
"Ibu Sumiyati yang perlu penanganan khusus karena beliau sudah renta jadi kondisinya sudah mulai melemah," suster satunya yang menyusul rekannya menyahut.
Mereka semua berpindah tempat untuk menyemangati Sumiyati.
Malam ini mereka lalui dengan perasaan yang tercabik-cabik dan jiwa yang terluka seakan lukanya menganga dengan lebar.
Lorong rumah sakit seakan menjadi saksi bisu mereka yang melangkah keluar masuk dari ruangan satu ke ruangan yang lainnya.
****
Pagi yang cerah menampakkan sinarnya yang hangat, yang menghapus jejak-jejak embun pagi. Tapi sayangnya sebuah keluarga telah kehilangan salah satu tanda kehidupan dari raga orang yang mereka sayangi.
Ervin, Nissa, Rico, dan keluarga Evans yang menemani mengantar kepergian Sugeng ke tempat peristirahatan terakhirnya. Beliau di makamkan di sebuah makam keluarga yang memang Malik beli sedari Ervin masih balita.
Gundukan tanah yang masih baru dan basah serta ditaburi bunga-bunga di atasnya membuat mereka semua yang hadir merasa sesak. Karena di tempat inilah tujuan utama manusia.
"Kalian yang tabah ya! kasian Eyang Sugeng kalau kalian nangis terus. Doakan saja beliau agar mendapatkan tempat terbaiknya disisi-Nya." Fatma mengelus ketiga orang itu bergantian.
"Kami tidak sanggup memberikan kabar ini pada Eyang Uti," Nissa berkata serak.
"Kalian harus menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu semua ini. Biarkan mereka memulihkan kondisinya," Fatma menahan air matanya agar tak terjatuh. Ia mengusap kelopak mata sebelum air itu mengalir.
"Sekarang kita pulang yuk! kalian butuh istirahat, biar Tante dan Om yang menjaga mereka," Evans yang sedari tadi terdiam akhirnya membuka suara.
"Tapi aku masih ingin di sini Om, Tante!" Nissa menolak pulang.
Ia lebih terluka dibandingkan dengan Ervin dan Rico. Sebab sedari ia kecil, ia selalu bermain dengan Sugeng. Kenangan yang membekas dalam ingatannya satu persatu muncul di kepalanya.
Ia duduk di pinggir nisan, merengkuh batu nisan dan menangis sesenggukan.
"Aku saja yang menjaga kak Nissa di sini, kalian boleh pulang duluan! terimakasih banyak atas bantuannya Om dan Tante," ia menyalami tangan mereka berdua.
Evans memeluknya erat seakan memberikan sebuah kekuatan untuk Ervin.
Mereka pulang dari pemakaman dan beristirahat sejenak di kediaman Malik.
***
"Eh, kalian udah tahu kan kabar buruk yang menimpa keluarga Ervin?" tanya teman satu genknya.
"Tau donk, satu sekolah membicarakan tentang itu," sahut yang lainnya.
"Udah 3 hari sih Ervin gak masuk sekolah, apa kita pergi ke rumahnya dan menghiburnya?" usul salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Boleh aja sih, kita ajak teman-teman yang lain juga kalau begitu. Ya setidaknya 5 orang yang datang melayat," usulan itu disambut baik oleh temannya yang lain
"Besok sore aja kita perginya, gimana?" usul yang lain.
"Boleh deh, aku juga gak ada kegiatan kok kalau besok sore," mereka sudah memutuskan kapan akan datang.
Di kelas yang berbeda, Jasmine dikelilingi oleh sekelompok temannya. Mereka menanyakan perihal keadaan Ervin dan keluarganya.
"Kak Zeta dan Eyang udah sadar dan kondisi mereka mulai membaik. Tapi kedua orangtua Ervin masih memerlukan perawatan khusus." Ia menghela nafas panjang.
"Berarti parah juga ya keadaan mereka!" salah satu dari mereka berkomentar.
"Lumayan sih, soalnya dari yang aku dengar mobil itu menabrak pembatas jalan dengan kencangnya. Om Malik menghindar dari sebuah truck." Ia menerawang mengingat kembali Ervin yang bercerita.
Mereka yang mendengarnya bergidik ngeri. Dan tidak menanyakan kejadian itu lagi pada Jasmine.
Bel berdering dan mereka pun kembali ke tempat duduknya masing-masing. Kelas kembali sunyi setelah seorang pengajar masuk.
***
"Kak, apa kita pindahkan Mama dan Papa ke rumah saja ya?" Ervin bertanya.
