
"Aku ingat sekarang, bukannya dia yang selalu saja berbuat ulah," gumam Ervin lirih.
Pria itu tidak kalah terkejutnya, dia melotot melihat Ervin berada di depan gerbang. Namun ekspresinya berubah, dia menyeringai lebar seketika dan menatap Ervin dengan intens.
Saatnya pembalasanku. ( Pria di depan Ervin)
Pria tadi membuka rantai dengan tidak sabar, dia langsung mencengkram Ervin ketika gerbang sudah terbuka lebar.
"Masih mau ngajak ribut? ternyata kelakuan kamu yang sok jagoan itu tidak berubah," Ervin menyengir lebar. Bibir sebelah terangkat seolah meremehkan lawannya.
"Aku pikir kamu lupa padaku, ternyata ingatan kamu tajam juga," pria itu semakin kuat mencengkram baju Ervin.
"Tentu saja aku ingat dengan pria besar yang cuma besar badan tapi nyali seperti semut," cemooh Ervin.
"Kurang ajar kamu! gara-gara kamu aku di keluarkan dari pulau itu," pria itu mengepal erat dan hendak meninju Ervin di wajahnya.
Namun, Frank dengan sigap menangkap lengannya dan mencengkram kuat. Otot wajah Frank seakan menjadi saksi bahwa genggaman tangannya pada pria tadi begitu bertenaga.
"Jangan kurang ajar pada kami! kamu itu cuma pesuruh Bos Moris," Frank menepis lengan pria tadi.
Ervin merapikan kembali bajunya yang kusut. Dia tersenyum lebar seakan mengejek pria tersebut.
"Bagaimana ini Om? kita langsung masuk apa--?" dia menggantung pertanyaannya.
"Masuk sekarang juga! biar aku urus pria kurang ajar ini!" Frank menatap pria tadi dengan tampang marah.
"Dia bekerja dengan Tuan D dan Om Frank?" pria tadi bertanya karena penasaran.
"Iya, memangnya kenapa? mau berurusan dengannya? sama saja berurusan dengan kami," Frank menepuk tangannya berulang kali seakan ada debu di telapak tangannya.
"Aku pikir dia orang luar yang iseng karena tahu kata sandi itu Om," pria tadi mulai melembut.
"Kamu pikir kami sembarangan menyebar sandi itu?" Frank melangkah meninggalkan pria itu.
"Dia selalu saja berhasil lolos dari aku," gumamnya mengepal erat.
Pria tersebut memandang punggung Frank sampai menghilang di balik pintu.
"Hey, kalian! ini barang baru udah datang!" Frank berkata keras pada beberapa orang yang tengah duduk di sofa sambil bermain kartu, ada lima orang di sana.
Ervin memandang isi rumah itu dengan melongo. Di luar rumah ini begitu kotor dan tidak terawat, bahkan sudah seperti rumah kosong tidak berpenghuni karena rumput liar yang tumbuh tinggi di sekitar halaman rumah. Ketika matanya melihat isi rumah, dia berdecak kagum karena isinya ternyata furnitur bermerek harga selangit.
Salah satu dari kelima orang itu menghampiri Ervin yang membawa keranjang dan langsung mengambilnya tanpa aba-aba.
"Easy! kalian ini selalu saja tidak sabaran," gerutu Frank.
"Mana Bos Moris? aku mau berbicara dengannya," Frank bertanya pada mereka.
__ADS_1
"Ada di ruangannya Om, tapi jangan terlalu lama! si Bos tengah ada masalah dengan istrinya," salah satu dari mereka berbisik.
"Kami tunggu di sini dulu!" seru Frank.
Ervin hanya mengangguk saja. Dia masih memperhatikan satu persatu barang yang ada di dalam rumah ini.
"Duduk aja mas! nggak usah takut sama kita!" pria bertubuh gemuk menepuk sofa di sebelahnya.
"Iya, terimakasih. Tapi sepertinya aku harus menunggu di luar," Ervin tersenyum dan melangkah keluar rumah.
Di teras depan, pria yang selalu berbuat onar itu memandangnya seakan ingin membunuh. Tatapannya sangat dalam dan tajam.
Ervin melewatinya seolah pria itu tidak terlihat. Dia kembali masuk ke dalam mobil.
"Jadi penasaran, apa sih isinya kardus tadi?" Ervin mengernyit.
Sepuluh menit berlalu, Frank terlihat berjalan menghindari rumput. Kini pria paruh baya itu masuk dengan tidak sabar.
"Cepat pulang anak baru! ada masalah di rumah tuan D," perintah Frank.
