
Tuan D membuka lemari pakaian anaknya. Dia tidak menemukan apa yang dia cari, tepatnya siapa pria yang masuk ke kamar anaknya.
Dia sudah tidak bisa mencium bau keringat itu lagi.
"Kamu tidak bohong kan?" dia beralih menatap anaknya dengan memicingkan mata.
"Tentu saja Daddy, buat apa aku berbohong?" Clara mengelak.
Ayahnya tidak berkata-kata lagi, pria paruh baya itu melangkah keluar dari kamar anaknya dan menutup pintu.
"Selamat," Clara mengelus dada.
Pintu kamar mandi berderit karena dibuka perlahan oleh Ervin. Dia mengintip dibalik pintu dan bernapas lega.
"Aku pikir akan ketahuan Bos," dia keluar dari kamar mandi tanpa tahu bahwa Clara sudah bersiap di depannya dengan tangan di udara.
Suara tamparan berdenging di telinga Ervin. Pipinya panas merasakan efek samping dari tangan Clara.
"Nona," ucapnya sambil mengelus pipinya yang terasa panas dan berdenyut.
"Sialan kamu ya! beraninya kamu masuk tanpa ijin, mencium bibirku, dan ngumpet di kamar mandi," dia berkacak pinggang.
"Maafkan saya Nona, itu semua karena saya... saya," Ervin tidak bisa melanjutkan ucapannya.
"Kamu pergi dari sini! besok aku akan mencari supir baru. Kamu saya pecat!" Clara emosi.
Ervin tidak bisa membantah majikannya, dia keluar dari kamar dengan mengendap-endap karena khawatir ketahuan. Dia berpura-pura berkeliling beberapa kali di lantai dua dan turun tangga.
"Ngapain kamu? kapan kamu naik ke lantai dua?" Frank baru saja masuk, dia melihat Ervin yang tengah turun tangga.
"Saya hanya menjalankan tugas pak, saya memastikan tidak ada orang asing yang masuk ke rumah ini," dia beralasan.
"Benarkah?" Frank menelisik wajah anak buahnya itu.
Ervin mengangguk mantap, dia menahan nyeri di pipinya. Frank menempelkan telapak tangannya pada pipi Ervin yang merah.
"Ini, pasti ditampar seseorang. Ada bekas telapak tangan di sini," ucapnya sambil melepaskan tangan.
"Ini bekas tangan saya sendiri, tadi ada nyamuk yang menggigit pipi saya. Jadi saya menepuknya, tapi sayang terlalu keras saya menepuk," dia beralasan.
Frank menatap tajam Ervin, dia menelisik raut wajahnya seakan mencari tahu apakah pria di depannya itu berbohong atau tidak.
"Kamu lekas ke pagar belakang! saatnya kamu menjaga di sana sampai dini hari," suruhnya.
"Baiklah tuan, tapi sepertinya saya harus mandi dahulu. Tadi saya belum sempat mandi," Ervin meminta ijin.
__ADS_1
"Saya kasih waktu lima belas menit," Frank menjauh dari Ervin.
Kini tinggallah Ervin seorang diri, tuan D yang sedari tadi sedang memperhatikan dirinya di balik pintu hanya tersenyum licik.
"Aku ingin tahu siapakah kamu sebenarnya anak muda. Entah apa tujuan kamu kemari, tapi aku mencium gelagat yang tidak beres," gumamnya seorang diri.
Ervin tidak mengetahui kalau dia sudah dicurigai oleh majikannya. Setelah bermasalah dengan Clara, dia harus berurusan dengan tuan D yang telah mengintai gerak-geriknya di dalam rumah.
Ervin mulai melangkah keluar, dia naik ke rooftop.
Dia mengambil kebutuhan mandinya dan masuk ke kamar mandi.
Sementara di luar ada beberapa pasang mata yang melihatnya masuk ke sana.
"Liat deh itu supir baru, sepertinya dia itu orang kesayangan om Frank. Kemana-mana pasti om Frank membawanya. Sementara kita harus berjaga-jaga di rumah ini sampai jamuran," keluh salah satu dari mereka.
