
"Mas Ervin, Frank dan salah satu body guard tuan kemari. Lekaslah pergi dari sini!" Bibi membuka pintu dan memperingatkan.
"Tenang saja bi, biar aku hadapi mereka. Clara tersadar karena kedatanganku," serunya percaya diri.
"Tapi mas ...." Bibi merasa khawatir.
"Lebih baik mas Ervin pergi saja! Sebelum semuanya terlambat!" Bibi masih berusaha, namun pria itu masih keras kepala dan tak mau menyerah.
Tanpa bibi sangka, Frank masuk ke kamar majikannya.
Matanya terbelalak melihat keberadaan Ervin yang tengah duduk seraya mengelus telapak tangan Clara.
"Anak muda! Cepatlah pergi dari sini! Aku tidak akan segan-segan memberikan pelajaran padamu kalau kamu masih keras kepala," ancam Frank.
"Aku akan pergi kalau Clara membiarkan aku pergi dari sini. Lihatlah dia! Dia tersadar karena keberadaan aku," serunya.
Rahang Frank mengeras, dia memandang Ervin dan melihat tatapan mata Clara yang lemah dan sayu.
"Brengsek tuh anak, tau aja kalau aku tidak bisa mengabaikan nona yang tengah sakit," batin Frank ragu.
Bibi terdiam terpaku melihat kejadian tersebut.
Frank menimbang-nimbang dan memutuskan solusinya.
"Nona, Ervin, aku kasih waktu sepuluh menit untuk kalian bersama! Setelah itu kalau kamu masih keras kepala silakan saja membuat keributan denganku," Frank menepuk dadanya dengan keras.
"Bi, kita tinggalkan mereka!" Pria itu seraya mengangguk pada anak buah yang dia bawa. Ketiga orang tersebut keluar dari kamar Clara.
"Mas," panggil Clara dengan pelan dan lemah.
"Kamu diam saja! Biarkan aku menikmati waktu kebersamaan kita!' Ervin berbaring di samping Clara.
Dia tidak peduli pada brankar yang sempit. Mereka berdua saling berpandangan dan menatap penuh kerinduan yang membuncah.
"Maafkan aku! Sebentar lagi aku pasti akan menemukan jalan agar kita bisa bersama kembali," janjinya pada si kekasih hati.
Waktu sepuluh menit yang singkat sudah berlalu. Ervin pamit pada kekasihnya, dia keluar dan berpamitan pada bibi.
"Titip Clara bi! Aku mau ke tempat perawatan papa," ucapnya seraya meraih tangan keriput wanita itu.
Bibi mengangguk mantap, dia pasti menjaga nona mudanya tanpa harus diminta. Wanita tua itu teringat tentang almarhum Diana dan janjinya pada si nyonya besar.
"Pak Frank, aku pasti kembali menemui Clara lagi. Aku akan membuat om Dendi berubah pikiran," ucap Ervin mantap dan yakin.
"Terserah," Frank memutar bola mata. Dia malas menanggapi perkataan Ervin.
__ADS_1
Pria itupun pergi meninggalkan mereka dan kembali ke ruangan ayahnya.
"Vino! Kamu darimana aja?" Mimi mendekati dan mendorong tubuhnya masuk ke dalam kamar Malik.
"Lepaskan! Jangan buat aku marah Mi!" Ervin mendadak emosional.
"Kalian berdua selalu saja bertengkar. Ini rumah sakit, bisa nggak sih kalian menjaga sikap?" Evans meradang melihat kelakuan mereka.
"Sorry dad," Mimi menundukkan kepalanya.
"Gara-gara anak om tuh, dia dorong aku segala," kesal Ervin.
"Ervin!" Elisa mencubit paha anaknya yang masih saja berdebat.
"Maaf om," ucapnya karena mendapat lirikan dari si ibu.
Evans dan Fatma hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ternyata sikap Ervin belum sepenuhnya dewasa. Emosinya masih belum stabil sepenuhnya, terkadang emosinya meledak-ledak tak karuan.
"Ini aku masakin makanan buat kalian!" Fatma menyodorkan beberapa kotak makanan yang ada di dalam kantong kain tipis.
"Jadi ngerepotin kamu nih Fat, tapi makasih banyak ya!" Elisa menerimanya dengan senang hati.
"Nissa nggak kelihatan, kemana dia?" Fatma mencari keberadaan Nissa yang dia sayangi seperti anak sendiri.
