
"Mau kemana kita Frank?" Dendi masuk mobil. Dia melihat Frank yang terburu-buru.
"Ponsel nona sudah aktif. Lokasi sudah terlacak tuan. Sekarang kita pergi ke sana!" Tanpa pikir panjang, tangan kanan Dendi langsung menembus jalanan kota.
"Syukurlah kalau Clara sudah bisa dilacak," Dendi bernapas lega.
"Kenapa itu anak sampe ngilang segala? Apa dia memang benar-benar menyukai Ervin sampe senekad itu?" Dendi mengembuskan napas panjang.
"Mungkin nona sudah nyaman dengan Ervin, tuan. Tapi semoga aja mereka pasrah untuk memutuskan hubungannya karena tak dapat restu," Frank berkata sambil menyetir, dia fokus ke jalanan.
"Mereka berdua sepertinya sama, sama-sama keras kepala," Dendi mencomooh.
Mereka masih berada di jalan, tanpa sepengetahuan keduanya motor yang dinaiki Ervin dan Jef berhasil membuntuti kendaraan yang mereka tumpangi.
***
Tania menghubungi Royan.
["Kenapa lagi Tan?"] Nada suara Royan terdengar malas.
"Kamu kenapa salah culik orang? Seharusnya kamu menculik Jasmine biar dia tidak jadi menikah dengan Ervin. Kalau begini buang waktu aja!" Tania memekik tertahan.
["Maksud kamu apa?"] Roy bingung.
"Wanita yang dijodohkan dengan Ervin itu si Jasmine. Bukan Clara yang kamu bawa!" Suara Tania meninggi.
["Tapi Ervin hanya mencintai Clara, bukan Jasmine!"] Jelas Roy.
"Persetan dengan Clara! Aku menyuruh anak buahku untuk mengerjainya. Sekarang target selanjutnya adalah Jasmine. Aku akan menyuruh orang untuk menyelidiki Jasmine sebelum dia aku culik," Tania langsung memutuskan panggilan.
"Dasar tidak becus!" Makinya kesal pada ponsel yang dipegangnya seolah ponsel tersebut adalah Roy.
Sementara Roy yang sengaja menjauh dari ke dua anak buah Dendi berjalan mendekati mereka. Dia bertanya pada Tania nomor ponsel orang suruhannya lewat pesan singkat.
"Sepertinya aku tahu kita harus kemana," Roy menyuruh mereka masuk ke mobil. Kendaraan tersebut bergerak memecah jalanan yang sunyi. Roy sengaja berputar dan berkeliling tak menentu untuk mengulur waktu. Namun kini, daripada anak buah Tania yang harus menghakimi Clara lebih baik dia saja yang menghukum gadis itu agar Ervin marah besar.
"Aku harus melecehkan Clara lebih dulu sebelum mereka duluan," Roy mengebut di jalanan.
"Kalian aku turunkan di jalan itu. Aku disuruh Tuan Dendi ke alamat lain, bagaimana? Bisa, kan?" Roy beralasan.
"Apa maksudmu? Bukankah lebih banyak orang yang mencari lebih baik?" Salah satu dari mereka bersuara.
"Aku tahu, tapi kalau kita tidak berpencar, sama aja bohong," Roy berusaha meyakinkan mereka.
__ADS_1
Mereka tak ada yang menyahut. Mereka berpikir bahwa ucapan Roy ada benarnya. Di sebuah persimpangan jalan kedua orang tersebut turun dan mengikuti aba-aba dari Roy.
"Dasar bodoh," Roy tertawa mengejek.
Mobil melesat cepat ke alamat yang diberikan oleh Tania.
Clara diletakkan begitu saja di lantai gudang yang dingin dan lembab. Air matanya mengalir deras. Wanita itu sampai kapanpun akan mengingat bahwa Royan adalah pria yang licik dan baj1ng4n. Kini karena ulahnya Clara harus menderita seperti ini.
"Kamu kenapa sayang? Jangan menangis begitu, wajah cantikmu berkurang banyak." Salah satu dari mereka mengelus pipi Clara.
Clara memberontak, tangan dan kakinya yang masih terikat meronta sekuat tenaga. Dia jijik dengan sentuhan pria tersebut.
"Woi! Kamu main curi start ya?! Lepaskan tanganmu!" Pekik Pria satunya.
"Kita sudah sepakat untuk menggilirnya. Tapi kita juga sepakat kalau siapa yang duluan dialah pemenang dari tantangan," Pria satunya mendekat.
