
Ervin mendorong tubuh wanita itu. Dia tidak mau tuan D semakin membencinya.
"Tapi aku ingin menghibur kamu," ucapnya sambil mengedipkan mata.
"Nyonya! Sadarlah! Anda itu berumur tidak jauh dari ibu saya. Saya masih menghormati Anda karena nyonya besar di rumah ini. Walaupun sebenarnya anda nyonya besar yang palsu," kata-kata sopir menohok kalbu Firda.
"Sopir kurang ajar kamu ya!" Firda melayangkan tangannya hendak menampar pipi Ervin.
Akan tetapi, ada sebuah lengan yang menarik lengan Firda tersebut. Pintu yang semula Ervin tutup telah terbuka lebar.
Wanita paruh baya itu menoleh. Matanya terbeliak dan mulai menurunkan tangannya.
"Bagus Ervin, kamu bisa melawan wanita ****** ini," tuan D tersenyum bangga mendengar perkataan Ervin tadi. Pria itu sengaja berdiri di balik pintu dan berusaha menguping.
"Kamu mengajarinya untuk kurang ajar padaku? Awas aja Di aku akan memberi tahu Rara kalau kamu sudah memb--," tuan D menampar pipi Firda sebelum wanita itu melanjutkan ucapannya.
"Maaf tuan, sepertinya aku harus pergi," sopir menunduk hormat dan berlalu dari hadapan tuan dan nyonya rumah.
"Sekali lagi kamu berbicara sembarangan aku akan menghabisi nyawamu!!" ancam tuan D.
Wanita itu mengelus pipi yang terasa nyeri. Suaminya masuk kembali ke ruangannya dan duduk bersandar di sofa.
"Kita lihat saja Di, aku harus memberitahu Rara tentang ini secepatnya agar anakmu itu membenci kamu selamanya," tangannya masih mengelus pipi. Seringai licik terlihat jelas dari raut wajahnya yang mulai menua. Wanita itu kemudian berlalu pergi dari depan ruangan kerja suaminya.
Ervin turun dan berpapasan dengan Clara yang baru saja keluar dari pintu dapur. Wajah Clara terlihat sudah tenang karena kejadian huru-hara satu jam yang lalu. Namun, ketika berpapasan dengan Ervin, tingkahnya seolah canggung dan menghindari tubuh Ervin yang mendekat padanya.
"Nona kenapa? Sakit?" Ervin berjongkok dan mendongak pada wajah Clara yang berhenti berjalan dan menunduk agar tidak saling menatap.
"Tidak ... aku baik-baik saja," Clara berjalan kembali dan mempercepat laju langkahnya.
"Pasti dia memikirkan kejadian tadi. Percayalah Ra, itu juga pertama kalinya bagiku," gumam si sopir sambil tersenyum tipis.
"Ngapain tadi tuan D panggil kamu?" Frank yang barusan saja masuk merasa penasaran.
Ervin menatap wajah pria di depannya. Dia menghela napasnya dan mulai berbicara.
"Ini semua tentang nona Clara. Tapi saya tidak akan menyerah begitu saja karena saya mencintai nona tulus dari hati yang paling dalam," Wajah Ervin menampakkan sebuah keyakinan.
Frank terkekeh geli melihat reaksi Ervin yang sedang jatuh cinta.
__ADS_1
"Kamu mengingatkan aku ketika waktu muda dulu. Tidak pantang menyerah. Aku mendukungmu walaupun tuan D tidak menyetujuinya," Frank menepuk pundak sopir rumah.
"Terimakasih pak, kalau begitu saya kembali ke depan dahulu," pamitnya.
"Oh iya, kapan-kapan saya ingin mendapatkan pencerahan tentang kisah percintaan pak Frank dulu," Ervin berbalik sebentar, dia menyengir lebar.
"Anak itu sudah mau bersusah payah meninggalkan keluarganya agar berdekatan dengan Clara. Kalau tuan D tidak merestuinya memang terlalu," gumamnya sambil menatap punggung sopir yang telah berlalu.
Frank tak menanggapi perkataan Ervin sebelumnya.
Pria paruh baya itu pergi ke dapur dan memanggil sekuriti yang tengah berbincang dengan bibi. Pak sekuriti kembali berjaga di tempatnya semula setelah menyuruhnya.
