
"Royan, kita harus mencari tahu keberadaan Royan dan mengikuti Frank dan Dendi!" Ervin berbisik di telinga karyawannya.
"Alamat begadang ini," gerutunya.
"Duit Jef, demi duit. Aku hitung lembur," Ervin menoyor kepala Jefrey.
"Auw, sakit bos. Tapi nggak apa-apa demi cuan," Jefrey menyengir lebar.
"Isi kepalamu itu duit mulu," sarkas Ervin.
"I love money Bos, punya pacar tapi kalau nggak ada duit rasanya hampa. Masak anak orang diajakin makan bakso pinggir jalan sepuluh ribuan?" Jeffrey membusungkan dada karena telah bangga menghargai wanita.
"Emangnya kamu punya pacar? Jomblo abadi masih menempel di keningmu!" Ervin menepuk kening karyawannya.
"Punya dong, pacar khayalanku yang cantik, seksi, dan mulus," Mulut Jef terbuka lebar sembari membayangkan.
"Nggak usah ngayal ketinggian, nanti jatuhnya sakit. Jatuhnya nggak nanggung-nanggung Jef, jatuh ke selokan, udah sakit bau lagi," Ervin menoyor lagi kepala Jefrey.
"Astaga manusia ogeb yang satu ini, aku sampai lupa kalau harus cepat pergi dari sini," Ervin memakai helm.
Dia menepuk Jefrey agar segera pergi dari sana, tanpa aba-aba sekuriti menekan tombol pembuka pagar. Si bapak geleng-geleng kepala seraya menahan tawa melihat perdebatan mereka yang kocak. Motor sudah berlalu pergi meninggalkan rumah Clara.
*** Rumah Malik
Malik bersandar pada dinding ranjang, dia mengaktifkan ponsel anaknya dan melihat isi di dalamnya.
"Mas, privasi anak sendiri malah di utak-atik," Elisa yang sedang memakai produk perawatan menoleh pada suaminya yang usil.
"Mas penasaran sama anak kita, apa aja yang ada di sini. Mungkin saja ada video anu," Malik berkata santai.
"Mas, sepertinya nggak mungkin anak kita mengoleksi video begituan," Elisa tak terima.
Malik membuka galeri foto dan video anaknya. Dia membuka satu persatu foto dan mengamati raut wajah dalam foto tersebut.
"Banyak banget foto anak itu. Foto mereka berdua juga ada." Malik memperhatikan foto bersama mereka.
"Raut wajah Ervin berbinar bahagia, beda sekali ketika berada di dekat kita. Raut wajahnya selalu aja judes dan angkuh," Malik bergumam.
"Mas ngomong apa?" Elisa mendekati suaminya.
"Ini foto Clara dan Ervin," Elisa tersenyum cerah.
"Anak kita ternyata bisa tersenyum dan tertawa lebar seperti ini. Selama ini kita tidak pernah melihatnya," Elisa merampas ponsel itu dari tangan suami.
"Balikin!" Malik meraih ponsel Ervin.
"Bentar mas! Aku mau melihatnya lagi," Elisa menatap foto itu lekat-lekat.
__ADS_1
Malik sudah malas dengan tingkah istrinya. Mendadak ponsel itu berdering kencang membuat mereka terkejut.
"Astaghfirullah," Elisa terlonjak kaget. Ponselnya tak sengaja di lempar ke muka suaminya.
Dengan sigap Malik menutup wajah dengan kedua tangannya. Dia menggerutu setelah ponsel itu teronggok di ranjang.
"Mau buat wajah gantengku ini tergores ya?!" Malik melotot pada si istri.
"Maaf mas, aku kaget banget. Makanya tadi refleks," Elisa menyengir lebar.
Ponsel masih terus berdering.
"Nomor siapa ini? Bukankah ini nomor baru yang aku berikan pada Ervin? Kenapa ada orang yang bisa menghubunginya?" Malik menatap layar ponsel.
"Angkat saja mas! Mungkin aja penting," Elisa hendak meraih ponsel dari tangan suaminya.
"Biar aku yang mengangkatnya!" Malik meng-klik tanda hijau.
["Ervin sayang, kamu kenapa susah dihubungi?"]
"Sayang, sayang. Siapa ini? Berani banget panggil sayang sama anak orang!" Malik membalas.
["Ini siapa?"]
"Aku papanya Ervin. Memangnya kenapa? Seharusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kamu tahu nomor ponsel anakku?" Malik berkata-kata ketus.
