Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 59 Kesalahpahaman


__ADS_3

Clara memandang keduanya secara bergantian.


Dia mengepal erat sumpit yang dipegangnya.


Wanita di samping supirnya tersenyum ke arahnya dan kembali menatap Ervin.


"Kamu gimana sih Vin? Masak bilang kalau kita nggak kenal?" wajahnya merengut.


"Apaan sih kamu tuh ganggu ajah, sebaiknya kamu pergi sana!" Ervin berbisik.


"Kak Jasmine," panggil seseorang yang usianya lebih muda dari mereka.


Gadis itu melihat Jasmine dengan seorang pria. Dia menoleh pada pria tersebut dan melebarkan matanya.


"Mas Ervin, kamu apa kabar?" Gadis itu memeluk Ervin yang masih terdiam di kursi.


Ervin mau tidak mau membalas pelukan gadis tersebut. Dia menatap wajah Clara yang duduk di depannya. Clara terlihat menahan emosi.


"Kalian kenapa kemari? pergi sana!" Ervin mengusir pada kedua wanita yang tanpa ijin duduk mengelilingi dirinya.


"Kalian semua saling kenal?" Mata Clara membulat. Dia memandang mereka bertiga secara bergantian.


Wanita itu meletakkan sumpit dan beranjak dari tempat duduknya. Dia berdiri dan menyambar tas yang berada di kursi sebelahnya.


"Aku duluan ya! Kalian silakan saja berbincang-bincang," ucapnya kemudian pergi menjauh dari meja tersebut.


"Clara tunggu," Ervin bangkit dari duduknya, dia mengejar Clara.


Ervin berhasil meraih tangan majikannya. Dia memohon padanya agar tidak pergi.


"Tunggu aku... aku akan menjelaskan semuanya," Pria itu memohon.


"Lepaskan aku! Biar aku naik taksi aja, kamu mengobrol saja dengan mereka. Aku anggap hari ini hari liburmu," Clara menyentak cengkraman tangan Ervin.


Wanita itu berjalan menjauh seolah sedang terburu-buru.


"Ternyata dia seorang playboy," cibir Clara di sela gumaman.


Ervin berdiri mematung, menatap punggung Clara yang menjauh sampai tak terlihat lagi.


Dia berjalan pelan ke tempat duduknya semula. Di sana sudah ada Jasmine dan Zeta sepupunya yang sudah lama tidak berjumpa.


Pria itu duduk dengan lemas. Ada langkah kaki mendekati mereka. Ervin yang masih memikirkan Clara hanya bisa terdiam tanpa menoleh pada asal suara.


"Astaga Ervin, lenganmu berotot ya. Ah punya mas Rico mah lengannya kalah gede sama punyamu," seorang pria duduk, tangannya masih menepuk lengan Ervin.


Mereka adalah Jasmine, Rico dan Zeta yang mengelilingi Ervin. Namun, bukannya senang setelah sekian lama tak berjumpa. Ervin malah terlihat lesu.

__ADS_1


"Kalian ini datang di waktu yang tidak tepat," ucapnya memekik tertahan.


"Lho, kamu kenapa sih Vin? Bukannya senang bertemu dengan kita, eh malah ngamokk nggak jelas," kesal Jasmine yang mendapat anggukan dari Zeta.


"Memangnya kenapa sih?" Rico yang baru datang tidak tahu tentang masalah yang terjadi diantara mereka.


"Tanya aja sama mas Ervin tuh," tunjuk Zeta dengan dagu.


"Tadi ada wanita yang duduk bersama Ervin mas. Tiba-tiba saja dia pergi, padahal kami belum berkenalan," Jasmine menatap Rico.


Ervin masih terdiam, dia dilema dengan keadaan sekarang ini. Clara tidak tau siapa dirinya. Dia akan ketahuan kalau mengenalkan sepupunya dan Jasmine. Penampilan mereka bukan seperti orang susah.


"Ah tau ah, aku pergi," Ervin berdiri, tak lupa dia membawa tas belanjaan majikannya.


"Lho mau kemana Vin? Mas Rico baru aja sampe," Rico mengamati wajah Ervin yang sedang kesal.


Ervin melanjutkan langkahnya, dia keluar dari restoran.


Sementara Rico, Jasmine dan Zeta hanya bisa menyaksikan kepergian Ervin.


"Kenapa mas Ervin aneh ya?" Zeta menyimpulkan.


"Memangnya wanita tadi siapanya Ervin?" Rico masih penasaran.


"Entahlah mas, kan kita belum kenalan. Eh dia udah pergi duluan," Jasmine mengendikkan bahu.