Malam itu adalah malam yang paling bersejarah di kediaman tuan D. Selama ini rumah tuan D baik-baik saja sebelum bisnisnya meluncurkan sebuah produk baru yang membuat saingannya kejang-kejang karena banyak kehilangan konsumen.
Para tetangga di kanan kirinya tidak berani keluar dari rumah ketika melihat kegaduhan tadi. Mereka juga tidak bisa protes pada sekuriti kompleks karena tuan D ikut andil dalam memberikan mereka gaji tambahan.
Tapi tetap saja mereka kecolongan lagi untuk yang kedua kalinya.
Kini kediaman tuan D sudah aman seperti sebelum keributan. Hawa dingin malam menembus kulit para bodyguard yang berjaga di setiap sudut rumah. Mereka tetap setia pada majikannya walaupun berkorban nyawa sekali pun.
****
Rumah Malik
"Mas, hubungi Ervin agar dia pulang. Anak itu keterlaluan selalu lupa menelpon dan lupa pulang," bujuk Elisa.
"Biarkan saja! Toh ini sudah menjadi keputusannya. Kamu ini ... anak mau mandiri malah dimanjakan terus menerus," gerutu Malik.
"Tapi aku kangen mas," Elisa mengguncang tubuh suaminya.
"Panggil saja Nissa agar kemari untuk menemani kamu. Siapa suruh dulu aku mau nambah anak tapi kamu nggak mau," gerutu Malik. Bola matanya memutar malas.
"Tapi dulu aku masih takut punya anak lagi. Setelah mereka sudah besar barulah aku merasa kesepian. Tidak cukup hidup itu hanya berdua denganmu mas. Aku ingin hidup dengan anak-anak juga," Elisa menghela napasnya yang berat.
"Panggil saja Nissa dan keluarganya agar mereka mau mengunjungi kita. Aku kangen cucu kita," suruh Malik agar Elisa tidak mengeluh lagi.
"Tante dan Om belum mandi ya?" Zeta baru saja keluar dari kamarnya. Pakaiannya sudah rapi.
"Lho, kamu mau kemana?" Malik bertanya pada keponakannya.
__ADS_1
"Jalan dong om, seperti biasa sama mas Rico juga. Pacar mas Rico mau membelikan aku hadiah," Zeta kegirangan.
"Terus Rico mana?" tanya Elisa.
"Masih di kamarnya, mungkin sebentar lagi siap," Zeta tersenyum.
"Kalian berdua sudah pinter pacaran ya. Seandainya saja Ervin di sini pasti tante ingin dia belajar dari Rico bagaimana caranya berpacaran," Elisa terlihat murung.
"Apaan sih kamu tuh yank, malah pengen Ervin pacaran. Seharusnya Ervin itu menikah bukan pacaran," sela Malik cepat.
Zeta terkekeh mendengar obrolan om dan tantenya.
"Om dan tante gak tau aja sih kalau mas Ervin udah punya pacar," Zeta keceplosan. Kedua telapak tangannya menutup mulutnya yang berbicara jujur.
"Apa katamu? Tante nggak salah dengar 'kan?" Elisa tersentak.
"Bohong dia tan, Ervin belum berani berpacaran. Dia malas meladeni perempuan yang selalu menggodanya," Rico yang baru saja berada di hadapan mereka langsung menyahut.
"Kamu ini," cubit Rico pada Zeta.
"Kita berangkat dulu ya om dan tante," Rico menyalami dan mencium punggung tangan mereka bergantian, begitu pula dengan Zeta yang merasa kesal karena abangnya.
"Hati-hati kalian!" teriak Elisa.
Zeta dan Rico melambaikan tangan mereka pada Elisa dan Malik.
"Tuh, keponakan kamu ajah menginap sementara karena Zeta yang sedang liburan. Mereka berdua tidak betah berada di rumah," rengek Elisa lagi.
"Assalamualaikum," suara di luar sepertinya Elisa mengenali.
"Suara siapa tuh yank?" Malik berkerut.
Tapi Elisa yang mengenal suara tersebut tergopoh-gopoh menghampiri.
Seorang wanita muda berada di ambang pintu. Kakinya terasa enggan untuk masuk.
"Anak mami dateng," pekik Elisa kegirangan melihat kedatangan wanita muda itu.
*
__ADS_1
*
*Bersambung