
Ervin Melihat kedua rekannya yang berdebat karena hal sepele.
"Kalian mengganggu orang mau makan saja!" ucapnya kembali ke tempatnya semula.
Ervin duduk dengan tenang dan menghabiskan makanannya. Baru kali ini Clara perhatian padanya.
Sorenya Ervin meminta ijin pada Frank agar bisa pulang karena Clara masih dirawat di RS. Dia ingin menyiapkan barang-barang pribadinya yang akan dibawa ke rumah ini. Dia juga berkata harus meminta ijin pada orang tuanya.
"Aku pikir kamu sudah yatim piatu," Frank mengeryit.
"Hah, tidak Pak! orang tua saya masih lengkap dan sehat sampai sekarang," Ervin membantah.
"Baiklah kalau begitu, ijin baik-baik pada mereka dan kamu harus meyakinkan mereka supaya kamu bisa tinggal di rumah ini!" seru Frank yang kemudian meninggalkan Ervin.
"Parah, bisa-bisa aku dipecat jadi anak sama Papa," pria itu masih khawatir tidak mendapatkan ijin.
Ervin pulang dengan motor bututnya, dia mampir ke Apotek miliknya yang dijaga ketat oleh Jefrey.
Royan yang saat itu tengah bersantai menyapa Ervin dan menatap temannya dengan rasa heran.
"Motor ini punya kamu? kenapa jelek sekali?" Royan mengelilingi Ervin.
"Punya seseorang dan kamu tidak perlu tahu dia siapa," sahut Ervin santai.
Helem yang dia kenakan diletakkan di atas jok motor. Dia melangkah masuk, sementara Royan mengekori dari belakang.
"Kembalilah bekerja! kalau sebulan ke depan pekerjaan kamu bagus aku akan menaikkan gajimu. Tapi, kalau kamu sembarangan bekerja aku tidak segan untuk memecatmu!" Ervin menatap wajah Royan.
Ekspresi Royan yang terkejut membuatnya berpikir keras kenapa sikap Ervin bisa begitu tegas padanya.
Ervin melihat gelagat Roy yang sepertinya keberatan.
"Kenapa? ada pertanyaan?" tanyanya sambil bersedekap santai.
"Nggak ada Vin, aku sudah diterima bekerja di sini saja sudah beruntung sekali," Roy terpaksa harus tersenyum.
Ervin mengetahui kalau senyum yang Roy tampakkan tidak tulus. Kini dia mulai bisa menilai orang setelah Jefrey mengingatkannya.
Dia meninggalkan Roy yang masih berdiri terpaku. Jeffrey yang baru saja keluar dari toilet memanggil Ervin yang baru saja lewat di depan lorong toilet.
"Bos, tumben ke sini? ada masalah?"
"Ada, tapi sedikit," dia menarik tangan Jefrey.
Mereka masuk ke dalam ruangan kerja dan menutup rapat pintunya. Roy tersenyum licik dan berprasangka buruk pada mereka yang bersekongkol untuk mengeluarkan dirinya dari pekerjaan itu.
__ADS_1
"Bos, kenapa harus ditarik kemari?" Jeffrey bingung.
"Besok kalau Mama atau Papa menghubungi kamu, bilang saja kalau aku mengontrak di dekat kawasan ini!" pinta Ervin.
"Apa? kenapa aku harus berbohong Bos? atau bos memang mau mengontrak di kawasan ini?" dia menepuk pundak Ervin yang masih berpikir.
"Sepertinya hanya itulah jalan satu-satunya," Ervin bergumam seorang diri. Tepukan dari Jefrey tidak dia hiraukan.
"Bos!" Jefrey mengguncang lengan Ervin.
"Apaan?" Ervin tersadar dari lamunannya.
"Yang tadi Bos katakan, kenapa aku harus berbohong?" Jeffrey tidak sabar.
"Tidak usah banyak nanya! pokoknya kalau Mama atau Papa tanya, jawab ajah yang tadi," Ervin melengos pergi.
Kini dia sudah lega karena mendapatkan alasan yang tepat. Akan tetapi, sesampainya di rumah. Dia harus mencari alasan lain agar orang tuanya mengijinkannya keluar dari sana.
Cinta memang membuat seorang anak Adam lupa pada beberapa hal. Yang mereka pikirkan hanyalah tentang orang yang dicintainya. Melihat sebuah senyuman yang terkembang di bibir orang tercinta merupakan obat mujarab dari kegundahan hati.
Tapi, mungkinkah itu akan terjadi selamanya?
Ervin masuk tanpa memperhatikan keadaan rumah. Elisa tengah duduk sambil memainkan hapenya. Dia beralih pada suara langkah yang terdengar samar.
