
"Kami salah satu organisasi dari perusahaan Light Grup, kami adalah utusan seseorang," sahut pria yang menyuruh Evans keluar.
"Siapa dibalik Light Grup? aku tidak pernah berurusan dengan mereka, kenapa kalian mencegat kami?" Evans membuat ancang-ancang. Ia meletakkan tangannya untuk menjadi perisai.
"Jangan takut pada kami Tuan Evans, kami akan mendampingi kalian sampai ke tujuan," ia menunduk takdzim.
Evans melongo tak percaya akan pendengaran dan penglihatannya. Sebenarnya dia penasaran kenapa pria itu malah ingin melindunginya.
"Kenapa kamu bisa tahu namaku? siapa yang menyuruh kalian?" Evans masih siaga.
"Kami adalah murid dari Pak Toni, pak Toni adalah pemasok terbesar pasukan Ligt Grup, beliau juga yang meminta kami untuk melindungi Anda," jelasnya.
"Melindungi apanya? kalian menakuti kami, lihatlah anakku sampai menangis ketakutan," Evans memarahi pria itu.
"Maaf, kami keluar dari mobil supaya Anda tahu bahwa ada kami yang akan menjaga Anda dan keluarga mulai sekarang," pria itu mulai menepi karena suara klakson yang saling bersahutan.
"Kembali ke mobil! aku tidak mau kalau keberangkatan anak gadisku sampai terlambat," Evans meninggalkan mereka dan masuk kembali ke dalam mobil.
"Daddy..." banyak pertanyaan dalam pikiran Jasmine, akan tetapi ia tidak bisa menanyakan sekarang.
"Diam di tempat dan duduk dengan nyaman, Daddy akan menjelaskannya ketika sampai di bandara," tak butuh waktu lama, mobil itu meluncur memecah jalanan yang berdebu.
"Mas Toni, ternyata dia sudah menjadi orang yang disegani sekarang," lirih Evans sambil menyetir.
***
Cahaya mentari pagi telah muncul menyinari bumi, kicauan burung yang berkeliaran di hutan sekitar bangunan tua itu mulai terdengar riuh. Sekelompok pria sudah bersiap untuk latihan di hari pertama mereka. Sebelumnya mereka sudah sarapan untuk mengisi tenaga. Kini mereka berkumpul di sebuah tanah lapang yang ditumbuhi aneka rerumputan.
Ervin belum sempat mengenal mereka semua, yang dekat dengannya cuma Royan, itupun si Royan yang mendekat dan mengajaknya berkenalan. Sedari itu mereka mengakrabkan diri.
"Kamu kenal dengan Pak Toni ya Vin? padahal kami sebelum kemari tidak pernah tahu wajah beliau seperti apa," Royan melakukan pemanasan sambil berbicara.
"Aku sebenarnya gak kenal, Om Toni itu teman dekat Papaku dan mereka menganggap pertemanan mereka seperti saudara," jelas Ervin.
"Wow, pasti nanti kamu akan mendapatkan keuntungan yang anggota lain tidak akan pernah mendapatkannya," Royan berdecak kagum.
"Ngaco kamu Roy, Papa udah bilang ke aku kalau aku tidak akan pernah mendapatkan keistimewaan di sini, aku sama seperti kalian," Ervin menggerakkan tangannya secara memutar.
"Yah, sayang sekali Vin," Roy kecewa.
"Hey, anak spesial, sini kamu!" panggil seorang yang paling tinggi diantara mereka semua.
"Siapa?" Ervin dan Royan saling berpandangan.
"Kamu!" tunjuknya pada Ervin.
"Aku..?" Ervin menunjuk wajahnya sendiri.
__ADS_1
Pria itu mengangguk mantap, matanya nyalang menatap Ervin. Semua anggota sudah tahu bahwa Ervin adalah seorang yang spesial karena di perkenalkan oleh Toni sang suhu di pulau ini.
"Memangnya aku kenapa?" Ervin mengernyit.
"Kamu harus berduel denganku sekarang! aku ingin tahu sehebat apa kamu sampai-sampai beliau yang membawamu langsung kepada kami," ia berkacak pinggang dengan sombongnya.
"Aku malas meladeni kamu, lagian aku belum pernah berlatih bela diri sebelumnya," Ervin menjawab jujur.
"Buahahaha..." gelak tawa riuh terdengar.
Semua orang tertawa kecuali Ervin dan Royan tentunya.
"Kalian dengar kan? dia bilang tidak pernah berlatih bela diri, jadi kalau kita berikan pelatihan awal pasti dia akan cepat belajar," ia tertawa mengejek.
"Jangan berbuat keributan, aku orangnya malas meladeni orang-orang yang kurang beretika," Ervin menguap seolah meremehkan.
