
Tiba-tiba saja muncul seorang pria yang tinggi besar mencengkram erat kerah baju pria mabuk tersebut.
"Siapa kamu? berani sekali padaku," tangannya menepis cengkraman pria tadi.
Clara mendelik setelah melihat pria yang datang.
"Si Om kok bisa tahu kalau aku ada di sini?" sungut Clara sebal.
Pria tadi mendorong pria mabuk yang sudah sempoyongan dan ambruk di lantai.
"Om siapa Ra?" Robert bingung.
"Om bodyguardnya Papi," manik hitam netranya berputar malas.
"Jadi kamu sudah ditemukan lagi?" Robert lemas.
Ia tak menyangka bahwa secepat itu keberadaan temannya diketahui.
"Iya, begitulah," Clara mulai tak bersemangat.
"Mari saya antar pulang Non!" seru suara bariton yang terdengar tidak asing di telinganya.
"Bentar lagi ngapa Om, aku ingin menghilangkan stress untuk sementara di sini," Clara masih bersikeras untuk tinggal.
"Pulang atau saya paksa Non!" perintah suara itu dengan tegas.
Mau tak mau Clara mulai mengikuti langkah pria di depannya, ia melambaikan tangan pada Robert yang sekarang tengah duduk seorang diri.
"Kalau Clara pulang, aku maen sama siapa dong, ah gak seru," Robert pun beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari Pub.
***
Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan selang seling berganti. Sudah hampir dua tahun Ervin mengasah kemampuannya bersama Toni dan para pelatih lainnya.
Seminggu lagi mereka akan dipulangkan ke rumah masing-masing. Setelah beristirahat sejenak barulah mereka akan diutus untuk bekerja ke sebuah tempat yang diinginkan oleh petinggi Perusahaan untuk menjadi bodyguardnya.
Sore itu Ervin duduk di pasir putih tanpa alas apapun, ia tersenyum puas karena sebentar lagi ia akan bertemu keluarganya kembali. Langit biru mulai berubah warna menjadi jingga karena pancaran cahaya mentari yang akan tenggelam di peraduannya.
Plak...
Sebuah tepukan di pundak membuat Ervin berhenti melamun.
"Kamu Roy, aku pikir siapa," Ervin tersenyum pada sahabatnya itu.
"Kenapa bengong? udah gak sabar mau pulang ya?" Royan duduk di sebelah Ervin.
"Sebenarnya ya, tapi ternyata aku menyukai tempat ini, tempat yang awalnya aku benci karena menguras emosi dan tenagaku," pria itu menerawang mengingat kenangan waktu ia masih pertama kali menginjakkan kakinya di pulau ini.
"Untunglah si cunguk itu tidak lolos seleksi sedari awal, mungkin kalau dia ada pasti akan jadi rival kita sampai sekarang," Royan menepuk bahu sahabatnya.
"Begitulah, ternyata Om Toni mempunyai syaratnya sendiri. Tidak perlu kuat dan dominan, Om Toni hanya memilih orang yang manusiawi dan beretika agar bisa langsung di ajarin olehnya," ia pun tersenyum lebar.
__ADS_1
"HEY KALIAN, AYO KEMBALI! AYAH UDAH MENUNGGU," teriak seorang lelaki yang lebih muda daripada mereka.
Mereka berdua menoleh bersamaan, dan tersenyum penuh arti. Mereka berdiri dan melangkah mengikuti pria muda tersebut.
Selama dua tahun latihan membuat Ervin dan yang lainnya merasakan sesuatu yang berbeda. Otot-otot mereka terlihat menonjol dan tenaga yang mereka punya semakin banyak dan tidak gampang kelelahan seperti orang kebanyakan.
***
Malik dan Elisa sudah tidak sabar untuk segera melihat anaknya pulang. Mereka bersiap untuk menyambut kedatangan anaknya. Di rumah itu banyak orang-orang berlalu lalang karena menghias area dalam rumah.
"Semoga Ervin suka dengan pesta penyambutannya ini," Elisa bersemangat.
"Entahlah, aku juga tidak tahu, kalau anak kita itu wanita mungkin saja dia suka, tapi Ervin kan..." Malik tak melanjutkan ucapannya.
"Mau wanita mau pria pasti sama-sama suka kalau disambut dengan pesta seperti ini Mas," istrinya berucap enteng.
"Terserah kamu saja Ma, aku males ikut campur," Malik segera meninggalkan istrinya.
