
Suara langkah kaki yang berbeda namun beriringan terdengar jelas. Mereka yang turun dari tangga menatap bergantian pada Frank dan Clara yang sepertinya tengah mendebatkan sesuatu hal.
"Mereka berdua kenapa?" gumam si wanita.
"Kalian kalau mau bertengkar lebih baik ke hutan ajah sana!" tuan D berkata kasar.
"Sudah jam makan malam malah bertengkar hebat di sini," tuan D malas dengan kedua orang di depannya.
"Maaf Tuan, bukan maksud saya bertengkar dengan Nona. Saya hanya ingin tahu kalau supir itu Nona mudalah yang mengusirnya. Supir itu menghilang," Frank melaporkan keadaan pada majikannya.
"Tidak mungkin menghilangkan diri tanpa jejak di sini. Kamu coba cari lagi Frank. Harus kamu yang mencarinya sendiri!" perintah tuan D.
"Baiklah tuan, maaf Nona, saya harus kembali bekerja," Frank pamit pada mereka semua.
"Clara, ke ruang makan sekarang!" titahnya tegas.
Clara mengangguk malas, dia mengekori langkah ayah dan ibu tirinya.
Frank mendengar suara gedoran benda keras. Dia menyusuri asal suara tersebut. Dia melangkah ke rooftop, suara gedoran tersebut semakin nyaring.
Sesampainya di anak tangga paling atas, Frank melongo karena ada meja dan kursi yang menghalangi pintu kamar mandi.
"Pasti dia ada di dalam," gumamnya lalu bergegas menghampiri kamar mandi tersebut.
"Ervin, kamu di dalam kan?" tanyanya dari luar.
Ervin sayup-sayup mendengar suara.
"Tolong, tolong buka siapapun yang di luar sana!" tangannya tidak berhenti menggedor pintu tersebut dari dalam.
Frank menggelengkan kepalanya, dia memindahkan meja dan kursi tersebut dengan cara menggeretnya perlahan.
"Berat, pantas saja tuh anak tidak berkutik," Frank mengatur napasnya yang menderu.
Selesai memindahkan pengganjal pintu, Frank memutar kunci dan membuka kenop pintu. Ervin yang bercucuran keringat bernapas lega karena Frank sudah membuka pintu untuknya.
"Terimakasih pak," Ervin mengatur napas yang memburu karena kelelahan menggedor pintu.
"Jadi setelah kamu mandi tadi kamu tidak beranjak sedikitpun dari sini?" Frank mengernyit.
"Iya pak, setelah saya selesai mandi ada yang mengunci pintu dari luar. Saya sudah beberapa kali mencoba membuka namun nihil," jawab Ervin.
"Kamu tahu siapa yang mengunci pintu ini?" tanyanya lagi.
"Tidak pak, saya kan belum keluar dari sini jadi saya tidak tahu apa-apa," jawab Ervin.
__ADS_1
Ervin duduk di kursi yang berada di depan kamar mandi. Dia bersender walaupun ada Frank yang masih berada di sana.
"Kalau begitu ini harus diusut. Aku tidak mau pekerjaan tertunda gara-gara orang usil seperti yang sudah mengunci pintu," Frank mengepal.
Dia tidak habis pikir apa penyebab Ervin dikunci.
"Terimakasih Pak, saya ijin beristirahat dan makan malam. Dari siang saya belum makan," suara Ervin melemah.
"Ya sudah ayo kita turun sekarang!" ajak Frank.
Mereka turun dari rooftop, kedua bodyguard yang berjaga di depan teras memasang tampang datar seolah mereka tidak tahu apa-apa ketika Ervin dan Frank turun bersamaan.
Frank pergi ke arah pintu dapur yang berada di belakang tangga. Dia memanggil bibi, namun si pembantu sedang melayani majikannya di ruang makan.
"Nunggu lagi," perut Ervin sudah berbunyi.
Dia meringis menahan nyeri pada perutnya. Tenaganya sudah habis karena terkuras menggedor pintu kamar mandi tadi. Kini dia duduk di kursi yang tersedia di dapur. Matanya menerawang jauh mengingat kehidupan mewah yang dia tinggalkan.
"Sudah sampai sejauh ini, aku harus mendapatkan cintamu Ra," gumamnya lirih.
Tanpa sadar Ervin membuat tangannya sebagai alas kepala. Dia tertidur di atas meja yang menjadi tempat makannya.
