Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 100 Dikurung


__ADS_3

"ERVIN!!" Teriak Dendi lagi.


"Maaf bapak ini siapa?" Sekuriti rumah bertanya sopan.


"Panggilkan Ervin pak! Dia telah menculik anak saya satu-satunya." Dendi mengeraskan rahangnya.


"Tapi mas Ervin sedari pulang kerja ada di rumah pak. Dia tidak kemana-mana," Sekuriti tidak mau majikannya dituduh sembarangan.


"Panggil saja dia pak!" Pekik Dendi tidak sabar.


"Tuan, ada yang mendekat!" Frank menunjuk.


Seorang pria dan seorang wanita keluar dari rumah. Mereka menatap Dendi dengan penuh tanda tanya.


Pak sekuriti hanya memandang mereka bergantian dan kembali ke tempatnya.


"Ngapain kamu kemari? Dasar tidak tahu malu," Malik mencibir.


"Aku mencari anakku. Pasti anakmu yang membawanya. Kalau bukan dia dalangnya, siapa lagi?" Dendi mengepal.


"Anakku ada di kamarnya, dia aku kurung karena tadi siang ketahuan pergi ke rumahmu. GPS di ponselnya tidak pernah berbohong. Sedari pulang dari apotek dia langsung aku kurung, bahkan makan malam pun aku sendiri yang membawanya ke kamar," Malik bersedekap. Dia menjelaskan secara detail agar Dendi tidak mencurigai anaknya.


"Tapi kenapa anakku melarikan diri? Pasti tadi Ervin bertemu Clara sebelum pulang kerja," Dendi masih ngotot.


"Jangan sembarangan ngomong! Buktinya ada pak sopir yang selalu bersamanya. Ervin langsung pulang ke rumah setelah pulang kerja. Sampai di sini saja! Jangan buat keributan di lingkungan ini agar aku tidak memanggil satpam kompleks," Malik pergi dan menarik lengan Elisa.


Dendi bungkam. Selama kenal dengan Malik, baru kali ini dia melihat raut wajah Malik yang penuh emosi.


"Bagaimana ini tuan?" Frank baru bisa bersuara.


Tatapan mata Malik serupa dengan Ervin walaupun anaknya lebih garang dan keras kepala.


"Entahlah aku tidak yakin. Padahal anak itu berjanji jam tujuh malam pergi ke rumah dan bertemu Clara." Dendi kebingungan.


"Apa sebaiknya saya hubungi Roy? Mungkin dia sudah menemukan keberadaan nona," Frank mengusulkan.


"Atau mungkin saja pria brengsek itu yang melakukan ini?" Dendi baru kepikiran tentang mantan tunangan Clara.


"Tapi dia sudah kami ringkus bos. Apa kita harus menanyakan ini padanya?" Frank merasa khawatir.

__ADS_1


Dendi tidak menyahut, dia langsung masuk mobil tidak mau membuang waktunya.


Seandainya tidak ada masalah tentang produk baru tersebut, pasti mereka tidak akan khawatir tentang keberadaan Clara. Tapi masalahnya kini berbeda.


Kendaraan mengebut meninggalkan rumah Malik. Malik dan Elisa masuk ke kamar Ervin untuk mengambil bekas makan anaknya.


"Pa, mam, please. Ervin bukan anak kecil lagi. Kenapa kalian selalu berbuat seperti ini? Ervin udah nurutin kalian kalau dijodohkan dengan Jasmine. Ini, apa maksudnya? Di kurung?" Ervin protes. Nada suaranya naik beberapa oktaf.


"Mulai lagi kamu Vin? Apa sebenarnya maumu? Kamu tidak suka dengan kemewahan ini? Kamu tahu tidak kalau Evans itu yang menolong papa untuk membangun apotek. Kini seharusnya kita membalas kebaikan mereka. Setidaknya kita harus menyenangkan Jasmine agar hatinya tidak terluka. Jasmine itu menyukai kamu sejak kecil bahkan sampai sekarang. Buka matamu! Jasmine anak yang cantik, cerdas dan baik. Apa kurangnya dia? Malah mau sama anak Dendi. Dendi itu orang nggak bener," Malik berkacak pinggang, napasnya memburu karena amarah.


"Sudah mas! Cukup! Tahan amarah, sabar!" Elisa menepuk punggung suaminya.


"Kamu lagi kenapa baru sekarang memberi tahu kabar baik ini? Kalau sedari dulu Mimi suka sama anak keras kepala sepertinya pasti dari dulu aku sudah menjodohkan mereka," Malik menatap istrinya.


"Pokoknya Jasmine itu hanya temen Ervin. Tidak lebih, Ervin tidak mencintainya pa. Dia tidak akan pernah bahagia kalau menikah dengan Ervin," Ervin tak mau kalah.