"Mungkin saja mereka sedang berkencan. Kalian ini mengganggu saja, lain kali kalau Ervin bersama seorang wanita dan bertemu lagi kalian jangan pernah menyapanya! Mengerti kalian?" Rico berkata tegas pada adik kandungnya dan Jasmine yang seperti saudara sendiri.


Dia bersender pada sandaran kursi.


Jasmine dan Zeta saling berpandangan. Mereka baru sadar kalau Ervin mulai dekat dengan seorang wanita.


"Kalau begitu berita baik ini, aku akan memberi tahu Tante Elisa," Zeta kegirangan.


"Jangan dulu! Kita kan tidak tahu siapa wanita itu sebenarnya," Jasmine merasa cemburu.


Dari dulu wanita itu masih saja menyimpan perasaan pada Ervin walaupun Ervin hanya menganggapnya seperti saudara sendiri. Jadi, dia tidak rela kalau Elisa harus tahu tentang wanita tadi.


"Ini berita baik kak, kenapa harus disembunyikan?" Zeta tetap pada keputusannya.


"Sudah-sudah, mau makan atau berdebat?" Rico melerai adiknya.


Tidak ada lagi ucapan yang terlontar dari mulut mereka. Rico melihat menu dan memanggil seorang waiters terdekat agar membersihkan alat makan bekas Ervin dan Clara.


***


Clara sudah tiba di rumahnya sepuluh menit yang lalu. Dia kini berada di kamarnya, duduk di depan meja rias. Wajah cantiknya yang sembab terpantul jelas di cermin itu.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa aku bisa menyukai supir miskin itu? Apa hebatnya dia sampai aku bisa menyukainya?" Clara bergumam seorang diri.


Ketukan pintu membuatnya menoleh ke arah pintu.


"Non, ada yang mau berbicara dengan nona," Bibi masih mengetuk pintu berulang kali.


"Tidak boleh ada yang menemuiku hari ini bi! Bilang saja kalau aku tengah beristirahat," pekik wanita tersebut.


"Baiklah nona... kalau perlu apa-apa panggil bibi saja ya!" Bibi melangkah pergi dari depan pintu kamar Clara.


Dia turun dan berjalan ke luar. Di anak tangga paling bawah ada seorang pria yang duduk dan menyilangkan kakinya. Raut wajahnya terlihat gusar.


"Maaf mas, nona tidak mau keluar dari kamarnya. Bibi sudah berusaha untuk membujuk tapi hasilnya nihil. Pintunya saja dikunci," keluh si bibi.


"Terimakasih sudah mencoba ya bi. Maaf merepotkan bibi," Pria itu menghela napasnya yang berat.


"Iya tidak mengapa mas. Tapi, sebenarnya kalian berdua kenapa? Memangnya mas Ervin ada hubungan apa dengan nona?" Bibi memberanikan diri untuk bertanya.


"Kenapa Nona tadi bibi lihat keluar dari taksi? Bukankah kalian pergi berdua?" Bibi merapatkan alisnya.


"Maaf bi, saya tidak bisa memberitahu apapun tentang ini. Saya juga bingung kenapa Clara yang biasanya kasar dan judes bisa uring-uringan seperti ini," Ervin mengusap wajah.


"Ya sudah mas, semoga berhasil membujuk nona. Bibi kembali ke dapur ya," Wanita paruh baya tersebut melangkah pergi meninggalkan Ervin yang sedang frustasi.


"Hei kamu... waktunya jaga di depan! Sebelum itu om Frank ingin berbicara empat mata di garasi," Pia yang pernah menguncinya berkata ketus.


Ervin melengos tak menanggapi ucapannya. Dia beranjak dari duduknya dan melangkah pergi menemui Frank.


Setelah berada di garasi, Ervin memanggil pria paruh baya tersebut.


"Sini!" Sahut sebuah suara.


"Kemana pak?" Ervin celingukan mencari asal suara.


"Astaga Ervin, di sini..." Frank yang berada di dalam mobil mengetuk kaca jendela mobil tersebut.


Ervin menyengir melihat Frank yang tengah duduk di dalam mobil. Dia membuka pintu dan menyapa tangan kanan tuan D.


"Tugas baru dari tuan D, aku sengaja berbincang di sini agar tidak ada orang yang bisa menguping pembicaraan kita," Frank memberikan sebuah nomor telepon pada Ervin.


"Nomor siapa pak?" Ervin kebingungan.


"Kamu hubungi saja nomor itu. Suara itu yang akan menuntun kamu pada tugas selanjutnya," setelah berkata demikian, Frank langsung keluar dari mobil dan pergi meninggalkan Ervin yang masih terpaku seorang diri.


"Tugas apa lagi ini?" Keningnya berkerut.


*

__ADS_1


*


*Bersambung


__ADS_2