Tap, tap, tap
Langkah kaki beberapa orang terdengar jelas menghampirinya walaupun ia masih sibuk menyuruh orang-orangnya untuk meladeni keinginannya merias ruangan tamu.
"Ma, kenapa ramai sekali?" Nissa masuk bersama keluarga kecilnya.
"Oma..." panggil seorang anak kecil.
"Hey cucu Oma udah sampai ternyata," ia berjongkok dan mencium cucunya yang menggemaskan.
"Pfttt," Nissa tidak bisa menahan tawanya.
Elisa merengut melihat anaknya yang tertawa.
"Maaf Ma, kelepasan, oh iya Mas Kino tolong gendong anak kita ya! aku takut dia akan berlarian kesana-kemari," serunya.
Tak menunggu lama Kino sudah menggendong anaknya dan pergi ke taman samping rumah.
"Besok adikmu itu pulang, Mama tak sabar ingin memeluknya," Elisa terharu.
"Ma, Ervin itu udah dewasa, jangan sampai dia ngambek karena Mama berulah lagi," Nissa mengingatkan mamanya.
"Ervin itu masih bayi mungil Mama, dia pasti suka dengan apa yang telah Mama siapkan," wanita itu sangat yakin.
"Ya sudahlah Ma, Nissa masuk ke kamar dulu mau masukin barang-barang," Nissa meninggalkan mamanya.
Esok paginya di sebuah pulau terpencil terlihat ada sebuah kapal yang mendekat.
"Kapal kita datang!" seru salah satu dari mereka.
"Aku pikir mereka terlambat datang, ternyata sesuai rencana," sahut yang lain.
Ketika kapal berlabuh, para awak kapal turun dan menyapa penumpang yang akan naik ke kapalnya.
__ADS_1
"Ketemu lagi anak muda," seorang pria tua menepuk bahu Ervin.
"Bapak lagi?" tanyanya melongo.
"Tentu saja aku lagi, karena akulah yang akan membawa kalian semua, kali ini kapalku lebih besar dari yang dua tahun lalu," pria tua itu tersenyum tipis.
Ervin hanya mengangguk tanpa menyahut, satu persatu mereka mulai naik ke kapal setelah berpamitan pada para pelatih yang sudah bersedia berbagi ilmunya selama dua tahun.
"Lima belas orang yang lolos tahun ini Pak, lebih sedikit dibandingkan tahun lalu," keluh salah satu pelatih pada Toni.
"Tidak mengapa, asalkan mereka semua bisa menjalin kerjasama dan menjaga etikanya dalam bekerja," Toni berucap mantap.
"Dan sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian terakhirnya, semoga bapak tua itu bisa menghadapi celotehan mereka semua," kekeh salah satu pelatih.
"Kita lihat saja nanti, aku yakin kalau lima diantara mereka akan menjadi penerusku nantinya, tapi untuk lebih jelasnya kita saksikan pertunjukan terakhir mereka," Toni menyeringai tipis.
"Sekarang lebih baik kita beristirahat sejenak Pak sebelum ada murid baru lagi yang datang," ucapnya santai.
Mereka semua melangkah mendekati bangunan tua setelah kapal tak terlihat lagi.
"Kalian sedang apa?" Royan mendekati salah satu dari mereka.
"Mengira-ngira akan di tempatkan dimana nantinya," mereka membuka satu persatu informasi yang bisa mereka lihat di ponselnya.
Kini ponsel mereka sudah bisa dinyalakan kembali.
"Tunggu dulu... sepertinya barusan ada goncangan," salah satu dari mereka berceletuk.
"Ngarang kamu, masak dilaut ada goncangan?" salah satu dari mereka tertawa tak percaya.
"Tapi aku merasakan pusing dan mual," keluh satunya lagi.
"Itu tandanya mabuk laut, ha... ha," satunya mengejek.
Kapal mulai berguncang hebat, ternyata benar yang diucapkan salah satu dari mereka. Pria tua itu mulai melempar pelampung pada satu persatu penumpang.
"Kalian harus bertahan! sepertinya badai yang tidak bisa di prediksi datang tiba-tiba," ucap pria tua.
"Tapi langitnya masih cerah Pak," Ervin mulai berbicara.
"Mau cerah ataupun tidak kalau sudah berada di laut ini kejadian apapun bisa terjadi," pria tua mendadak cemas.
Byurrr...
"Hey jangan...
*
*
*Bersambung
__ADS_1