Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 69 Fakta Royan Terkuak


__ADS_3

Pria paruh baya itu menggoyangkan pintu pagar berulang kali sampai terdengar engsel besi yang berderit.


"Pak! Jangan bar-bar di rumah ini! Saya bisa melaporkan anda ke kantor polisi," ancam sekuriti mulai bertindak tegas.


"Jangan banyak omong! Cepat buka pagarnya!" Pria itu nekad memanjat pagar depan.


Tiba-tiba saja ada seorang wanita paruh baya yang menarik pria itu.


"Ayo kita pulang mas! Jangan pernah kemari!" Wanita itu memohon pada suaminya.


"Pergi kamu! Cari Royan anak kita! Dia pasti kabur kemari," pria tadi menepis tangan istrinya.


Mendengar suara ribut-ribut, Malik dan tamunya melihat keadaan rumahnya.


"Ada apa sih mas? Rame banget," Elisa melongo keluar rumah.


"Entahlah, lebih baik kita lihat dulu apa yang terjadi di luar sana," Malik berdiri dari tempat duduknya.


Mereka keluar rumah dan melihat ada dua orang yang sedang berseteru di depan pagar. Sekuriti mencoba untuk mengusir mereka namun sepertinya kewalahan.


"Ayo kita tanyakan dulu apa maksud mereka Lik!" Evans menepuk pundak sahabatnya.


Mereka berdua menghampiri sekuriti yang berusaha memberikan pengertian pada keduanya.


"Ada apa pak?" Malik belum melihat mereka berdua dengan jelas.


"Tuan, mereka sedang bertengkar hebat. Si bapak itu mau masuk ke dalam untuk bertemu tuan," jelas sekuriti.


"Hey Malik! Cepat panggil Royan anakku agar segera pulang!" Pria tadi berkata lantang.


Istrinya terdiam, terpaku menatap Malik. Seketika dia langsung gelagapan dan menundukkan kepalanya.


"Royan siapa? Aku tidak mengenalnya. Lagian buat apa aku berurusan dengan anakmu," Malik berkacak pinggang.


Ternyata pria paruh baya yang memaksa masuk adalah suami dari Rosyanti, mantan istrinya dahulu yang kabur dengan pria itu.


"Anakmu yang mencekoki anak kami agar menjauhi kami sebagai orang tuanya," tuduh Andi.


"Jangan ngomong sembarangan kamu! Aku akan menelpon Ervin dan menyuruhnya kemari," Malik memanggil istrinya agar mengambil ponsel di dalam rumah.


Elisa segera masuk dan setengah berlari keluar rumah dengan membawa ponsel si suami.


Ervin segera dihubungi oleh ayahnya untuk menjelaskan keberadaan Royan.

__ADS_1


"Vin! Pulang sekarang juga! Ada orang yang mengaku sebagai orang tua Royan. Dia bilang kamu menyuruh Roy itu agar menjauh dari orang tuanya," setelah mendengar ucapan sang ayah, Ervin segera pergi dari perusahaan Clara.


"Pak, jangan biarkan mereka masuk! Tunggu saja diluar sampai Ervin datang," Malik berkacak pinggang.


Napasnya turun naik karena menahan emosi yang membuncah.


Tuan rumah berbalik arah dan duduk di bangku taman yang ada di samping rumah.


"Mas, kamu kenapa marah? Memangnya mereka siapa?" Elisa yang penasaran akhirnya bertanya.


Fatma yang mengetahui mantan istri Malik hanya terdiam. Dia tak berani menatap wajah Malik.


Dirinya dan Evans hanya duduk diam tanpa bersuara.


Jasmine yang penasaran akhirnya keluar dan bergabung dengan mereka. Dia melirik ibunya dan bertanya dengan bahasa isyarat. Tapi, Fatma meletakkan telunjuk pada bibirnya agar Jasmine diam.


Setengah jam berlalu, hening masih terasa. Dari luar ada ribut-ribut lagi.


Ternyata Ros dan Andi yang bertengkar hebat.


Di belakang mereka ada sebuah mobil hitam yang berhenti. Ada seorang pria dan wanita muda yang turun dari mobil tersebut.


"Lho, bapak dan ibu? Kenapa kemari?" Ervin segera menyapa orang tua Royan.


