
"Aku ingat sekarang kalau pria itu pernah bertemu dengan mantan tunangan kamu di jalan," Mitha duduk di samping Clara.
"Apa? kenapa dia bisa bertemu dengan pria kasar seperti Edi? memangnya kamu melihatnya langsung?" wanita itu penasaran.
"Iya, Edi turun dari motornya dan menggedor kaca mobil. Aku memperhatikan mereka dari salah satu minimarket terdekat. Mobil itu kepunyaan kamu, hampir saja aku menghampiri mereka. Tapi, yang keluar dari mobil ternyata pria di depan itu bukan kamu!" tunjuk Mitha, dia menjelaskan secara detail pada sahabatnya.
"Aku pikir kamu mengenal siapa Ervin," Clara bergumam.
Tapi gumamannya tersebut didengar oleh kedua sahabatnya.
"Jadi namanya Ervin?" Emi yang terdiam dan mendengarkan pembicaraan mereka akhirnya bersuara. Pekikannya membuat kedua sahabatnya mencubit lengannya.
"Berisik!" Clara melotot.
"Kenapa sih Ra? aku kan cuma nyebut namanya doang," Emi protes.
Clara tidak menjawab, dia terdiam sejenak dan menghembuskan napas.
Satu jam kemudian, sahabat Clara pulang ke rumah masing-masing. Kini Clara sendirian di kamar rawatnya.
Dering suara ponsel membuyarkan lamunan Clara. Dia menatap layar dan nama itu dia kenal.
"Kenapa Om?" jawabnya.
"Ervin ada di sana? dia menemani kamu?" tanya Frank.
"Iya Om, dia ada di depan pintu kamar aku. Memangnya kenapa?" Clara ingin tahu.
"Kalau kamu tidak keberatan boleh tidak kalau dia menjagamu di kantor dan di rumah?" Frank mulai cemas.
"Apa? kantor? rumah? apa sih maksudku?" Clara bingung.
"Ervin akan menjagamu dimana pun kamu berada," jelas Frank.
"Tapi..." Clara terdiam sejenak.
"Tidak boleh membantah Nona! ini semua demi keselamatan Nona. Aku sudah mengetahui siapa yang meracuni makanan kamu dan siapa dibalik rencana jahat itu," jelas Frank.
"Jadi benar kalau aku diracuni?" Clara masih tak percaya
"Iya, makanya Nona harus dijaga ketat. Satu-satunya cara ya Ervin yang akan menjaga Nona kemanapun Nona pergi," tukas Frank cepat sebelum Clara membantahnya. Frank kemudian memutuskan panggilan.
****
Seminggu kemudian
__ADS_1
Sudah satu minggu Ervin menemani Clara kemana-mana. Dia bahkan rela duduk dan berdiri berjam-jam menemani wanita cantik itu. Namun Clara masih menampakkan sifat kasar dan keras kepalanya pada Ervin. Apalagi ketika Ervin salah memesan rasa makanan ataupun minuman. Clara tidak segan mengutuknya macam-macam.
Ervin tengah duduk di luar kantor Clara. Dia mengamati sekretaris itu. Ada rasa penasaran kenapa sekretaris itu yang membubuhkan racun pada makanan Clara. Tapi entah kenapa dia masih bekerja di kantor ini. Frank tidak memecatnya, pria itu bahkan mencari orang dibelakang sekretaris tersebut.
Ervin bersandar di kursi plastik. Dia menerawang jauh mengingat sikap Clara padanya. Hatinya terasa bimbang antara maju dan mundur untuk meraih cinta Clara.
Seorang wanita yang Ervin kenal mendekati sekretaris itu, dia berbisik tepat di telinga si sekretaris dan sekertaris pun melangkah pergi dari tempatnya.
"Ervin, aku kangen lho sama kamu. Aku tunggu di rumah tapi kamu selalu saja bersama anak galak itu," tunjuknya pada ruangan Clara.
Ervin melotot tak percaya, dia mengerjapkan mata berulang kali.
"Apa? Nyonya nggak salah bicara?" Ervin terhenyak di tempat duduknya.
"Tidak, kamu tidak salah dengar. Aku rindu padamu, aku menginginkan kamu," goda wanita itu dengan cara mengedipkan matanya pada Ervin berulang kali.
'Apaan sih ini tante-tante genit banget,' batinnya geli.
Ervin terperangah melihat wanita itu yang berlenggak lenggok menghampiri dirinya, apalagi wanita itu membusungkan dadanya dan tatapannya tidak berkedip sedikitpun padanya.
