
Frank dan Dendi masuk lewat pintu belakang, dia melihat Royan dan beberapa orang yang tidak dikenal.
Roy mendekati dua orang yang sedang mengendap-endap. Seringai lebar terlihat walaupun samar. Frank mengambil kayu yang ada di dekatnya. Dia melempar kayu tersebut agar mengecoh konsentrasi Royan.
"Kamu kenapa harus nyelametin itu anak? Biarkan saja mereka ketahuan," Dendi tidak suka dengan keputusan Frank.
"Maaf bos, refleks," sahut Frank menyesal.
"Kita lihat saja apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Roy bisa ada di sini bersama orang-orang itu? Kenapa Ervin ada di sini juga? Mana Clara?" Dendi mengitari pandangannya pada ruangan yang sangat luas itu. Mata tuanya tidak sejernih dahulu, dia tidak tahu bahwa anaknya berada di atas meja kayu yang ada di sudut kiri ruangan.
Roy melangkah menjauh dari Ervin, dia menoleh pada ke tiga orang musuhnya. Salah satu dari mereka mengecek suara benda keras tadi berasal dari mana.
Royan berpura-pura tidak melihat Ervin dan Jefrey. Dia sengaja menginjak salah satu tangan yang ada di atas lantai.
"Aow, sakit bego!" Jeffrey spontan mengumpat.
"Akhirnya kalian ketahuan juga," Royan berdiri di depan mereka dengan angkuh.
Ervin dan Royan mau tak mau menampakkan diri. Mereka keluar dari tempat persembunyiannya yang berada di balik kayu pallet yang tersusun.
"Dimana Clara Roy?" Dengan tampang nyalang Ervin berkacak pinggang.
"Kenapa nanya sama aku? Emangnya aku apanya? Kenapa aku harus tahu dia kemana dan ngapain aja?" Roy menyeringai licik.
"Aku yakin kamu dalang dari semua ini. Orang-orang itu juga sekongkol denganmu," Ervin menudingnya.
"Kamu tidak lihat wajahku yang sudah babak belur ini? Oh, iya aku lupa kalau tempat ini rada gelap. Jadi, matamu itu tidak bisa melihat dengan jelas," Cemooh Royan.
"Jangan main-main Roy!" Pekik Ervin tidak sabar.
Di saat bersamaan, telinga Clara yang mendengar suara Ervin dari jauh, mencoba membuat perhatian dengan menendang meja kayu yang menjadi alas tidurnya.
Clara menghentakkan kakinya sekeras mungkin agar Ervin mendengarnya.
"Ervin, aku di sini," batinnya mulai putus asa.
Sayup-sayup Ervin mendengar suara aneh.
"Jef ... periksa asal suara itu, cepat!" Serunya.
"Hahaha, itu hanyalah suara tikus penghuni gudang kosong ini," Roy mengalihkan suara itu dengan suara tawanya yang keras.
"Cepat Jef!" Ervin tidak sabar karena Jefrey masih saja melongo seperti orang bodoh.
"Bbb-baik bos," jawabnya tergagap.
Sebelum melangkah lebih jauh, Roy menyekal kaki Jef. Karena penerangan redup, otomatis Jef tak tahu dan terjatuh terjerembab di lantai gudang yang dingin dan lembab.
__ADS_1
Kecurigaan Ervin pada Roy semakin tinggi. Dia meraih pergelangan tangan Roy dan memelintirnya dengan kuat.
"Auw, lepaskan orang sinting!" Roy mengumpat.
Dia berusaha meronta, mereka berdua beradu kekuatan.
"Cepat periksa Jef!"
Jeffrey berusaha bangkit, dia berdiri dan mulai berjalan cepat ke asal suara yang masih terdengar.
Sebelum sampai ke asal suara, langkah Jefrey dihadang oleh seorang pria.
"Mau kemana kamu?" Tatapannya nyalang.
"Hadeuh, alamat babak belur ini," lirih Jef.
"Pergilah! Aku tidak ada urusan denganmu!" Jef membuat kuda-kuda pertahanan.
"Ciaaattt," Dia membuat gerakan seperti ular sedang mematuk.
"Buahahah. Kamu bercanda ya?!" Pria tersebut tidak kuasa menahan tawanya.
"Ini orang pasti nggak bisa berkelahi. Gerakannya udah kayak bocah yang disunat," batin pria itu geli.
