
"Ternyata memang benar kalau kalian sebenarnya saling menyukai, ceritakan pada Tante apa yang terjadi diantara kalian," ia menepuk pundak Ervin.
"Tante salah besar kalau menebak aku menyukai Mimi, mungkin saja anak Tante yang menyukai Ervin," ia meninggalkan Fatma seorang diri.
"Dasar anak jaman sekarang, hatinya susah ditebak," ia menghela nafasnya dengan cepat.
Ervin melangkah menuju parkiran dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Ia menyuruh pak supir untuk kembali ke rumah.
"Siapa juga sih yang suka Mimi," Ervin bergumam pelan, tangannya mengepal erat dan menumbuk kursi mobil di depannya.
"Si Aden kenapa? gak ketemu sama Non Jasmine ya?" pak supir bertanya sebelum menyalakan mesin kendaraan.
"Gak usah banyak tanya Pak! cepatlah pergi dari sini," ia terlihat kesal.
"Baiklah Den," dengan cepat supir langsung menyalakan mesin kendaraan dan meluncur menjauh dari bandara.
"Eyang kenapa? mau aku kupasin mangganya?" Sumiyati termenung seorang diri di kursi rodanya.
Nissa menghampirinya yang sedang memegang mangga di tangannya.
"Eh, kamu Nissa. Tadi bilang apa?" Sumiyati memandang cucunya.
"Mau Nissa kupas gak nih mangganya?" gadis itu tersenyum lebar.
"Eyang cuma mau mencium mangga ini saja, Eyang tak mau memakannya," wanita tua itu teringat kebiasaan suaminya yang telah tiada.
Nissa mengerutkan keningnya, karena tak biasanya eyangnya bertingkah aneh.
"Nissa pergi kuliah dulu ya Eyang, hari ini mata kuliahnya siang. Sebenarnya malas sih tapi supaya Nissa cepat lulus jadi Nissa harus mengikuti program ini deh," ia mencium eyangnya yang tersenyum tipis.
"Hati-hati ya nak! jangan ngebut kalau sedang berkendara," nasehat Sumiyati pada cucu kesayangannya.
"Iya Eyang, aku berangkat dulu!" pamitnya dan segera berlalu pergi dari sana.
Tap... tap... tap
__ADS_1
Suara langkah mendekati Sumiyati namun ia tidak menyadarinya.
"Ibu jangan melamun, ayo kita masuk saja!" kemudian dia mendorong kursi roda ibunya.
***
Lima tahun kemudian.
Nissa sudah menikah dengan seorang pria yang ia kenal di sebuah perusahaan tempatnya bekerja. Kini mereka sudah pindah dari rumah utama. Sesekali dia mengunjungi rumah orangtuanya untuk mengetahui kabar mereka semua. Apalagi kabar Sumiyati yang sudah sangat sering sakit-sakitan.
Rico dan Zeta sudah pindah di rumah eyangnya yang berada di kampung. Di sana tak ada orang yang menempati jadi akhirnya Rico mengajak Zeta untuk tinggal di rumah itu. Ia bertemu seorang gadis desa yang pemalu dan manis. Mereka merencanakan pernikahannya Minggu depan. Semua keluarganya ikut bahagia dan ingin sekali merayakannya di kampung nantinya. Mereka sudah berencana akan datang di acara pernikahan Rico dan Dewi.
Fatma dan Evans menjemput Jasmine di bandara, perut Fatma yang membesar membuatnya susah untuk berjalan. Ia hamil lagi ketika anaknya sudah berusia 20 tahun. Jasmine protes pada ibunya karena ia harus punya adik bayi di usianya yang sudah beranjak dewasa. Fatma dan Evans hanya tersenyum mendengar tanggapan dari anak gadisnya.
Ervin? ya, Ervin tokoh utama kita masih saja badung dan suka seenaknya sendiri. Beberapa kali ia bertengkar dengan orangtuanya karena seringnya ia pulang larut malam.
Malam itu ia terlambat pulang lagi, ia berjinjit agar suara langkahnya tak terdengar dikesunyian malam.
Dengan frustasi ia menggosok rambutnya yang sudah memanjang sebatas bahu.
"Ervino Prayoga! mau jadi apa kamu sering pulang larut seperti ini? kalau mau seenaknya sendiri dan bebas mengikuti kemauan kamu lebih baik kamu pergi dari rumah ini!" Malik meradang melihat tingkah anaknya yang masih saja belum berubah.