"Memangnya kenapa kalau mereka di sana? dokter bisa menangani pasiennya jika mereka masih di sana. Kalau orangtua kita dirawat di rumah malah akan membuat Dokter kesulitan untuk mengecek secara berkala kondisinya," Nissa memberikan pengertian.
"Tapi aku udah kangen banget sama mereka, aku ingin mengobrol dengan mereka lagi," Ervin menunduk.
Rico melangkah mendekati keduanya, ia seharian ini mengurus adik dan eyangnya. Sekarang giliran Nissa yang menjaga mereka.
"Kalau capek istirahat saja mas!" Nissa memandang Rico.
"Kenapa kamu gak mau membayar jasa perawat? malah kita yang harus mengurus mereka," Rico mengeluh.
"Mas kok tega sih ngomong begitu! Zeta itu adik kandung mas satu-satunya. Dan eyang juga satu-satunya yang kita punya. Setidaknya mereka mendapatkan perhatian dari kita. Itu juga bisa membuat mereka bersemangat untuk sembuh total mas," Nissa keberatan dengan keluhan Rico.
'Tapi kan-" ucapan Rico diputus oleh Nissa.
"Kalau mas tidak mau merawat mereka biar aku sendirian yang merawatnya," Nissa hendak pergi meninggalkan mereka.
"Bukannya gitu Nis, kita ini kan harus menyiapkan skripsi akhir. Kalau badan kita capek otomatis daya pikir kita juga gak maksimal," Rico beralasan.
"Sudahlah mas, masalah kuliah itu Nissa pasrah aja. Toh tahun depan juga bisa aku lanjutkan," ia melangkah cepat meninggalkan Rico.
"Kalian ini selalu berdebat, apa gak kasian kalau mereka mendengar perkataan mas Rico?" Ervin pun pergi meninggalkan Rico seorang diri.
__ADS_1
Ia masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan bunyi berdebum yang keras. Ia menghenyakkan diri di ranjangnya dan mencoba untuk memejamkan mata. Selama hampir lima hari jiwa dan raganya seakan dipaksa untuk menerima sebuah kenyataan pahit. Diusianya yang begitu belia, Ervin sudah mendapatkan cobaan yang mengharuskan dirinya untuk tabah dan tetap bertahan dalam kewarasan.
Bunyi mesin kendaraan bermotor terdengar sayup-sayup ditelinga Ervin. Ia membuka mata dan bangkit dari ranjang. Ia mengintip dibalik kain gorden yang transparan. Ada sebuah senyuman terkembang di bibirnya. Sudah lama ia tidak tersenyum seperti itu. Ia bergegas keluar dan menyambut kedatangan mereka.
"Ternyata tahu juga menyambut tamu," kekeh seorang temannya.
"Kami gak di persilahkan masuk nih?" tanya yang satunya.
"Kok kamu diem aja Vin?" yang lain mengernyit.
"Aku kangen banget sama kalian," Ervin memekik dan menghamburkan dirinya pada mereka yang datang.
"Astaga aku pikir kamu tadi senyum-senyum terus bengong gitu gara-gara kesambet setan," teman lainnya menggelengkan kepala.
"Masuk yuk!" setelah melepas pelukannya ia menawarkan temannya untuk masuk.
Rico yang melihat kedatangan mereka tak menggubris dan melangkah pergi.
"Siapa itu Vin? kok aku baru tahu? bukannya kamu cuma punya kakak Nissa aja ya?" ia bertanya.
"Itu mas Rico kakak sepupu aku, dia semenjak kuliah memang tinggal bersamaku di sini," jelasnya.
"Kok orangnya gak ramah gitu sih?" celetuk salah satu dari mereka.
"Santai ajah, dia itu emang rada-rada orangnya," Ervin terkekeh.
"Oh iya, kalian mau minum apa? ayo ikut aku! kalian pasti kaget kalau aku punya alat ini," ia tersenyum bangga. Sejenak Ervin melupakan kekalutan hatinya.
"Ikut kemana?" mereka saling berpandangan.
Lima remaja tanggung itu mengikuti langkah Ervin, mereka melongo ketika melihat sebuah mesin yang Ervin punya.
"Kamu beneran udah punya? aku jadi pengen, mesennya berapa lama Vin?" tanya temannya.
"Astaga aku gak nyangka kalau di rumahmu ada alat seperti itu," lainnya menimpali.
Ervin tersenyum bangga.
"oh iya... masalah taruhannya nanti kita...
Mereka menatap wajah temannya yang menyinggung tentang taruhan. Mereka mendelik kecuali Ervin.
*
__ADS_1
*
*Bersambung.