'Aku menyamar jadi supir biar dekat dengan Clara, kenapa malah wanita tua ini yang mabuk kepayang?' batin Ervin resah.
Wanita itu hampir menduduki paha Ervin yang masih diam membatu di tempat duduknya. Suara gagang pintu yang terbuka membuatnya batal duduk di pangkuan Ervin.
"Ngapain kalian?" Clara berkacak pinggang.
"Memangnya apa masalahmu Ra? kamu tidak perlu tahu apa yang kami lakukan," ibu tirinya bersedekap dengan angkuhnya.
"Kami tidak melakukan apa-apa Non," Ervin membela diri.
Ervin beranjak dari tempat duduknya, dia melangkah mendekati Clara di depan pintu ruangannya.
"Ervin, kemarilah! ayo kita lanjutkan yang tadi," ibu tiri Clara berani menggodanya di depan anak tirinya.
Ervin bergidik ngeri.
'Mending digodain setan daripada digodain tante girang yang udah menua,' batinnya.
Ervin semakin mendekati Clara, dia berlindung dibalik tubuh Nona mudanya itu. Clara mengernyit heran karena raut wajah Ervin ketakutan dan sepertinya dia tidak biasa didekati seorang wanita.
"Ayo kita pulang Vin!" Clara tanpa sadar menarik tangan Ervin.
'Alhamdulillah, selamat,' batinnya lega.
Mereka bergandengan tangan, setibanya masuk ke dalam lift Clara tersadar dan menghentakkan tangan Ervin dengan kasar.
__ADS_1
"Lho, kenapa dilepas Non? aku suka kok kalau Nona yang megang," Ervin tersenyum tipis.
"APA? KAMU MAU AKU GAMPAR?" teriak Clara.
Untunglah hanya ada mereka berdua di dalam lift tersebut.
"Ya jangan Non, aku maunya dielus. Bukan digampar," tolak Ervin.
"Diem gak usah banyak omong! tadi aku tidak sengaja menarik tanganmu!" Clara menjauh dari Ervin.
Sebelum lift berada di lantai dasar, tiba-tiba saja lift yang mereka naiki terguncang. Clara yang memakai sepatu hak tinggi tidak bisa menahan keseimbangannya. Dia menabrak badan Ervin, Ervin refleks menangkap badan Clara, mereka berdua secara tidak sengaja berpelukan karena kejadian itu.
Tatapan mata mereka saling beradu, Ervin terpana melihat manik mata coklat Clara yang indah dan bersinar. Sementara Clara merasakan sesuatu yang aneh. Dadanya berdegup kencang, napasnya seolah sesak melihat raut wajah Ervin dari dekat. Mereka berdua terdiam dan saling pandang.
Lift sudah normal kembali, suara denting lift membuat Clara sadar dari lamunannya. Dia menjauh dari badan Ervin.
"Nona, kenapa kita tidak berpelukan sampai pintunya terbuka?" ucap Ervin pelan. Matanya masih menatap Clara yang sedang salah tingkah karena kejadian tadi.
"Sembarangan kamu! tadi itu tidak sengaja! ingat 'tidak sengaja' camkan itu baik-baik!" pekiknya. Clara berjalan keluar dari lift setelah pintunya terbuka.
Ervin tersenyum lebar ketika melihat Nona mudanya yang tersipu malu ketika mengucapkan kata tidak sengaja.
"Clara Adeline, sebentar lagi kamu pasti akan menjadi milikku," gumam Ervin seorang diri sambil melangkah menyusul Clara.
"Tunggu saya Non!" Ervin setengah berlari.
Dia membuka pintu mobil untuk majikannya. Clara tidak memperdulikan supirnya itu. Dia masuk tanpa menoleh sedikitpun pada Ervin.
Setelah masuk mobil, Ervin menyalakan mesin kendaraan. Dia bersiap untuk pergi dari kantor.
Namun, sebuah ketokan di kaca mobilnya menyurutkan keinginannya.
"Buka! cepat buka!" ucap seseorang di depan pintu mobil.
"Nona, siapa dia Non?" Ervin menoleh pada majikannya.
"Tidak usah pedulikan dia! kalau masih tidak mau menyingkir, tabrak saja!" perintah Clara.
"CEPAT BUKA SUPIR BR3NGS3K!" teriak seseorang tersebut.
"Jalan!" perintah Clara.
Ervin bingung harus apa, dia tiba-tiba saja mempunyai sebuah ide.
*
__ADS_1
*
*Bersambung