"Mas itu kamu ya?" Elisa meletakkan hapenya di atas meja. Dia beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menghampiri suara.
Matanya menatap Ervin dengan tajam. Sementara anaknya itu terdiam tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri. Dia memikirkan alasan yang tepat untuk pamit nanti.
"Maaf Mam, aku terburu-buru," Ervin sadar dia telah bersikap berlebihan pada ibunya.
"Tunggu dulu nak!" Elisa menyamakan langkahnya.
Dia sudah berjalan sejajar dengan anak kesayangannya itu.
"Please Mam, biarkan Ervin ke kamar dulu. Nanti Ervin akan menceritakan semuanya pada Mama," Ervin seakan-akan tahu apa yang ada di dalam pikiran ibunya.
"Mama tunggu sebelum makan malam tiba," Elisa sudah berhenti mengikuti langkah anaknya.
Dia kembali ke ruang keluarga dan melanjutkan berselancar di dunia maya.
Senja sudah menampakkan wujudnya. Warna jingga terlihat menyembul di balik tirai jendela yang transparan.
Sayup-sayup terdengar suara adzan dari corong masjid terdekat.
Ervin melakukan kewajibannya, sebagai seorang manusia dia harus terbiasa untuk taat terhadap perintah Tuhannya. Dia bersimpuh dan berdoa di atas sajadah yang terhampar.
__ADS_1
Tidak ada suara yang terdengar, lantunan orang mengaji di Masjid masih terdengar. Ervin sudah berganti baju dan keluar dari kamarnya.
Dia duduk di sofa sambil melamun. Dia memikirkan Clara yang entah sekarang tengah berbuat apa di RS sana. Sedari tadi pikirannya hanya Clara, dan Clara.
Tepukan tangan mengagetkan Ervin. Dia tersentak dari lamunannya dan spontan menoleh pada orang tersebut.
"Mama, aku pikir siapa," Ervin bersandar di sofa.
Dia memejamkan mata sekilas.
"Kamu kenapa Vin? sepertinya ada masalah ya?" Elisa duduk di samping anaknya.
"Ya, beginilah Mam. Ada sesuatu yang mengganjal di pikiran aku tentang apotek," Ervin menoleh pada ibunya dan seketika mendapatkan ide.
"Memangnya kenapa?" ibunya menyelidik.
"Aku harus mondar mandir mengamati pekerja apotek dan harus mengurus tiga cabang sekaligus. Rumah ini terlalu jauh Mam, makanya aku harus mencari kontrakan yang dekat dengan apotek," mata Ervin berpura-pura sendu.
Akhirnya aku punya alasan yang tepat. ( Ervin )
Elisa menatap mata anaknya dengan dalam. Dia menimbang-nimbang keinginan anaknya yang akan meninggalkan rumah ini.
Elisa menghela napasnya dengan cepat. Dia mulai berbicara.
"Sebenarnya Mama tidak setuju, Mama pasti kesepian di rumah ini kalau anak Mama semua pergi," Elisa menundukkan wajahnya, dia terlihat murung dan keberatan dengan keinginan anaknya.
"Tapi Mam, Ervin itu udah dewasa dan harus mandiri. Memangnya Mama nggak mau kalau Ervin mandiri dan mencari pasangan agar segera menikah?" dia ingin tahu jawaban ibunya.
Mata Elisa melebar dan menoleh pada anaknya.
"Ka-ka-kamu mau menikah? kamu udah punya pacar? siapa wanita itu? pasti cantik kan dia? terus dimana rumahnya? siapa orang tuanya?" Elisa mencecar anaknya dengan banyak pertanyaan, seketika dia bersemangat.
Dia menggenggam erat tangan anaknya.
Ervin melongo mendengar pertanyaan beruntun dari ibunya. Apalagi ekpresi ibunya yang berbinar-binar bahagia.
"Cepat katakan siapa wanita itu sayang?" Elisa mengguncang bahu anaknya.
"Udahlah Mam, jangan bicarakan itu lagi. Aku ulang pertanyaan aku. Aku boleh kan keluar dari rumah ini?" Ervin mengerjapkan mata berulang kali.
"Om Ervin!" ada suara bocah mengalihkan perhatian keduanya.
"Kenapa ini anak bisa kemari? kemana orang tuanya?" Ervin dan Elisa dengan cepat menghampiri bocah tersebut.
*
__ADS_1
*Bersambung
*Jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, komen, favorit, rate ⭐ 5, dan vote Mingguan gratis ya kak. Terimakasih banyak bagi yang sudah sudi membaca 🤗🤗.