Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 90 Pria Licik


__ADS_3

"Kenapa bisa kamu menjadi sopirku? Siapa yang menyuruhmu bekerja di sini?" Clara berkacak pinggang.


"Saya di suruh om Frank non, beliau menyuruh saya kemari setelah ada konfirmasi dari om Toni," Pria itu menjawab dengan tenang.


"Non! Udah siang, cepatlah pergi!' Usir Frank yang mendekati mereka.


"Apaan sih om pake ngusir segala. Terserah aku dong," Clara memutar bola matanya dengan malas.


Dia melihat jam di pergelangan tangan kiri. Dia bergegas masuk mobil dan menyuruh sopir baru itu untuk berangkat.


"Aku sebenarnya malas harus dianterin sama kamu. Aku sudah ingat siapa kamu sebenarnya," Clara berucap penuh penekanan.


Pria itu melirik majikannya di balik kaca spion dalam. Dirinya mencoba mengingat kembali siapa wanita ini sebenarnya.


"Kenapa dia tahu siapa aku? Benarkah dia pernah bertemu denganku?" Batin si sopir.


"Heh, lambat amat! Cepat tancap gas!" Pekik Clara.


"Bbbaik non," Pria itu menjawab gugup.


Mobil melaju kencang, hampir satu jam mereka tiba di sebuah gedung tinggi dan megah.


"Kamu tahu perusahaan ini dari mana?" Clara mengernyit.


Wanita tersebut melihat keanehan pada sopir baru itu.


"Tadi om Frank menunjukkan rute dan lokasi melalui maps yang ada di layar dasbor non. Jadi saya tinggal mengikuti instruksi dari layar," jelas si sopir.


"Ya sudah buka pintunya, cepat!" Perintah Clara tak sabar. Pria itu segera turun dari mobil dan membuka pintu untuk majikannya.


"Dasar pemalas dan seenaknya. Kalau kamu bertingkah laku seperti di apotek Ervin, aku tidak akan segan-segan memecatmu!" Tunjuk Clara kasar.


Wanita itu pergi setelah berkata demikian.


"Apotek Ervin?" Roy mengerjapkan mata.


"Astaga aku ingat sekarang. Dia wanita yang pernah Ervin bawa ke apotek," Royan menepuk jidatnya.


"Ternyata dunia ini sempit," Roy tertawa menyeringai lebar.


Clara sudah berlalu dari hadapannya.


"Kita lihat saja nona, apakah anda bisa memecatku seenaknya seperti pacar anda itu," sudut bibir Roy terangkat.


Mendadak suara telepon membuyarkan lamunan Roy.

__ADS_1


"Ada apa lagi? Kenapa si pria tua ini menelpon lagi?" Royan sungguh malas meladeninya.


Namun, dirinya terpaksa menjawab panggilan tersebut.


"Iya om," jawab Royan singkat, nadanya dia turunkan beberapa oktaf.


"Roy, kamu awasi nona Clara! Jangan sampai bertemu dengan pria manapun yang bukan karyawan perusahaan D coorporation. Ingat itu! Apalagi bertemu dengan pria yang bernama Ervin. Nanti aku kirimkan foto pria yang bernama Ervin," Frank menjelaskan aturan baru pada Roy.


"Ervin? Pacarnya nona?" Roy tidak sadar bahwa telpon sudah terputus. Frank langsung mengirimkan foto Ervin pada Roy melalui pesan aplikasi hijau. Suara notif membuat Roy tersadar dari pikirannya sendiri.


"Pria itu ini tak pernah menjawab pertanyaanku," jengah Roy.


Pria itu melihat foto yang dikirimkan oleh Frank. Senyum merekah sempurna dari bibirnya yang tebal.


"Hahaha, kalian ternyata sudah punya masalah. Syukurlah kalian kalau tidak dapat bersatu, aku akan menambah masalah kalian berdua," Roy tertawa menyeringai.


Sopir sekaligus bodyguard Clara yang baru akhirnya masuk ke dalam perusahaan dan bertanya pada seorang resepsionis dimana ruangan Clara berada.


Dia naik ke lantai atas untuk menyusul Clara.


"Sebentar lagi aku bisa memisahkan mereka seutuhnya," batin Roy yang akhirnya bisa menuntut balas pada Ervin.


Dia mengenalkan diri pada sekretaris baru Clara yang masih menyesuaikan diri dengan sikap atasannya. Pria itu duduk di luar untuk menjaga majikannya agar tidak bertemu dengan sembarang.


Malik yang sudah sembuh duduk di sofa yang berada di ruang keluarga ditemani oleh istrinya.


