Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 20 Pertemuan Pertama


__ADS_3

"Kita gunakan cara menyakiti anak satu-satunya dengan perlahan-lahan," sahutnya.


"Terus nyakitin dengan cara apa?" tanya suara seberang.


"Sakitin mentalnya," sahut wanita itu.


"Oke, aku percaya padamu! sekarang semuanya aku serahkan padamu!" dengan cepat telpon sudah terputus.


"Sial, langsung main matiin aja nih orang," keluh wanita itu.


Dengan langkah gontai wanita paruh baya itu masuk ke dalam kamar mandi, kemudian dia keluar lagi setelah selesai dengan hajatnya.


"Mas Di, aku pikir siapa," wanita itu terkejut karena suaminya berada di hadapannya tiba-tiba.


"Kenapa harus kaget? bukankah ini kamarku?" suaminya melihatnya dengan tatapan penuh arti.


"Tak mengapa Mas, soalnya tadi tiba-tiba aja makanya aku kaget," senyumnya terkembang sempurna.


Mereka langsung berbaring di ranjang empuknya, malam yang telah larut seakan jadi saksi bisu bahwa kedua insan itu tidak begitu mesra.


***


"Ervin! buruan kita mau berangkat sekarang!" ibunya memekik.


"Mama resek amat sih, santai kenapa, toh bandaranya juga gak akan pindah," ucapnya santai.


"Dibilangin pasti ada aja sahutannya," gerutu ibunya kesal.


"Mau Mama antar apa gak nih?" Elisa tak sabar menunggu anaknya yang sedang menggeret koper.


"Berangkat sekarang dong Mam, kapan lagi liburan ke Singapura, secara bulan depan aku akan berkonsentrasi dengan pekerjaan," supir menghampiri dan meletakkan kopernya di bagasi mobil.


"Ayo buruan! mumpung Papamu masih santai dan belum mengecek Apoteknya," seru ibunya.


Ervin masuk ke dalam mobil, begitupun Elisa, kini mobil sudah melaju memecah jalan raya yang berdebu.


Satu jam kemudian, mereka sampai di sebuah Bandara internasional. Ervin dengan malas menunggu teman-temannya yang tidak kunjung datang.


"Tuh kan Mam, mereka belum kelihatan, pasti masih di jalan deh, kan penerbangan satu jam setengah lagi," Ervin mulai berbicara.


"Ya udah kamu tunggu dulu saja! Mama harus pulang sekarang," ibunya mengecup lembut kedua pipi Ervin bergantian.


"Bye Mam," Ervin mengusap pipinya dengan telapak tangan.


"Selalu saja masih menganggap aku anak kecil, padahal aku udah umur 25 tahun," gerutunya sambil beranjak masuk ke pemeriksaan tiket penumpang.


"VIN, KITA BARU SAMPE NIH," teriak beberapa orang.

__ADS_1


Ervin langsung menoleh ke arah suara, ternyata empat orang temannya sudah terlihat.


"Ayo kita masuk!" ajaknya sambil berceloteh panjang.


Selama dua tahun mereka sudah menahan rasa rindu untuk berkumpul kembali. Kini Edo dan sahabatnya sejak SMP berkumpul kembali dengan mengadakan acara di Singapura. Sekalian liburan, begitulah pemikiran mereka.


Semua orang memasuki kabin pesawat dan duduk di tempat sesuai nomer seri tiket penumpang.


"Lama gak liburan, semoga nanti aku bisa bersantai ria tanpa ada masalah yang menggangu," Ervin bersandar merilekskan badannya.


"Vin, otot kamu gede juga ya, aku mau dong berlatih di tempat Om kamu itu," Tio tertarik.


"Ah kamu gak bakalan kuat, perut aja buncit seperti itu mana kuat latihan fisik sampe dua tahun," Ervin mengolok salah satu sahabatnya.


"Hey aku ingin diet sekalian berlatih, siapa tahu massa ototku bertambah dan lebih banyak daripada punyamu itu," Tio bertekad.


"Kempesin dulu perutmu! barulah hubungi aku kalau kamu beneran niat," Ervin terkekeh.


Tio melemparkan majalah ke wajah Ervin, dirinya merasa tersentil dengan omongannya tersebut.


Kini pesawat sudah mulai terbang perlahan, yang terlihat dari jendela hanya awan putih dan langit biru yang terbentang. Setelah satu jam 35 menit berlalu, barulah pesawat landing di Bandara Changi Singapura.