"Masalah apa?" Ervin belum menyalakan mesin.
"Nggak usah banyak nanya! cepatlah pulang!" Frank menepuk setir mobil.
Ervin tidak membantah, dia langsung saja mengendarai mobil dan memecah jalanan yang mulai padat.
"Ada apa ini Om?" Ervin belum berani membunyikan klakson.
"Ini sudah biasa di dunia kami, cepatlah turun dan hajar mereka yang berdasi merah!" Frank turun.
Ervin yang masih tidak mengerti apa masalahnya, hanya mampu menelan ludah.
"Aku memang pandai ilmu bela diri, tapi kalau begini aku tidak tahu siapa yang salah dan benar diantara mereka," gumam Ervin.
Dia berjalan dengan santai dan mengamati situasi.
"Hei...! anak baru cepatlah!" Frank mulai menonjok perut lawannya. Lawannya sempoyongan dan berusaha bangkit.
Ervin menarik salah satu dari mereka yang berdasi merah dan meninju rahangnya. Darah mengucur dari hidung, Ervin kalap karena sudah lama ia tidak melampiaskan amarah dan kekesalannya selama ini.
Dua orang berhasil Ervin tumbangkan, wajahnya memar dan lebam. Suara orang yang melangkah menghampiri mereka tidak dihiraukan.
"Sialan sekali mereka, lancang masuk kemari dan mengeroyok bodyguard rumah ini," rahang tuan D mengeras.
Benda keras berwarna hitam di tangannya dia tunjukkan di udara, bunyi desingan peluru membuat semua orang berhenti seketika dan menoleh pada tuan D.
"SEMUANYA BERHENTI!!" teriak tuan D, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal erat.
__ADS_1
"Kalian semua lancang sekali berani kemari. Apa yang kalian inginkan...hah?" tuan D tidak bisa mengendalikan emosi.
Ervin terdiam dan mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulut tuan D.
Salah satu pria berdasi merah maju beberapa langkah, dia menatap wajah tuan D.
"Kami tidak mau kawasan kami diganggu oleh anggota tuan D, pasti Anda tidak tahu kelakuan anak buah Anda kan?" rahangnya mengeras.
"Siapa yang mengganggu kawasanmu? cepat katakan sekarang!" pekik tuan D tak mau kalah.
"Tanyakan saja pada tangan kanan Tuan!" pria berdasi itu merenggangkan dasinya seakan susah untuk bernapas.
"FRANK! JELASKAN SEMUANYA SEKARANG!" mata tuan D melotot tajam.
"Supir baru! kamu pergi ke kantor Clara dan pastikan kondisinya baik-baik saja!" perintah tuan D.
"Baiklah Tuan," dengan sigap Ervin bergegas masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobil dengan kencang. Tidak terpikirkan sebelumnya kalau nyawa Clara bisa terancam. Rumah yang dijaga ketat bisa kecolongan.
Perasaan Ervin mendadak gelisah, dia takut terjadi sesuatu pada Clara.
"Entah apa yang mereka ributkan, apa sebenarnya yang mereka lakukan?" Ervin bertanya-tanya. Pikirannya berkecamuk.
Beberapa kali Ervin membunyikan klakson, dia tidak sabar karena kendaraan padat dan susah untuk menyalip.
"Woii sialan! cepatlah menyingkir!" Ervin masih membunyikan klakson.
Tidak ada yang mendengar umpatannya tadi, kini mobil sudah bisa menyalip beberapa kendaraan.
Dengan cepat dia mengebut. Kantor dimana Clara bekerja terlihat jelas. Dia memarkirkan mobilnya sembarangan dan bergegas keluar. Dia berlari tanpa mempedulikan orang yang berlalu lalang dengan tatapan aneh melihat Ervin yang seperti orang kesurupan.
Dia sudah berada di depan ruangan Clara, tidak ada seorang pun di sana. Meja sekretaris kosong dan tidak ada Cleaning Servis yang lewat.
"Clara! buka pintunya!" Ervin mengetuk pintu tersebut.
Tidak ada sahutan walaupun beberapa kali pintu diketuk. Dengan terpaksa, dia mulai menggedor pintu dan menendang gagang pintu agar lepas dari tempatnya.
"Sialan, kenapa susah sekali sih!" dia masih berusaha keras.
Dia berusaha lagi dan lagi, gagang pintu sudah terlepas dari tempatnya.
Dia menahan napasnya dan masuk ke dalam ruangan Clara.
Betapa terkejutnya Ervin melihat Clara yang sudah...
*
*
__ADS_1
*Bersambung.