
"Tuan D dia harus pulang dan mencari pelaku yang memberikan racun pada makanan Nona Clara," ucap seorang pria.
Frank dan Ervin sama-sama terkejut, mereka tidak menyangka bahwa makanan Clara sengaja diracun.
"Baiklah aku akan menghubungi tuan D, biar aku yang menyelidiki masalah ini, kamu dan yang lainnya harus waspada dan perketat penjagaan!" perintah Frank.
Frank langsung menghubungi seseorang, wajahnya serius dan emosi tampak terlihat jelas dari raut wajahnya.
"Ervin, kita ke kantor sekarang! ambil sampel sisa makanan yang Nona Clara makan kemarin siang!" Frank menyuruhnya untuk langsung bekerja.
"Siap Pak," Ervin masuk ke dalam mobil dan mengeluarkannya dari garasi rumah.
Frank masuk di pintu sebelahnya dan mulai berpikir.
Kendaraan itu kini sudah berada di jalanan kota yang kian padat karena sudah masuk waktu berangkat kerja.
"Memangnya siapa saja musuh tuan D Pak? kenapa sampai harus mencelakai anaknya?" Ervin kalut dan khawatir.
"Tuan D banyak musuhnya, sedari dia muda hidupnya sudah berkutat dengan pekerjaan ini," Frank menghela napasnya.
"Kalau begitu kita tidak bisa mengira-ngira siapa yang menaruh racun di makanan Non Clara," Ervin kecewa.
"Belum tentu, tadi tuan D bilang kalau Nona Clara membeli makanan dari luar, ada pengantar makanan yang membawa makanan tersebut jadi kita bisa bertanya pada si kurir," jelas Frank yang sepertinya sudah terbiasa dengan situasi seperti ini.
"Bener juga ya Pak, aku belum kepikiran ke sana," Ervin tersenyum tipis.
Clara, seandainya kamu menyuruh aku agar mengantarkan makan siangmu pasti kamu tidak akan seperti ini.
Ervin menghela napasnya. Kejadian itu tidak bisa ia cegah begitu saja.
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di depan perusahaan. Frank dan Ervin masuk dengan tergesa-gesa.
"Deli, tuliskan nama ke dalam daftar siapa saja yang bisa keluar masuk ke ruangan non Clara! rentang waktu antara pukul sepuluh siang sampai pukul satu siang," suruh Frank.
Deli tidak membantah, dia mengangguk mengiyakan permintaan Frank.
"Sekarang kamu pergi ke ruangan non Clara Vin!" seru Frank tegas.
Ervin langsung masuk ke dalam lift, dia naik di lantai atas dimana ruangan Clara berada.
Sementara Frank menghubungi jasa antar makanan yang dipesan Clara kemarin.
"Loh kenapa pintunya terbuka?" Ervin setengah berlari setelah keluar dari lift.
Dia tidak melihat ada sekretaris di depan ruangan Clara.
Ervin mengintip dan melihat si sekretaris itu berada di ruangan Clara. Dia membersihkan sesuatu dengan tisu dan kain basah. Setelah itu dia membuangnya dalam kantong plastik hitam dan mengikatnya serta melangkah keluar ruangan.
"Apa sebenarnya yang dia lakukan? bukankah ada Cleaner servis yang membersihkan setiap ruangan?" Ervin bergumam seorang diri.
__ADS_1
"Hey supir baru! ngapain kamu di sana, hah?" sekretaris itu berkacak pinggang.
"Seharusnya aku yang bertanya, Mbaknya kenapa ada di dalam?" Ervin tidak mau kalah.
"Aku membersihkan kekacauan di ruangan ini. Bukankah kemarin kamu yang mendobrak pintu ini?" tunjuknya pada pintu tersebut.
"Bukankah ada Cleaning servis di kantor ini? seharusnya itu menjadi pekerjaan mereka," Ervin bertanya.
"Emh, itu sih karena mereka sedang banyak kerjaan di lantai bawah makanya belum sempat kemari untuk membersihkan ini semua," sekretaris itu menjawab.
"Kalau begitu sini kantong plastiknya Mbak! biar saya yang membuangnya," Ervin menawarkan diri.
"Nih ambil! jangan lupa buang di tong sampah," sekretaris itu pergi meninggalkan Ervin.
Ervin masuk, dia melihat ruangan itu masih berserakan. Pintu memang sudah ditukar dengan yang baru.
Ervin turun memeriksa tempat sampah yang masih berada di samping meja Clara. Dia membuka tutup tempat sampah tersebut namun tidak ada tanda-tanda Clara membuang bekas makanan di sana.
"Kalau tidak ada bekas makannya aku harus menyerahkan apa pada pak Frank, pasti nanti kena semprot," Ervin duduk sejenak di kursi Clara.
