
Frank menghampiri sekuriti yang masih sibuk dengan ponselnya. Pria itu menepuk bahu orang di depannya dengan satu tangan.
"Gembira amat pak, tumben ketawa ketiwi?" Frank mengerutkan keningnya.
"Ini mas Ervin ada-ada saja pak, dia lagi ngelucu," jawab pria itu jujur.
"Jadi bapak kenal dengannya?" Frank menatap sekuriti.
Sekuriti itu berpamitan pada Ervin di telepon, dia kemudian beralih menatap Frank yang tengah berdiri mematung.
"Bagaimana gak kenal pak, dia kan supir Nona Clara," jawabnya terkekeh.
"Tapi sepertinya hanya padamu saja anak baru itu akrab. Dengan yang lain dia cuek," kernyit Frank.
"Yah kan saya selalu membukakan pintu pagar pak, jadi mau tidak mau dia harus selalu berbicara,"Sekuriti tersenyum lebar.
"Terserahlah, aku masuk dulu," Frank sudah tidak bersemangat.
"Huuh... lega," Sekuriti duduk kembali di tempatnya.
Clara bosan di rumah, hari weekend seperti ini membuatnya selalu uring-uringan tidak jelas. Dia dibatasi oleh ayahnya karena tidak boleh keluar rumah. Niat awalnya mencari Ervin untuk mengajak pria itu berbelanja dan menemaninya. Namun dia kecewa duluan karena supirnya mengambil jatah libur selama dua hari.
Dia membawa cemilan dan sebuah buku bacaan, dia berniat untuk membaca di taman samping.
Kakinya hendak melangkah melewati pintu dapur. Namun langkahnya terhenti disaat melihat ibu tirinya yang tengah menelpon.
"Kenapa dia mencurigakan?" Clara berjinjit agar suara langkahnya tidak terdengar.
"Pokoknya kamu harus menuruti semua keinginanku!" Ibu tirinya berucap dengan nada kasar.
"Nelpon siapa sih itu nenek sihir?" gerutu Clara.
"Dan satu lagi, kamu harus mengikuti supir baru itu kemanapun dia pergi!" serunya.
Seketika Clara menatap punggung ibu tirinya dengan sebuah pertanyaan.
"Apa hubungannya dengan Ervin? Supir baru itu kenapa?" Clara penasaran.
Nona muda itu bertanya-tanya.
"Nona," sebuah suara mengagetkannya.
"Shuttt," Clara menempelkan telunjuk pada bibirnya.
Bibi yang baru saja masuk dapur keheranan melihat Clara.
__ADS_1
"Ada apa non?" Bibi mendekat, dia berbisik.
"Bibi pergi saja!" usirnya. Mereka berbicara pelan.
Clara dan bibi saling berpandangan ketika seorang wanita menghampiri mereka.
"Ngapain kalian di sana? nguping ya?" Wanita itu berkacak pinggang. Dagunya diangkat tinggi-tinggi dan memicingkan mata menatap kedua orang di depannya.
"Maaf nyonya, saya tidak menguping. Saya baru saja masuk dapur," jawab pembantunya.
"Terus ngapain kalian berdiri di sana?" Dia bertanya ketus.
"Suka-suka kita dong mau ngobrol dimana. Tadi aku manggil bibi karena aku bosan dan menyuruhnya membuatkan minuman untukku. Kamu tuh yang mencurigakan, menelpon orang tapi sembunyi-sembunyi. Apa jangan-jangan itu selingkuhan kamu?" Clara tidak mau kalah.
Wanita itu tidak pantas dipanggil ibu, ibu tiri sekalipun.
Clara membencinya setengah mati.
Ibu tirinya melotot, wajahnya memerah menahan emosi.
"Kurang ajar sekali kamu! berani-beraninya melawanku!" tangan wanita itu terangkat di udara dan hendak menampar pipi Clara.
Namun sebuah tangan menepisnya dan mencengkram dengan erat.
"Berani sekali kamu mau menampar anakku!" suara bariton yang agak serak membuat mereka semua terkejut.
Tuan D melepaskan tangan istrinya dan beralih menatap anaknya yang masih terdiam membisu.
Clara yang mendengarnya seketika hatinya sakit karena telah mengingatkan dirinya pada sang ibunda yang telah tiada.
"Kamu tidak perlu repot-repot untuk mengajar anakku! Rara bukan wanita muda yang kasar. Dia anak kebanggaanku," tuan D membela anaknya.