Mereka semuanya bersukacita, mereka terbiasa liburan ke Singapura sejak duduk di bangku SMP, akan tetapi kali ini jelas saja berbeda karena anggota mereka sudah lengkap.


Tiap tahun biasanya akan ada liburan bareng dengan sahabat terdekat. akan tetapi Edo dan Ervin tidak bisa bergabung karena mereka punya urusan lain. Sekaranglah saatnya mereka berdua bergabung kembali bersama sahabatnya.


"Lama juga gak kemari, udah dua tahun," Ervin nyeletuk.


"Sama Vin, aku juga lama gak kemari," Edo menimpali.


"Kamu gak usah kemari juga gak masalah Do, kan udah punya pacar di LA, jagain pacar aja dulu daripada jagain kita," Ervin terkekeh geli.


"Sialan kamu Vin, kalau gak karena kalian aku gak bakalan pulang tahun ini," Edo menepuk pundak Tio.


"Tapi nanti kita kemana dulu nih? mau bersepeda keliling kota apa gimana?" Tio masih bingung.


"Universal Studio, aku ingin kesana, pasti ada karnaval tuh," Ervin berpendapat.


"Eh, bagus juga usul kamu Vin, kita ke sana ya genks, setuju kan?" Tio merasa puas dengan usul Ervin.


Sesampainya di hotel, mereka langsung berganti baju dan pergi ke restoran hotel untuk makan siang. Setelah itu barulah mereka pergi ke Universal Studio.


*POV Clara


Aku dan kedua sahabatku sudah sampai di hotel Marina Singapura, kini kami berganti baju di kamar dan ingin memulai berpetualang melihat patung lilin di Universal Studio.


"Yeah, akhirnya liburan juga," pekik Mitha girang.

__ADS_1


"Udah kayak gak pernah liburan ke Singapura aja sih kamu tuh," gerutu Emi.


"Udah hampir setahun gak keluar negri, bokap lagi butuh modal besar makanya kami tunda liburan tahun lalu," jelas Mitha.


"Pantesan selalu nolak kalau di ajak jalan, jadi ini alasannya," sahut Emi.


"Mau pergi gak sih? bukannya kita ke sini itu untuk liburan bukan untuk berdebat dan curhat gak jelas?" aku menegur mereka.


"Sorry Ra, sekarang beres semuanya, kita let's go," sahut Emi bergelayut di lenganku.


Kami menaiki Van hitam yang tersedia dari jasa Travel yang aku pesan. Kini kami mulai menikmati perjalanan ini.


Tak berapa lama kami sudah tiba di tempat tujuan. Aku, Emi, dan Mitha bergandengan tangan dan masuk dengan cepat. Langkah kami begitu bersemangat.


Tiba-tiba saja ada seorang pria yang menubruk kami dengan kencang. Tangan kami terlepas dan ambruk terduduk di tanah.


"Aduh, pantatku," keluhku sambil meringis menahan sakit.


"Maaf, aku gak sengaja, aku mengejar temanku tadi," ucapnya sambil mengulurkan tangannya padaku.


Pria itu membantuku untuk berdiri, ternyata dia orang Indonesia yang sedang berlibur di negeri ini.


Aku tidak bisa berbuat banyak, ini negara orang dan aku tidak ingin menimbulkan keributan di sini.


Aku tidak menerima uluran tangannya karena kesal, aku berdiri dengan usahaku sendiri. Kutepuk celana yang telah berdebu karena terjatuh tadi.


"Maafkan aku," dia tersenyum padaku.


"Sudahlah gak usah dibahas lagi!" aku pergi meninggalkannya dan berjalan mendekati kedua sahabatku.


"Kamu gak lihat tampang cowok tadi Ra? cakep banget lho Ra," Mitha bersemangat.


"Dia ngasih tangannya malah kamu tolak, uhh pasti dia type cowok romantis Ra," Emi menyahut.


"Kalian kurang lama memandangnya ajah, coba lama-lama lihat pasti udah gak cakep lagi," aku memiringkan sebelah bibir atas.


"Ah gila kamu Ra kalau cowok model begitu dibilang gak cakep," Mitha berjalan sambil mencubit lenganku.


"Sakit Tha," keluhku.


"Tunggu... aku mau,"


Pria itu mengejar kami, wajahnya tersenyum lebar ketika melihat aku. Entah apa yang ada di pikirannya.


*


*

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2