Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 58 Weekend Yang Mendebarkan


__ADS_3

Supir di rumah Clara naik ke rooftop dan memulai aktivitas sore. Setelah bergantian dengan yang lain, Ervin bisa makan malam dengan santai. Kali ini dia tidak punya jadwal jaga malam. Setelah dia masuk ke kontainer yang berada di rootop, pria itu langsung membuka amplop yang di berikan oleh majikannya. Kebetulan tidak ada orang lain selain dirinya di dalam kontainer itu.


Rasa penasaran yang tinggi membuatnya terburu-buru untuk membuka amplop tersebut.


Ervin membaca satu persatu syarat yang diberikan oleh tuan D. Matanya terbelalak tak percaya. Selama ini dia sudah salah sangka kepada majikannya. Entah kenapa pilihan Ervin jatuh pada lembar kedua dari isi amplop tersebut. Dirinya sangat yakin seyakin-yakinnya.


Ervin berusaha untuk tidur, namun rasa pegal karena jatuh berguling di tangga tadi membuatnya susah untuk memejamkan mata. Amplop tadi dia buka kembali dan membacanya sampai dirinya benar-benar hapal diluar kepala. Dia menggelengkan kepalanya berulang kali.


Ervin meletakkan kembali amplop tersebut di bawah bantalnya. Dia mencoba untuk menenangkan diri dan memejamkan mata. Semoga apa yang dipilihnya besok menjadi keberuntungan.


Clara yang kesakitan memanggil bibi untuk memijat badannya. Setelah makan malam, nona muda rumah tersebut tidak lepas dari si bibi. Pembantu tersebut tidak merasa terganggu malah merasa kasian pada nona mudanya.


"Duh non, masih sakit banget ya? Kenapa bisa jatuh sampai berguling-guling sih?" Tangan bibi masih bergerak memijat Clara.


Dia membubuhkan minyak gosok sebelum memijit.


"Bi, bau apa sih itu?" Clara menutup hidung.


"Bau obat gosok non, kalau pakai ini pegelnya cepet ilang," sahut bibi.


"Stop bi! Jangan pake minyak itu lagi. Aku mau muntah," Clara protes.


Bibi menutup botol minyak gosok tersebut. Dia kembali memijat lengan dan pinggang Clara sampai majikannya tertidur. Si bibi langsung keluar setelah Clara tidur nyenyak.


"Wajah nona mirip banget dengan nyonya Diana," Bibi menghela napasnya.


Wanita tua itu teringat pada nyonya besar yang punya rumah ini. Langkahnya mulai melemah tidak gesit seperti dulu. Dia kembali ke kamarnya dan berusaha untuk memejamkan mata.


Seminggu kemudian.


Hari weekend ini Clara sudah bersiap untuk pergi shopping. Dia berpakaian kasual dengan sepatu kets.


Ervin yang tengah berpakaian santai ala anak band terlihat keren di mata semua orang yang memandang.


"Kita berangkat sekarang non?" seperti biasanya senyum supir itu merekah.


"Iya, ayo berangkat!" Clara bersemangat.


Kali ini Clara duduk di depan di samping kursi supir. Ervin mengernyit heran dengan sikap majikannya.


"Lho, nona nggak salah duduk kan?" Tanya supir sebelum dia menutup pintu mobil.


"Nggak, aku pengen duduk di sini ajah," senyumnya simpul.

__ADS_1


Ervin mengangguk, pria itu kemudian beralih ke pintu sebelah tempatnya menyetir. Kendaraan sudah melaju di jalanan kota yang penuh dan berdebu. Jalanan begitu padat dan ramai karena semua orang yang libur bekerja ingin menikmati weekend mereka dengan cara bepergian. Tapi, tidak bagi Clara. Dia hanya ingin membeli beberapa barang yang sudah dia incar sebelum Ervin menjadi supir di rumahnya.


Di depan ada sebuah pusat perbelanjaan yang sangat besar dan mewah. Kendaraan masuk ke tempat parkir.


Ervin dan Clara keluar bersamaan.


"Non, tumben tidak menungguku untuk membuka pintunya?" Ervin mengerjapkan mata berulang kali setelah berada di depan Clara.


