Kamu sudah menyuruh yang lainnya untuk mencari Clara, 'kan?" Tanya Dendi.


"Iya tuan, saya sudah menyuruh Roy dan beberapa anak buah untuk mencari keberadaan nona," Frank seraya membuka pintu, dia mempersilakan Dendi keluar lebih dahulu. Mereka menuruni anak tangga. Tiba di ambang pintu masuk, Dendi teringat sesuatu.


"Kamu siapkan mobil duluan Frank! Aku teringat hal yang penting. Nanti aku menyusul!" Dendi bergegas berjalan ke dapur.


"Bi ... bibi! Panggilnya tak sabar.


"Iya tuan, saya," bibi tergopoh keluar dari kamarnya.


"Bi, ada tugas penting untuk bibi. Pergi ke rooftop dan awasi wanita licik itu. Jangan sekali-kali memberikan dia kesempatan untuk kabur. Jangan berikan dia makan dan minum! Ingat itu!" Dendi berpesan.


Bibi mengangguk mantap, dia beringsut dari tempatnya dan menapaki anak tangga.


Frank dan Dendi segera berangkat ke alamat rumah Ervin. Karena dulu Frank pernah mengikuti mereka, jadi pria tersebut tahu alamat rumah Ervin.


Tak sampai setengah jam mereka sudah sampai di sana. Dendi turun dari mobil dengan tidak sabar.


Dia mengguncang pagar sehingga muncul bunyi pintu pagar yang berisik.


"Ervin! Keluar kamu!" Teriaknya.


*


*


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2