Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 80 Musibah Royan


__ADS_3

Royan menepis tangan ayah kandungnya. Sementara Andi mencengkram erat baju anaknya. Disaat seperti itu Rosyanti memekik dan menghalang Andi suaminya agar melepaskan anaknya.


"Andi, jangan main-main dengan anakmu! Seharusnya kamu berubah!" Rosyanti berusaha mengendorkan cengkraman Andi.


"Orang tua seperti dia mana mungkin berubah bu! Dia itu hanya akan menjadi parasit buat kita, setelah dia mati barulah kita bisa terbebas," dalam cengkraman tangan ayahnya, Roy berkata dingin.


Andi geram mendengar perkataan anaknya. Dia menampar Royan berkali-kali.


"Anak sialan! Anak tak tahu diuntung! Udah dibesarkan seperti anak sendiri malah begini kelakuannya," Mata Andi menatap nyalang pada anaknya.


"Apa maksud ayah?" Roy tersadar dengan ucapan ayahnya.


"Kamu itu anak selingkuhan ibumu! Dia tidak hamil anakku," pekik Andi tertahan.


"Tidak! Jangan percaya dia Roy, kamu itu anak kami satu-satunya. Ayahmu selalu curiga pada ibu, padahal ibu tidak berselingkuh dengan siapa pun. Malah ibu yang sudah tega meninggalkan anak dan suami ibu yang dulu demi ayahmu ini," Ros memegang tangan suaminya. Dia merasakan sakit ketika anaknya ditampar oleh sang ayah.


"Banyak omong kamu Ros, pasti anak ini anak hasil hubungan gelap kamu. Mengaku saja!" Pekik Andi.


Roy tak tahan lagi, dia menubruk badan ayahnya sampai kehilangan keseimbangan dan jatuh terjerembab. Selama dua tahun terakhir memang dirinya jarang menggunakan ilmu bela diri yang sudah dipelajari. Namun, kali ini ayahnya sudah terlewat batas. Dia tidak mau menjadi bulan-bulanan ayahnya.


"Kurang ajar kamu anak tak tahu diuntung!" Andi bangkit dari tempatnya terjatuh.


Tapi Royan yang sudah emosi langsung menerjang badan ayahnya dengan kaki. Pria itu kemudian berlari ke luar rumah.


"Aku tidak akan pernah kembali ke rumah ini lagi. CAMKAN ITU!" Teriak Royan yang emosi.


Dia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Emosi masih membuncah dalam diri. Keluar dari kompleks perumahan barulah dia merasa lega dan tak sesak napas lagi. Pria itu kasihan dengan ibunya, namun sayangnya saat ini bukan saat yang tepat dia membawa pergi ibunya. Dia merasa harus mempunyai rencana yang pas untuk itu.


Motor Royan sudah berada di jalan utama. Dia memikirkan nasib ibunya karena kini ia sudah menjauh dari rumah.


"Ibu, lusa aku akan menjemputmu!" Ucapnya dibalik helem. Kecepatan motornya belum berkurang. Tiba-tiba pada tikungan tajam ada sebuah mobil hitam yang muncul. Dia mengerem motornya, namun nahas tak bisa dihindari. Kendaraan mereka bertabrakan. Roy terlempar beberapa meter dari tempat kejadian.


"Astaga pak sopir," ucap suara di dalam mobil. Kendaraan di jalan itu belum terlalu ramai. Jadi ada beberapa orang yang menolong Roy dan membaringkan tubuhnya di bahu jalan raya.


"Kap kita ringsek non," Sopir itu keluar dan memegang kepalanya yang terasa berat karena terantuk setir mobil.


"Pak bawa ke rumah sakit!" Wanita di dalam mobil keluar dan meminta tolong pada warga agar menggotong Royan masuk ke mobil.

__ADS_1


"Pak, mobilnya bisa dinyalakan tidak?" Wanita itu terlihat khawatir.


Beberapa kali pak sopir menyalakan mesin kendaraan, tapi karena benturan terlalu keras mobil tidak bisa menyala seperti biasa.


"Kalau begitu panggil taksi saja pak!" Wanita itu bersedekap memeluk badannya sendiri. Badannya gemetar melihat darah yang mengalir dari pelipis Royan.


"Pak tolong hentikan taksi!" Teriak pak sopir.