Baru kali ini Clara mendengar perkataan seperti itu dari ayahnya. Selama ini mereka tidak sedekat yang orang lain pikir.
Clara malas mendengar perdebatan sengit mereka. Dengan cepat dia kembali ke kamarnya dan merebahkan diri di atas ranjang.
Bibi menjauh dari pertengkaran tersebut. Kini tinggallah suami istri itu yang masih berdebat.
"Kamu jangan membelanya terus menerus mas! Anakmu itu udah dewasa, saatnya dia merubah kelakuan kasarnya itu," Wanita itu berkacak pinggang.
Suara tamparan membuat wanita itu melotot tak percaya.
"Kamu berani menamparku karena anak sialan itu?" Dia meringis kesakitan. Wanita tersebut memegang pipi bekas tamparan suaminya.
"Jangan sekali-kali berani menjelekkan Clara di depanku. Atau kamu akan berurusan denganku seumur hidup," tuan D memperingatkan istri.
__ADS_1
"Bilang saja kalau kamu takut anakmu itu tahu tentang masalalu ayahnya yang kelam dan seorang pembunuh. Makanya kamu selalu menjauhkannya dariku, kan?!" Ibu tiri Clara pergi meninggalkan suaminya.
Tuan D mengambil napas dalam-dalam kemudian dia menatap punggung istrinya sampai tidak terlihat lagi.
Pria paruh baya itu melangkah gontai menuju ruang kerjanya.
"Mungkin sudah saatnya aku memberimu pelajaran," Ia menghenyakkan pantatnya di kursi dan menatap langit-langit kamar.
***
"Om, aku sudah tahu semuanya tentang supir baru itu," seseorang menghampiri Frank yang tengah berdiri di teras rumah.
"Benarkah? kalau begitu besok tuan D akan memberikan bonus. Sekarang berikan berkas lengkap anak itu!" pintanya.
Anak buahnya memberikan sebuah amplop coklat yang kali ini lebih tipis daripada sebelumnya. Pria itu ingin berbicara, namun beberapa kali dirinya ragu. Hingga akhirnya keluarlah ucapan dari mulutnya.
"Maaf bos tadi aku mendapatkan pesan bahwa barang baru kita mulai terendus pihak luar selain konsumen. Apakah saya harus menutup gudang sementara?" Pria itu terlihat gelisah.
"Kenapa baru sekarang kamu memberitahu aku? perintahkan mereka untuk menimbun barang baru itu di tempat biasa dan tutup gudang penyimpanan kita. Kalian juga boleh libur selama seminggu. Aku akan mengurus masalah ini secepatnya. Kalian harus menyamar agar tidak seorangpun yang tahu siapa kalian, mengerti?" perintah Frank.
Pria itu mengangguk mantap, dia pamit dan tergopoh pergi meninggalkan Frank. Frank melihatnya yang tengah menghubungi seseorang.
"Masalah baru lagi," keluhnya.
Ya, begitulah nasib tangan kanan tuan D yang begitu setia pada majikannya. Apapun akan dia lakukan asalkan majikannya selamat.
"Kalian semua perketat pengamanan! Jangan sampai ada yang nyelonong masuk ke rumah ini. Walaupun itu orang yang kalian kenal, mengerti?"
"Siap Om," beberapa pria menjawab mantap.
Frank masuk dan menghubungi seseorang, namun nomer telpon yang ditujunya ternyata sudah tidak aktif.
"Apakah kamu sudah berganti nomor Ton? Aku membutuhkan bantuanmu walaupun mungkin saja kamu akan menolaknya," Frank berkata seorang diri.
Suara deheman membuyarkan lamunannya.
"Kenapa Frank? sepertinya ada masalah, terlihat jelas dari wajahmu yang kusut itu," tuan D terkekeh.
"Maaf tuan, ini masalah serius," sahut Frank sambil melirik majikannya.
"Kita perlu beberapa bodyguard untuk menjaga rumah ini selama dua minggu kedepan," Frank mengusulkan.
"Buat apa sebanyak itu?" tuan D mengernyit.
"Untuk jaga-jagan saja tuan, tidak ada salahnya menambah pasokan bodyguard selama dua Mmnggu," Frank beralasan.
__ADS_1
Tuan D sepertinya menimang pemikiran Frank. matanya terpejam dan berjalan ke arah kursi malas yang terletak di sudut ruangan.