"Benar apa yang kamu katakan, aku juga gak nyangka kenapa dia bisa disayang seperti itu. Badannya gak jauh beda dari kita malah lebih kekar badan kita," sahut satunya.
"Apa kita kerjain ajah ya? ayo kita kunci dia di dalam kamar mandi!" ajak salah satu dari mereka.
Pria satunya mengangguk mantap. Mereka berdua berjalan perlahan dan beriringan. Mereka mengambil pel dan sapu untuk diletakkan sebagai pengganjal pintu.
"Sepertinya itu hanya akan menahan pintu sementara. Harus ada alat yang lebih berat lagi agar pintu susah untuk di dobrak," pria satunya berpikir.
"Gobl0k, ada meja dan kursi itu!" dia menepuk jidatnya sendiri karena telah lupa pada meja di sudut rooftop.
"Ayo kita ke dapur! saatnya makan malam dan bertugas lagi," ajaknya.
Mereka berdua saling berpandangan dan tertawa lebar sambil menuruni anak tangga.
Ervin sudah selesai mandi, dia berganti pakaian di dalam sana. Ketika hendak membuka pintu, ia lupa untuk mengambil handuk basah yang digantung.
Ervin membuka gagang pintu, beberapa kali pria itu mencoba untuk membukanya namun gagal.
"B4j1n94n, siapa sih yang mengunci aku dari luar?" dia masih mencoba memutar gagang pintu berkali-kali.
Dua bodyguard yang mengunci Ervin sudah memakan jatah makan malam. Kini mereka berjaga kembali di tempat yang sudah di jadwalkan.
Tiba-tiba saja bodyguard yang berjaga di pintu belakang mencari keberadaan Ervin. Dia tidak menemukannya walaupun sudah mencari di sekeliling rumah. Dia masuk ke dalam rumah dan memanggil Frank yang tengah berdiri mematung di sebuah sudut ruangan.
"Om, om sudah memberitahu kalau aku dan Ervin bergantian jaga di pintu belakang malam ini?" pria itu menatap Frank.
"Sudah, memangnya dia belum muncul menggantikan kamu?" kernyit lelaki paruh baya tersebut.
"Belum kelihatan batang hidungnya om," keluhnya.
__ADS_1
Pria tersebut sudah keroncongan karena keterlambatan Ervin untuk menggantikan tempatnya.
"Sudah kamu cari?" telisik Frank.
Pria tadi hanya mengangguk saja.
"Memangnya di rooftop nggak ada?" tanya Frank lagi.
Frank merasa ada yang janggal.
Pria tadi hanya menggeleng mantap.
"Tadi saya sudah bertanya sama kedua bodyguard di depan Om. Mereka bilang sih Ervin gak ada di atas," tambahnya.
"Aneh, dia tadi pamit mau mandi sebelum makan malam. Tidak mungkin dia kabur dari rumah ini kan?" Frank berpikir.
"Kalau begitu kamu makan dulu sana! nanti aku akan mencari keberadaan supir itu," Frank melangkah.
Suara telapak kaki yang sedang turun dari tangga lantai dua membuat konsentrasi Frank teralihkan.
"Kenapa? ada masalah?" Clara yang turun dari kamarnya melihat Frank yang seperti orang bingung.
"Supir baru menghilang Nona," jawabnya.
"Apa? benarkah?" Clara tersentak.
Kemudian dia tersenyum puas dan menatap Frank.
"Baguslah kalau dia menghilang, jadi aku tidak perlu repot-repot untuk memecatnya," Clara tersenyum licik.
"Apa maksudnya Non?" Frank mengernyit.
"Carikan aku supir baru! besok harus ada pengganti supir itu," Clara tidak menggubris pertanyaan dari Frank.
"Tapi bukannya Nona sudah berjanji kalau supir itulah yang akan menjadi supir terakhir Nona?"
"Terserah aku kan kalau berubah pikiran," Clara bersedekap dengan sombongnya.
"Atau jangan-jangan dia hilang karena Nona?" Frank mencurigai majikannya.
"Apa katamu?" Clara mendelik kasar.
"Mengaku saja Non, sebelum tuan besar tahu yang sebenarnya," Frank semakin memojokkan Clara.
*
__ADS_1
*
Bersambung