Beberapa orang bersedia memberikan tumpangan. Wanita itu langsung masuk begitu saja setelah Royan dibaringkan di kursi belakang sebuah mobil. Mobil yang mereka tumpangi melaju memecah jalanan.


"Duh, bagaimana ini?" Wanita itu begitu cemas.


"Pak sopir, aku takut," Wanita itu menarik baju lengan sopirnya yang duduk di depan.


"Tenang non! Di depan sana rumah sakit. Kita berdoa saja semoga pria itu baik-baik saja," pak Sopir menenangkan majikannya.


Royan dilarikan ke rumah sakit. Beberapa petugas medis membawa brankar beroda dan menggotong badan Royan ke atas brankar tadi. Mereka bertindak cepat dan memasukkan pria tadi ke ruang UGD.


"Pak, bagaimana ini?"


"Tenang Nona Tania! Pria itu ditangani oleh dokter," Ucapnya menenangkan lagi.


***


Pagi ini tak secerah biasanya. Mentari terlihat malu-malu menunjukkan sinarnya. Ervin mengubah jadwalnya pulang. Dia menunggu sore hari setelah mengantar Clara mencoba gaun yang sudah dipesan oleh si ibu. Pagi ini mereka sarapan bersama di meja dapur bersama bibi. Sementara nyonya rumah dan tuan D seperti biasa sarapan di meja makan.


"Duh nona sama mas Ervin kenapa nggak sarapan bersama tuan dan nyonya saja?" Bibi tak enak hati.


"Males bi lihat nyonya rumah," ucap Ervin santai.


Clara tersenyum tipis, dia menoleh pada kekasihnya. Tangan Clara meraih wajah pria itu dan mengambil sebutir nasi yang berada di sudut bibir kekasihnya.


"Makan aja masih seperti anak kecil," Clara membuang butiran nasi tersebut.


"Saking semangatnya karena ditemani cewek cantik," Ervin menyengir lebar.


"Ehem, bibi jadi nyamuk nih," Bibi berdehem kencang.

__ADS_1


Mereka tertawa bersamaan dan melanjutkan sarapannya. Selesai dengan sarapannya, mereka kembali ke tempat masing-masing. Clara bermain ponsel di taman samping rumahnya. Sementara Ervin naik ke rooftop dan mengambil tas punggung. Pria itu turun dan membuka mobil serta meletakkan tasnya begitu saja di kursi belakang.


Ervin menyusul Clara di taman samping, mereka duduk berdampingan dengan mesra. Sepasang mata memperhatikan gerak-gerik keduanya. Orang itu nampak menghela napas panjang dan berat.


"Anak kita ternyata udah dewasa Diana," tuan D mengamati mereka berdua.


Suara tepukan tangan mengagetkan tuan D. Dia melihat Firda yang sudah berdiri di belakangnya.


"Sepertinya ada yang kamu lewatkan Di," Firda menyeringai lebar.


"Apa maksudmu?" tuan D mengernyit heran.


Matanya menatap tajam manik mata Firda seolah mengancam wanita itu.


"Ternyata kamu tidak peka, ingat kartel kamu yang sebentar lagi akan hancur lebur," Firda tertawa mengejek dan pergi meninggalkan suaminya seorang diri di depan jendela kaca yang lebar dan transparan.


"Dasar wanita laknat, apa sebenarnya yang dia rencanakan lagi? Tak cukupkah dia selalu menyudutkan aku selama ini?" Tuan D geram dengan istrinya. Kepalan tangannya mengeras sampai uratnya terlihat menyembul.


Sementara Firda merasa menang karena Ervin sudah mengantongi bukti yang dia berikan. Walaupun sebenarnya pria itu belum membuka flash disk yang diberikan oleh Firda.


Deringan ponsel sayup-sayup terdengar sehingga membuatnya masuk ke kamar.


"Ternyata dia yang menghubungi, sudah aku duga," ucapnya sambil menyeringai lebar setelah membaca nama yang tertera di layar ponsel.


"Bagaimana? Besok kamu dan anak buahmu sudah siap bertempur?" Tanya Firda mantap.


["Tentu saja siap nyonya, rencana berjalan lancar. Kita tinggal menunggu eksekusi besok sore."]


"Bagus, kalian harus bisa memanfaatkan situasi dan waktu!" Firda tersenyum simpul.


Setelah berbincang akhirnya telpon terputus.


"Kita lihat apa yang akan terjadi besok Di," seringainya lebar.


*


*

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2