"Anggap saja hari ini kamu liburan. Jadi tidak perlu repot-repot melayaniku kecuali membawakan belanjaan aku pastinya," senyumnya lebar membuat hati Ervin terpikat.


"Kalau begitu, saya boleh libur juga nggak kalau memanggil nona? Saya ingin sekali-kali memanggil Clara," Ervin menatap manik mata wanita di depannya.


Clara berpikir sejenak, entah kenapa dia menyetujui permintaan supirnya.


"Hah? Yang bener non? Eh Clara maksudnya," Ervin harus menjaga image. Dia menormalkan kembali raut wajahnya yang tampak girang.


Kini wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi. Clara yang melihatnya hanya bisa menghela napas.


"Mulai lagi deh," keluhnya.


"Kenapa Ra?" Ervin mendengar gumaman Clara.


"Nggak ada apa-apa, ayo kita naik!" Clara menarik lengan Ervin.


Ervin yang tidak siap dengan jantungnya merasakan getaran aneh. Sejak kedatangan Ervin, lama-kelamaan sikap Clara berubah sedikit demi sedikit. Walaupun dia pemarah setidaknya amarah yang ada dalam dirinya lebih berkurang.


"Clara... pelan dikit ngapa sih?" badan Ervin yang biasanya segar bugar menjadi letih karena menemani Clara berbelanja.


Di tangan Ervin sudah ada beberapa goodie bag belanjaan majikannya. Siang hari sudah tiba, perut Ervin berbunyi nyaring.


"Pfftt, kamu udah laper ya sampe bunyi segala itu perut," Clara menahan ketawa.


"Iya Ra, kakiku letih, perut laper lagi," Ervin menyengir lebar.


"Kalau begitu kita makan dulu deh... ayo!" Wanita itu mendorong tubuh kekar Ervin.


Ervin sudah bisa menebak arah pikiran Clara.


Mereka berdua melangkah cepat masuk ke sebuah restoran Jepang.


"Kamu belum pernah makan sushi kan?" Tanya Clara.


"Tentu saja udah," supir itu keceplosan.

__ADS_1


"Benarkah?" Clara memicingkan mata.


"Maksud saya udah tapi di dalam mimpi Ra, hehehe," Pria itu menyengir lebar.


"Kalau begitu ayo kita pesan sushi ajah!" Clara memilih meja dan duduk dengan nyaman.


"Selamat," gumam pria itu.


Ervin meletakkan tas belanjaan di kursi samping. Dia kemudian duduk dengan tenang dan santai sambil bersender.


"Kamu mau pesan yang mana?" Tanya Clara sambil membuka buku menu.


"Kamu ajah yang pilihkan, aku tidak tahu mana yang enak diantara semua makanan itu," serunya.


Clara memesan beberapa menu makanan dan minuman. Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. Ervin tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dia menatap wajah Clara yang sepertinya tengah melamun.


Suara waiters mengejutkan keduanya. Mereka menoleh dan berterimakasih pada waiters tersebut. Keduanya terdiam kembali, Ervin canggung harus bertanya apa pada Clara untuk mencairkan suasana.


"Hem, enak," gumam Ervin lirih. Pria itu sengaja agar bisa mendapatkan perhatian Clara.


"Kamu suka?" Tanya Clara yang antusias.


"Suka, enak banget ini," Ervin tersenyum.


Tiba-tiba saja keduanya terkejut dengan asal suara yang sama sekali asing.


"Ervin, kamu di sana ya!" Seorang wanita seumuran dengan Ervin menghampiri.


Clara menelisik wajah wanita yang sedang berada di depannya.


"Wanita itu cantik, keturunan asing lagi," batin Clara.


"Kamu? Sejak kapan?" Ervin terkejut melihat seorang wanita yang duduk di kursi sebelah.


Wajah Clara cemberut melihat mereka berdua yang sepertinya sudah saling kenal. Seketika Clara malas untuk meneruskan makan sushi yang dia pesan.


"Kamu kenal dia?" Clara tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang dongkol pada wanita di sebelah Ervin.


"Tidak," jawab Ervin.


"Iya," sahut wanita itu bersamaan.


*

__ADS_1


*


*Bersambung


__ADS_2