
Ervin memutar kemudi agar terhindar dari kendaraan di depannya. Dia berhasil menghindar, namun sayangnya kendaraan itu menabrak pembatas jalan. Kap mobil terbuka, Ervin bernapas memburu dan menoleh pada Clara di sampingnya.
"Sayang! Bangun! Kamu nggak kenapa-napa, kan?" Tanya Ervin.
Clara membuka mata yang terpejam, tangannya berpegangan pada hand grip yang ada di kabin mobil. Dia tak sanggup menyaksikan kejadian tadi secara langsung.
"Kamu nggak apa-apa?" Ervin panik melihat Clara yang terdiam mematung.
"Api ... kap mesin mengeluarkan percikan api," tunjuk Clara.
"Keluar Clara!" Pekik Ervin.
Ervin menendang pintu di sampingnya, pintu tersebut susah di buka karena sempat menyenggol kendaraan tadi. Pria itu berhasil membuka seat belt dan keluar dari mobil. Dia berputar lewat belakang kendaraan dan menggedor pintu kaca Clara.
"Cepat buka!" Ervin tidak sabar melihat kekasihnya yang masih tercengang.
Sebuah kecelakaan yang membuatnya kehilangan ibu terkasih muncul di kepala. Kenangannya menangisi makam si ibu yang baru saja dikubur terulang lagi saat itu. Kenangan itu muncul tiba-tiba saat ini.
"CLARA!" Teriak Ervin mencoba membuka pintu.
"Ada kecelakaan!" Pekik beberapa orang di jalanan.
Ervin masuk kembali ke dalam mobil, badannya beringsut membuka seat belt kekasihnya. Dia menampar Clara agar tersadar.
"BANGUN! KITA HARUS PERGI DARI SINI!" Pekik pria itu.
Dirinya menarik tubuh Clara yang masih mematung walaupun sudah di tampar. Api semakin memercik dan meluas. Ervin berusaha mengeluarkan kekasihnya, keringat dingin bercucuran di keningnya. Dia menggendong Clara dan berusaha berlari sejauh mungkin.
Dengan penuh perjuangan dia bisa menjauh dari mobil
Tak lama, mobil itu meledak dan terbanting sendirinya ke pinggir jalanan.
"Tidak ... Mommy!" Pekik Clara ketika pandangannya ke arah mobil yang sudah meledak.
Wanita itu hendak berlari, namun Ervin langsung menangkap tubuhnya dan memeluk erat.
"Tenang Ra! Ada aku di sini!" Bisik Pria itu pada telinga kekasihnya.
Clara tiba-tiba tak sadarkan diri. Tubuhnya lemas seketika dan matanya langsung terpejam.
"Ayo tolong mereka!" Beberapa orang mengerumuni sepasang kekasih tersebut.
"Clara! Bangun," Pria itu menepuk pipi kekasihnya berulang kali.
"Ambulans sudah datang mas! Cepat angkat dia!" Seru salah satu orang yang menolong mereka.
Para pencari berita mulai meliput kecelakaan tadi. Banyak orang yang tengah melakukan live streaming untuk menyebarkan informasi barusan, disamping itu mereka juga ingin mendongkrak popularitas akun sosial media.
"Cepatlah, disana pemilik kendaraan!" Seru salah satu dari mereka.
Mereka berlari menghampiri dan berkerumun merekam Ervin dan Clara yang sudah berada di dalam ambulans. Petugas menghadang mereka dan menutup pintu belakang.
"Bukannya menolong malah asyik sendiri merekam korban," dengus petugas medis yang meninggalkan mereka dan bergabung dengan rekannya di depan.
__ADS_1
Ambulans sudah meluncur ke jalanan. Bunyi sirine membuat kendaraan lainnya menyingkir dan membiarkan ambulans lewat.
"Clara," lirih Ervin sambil menggenggam tangan kekasihnya.
Alat pernapasan terpasang pada hidung Clara.
Disaat bersamaan, di suatu rumah mewah dimana ada Jasmine yang tengah berbaring karena bosan di kamarnya. Dia merebahkan diri sedari tadi. Wanita itu malas kemana-mana. Fatma dan adiknya sudah membujuk namun sia-sia belaka.
Dia memutuskan untuk membuka sosial media dan melihat-lihat video di aplikasi merah.
"Ah, video masakan. Males," ucapnya sambil menaik-turunkan layar.
"Video kuis, males ah," keluhnya.