Suara derap langkah tidak terdengar karena Ervin sudah pulas dengan tidurnya.
Bibi terkejut karena pria yang sedang tidur tersebut. Dia merasa tidak nyaman ingin membangunkan atau tidak. Tapi di sisi lain Clara yang berada di belakang si bibi merasa kasihan dengan Ervin.
"Bibi tidak tahu Non, karena tugas bibi hanya memasak saja," jawabnya jujur.
"Benar juga ya bi, sudah ada mbak Tina yang seminggu tiga kali membersihkan rumah ini," Clara seperti bergumam untuk dirinya sendiri.
'Non, kita bangunkan saja ya? sepertinya dia belum makan malam soalnya saya tidak melihatnya mengambil jatah makanan," tanya bibi.
"Kalau begitu bibi saja yang bangunin, aku mau bawa lauk kesukaan aku," Clara membawa sebuah mangkuk sedang yang tertutup tudung saji.
Dia melangkah meninggalkan dapur.
Bibi menggoncang bahu Ervin dengan pelan, wanita tua tersebut tidak mau membuat pria di depannya terkejut karena goncangan yang dia buat.
"Bangun Vin!" bibi sudah beberapa kali menggoncang tubuh Ervin.
Ervin menegakkan kepalanya, dia memicingkan mata dan melihat siapa yang mengganggu tidurnya.
"Bibi, maat bi saya ketiduran di sini. Saya lapar bi, sedari tadi siang belum makan. Tenaga saya habis untuk menggedor pintu kamar mandi," Ervin berkata panjang lebar.
"Lah, maksudnya apa?" bibi masih tidak mengerti.
__ADS_1
Ervin bercerita pada bibi apa saja yang sudah dia alami tadi sore sampai Frank menemukan dirinya yang tengah terkunci.
"Tidak usah bercerita lagi! ayo makan sekarang!" bibi berpindah tempat.
Dia menyendokkan nasi dan memberikan lauk yang lebih pada pria tersebut karena kasihan.
"Makan sekarang juga!" suruhnya.
Wanita paruh baya tersebut juga menuangkan air putih dan teh manis pada Ervin. Ervin merasa tidak enak karena sudah merepotkan si pembantu.
Selesai dengan makanannya, Ervin mencari keberadaan Frank. Dia ingin mencari tahu siapa orang yang sudah berani menguncinya.
"Pak," panggilnya setelah beberapa kali berkeliling rumah.
"Ada apa? cepat pergi ke pagar belakang!" perintah Frank.
"Saya ingin tahu siapakah yang mengunci pintu kamar mandi," ucapnya tanpa basa-basi.
"Besok kamu pasti tahu siapa mereka, saya sudah memberikan hukumannya, tinggal tunggu saja besok!" seru Frank lagi.
"Cepat ganti shift!" suruh Frank lagi. Dia tidak sabar dengan Ervin yang terkadang sering melamun dan tidak fokus.
"Maaf pak, saya ke sana sekarang juga," Ervin melangkah cepat.
Dia bergantian dengan salah satu pria lainnya.
Ervin tidak tahu bahwa ada sepasang mata yang memperhatikan dirinya dan Frank.
Wanita muda itu tersenyum tipis dan merasa ada yang aneh dengan dirinya. Dia kembali ke kamar dan membuka tirai jendela yang transparan. Dia dapat melihat Ervin dari sana. Senyumnya terkembang dan tiba-tiba saja ia menyentuh bibir merah merona alaminya. Clara menutup kembali tirainya dan melangkah ke meja rias. Dia duduk dan merenungi kejadian tadi sore.
Dering suara smartphone mengalihkan perhatiannya. Dia menatap layar ponselnya, sebuah nama yang tidak ingin dia sebut.
"Kenapa si begajulan ini tahu nomor telepon baruku?" keluhnya malas.
"Lebih baik aku tidak usah menggubrisnya," ucapnya sambil meletakkan smartphone tersebut.
Beberapa kali dia telah mengacuhkan panggilan itu, kini ada suara notif pesan yang masuk.
Clara membacanya dan raut wajahnya terlihat tidak biasa. Tangannya mengepal, giginya bergemeletuk kuat. Dia memukul meja rias dengan kepalan tangannya. Emosi menguasai dirinya
"Akan aku bunuh kamu kalau...
*
*
__ADS_1
*Bersambung