Jeffrey menendang sela paha pria yang tengah berdiri di hadapannya. Dia mencuri start supaya wajah pas-pasan miliknya tidak berubah lebih hancur.
"Kurang ajar kamu ya! Sini kamu!" Bersusah payah Pria itu mengejar Jefrey dengan kaki yang terbuka lebar.
Mereka berkejaran sebelum Jefrey ditangkap oleh pria lainnya.
"Sini kamu!" Pria itu menyeret tubuh Jefrey dengan susah payah.
Jeffrey di tekuk kedua tangannya di belakang punggung. Pria itu meronta sekuat tenaga agar terlepas. Namun sayangnya dia tak bisa karena dikuasai oleh dua orang pria yang pandai berkelahi.
"Auw," Jef meringis menahan sakit.
"Apa aku pura-pura pingsan aja ya?" Batinnya ragu.
"Hei ambil tali! Ikat dia ke tiang di luar gudang. Sekarang seret tubuhnya kalau masih melawan," salah satu yang memegang tangan Jefrey berkata tegas.
Mendengar perkataan itu Jefrey langsung lemas. Dia sedang beraksi berpura-pura pingsan seperti rencananya barusan.
"Gila aja diikat ditiang, pingsan aja ah," batinnya.
Jeffrey yang memejamkan mata dan melemaskan badannya hingga jatuh terkulai. Pria yang memegangi merasa heran.
"Kenapa dia bisa pingsan? Apa jangan-jangan dia ketakutan?" Tawa meledek terdengar jelas.
__ADS_1
"Seret aja dia!" Seru suara lainnya.
Sementara Royan dan Ervin masih bertarung. Mereka sama-sama kuat karena berasal dari tempat latihan yang sama. Teknik mereka pun serupa, hanya saja bedanya Ervin lebih bisa berpikir jernih daripada Roy.
Satu kesalahan yang dilakukan oleh lawannya bisa menjadi kesempatan besar bagi Ervin untuk memberikan serangan ganda.
"Binggo," Ervin berhasil menumbuk perut Roy.
"Bangk3," Roy mengumpat dan meludah sembarangan.
Mereka masih bertarung dengan sengit, Jefrey yang pura-pura pingsan di gotong oleh dua orang suruhan Tania. Sementara satu orang lainnya mendekati Clara yang masih menangis seraya menendang meja.
"Hai gadis cantik, karena mereka sibuk dengan lawannya. Kali ini aku yang akan bermain denganmu. Aku yang akan menjadi orang pertama yang mencicipi badanmu ini," Mata Pria itu mesum membuat Clara jijik sekaligus bergidik ngeri.
Kepala Clara menggeleng cepat, dia tak mau ada seorang pun yang menyentuhnya.
Pria suruhan Tania mulai melepaskan satu persatu pakaian yang melekat. Mendadak ada dua orang yang sudah berdiri di belakangnya.
Kepala pria itu dipukul dengan keras menggunakan kayu pallet yang berceceran. Dia sempat menoleh sekilas.
"Kalian ... sssiapa?" ucapnya lemah sebelum jatuh tersungkur di lantai gudang.
"Berani-beraninya mau memperkosa anakku," Dendi melepaskan sumpalan di mulut Clara. Ikatan tangan dan kakinya Frank yang melepaskan.
"Maafkan Daddy," Dendi memeluk anaknya yang ketakutan. Dia tidak ingin kehilangan anggota keluarga satu-satunya. Apalagi Clara adalah anak semata wayang.
"Royan, dia ... dia membuat aku pingsan Daddy," Clara terisak dalam pelukan si ayah.
"Apa? Kurang ajar dia." Dendi mengepal erat tangannya.
"Frank, habisi Roy sekarang juga! Kasih tau Toni tentang kejadian ini. Panggil Ambulans sekarang!" Perintah Dendi.
"Iya tuan," Frank bingung harus berbuat apa karena perintah dari tuannya lebih dari satu.
"Lebih baik aku telpon ambulans dulu. Setelah itu aku pergi menghabisi Royan. Barulah aku menghubungi Toni," gumamnya seraya menghubungi nomor darurat.
"Nelpon ambulans udah, sekarang menghabisi Royan," Frank berlari mencari keberadaan Royan. Matanya yang mulai rabun tidak terlalu jelas melihat siapa orang yang berkelahi di depannya.
"Om Frank," Panggil seorang pria.
"Dia kenal aku?" Frank memicingkan mata.
*
*
*Bersambung
__ADS_1
Rencana Tania selanjutnya apa ya?