Tiba-tiba saja ada sebuah video yang menarik perhatiannya. Ada sebuah kecelakaan mobil yang terekam atau tepatnya sengaja di rekam secara langsung dari tempat kejadian. Ketika perekam video berlari ke arah ambulans, mulut Jasmine menganga lebar.
"Tidak, itu Vino," pekiknya setengah berlari keluar kamar.
"Mommy aku pergi ya!" Jasmine terburu-buru keluar rumah dan mencari keberadaan pak sopir. Dia yang memakai piyama menyuruh pak sopir pergi ke jalan yang ada di video tadi.
"Lho, mau kemana non? Kenapa pakai baju itu?" Sopir bertanya sebelum masuk ke tempat menyetir.
"Jalan saja pak!" Titah Jasmine tak sabar.
"Hey kamu! Mau kemana malam-malam begini? Belum makan malam udah mau pergi," dengus Fatma yang menyusul anaknya.
"Vino kecelakaan mom," ucapnya khawatir.
"Ini buktinya!" Mimi menunjukkan video tadi.
Fatma memekik memanggil suaminya, dia menyuruh pak sopir untuk menunggu sejenak.
Fatma berhamburan ke dalam rumah dan mengambil tas yang sengaja di gantung di dinding ruangan.
"Mas Evans, Ervin kecelakaan mas. Ayo kita menyusulnya," ajak Fatma yang melihat suaminya baru saja keluar dari kamar.
Evans belum fokus mendengar, tangannya ditarik oleh istrinya.
"Bi, titip si bungsu ya!" Pekiknya.
Fatma dan Evans keluar rumah dan segera masuk dalam mobil.
"Jalan pak!" Pekik Fatma di telinga suaminya.
"Beb ... ini kuping aku, bukan mikropon!" Evans menepuk pipi istrinya pelan.
"Maaf mas aku terlalu khawatir," Fatma mencoba untuk tenang.
"Mommy dan Daddy mengganggu saja," gerutu Mimi kesal.
Mobil sudah berada di jalanan. Fatma melupakan sesuatu. Tiba-tiba dia memekik tertahan.
"Astaga, Elisa," sadarnya.
__ADS_1
Dengan cepat dia merogoh tas untuk mengambil ponsel dan menghubungi Elisa.
"Mommy telpon siapa?" Mimi menoleh ke belakang.
"Tante kamu!" Sahutnya.
"Udah aku hubungi tadi waktu Daddy dan Mommy berlarian," jelas Mimi.
Fatma langsung memutuskan panggilan.
"Aku pikir mereka belum tahu," Fatma mengelus dada.
Mereka tiba pada jalan yang ditunjuk oleh Jasmine.
"Duh, nanti dulu pak. Tadi Vino udah masuk ke ambulans," Jasmine berpikir sejenak.
"Cari rumah sakit terdekat dari sini pak!" Titahnya.
"Jangan buat bingung pak sopir sayang! Kasian tuh pak Ramli celingak-celinguk, bisa-bisa nggak fokus ke jalanan depan," Evans menghubungi Malik setelah berkata pada anaknya.
Setelah mendapatkan informasi, dia menyuruh pak sopir agar pergi ke RS Pramudita di jalan pemuda.
Mobil melaju, lima belas menit kemudian mereka telah berada di parkiran rumah sakit.
Jasmine terburu-buru keluar tanpa menunggu orang tuanya. Dia melihat Malik yang berjalan di depan konter pembayaran.
"Om ... Vino dimana?" Jasmine mulai berkaca-kaca.
"Jasmine, kamu sudah sampai?" Malik mengulurkan tangannya agar wanita itu bisa mencium tangannya selayaknya bertemu dengan keluarga sendiri.
"Maaf om, aku harus ketemu Ervin," Mimi terburu-buru.
"Kamar Anggrek nomor 157 ...." belum sempat Malik melanjutkan ucapannya, Mimi langsung melesat bagai anak panah pergi ke kamar itu.
"Vino," gumamnya sambil berlari di lorong rumah sakit.
Banyak orang yang memandangnya dengan tatapan penuh arti.
"Mas Malik," Panggil Fatma.
"Tunggu sebentar! Nanti kita sama-sama pergi ke dalam," Malik mengurus administrasi.
Jasmine melihat ada Elisa yang sedang duduk di kursi tunggu yang berada di depan kamar perawatan.
"Tante, aku masuk ya mau lihat kondisi Vino," Jasmine menerobos masuk ke kamar.
Langkahnya terhenti, matanya terbelalak tak percaya melihat adegan itu. Tangannya mengepal erat, emosi mulai memenuhi dada.
*
*
*Bersambung
__ADS_1