["Oh, calon mertuaku dong kalau begitu. Aku calon istrinya Ervin lho om."]
["Clara? Maksud om Clara mantan pacar Ervin ya? Tentu saja aku bukan Clara."]
"Jadi kamu siapa?" Cecar Malik.
["Aku Tania om, calon mantu idaman om. Papaku orang kaya, pengusaha garmen di Kota Surabaya."] Tania bersemangat menceritakan siapa dirinya.
"Ervin sudah aku jodohkan. Aku menjodohkannya dengan Jasmine. Kamu cari pria lain sana! Aku yakin kalau Ervin pasti ilfil sama kamu. Ganjen amat jadi cewek," Malik memutus panggilan begitu saja.
Elisa tidak bertanya banyak, dia yang sudah mengantuk langsung berbaring dan mencoba memejamkan mata.
"Dasar tua bangka, kenapa dia langsung matiin?" Tania meremas ponselnya geram.
"Kalian bawa wanita ini pergi dari sini! Buang kemana atau terserah kalian mau apakan dia!" Tania sudah tidak ada urusan dengan Clara.
Fakta baru terungkap olehnya.
"Kali ini aku akan melenyapkan Jasmine. Dia ternyata dijodohkan dengan Ervin.
Clara memberontak ketika mendengar ucapan Tania. Salah satu anak buah Tania menggotongnya dan meletakkan di bagasi mobil. Tangan kaki terikat, mulut tersumpal, mata ditutup dengan kain. Clara tidak bisa berbuat apa-apa. Salah satu anak buah Tania membuka tas yang ada di dalam mobil dia mencari-cari barang berharga di sana.
__ADS_1
"Woi, tancap gas! Ngapa bengong?" Pekik salah satu dari mereka. Yang berada di kursi kemudi segera melakukan mobil tersebut.
"Dompetnya banyak duit, ini bagianku," Pria itu mengantongi semua uang yang ada di dompet Clara.
"Hape ini bagianku, sini berikan!" Rebut salah satu dari mereka berdua.
"Kalian berisik banget! Bisa diam tidak?" Seru si sopir.
"Pokoknya semua itu harus kita bagi tiga!" Si sopir tak mau kalah.
Pria kedua yang merebut ponsel Clara menyalakan ponsel tersebut karena ingin tahu apa saja yang ada di dalamnya.
"Ponsel mahal ini, mereknya saja buah pir yang digigit," Pria tersebut mengamati ponsel Clara.
"Kita bawa kemana ini orang? Kita kerjain saja dulu sebelum dia kita habisin," Tawa terdengar jelas.
"Tentu saja, dia santapan lezat kita. Lihat saja badannya yang mulus," Pria satunya menjil*ti bibirnya seraya berpikiran kotor.
"Aku duluan yang akan mencicipinya, aku malas kalau udah bekas kalian," gerutu si pria cepak.
"Kita adu suit aja, yang menang dia yang pertama mencicipi badannya, gimana?" Seringai lebar terlihat jelas.
Pria yang memegang ponsel Clara menonton video yang menarik di sosial media. Dia tertawa terbahak-bahak melihat reaksi lucu seseorang di video tersebut.
Tak sampai setengah jam mereka tiba di sebuah gudang kosong dan sepi. Gelap tak ada penerangan sama sekali. Salah satu dari mereka bertiga menggendong badan Clara yang sudah tak bertenaga.
Di sisi lain Frank dan Dendi sudah berada di lokasi terakhir Clara di temukan. Mereka berpencar mencari CCTV di sekitar sana dan mengecek ke setiap rumah di sana. Tiba-tiba saja Frank mendapatkan sinyal GPS dari alat bantu yang dia bawa.
"Bos harus tahu tentang ini," Frank merogoh ponselnya dan segera menghubungi Dendi.
"Kenapa Frank? Aku tengah sibuk menonton hasil CCTV," Dendi tak sabar.
"Bos kemari sekarang! Kita berangkat sekarang juga!" Frank berucap mantap.
"Apa yang kamu temukan?" Dendi mengerutkan dahi.
Pria itu pamit pada si pemilik rumah dan mengucapkan terima kasih. Dia segera mengobrol dengan Frank kembali.
"Kita pasti akan menemukan Nona, bos. Kemarilah, kita berangkat sekarang!" Frank berlari menuju area parkir yang lumayan jauh. Mereka bertemu di sana.
*
*
*Bersambung
Clara diapain nih?
__ADS_1
Hukuman apa yang pantas untuk Tania?
Si Roy kenapa menghilang begitu saja?