"Sorry Pa, ultah Rendy baru aja selesai acaranya jadi aku gak enak dong kalau pulang cepet," Ervin beralasan.
"Setiap malam kalau telat pulang pasti alasannya acara temenlah, ultah temen lah, kondangan temenlah. Selalu saja beralasan," Malik menaikkan nada suaranya.
"Mas... sudahlah, besok baru marahin dia lagi. Sekarang kita lanjutkan tidur ya!" istrinya menenangkan.
"Kamu juga selalu memanjakan anak ini. Dia itu seorang pria dan kalau sudah menikah harus mempunyai sebuah rasa tanggung jawab, kalau begini terus apa gak sia-sia kita mendidik dan membesarkannya!" Malik masih emosi, raut wajahnya terlihat begitu kesal.
Elisa diam saja tak berani menyahut perkataan suaminya. Ia pun berpikir ada benarnya ucapan suaminya itu.
"Maaf Pa, lagian aku tuh bosen kalau ada di rumah terus setelah pulang kuliah. Kak Nissa udah pindah, Kak Zeta dan mas Rico juga pulang kampung. Jadi Ervin sendirian di sini. Eyang sakit-sakitan selama ini dan tidak bisa Ervin ajak bercengkrama lagi," Ervin mencurahkan isi hatinya.
"Ada Papa dan Mama Vin, kenapa kamu tidak membiarkan kami mengetahui isi hatimu?" Elisa mendekati anaknya.
__ADS_1
"Papa dan Mama jarang di rumah, kalian selalu berada di luar sana entah kemana," protes Ervin.
"Lagian Ervin itu sekarang udah 20 tahun dan bukan anak kecil lagi. Jadi Mama dan Papa jangan khawatir yang berlebihan akan keadaan Ervin. Ervin bisa jaga diri kok," ia melanjutkan ucapannya.
"Tapi bukan begini caranya Vin! setiap hari kamu pulang malam terus. Pukul 1 dini hari baru pulang ke rumah. Apa itu tidak membuat kamu merasa bersalah? anak cowok ataupun cewek bagi Papa itu sama saja. Harus pulang sebelum pukul 12 malam gak boleh lebih," Malik berkacak pinggang.
"Udahlah Pa, aku lagi males debat. Lagian aku juga ngantuk berat dan capek," Ervin melangkah di depan Papanya.
"Besok Papa akan kirim kamu ke suatu tempat dan kamu harus tinggal di sana!" Malik melirik istrinya dan menarik lengannya agar kembali ke dalam kamar.
"Sudahlah mas, jangan terlalu keras sama Ervin. Biarkan saja dia asalkan dia bisa menjaga dirinya agar tak terjerumus menggunakan obat-obatan terlarang," Elisa membela anaknya.
"Ini semua juga karena kamu Ma, terlalu memanjakan mereka. Untung saja Nissa sudah menikah dan tanggung jawabnya sudah berpindah pada suaminya. Pusing aku mikirin kalian," Malik menarik selimut dan mencoba untuk memejamkan mata.
"Mas, jangan marah terus nanti keriput kamu tambah banyak lho," Elisa mentoel telinga suaminya.
"Tidur Ma, gak usah bicara lagi," Malik menutupi kepalanya dengan selimut.
Ervin yang sudah berada di dalam kamarnya, merasakan sesuatu hal yang ganjil di badannya.
Ia seperti merasakan sesuatu yang menjalar merasuki tubuhnya.
"Kenapa badanku panas sekali? tumben aku begini," ia melepaskan semua pakaiannya.
Ia masuk ke dalam kamar mandi dan berendam di bathtub yang ia isi air dingin. Ia berendam dan merasa lebih lega. Pikirannya beralih ketika ia masuk ke club malam bersama sahabatnya.
Mereka berpesta di sana dan mengundang beberapa wanita penghibur. Ervin yang tidak tertarik menggunakan tubuh mereka akhirnya pamit pulang. Sementara mereka entah pergi kemana lagi setelah pesta di club usai.
"Apa jangan-jangan tadi aku dicekoki minuman yang berbeda? kenapa badanku panas dan bergetar hebat tadi ya?" Ervin masih berpikir keras.
"Oh iya aku ingat sekarang, pasti dia orangnya yang...
*
*
__ADS_1
*Bersambung