Dia memandang kantong plastik hitam di tangannya. Entah kenapa tangannya reflek membuka ikatannya.
Matanya terbelalak karena ada beberapa bungkusan makanan yang belum habis.
"Jangan-jangan ini adalah sisa makanan Nona Clara, tapi kenapa sekretaris itu hanya memungut sampah ini saja?" Ervin bertanya-tanya.
"Maaf mas, mas ini siapa? kenapa bisa berada di ruangan Nona Clara?" dua orang petugas kebersihan kantor memandangi wajahnya.
"Saya supir Nona Clara yang baru, silakan saja kalau mau membersihkan ruangan ini. Saya permisi dulu, saya sudah mendapatkan apa yang disuruh om Frank," Ervin tersenyum pada mereka dan pamit.
Ervin turun dan mencari keberadaan Frank
"Mbak Deli, om Frank dimana?" tanyanya.
"Pak Frank barusan saja keluar," Deli menjawab.
Ervin berterimakasih, dia lantas melangkah keluar dari kantor.
Ervin membuka pintu mobil, dia masuk dan menunjukkan kantong plastik yang ia bawa.
"Apa itu Vin?" Frank mengernyit.
"Ini bekas makanan Nona Pak, ruangan Nona sedang dibersihkan sekarang ini. Untunglah mereka belum sempat membuangnya," jelas Ervin.
"Baguslah, aku sudah mendapatkan nomor kurir yang mengantarkan makanan itu, ini alamat rumahnya. Dia sedang mengambil cuti dua hari," Frank memberikan sebuah alamat melalui ponselnya.
Ervin mengetik alamat lengkap di GPS tracker agar dia mengetahui arah jalan ke tempat itu.
Mobil melaju cepat, Ervin tidak sabar untuk mendapatkan keterangan si kurir.
__ADS_1
"Keadaan Nona bagaimana Pak? apakah dia sudah boleh pulang?" Ervin bertanya tanpa menoleh sedikitpun.
Dia masih fokus pada jalanan di depannya.
"Tuan bilang besok Nona bisa segera keluar dari rumah sakit," jawab Frank.
Ervin tidak menyahut, dia hanya mengangguk saja. Mereka berdua terdiam tanpa sepatah kata pun. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Satu jam lebih sudah berlalu, mereka sudah tiba di tempat tujuan. Keduanya keluar dari mobil dan melangkah ke rumah yang dituju.
"Rumah ini, nomer 23," tunjuk Frank.
Mereka berjalan dan mengetuk pintu setibanya di depan pintu.
"Ada apa ya Pak?" seorang pria paruh baya menyembulkan kepalanya. Dia tidak membuka pintu dengan lebar.
"Apakah benar bapak yang mengantarkan makanan ke perusahaan D Corporation kemarin siang?" tanya Frank tanpa basa-basi.
"Setiap hari saya mengantar makanan, barang atau orang Pak. Memangnya kenapa ya?" pria paruh baya tersebut bingung dengan pertanyaan yang Frank ajukan.
"Jawab saja Pak iya atau tidak!" Frank mulai menaikkan intonasi suaranya.
Ervin menahan lengan Frank, dia menggeleng perlahan.
"Begini pak ceritanya, Nona kami itu sekarang berada di rumah sakit. Jadi kami harus tahu apa penyebabnya. Makanya kami ingin memastikan bahwa bapak yang mengantarkan makanan kemarin siang di perusahaan," Ervin mengambil alih pembicaraan.
"Apa? keracunan? saya tidak tahu apa-apa Pak, sumpah. Saya hanya mengantarkan pesanan itu pada seorang wanita yang sedang duduk di mejanya, saya juga tidak tahu kalau itu makanan karena terbungkus rapi," kurir itu menjelaskan.
Frank mengambil ponselnya di kantong baju. Dia menunjukkan sebuah foto.
"Bapak menyerahkan pesanan itu pada wanita ini?" Frank menatap si kurir tanpa mengedip.
"Bukan, bukan dia Pak, saya yakin sekali," jawabnya.
Ervin teringat sesuatu, dia berbisik pada Frank. Frank kemudian menghubungi seseorang. Tak berapa lama ada pesan masuk di ponselnya. Frank kemudian menunjukkan sebuah foto lainnya pada si kurir.
"Yang ini bukan Pak?" tanya Frank.
"Nah iya, saya masih ingat dengan jelas kalau wanita ini yang menerima pesanannya," jawab kurir.
Frank dan Ervin mengangguk, mereka kemudian pamit dan kembali masuk ke dalam mobil.
"Awas saja kalau memang benar dia," Frank mengepal.
*
*
*Bersambung
__ADS_1