"Saya tidak pernah berpikiran seperti itu. Bukankah Roy saya bantu agar bekerja di apotek untuk menolong kehidupan bapak dan ibu?" Ervin tidak mengerti apa masalah sebenarnya.


"Kamu menghasutnya agar berjauhan dengan kami, selama ini dia tidak pernah mau pulang ke rumah," Andi berkacak pinggang. Dia tetap menuding Ervin.


Malik menghampiri anaknya, dia merasa malu dilihat beberapa tetangga yang kepo dengan perdebatan sengit mereka.


"Andi! Apa maksudmu? Anakku udah baik mempekerjakan Roy di apotek tanpa tahu kalian ini siapa," Malik geram.


Ternyata anaknya membiarkan anak mereka bekerja di apotek.


"Pa, udahlah! Nggak usah dibahas lagi.


"Kalian segera pergi dari sini! Dasar orang tidak tahu malu. Sudah untung anak kalian bekerja di apotekku. Ervin, pecat Royan sekarang juga! Jangan pernah menerima dia lagi sebagai karyawan kita. Orang tuanya tidak tahu malu dan tidak tahu berterimakasih!" Malik berkata lantang. Napasnya tersengal seperti orang yang sudah berlari jauh.


"Ayo kita masuk mas!" Ajak Elisa.


"Mas Malik!" Panggil Ros yang sedari tadi diam.


"Mana Nissa mas? Aku rindu padanya," Ros menatap sekilas wajah Malik.

__ADS_1


Andi mencengkram tangan istrinya. Matanya menatap tajam pada Ros.


Elisa tertegun, dia sekarang sudah mengerti siapa orang-orang di hadapannya itu. Terlebih lagi tadi dia mendengar bisik-bisik antara Fatma dan Mimi yang menyebutkan mantan istri.


Gerbang terbuka lebar, mereka semua masuk ke rumah kecuali Rosyanti dan Andi.


Mereka berdua terdiam membisu karena perkataan Malik tadi.


"Ini semua gara-gara anak itu," Andi geram, tangannya mengepal.


"Pergi sana! Aku udah capek melihat orang berantem," usir si sekuriti.


Sekuriti rumah langsung menutup gerbang dengan menekan tombol di balik pintu pos penjagaan.


"Tutup mulutmu!" Andi tak mau kalah.


"Huuu, dasar tidak tahu berterimakasih," sekuriti mencemooh mereka.


Andi pergi bersama istrinya, dia sudah tidak tahu lagi harus mencari anaknya kemana.


Ervin dan Clara duduk di samping Malik dan Elisa.


Fatma dan Evans berkenalan dengan Clara sebelum wanita itu duduk di tempatnya.


"Ervin, papa tidak mau Royan bekerja di apotek kita lagi. Dia itu anak mantan istri papa," Ervin tersentak mendengar kata-kata ayahnya.


"Mantan istri? Maksud papa ...? Terus kenapa tadi ibu Roy menanyakan tentang kak Nissa?" Ervin kebingungan dengan kenyataan ini.


"Nissa adalah anak papa dengan wanita itu," Malik menghela napas panjang.


"Sudahlah! Kalian berhenti membicarakan tentang itu! Ada tamu di sini malah dicuekin," Elisa mengurai percakapan antara suami dan anaknya.


Clara masih tidak mengerti maksud dari orang tua Ervin. Dia juga tidak mau bertanya lebih lanjut untuk saat ini. Jasmine tiba-tiba saja pergi keluar rumah dan mengajak orang tuanya agar segera pulang. Dia tidak betah ada di sana karena ada Clara.


Evans mau tak mau menuruti keinginan anaknya. Mereka segera berpamitan pada Malik sekeluarga.


"Clara, orang tua kamu sudah tahu 'kan? Kalau kami akan ke rumah untuk membicarakan pertunangan kalian?"


"Iya om, Daddy udah tahu kok," senyum terkembang sempurna.


"Baguslah kalau begitu. Ngomong-ngomong orang tua kamu orang mana?" Malik sungguh penasaran.


"Orang Lampung om, mommy dan daddy aku dari sana. Daddy bilang setelah menikah barulah kita pindah ke kota ini," Clara menjelaskan.

__ADS_1


"Lampung ...?" Malik mengernyit.


__ADS_2