Ada Evans dan Fatma di sana, kebetulan siang ini jadwal Evans di rumah sakit terbilang senggang.


"Coba kemarin langsung ke RS mas Evans aja. Pasti penanganannya lebih cepet," Fatma menyayangkan.


"Sudahlah sayang! Nggak usah dibahas lagi. Asalkan Malik udah sembuh walaupun dia masih belum bisa bergerak bebas," Evans mengelus punggung istrinya.


"Saat itu kami semua panik, pak sopir menuju RS terdekat agar dapat ditangani secepatnya. Eh malah dipindahkan ke RS lain," Elisa menyesal.


Kondisi Malik memang sudah normal, namun dia tidak bisa bergerak aktif seperti dulu. Dia harus menjalani terapi lanjutan agar kembali seperti dulu lagi.


"Ervin mana?" Fatma mengalihkan pembicaraan karena sedari tadi dia tidak melihat Ervin.


"Dia di apotek, mas Malik menyuruh pak sopir untuk mengantar kepergian dan kepulangannya. Pak sopir menjadi mata-mata mas Malik. Ervin pelan-pelan harus melupakan gadis itu. Mas Malik sudah menjelaskan tentang Dendi padaku, aku tidak bisa berbicara banyak, aku setuju dengan keputusan mas Malik," ucap Elisa panjang lebar.


"Tapi kasian Ervin kalau harus berpisah dengan pacarnya, apalagi anak itu sudah berencana untuk serius menjalin hubungan dengannya," Evans berkomentar.


"Kamu ih," Fatma menyikut suaminya.


Matanya melotot tajam karena dia khawatir tentang reaksi Malik dan Elisa.

__ADS_1


"Ervin itu urusanku, aku akan mencarikan jodoh untuknya. Aku tidak mau dia harus menikah dengan anak bajingan itu," geram Malik.


"Menjodohkan Ervin? Mas Malik sudah punya calonnya?" Fatma mempunyai sebuah ide bagus.


"Sebentar lagi aku akan menghubungi kolega bisnis. Anak mereka banyak yang belum menikah," sahut Malik santai.


"Mas, bagaimana kalau ...." Fatma tak melanjutkan ucapannya. Dia menelan ludah dengan berat.


Elisa menatap Fatma yang gelagatnya terlihat aneh.


Mendadak Elisa mengerti apa yang dipikirkan Fatma.


"Bagaimana kalau kita menjodohkan Ervin dengan Jasmine mas? Mereka teman dekat sedari kecil, siapa tahu nantinya Ervin bisa berpaling dari gadis itu," usul Elisa akhirnya.


Mata Fatma berbinar-binar, Elisa tahu persis keinginannya. Evans dan Malik juga mengangguk beberapa kali menyetujui rencana tersebut.


"Ide kamu bagus juga," mata Malik menatap manik mata istrinya.


"Tapi kita harus memberi tahu kabar ini pada Jasmine. Nanti kalau anak itu nggak mau, 'kan bisa berabe," Evans menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Mas Evans, serahkan ini padaku! Aku yakin Jasmine pasti mau-mau aja kalau kita jodohin," Fatma terkekeh.


"Tapi sebenarnya aku khawatir kalau hubungan mereka berdua tidak berjalan lancar, nanti imbasnya malah ke persahabatan kita yang sudah seperti saudara," Evans bersandar dan menghela napasnya. Bukan tanpa alasan dia berucap demikian, melihat kelakuan Ervin dan wataknya yang keras kepala membuatnya ragu.


Elisa, Fatma dan Malik terdiam mendengar perkataan Evans. Mereka mulai berpikir ke depannya akan seperti apa.


"Kita harus mencobanya dahulu! Jangan sampai hubungan kita sebagai sahabat terpecah belah karena keretakan hubungan Ervin dan Mimi nantinya. Dimulai dari sekarang kita harus menerima konsekuensi dari perjodohan ini," Fatma menatap mereka bergantian.


"Kalau begitu kamu hubungi Mimi sekarang! Katakan padanya apa rencana om dan tantenya," seru Evans.


Bibi tergopoh mendekati mereka berempat.


"Maaf mengganggu waktunya tuan dan nyonya. Di luar sana ada orang yang mencari keberadaan mas Ervin," Bibi yang setengah berlari menghampiri mereka mulai mengatur napasnya yang memburu.


"Siapa bi? Kenapa mencari Ervin?" Tanya Malik.


"Saya tidak tahu tuan, saya sudah tanyakan namanya namun dia tidak menjawab," Bibi mulai gelisah.


Melihat gelagat wanita tua itu Malik mempunyai perasaan yang tidak enak.


*


*


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2