Clara menangis meraung-raung mendengar perkataan dari mulut kotor mereka.
"Hei berhenti kalian! Kalian menakuti gadis cantik ini," salah satu dari mereka menarik lengan temannya yang lain agar menjauh dari Clara.
"Tunggu dulu! Letakkan dia di atas meja kayu yang ada di ujung sana!" Tunjuk Pria rambut cepak.
"Kasian dia kedinginan," Seringai lebar mereka terlihat.
Setelah selesai pria itu kembali berembuk dengan temannya yang lain. Terjadi perdebatan sengit antara mereka karena ada yang curang dalam memenangkan taruhan.
"Kita ulangi lagi! Kamu curang!" Bentak salah satu dari mereka.
"Benar, dia curang," ucap yang lain menimpali.
Mereka masih berdebat dengan hebatnya. Pintu dibuka dari luar. Mereka bertiga menoleh bersamaan dan waspada terhadap kemungkinan adanya penyusup.
"Clara! Clara!" Panggilan nama Clara bergema dengan lantang di gudang kosong tak berpenghuni tersebut.
"Siapa itu? Kita harus menyelidikinya dan menghabisi orang yang mengetahui kelakuan kita," bisik si Pria rambut cepak.
"Clara?" Suara itu menggema.
"Kita habisi sekarang!" Mereka memberikan aba-aba ketika melihat bayangan yang muncul.
Mereka bertiga menyerang seorang pria yang baru saja masuk. Pria itu berusaha menghindar.
"Woi, aku Royan. Roy teman bos kalian. Teman Tania!" Roy yang berhasil menangkis serangan mereka mencoba untuk mengatur napasnya yang memburu.
__ADS_1
"Roy? Maksudnya Roy yang membawa gadis cantik itu?" Salah satu dari mereka bertanya.
"Iya, itu aku. Sekarang dimana Clara? Aku akan membawanya pergi dari sini," Roy melangkah lebih jauh untuk mencari Clara.
"Apa maksudmu? Gadis itu milik kami. Kami akan menghangatkannya malam ini. Kamu pergi saja sana!" Usir pria cepak garang.
"Owh, kalian ternyata berani melawan, ya?! Sekarang kalian hadapi aku. Pemenangnya yang akan membawa Clara," Roy begitu percaya diri.
"Baiklah, aku terima tantangan kamu!" Mereka bertiga langsung menyerang Roy sekaligus. Mereka tidak mau mainan yang sudah mereka miliki harus berpindah tangan begitu saja.
Sepasang mata mengendap-endap ke belakang gudang. "Kamu yakin kalau di sini titik lokasi Clara?" Sepasang mata lainnya menanyakan lokasi anaknya.
"Yakin sekali tuan, sebaiknya kita cari tahu dulu dimana nona berada. Aku yakin nona ada di sekitar sini," Frank sibuk melihat layar tablet dan menoleh sekeliling.
"Ada suara ribut-ribut Frank, apa itu Clara?" Dendi merasa tidak enak. Dia merasa anaknya itu dalam bahaya, bukan menghilang begitu saja.
Keempat orang itu sibuk bertarung, mereka tidak mengetahui ada dua orang pria yang menyelinap masuk dan mencari keberadaan Clara.
"Sepertinya mereka meributkan sesuatu, semoga mereka tidak melihat kita bos!" Jef berjalan mengendap-endap.
"Bos, disana ada gerakan samar!" Jef menunjuk.
"Shuutt! Jangan berisik Jef!" Ervin mencubit paha karyawannya.
"Auw," Jefrey tak sengaja mengeraskan suara.
Keempat orang yang sedang bertengkar seketika berhenti dan mencari asal suara.
"Siapa itu? Tunjukkan diri kalian!" Pekik Royan yang babak belur.
"Diam Jef!" Ervin membekap mulut Jefrey.
Jeffrey seperti manusia yang kehilangan oksigen, matanya melotot. Wajahnya terlihat biru keunguan karena harus menahan napas. Pria itu menyikut bosnya yang sudah keterlaluan.
"Bos mau bunuh aku?" Jeffrey berdiri dan berkacak pinggang. Dia terengah-engah karena napasnya ditahan si bos.
"Siapa di sana?!" Ketiga orang mencari-cari orang asing yang masuk ke gudang tersebut.
"Nah itu dia," seringai lebar dan licik terpampang jelas.
*
*
__ADS_1
*Bersambung