"Kalian berdua makan dulu sana! Biar kami yang menjaga mas Malik," Fatma berseru.
Evans, Mimi dan Fatma duduk di sofa panjang yang tersedia di kamar VVIP tersebut. Setelah sarapan pagi tadi Malik meminum obatnya dan tertidur di siang hari.
Mereka menunggu Malik sampai bangun dari tidurnya.
***
Sudah lima hari Malik berada di rumah sakit. Hari ini adalah hari kepulangannya. Sementara Clara sudah sedari kemarin pulang ke rumah.
Hari Senin ini Clara sudah bisa pergi ke kantor. Kesehatannya sudah pulih dan bisa beraktivitas seperti biasanya. Ervin dan Clara diam-diam berhubungan dan saling menelpon ketika mereka berada di kamar. Mereka berdua sengaja membeli ponsel Android bekas untuk berkomunikasi. Setidaknya mereka bisa saling berkomunikasi dengan panggilan video walaupun kualitas kamera yang dipakai sungguh tak maksimal.
"Ra, sopir baru sekaligus body guard kamu udah datang tuh!" Kali ini Dendi langsung yang pergi ke kamar anaknya. Pria itu mengunci Clara dari luar agar tidak bisa pergi kemanapun selain bekerja.
Pintu sudah terbuka, Clara sudah bersiap-siap walaupun wajahnya tampak jutek dari sebelumnya.
Tak ada senyum sedikit pun di wajah anaknya.
"Ra, kamu kenapa lagi?" Dendi menelisik raut wajah anaknya.
"Daddy pura-pura bodoh atau bodoh beneran? Perlu Rara jedotin kepala Daddy ke tembok?" Dengan kasarnya dia mengata ayahnya sendiri.
__ADS_1
"Jaga omongan kamu!" Dendi sudah melayangkan tangannya di udara untuk menampar anaknya.
"Tampar aja dad! Biar Daddy puas!" Pekik Clara melihat tangan ayahnya yang menggantung di udara.
Dendi menurunkan tangannya dan berusaha untuk menormalkan emosi. Dia mengambil benda pipih dalam kantong bajunya dan memberikan itu pada Clara.
"Ini ponsel yang harus kamu pakai! Jangan bermain-main dengan Daddy. Sistem pelacak ada di dalamnya. Kamu harus tahu kalau kamu tidak boleh menghubungi siapa!" Dendi menyodorkan benda itu. Nadanya terdengar penuh ancaman.
Clara mengambilnya dengan kasar dan turun dari lantai dua tanpa pamit pada si ayah. Dendi hanya bisa menghela napasnya melihat kelakuan anaknya tersebut.
"Karma apa ini. Dia berani membentakku, dia berani melawanku. Ibu, bapak ternyata begini rasanya ketika aku melawan kalian dulu," ucapnya lirih seraya memandang punggung anaknya yang menjauh.
Clara turun dan pergi memanggil Frank.
"Om, mana sopir baru itu? Aku sudah harus berangkat ke kantor," Clara tak sabar.
"Sebentar non, saya panggilkan dulu!" Frank tergopoh ke garasi rumah dan melihat si sopir yang tengah mengelus body mobil dengan mesin yang menyala.
"Hey kamu! Nona sudah siap berangkat ke kantor. Kamu langsung saja ke halaman depan ya!" Suruh Frank.
"Baik om!" Sahutnya patuh.
Pria itu dengan cepat masuk ke mobil dan mengendarainya ke tempat yang di suruh oleh Frank.
Pria itu masih kikuk dengan pekerjaan barunya tersebut.
"Sialan nih sopir, kenapa dia nggak buka pintu untukku?" Clara berjalan memutar dan mengetuk jendela kaca.
"Woi, seharusnya kamu itu keluar dan buka pintu untukku! Mengerti kamu?!" Perintah Clara.
Pria itu membuka pintu mobil dan keluar dari kursinya. Dia menundukkan kepalanya sambil meminta maaf.
"Maaf non, saya tidak tahu harus berbuat apa. Ini pekerjaan baru buat saya," ucapnya pelan dan mendongakkan kepalanya.
"Kamu? Sepertinya aku pernah melihatmu. Dimana ya?" Clara mencoba mengingat lagi.
"Benarkah nona?"
Pria itu mengernyit heran dan menatap wajah cantik di depannya walaupun raut wajahnya jutek.
*
*
*Bersambung
__ADS_1