"Seminggu lagi pertunangan kalian berdua berlangsung. Tidak ada kata tapi-tapian! Ingat itu!" Tuding Malik.


"Kita pergi dari sini mas! Kamu harus selalu jaga emosi!" Elisa mendorong tubuh suaminya. Dia menutup pintu kamar dan menguncinya dari luar.


Ervin menggedor pintu berulang kali. Dia harus bertemu Clara malam ini juga. Ervin tidak tahu bahwa kekasihnya menghilang begitu saja.


Ponsel Ervin disita, namun ada ponsel lamanya yang dia sembunyikan. Beberapa kali dia mencoba untuk menghubungi Clara namun ponsel wanita tersebut tidak aktif.


"Lama banget Jef!" Gerutu Ervin. Dia berpindah tempat ke kamar mandi agar dengung suaranya tidak terdengar keluar kamar.


["Bos, aku udah nunggu sampai dikerubungi nyamuk ini. Tapi, bos nggak nongol juga. Kalau nggak jadi aku pulang nih!"] Jeffrey sudah capek menunggu.


"Aku dikurung di kamar sendiri. Mana di lantai dua lagi. Padahal aku udah janji sama Dendi kalau ketemu Clara malam ini. Cepat masuk kemari Jef! Selamatkan aku!" Pinta Ervin gelisah. Malam sudah menunjukkan pukul delapan.


"Tapi bagaimana caranya bos? Duh bos besar ternyata nggak main-main dengan ucapannya," Jefrey jadi keder.


"Jeffrey! Tunggu aku pokoknya! Aku akan berusaha keluar dari sini. Kamu sebaiknya mengalihkan perhatian pak sekuriti," Mendadak ide muncul.


"Baiklah bos, hati-hati bos jangan sampai ketahuan! Kalau ketahuan aku bisa dipecat sama bos besar," Jeffrey gemetar.


Panggilan terputus, Jefrey berpura-pura berjalan kaki dan menyapa pak sekuriti yang sepertinya bosan sendirian di pos jaga.


"Pak, sendirian aja!" Panggilnya kencang.

__ADS_1


"Eh, mas. Ngapain kemari malam-malam begini?"


"Owh ini pak, lagi olahraga malem ajah. Lumayan sih bakar lemak," Pria itu berbohong.


"Mas, mau maen catur tidak? Bapak bosen nih, temenin ya?" Sekuriti memelas.


Mendadak Jeffrey mendapatkan keberuntungan. Dia mengangguk mantap, setelah pagar terbuka pria itu berjalan mendekati sekuriti di pos jaga.


Ervin masih memikirkan cara. Dompet dan ponselnya disita Malik.


"Astaga aku lupa kalau punya celengan yang belum dibuka," Ervin membuka lemari dan mengeluarkan celengan berbentuk kuda.


Dia mencongkel uang tersebut dengan pinset. Beberapa lembar uang pecahan 50 dan 100 berhasil dikeluarkan dari tempatnya. Kali ini dia haru memutar ide untuk keluar dari kamar.


"Tali, aku kan sering skipping di dalam kamar kalau males ke gym." Batinnya.


Ervin mencarinya dan menemukan beberapa jump rope. Dia mencoba mengikat satu persatu tali tersebut agar panjang. Ervin membuka jendela kamarnya yang lebar. Dia mencoba melempar tali tersebut, tiga jump rope ternyata masih kurang panjang. Dia kemudian menyambungnya dengan tirai jendela Transparan.


"Akhirnya," gumamnya pelan.


Dengan modal uang dan ponsel jadul pria itu turun dengan sangat berhati-hati. Ervin segera menyelinap agar tidak ketahuan pak sopir dan pak sekuriti. Ia awas memperhatikan sekeliling sebelum berpindah tempat.


"Yes," lirihnya.


Dia berhasil melewati halaman rumah, kini dia harus waspada dengan pak sekuriti. Dia mengintip dibalik jendela kaca pos jaga.


"Ada Jef di sana, pasti itu pak tua nggak ngeh kalau aku keluar," Ervin berusaha memanjat pagar rumah yang tinggi. Dengan bersusah payah dan penuh keringat akhirnya dia mendarat dengan selamat.


"Maling, ada maling," teriak seseorang yang sedang membawa senter.


"Pak, saya bukan maling," Ervin langsung berlari menjauh.


"Maling mas Jef, ada yang teriak maling. Ayo kita lihat!" Sekuriti menarik tangan Jefrey.


"Sial," Ervin tidak berhenti berlari.


*


*

__ADS_1


*Bersambung


Kira-kira Ervin ketahuan nggak ya? Atau Ervin ketangkap satpam kompleks? Atau bisa jadi Ervin dikeroyok massa 😂. Hayo mau yang mana? Tulis di kolom komentar 😁


__ADS_2