"Apa katamu...?" pria itu mengepal erat.
Tangannya terkepal dan terangkat ke udara ingin meninju Ervin untuk memberikannya pelajaran, akan tetapi bel berdering kencang membuat perhatian mereka teralihkan saat itu juga.
"Semuanya berkumpul ke tengah, dan kalian harus saling berpegangan tangan!" perintah seorang instruktur.
"Kali ini aku akan melatih kalian! latihan hari ini adalah kesabaran. Aku akan menguji kalian ketika sendirian dan ketika berkelompok dengan beberapa orang. Sekarang aku ingin kalian berkelompok sebanyak 4 orang," perintahnya.
Semua anggota mencari-cari orang yang tepat untuk mereka jadikan anggota kelompok.
Kali ini Ervin menemukan kelompok yang sesuai dengan keinginannya. Walaupun ke tiga pria lainnya tidak terlihat kuat, tapi Ervin yakin bahwa mereka punya otak yang cerdas.
Kini mereka semua berpecah belah mencari petunjuk dan harus menemukan sebuah box yang tertulis di kertas sesuai kelompok mereka.
Seorang pria menyaksikan dari balik ruangan, ia duduk dan memantau semua anggotanya. Banyak layar yang menampakkan semua anggota tanpa terkecuali. Di sanalah ruang pantauan CCTV berada.
"Baguslah Ervin, kamu tidak terpancing untuk bertarung dengan pria itu tadi," ia tersenyum kecil akan keputusan Ervin tadi.
Kini pria itu tengah menyaksikan satu persatu kerja sama antar kelompok untuk menyelesaikan tugas pertamanya. Ia menggelengkan kepalanya ketika melihat ada beberapa orang yang curang.
"Tidak pantas berguru padaku," decihnya muak
"Hanya orang-orang licik yang menipu rekan setimnya," ucapnya lagi sambil terus memantau.
****
"Mas, aku kangen anak kita," Elisa merengek semenjak meninggalkan pelabuhan.
"Baru satu hari dia pergi udah kangen, kamu sebenarnya ibunya atau kekasihnya?" gerutu suaminya kesal.
"Aku belum pernah jauh dengan Ervin seperti sekarang ini Mas," ia menepuk dada suaminya.
__ADS_1
"Kalau kangen kamu bisa pergi latihan bersamanya," Malik mulai malas meladeni istrinya.
"Aku sudah tua Mas, gak pantes lagi latihan begitu, badan ini gak akan sanggup," sahutnya melayani celoteh suaminya.
"Terserah deh Ma," Malik beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan istrinya.
"Mau kemana?" Elisa mendengus.
"Mau ke kamar mandi, BAB, mau ikut?" Malik mendelik.
"Ih, udah sana minggat!" kesal istrinya melempar bantal sofa.
Di tempat lain, ada seorang wanita yang harus di jaga ketat oleh keamanan karena ia berusaha kabur dari rumah mewahnya. Ia di kurung di kamarnya sendiri.
Beberapa kali ia mencoba kabur, akan tetapi hasilnya selalu saja tertangkap.
"PIIII... AKU INGIN MAIN!" teriaknya dari dalam kamar.
"Gak boleh, kamu harus menyelesaikan tugas kuliah dulu baru Papi ijinkan main," pekik suara lainnya.
"Aku bosen kuliah terus Pi, aku ingin bersenang-senang," ia berkata dibalik pintu kamarnya.
"Kuliah dulu sampai lulus barulah Papi akan ijinkan kamu untuk bersenang-senang," sahut suara di luar.
"Terserah Papi saja," ia kembali ke ranjangnya dan menghentakkan tubuhnya ke kasur dengan keras.
"Gimana caranya ya agar aku bisa mengelabui mereka lagi," gadis itu berpikir keras.
"Non, Non Clara, makan malamnya udah Bibi siapkan," suara seorang wanita paruh baya membuatnya tersenyum cerah.
"Bi Murni, aha... aku dapat ide," ia mulai menyeringai licik.
"Aku gak mau makan kecuali aku di ijinkan keluar dari sini!" keputusan Clara sudah mantap.
Bi Murni yang mendengarnya tersentak dan merasa khawatir. Dengan sigap ia menaruh nampan di meja dan kembali mengetuk pintu kamar majikan mudanya.
"Non, ayolah makan dulu! nanti Bibi bujuk Tuan dan Nyonya," bi Murni tak kuasa.
Pintu yang terkunci akhirnya terbuka, Murni berteriak melihat majikannya tergeletak di lantai.
"Non Clara!" pekiknya tertahan.
Ada warna merah yang mencolok di lengan Clara.
"Tidak mungkin.....
*
__ADS_1
*
*Bersambung