
Ervin melangkah pergi, dia menoleh pada keributan itu sekilas.
"Kalian akan binasa! Aku tidak akan membiarkan Clara hidup bersama sekumpulan orang-orang kotor dan licik seperti kalian," tekadnya makin mantap.
Pria itu melihat Elisa dan Nissa yang sedang mengikuti seorang perawat.
"Mama? Kakak? Ngapain mereka kemari?" Dia menghampiri mereka dengan terburu-buru.
"Mam, kenapa ada di sini?" Ervin berjalan mensejajarkan langkahnya di samping si ibu.
"Papa kamu tiba-tiba saja jatuh dari tangga," Elisa menjawab, wajahnya sembab karena bekas air mata.
"Dimana papa mam? Kalian mau kemana?" Ervin merasa bersalah.
"Apa ini semua gara-gara aku?" Batinnya berkecamuk.
Nissa menjawab pertanyaan adiknya. Pria itu langsung berbelok di salah satu lorong rumah sakit dan menghampiri Kino si abang ipar.
"Mas Kino!" Panggilnya.
"Kamu tadi mas panggil tapi nggak noleh," gerutu Kino.
"Maaf mas, tadi aku nggak denger. Papa gimana keadaannya?"
Kino menjelaskan semuanya. Ervin mendengar perkataan Kino dengan takdzim. Tiba-tiba saja pintu ruang ICU terbuka lebar. Mereka mendorong brankar beroda Malik dan memindahkan ke ruangan perawatan.
Ervin memegang tangan ayahnya, melihat kondisi ayah yang seperti itu membuatnya terluka. Dia tidak mau kejadian lalu terulang kembali.
"Vin, kamu jaga papa dulu ya! Aku ke toilet sebentar," Kino pergi meninggalkan Ervin yang menemani Malik.
"Pa, maafkan aku! Cepat sadar dan kita pulang ke rumah!" Lirihnya seraya mengelus punggung tangan ayahnya.
Malam itu semua keluarga berkumpul di rumah sakit. Pria itu lupa tujuan awalnya untuk melihat informasi yang diberikan oleh Firda. Mereka bergantian menjaga Malik.
***
Keesokan harinya, Roy sudah bisa pulang ke rumahnya setelah beberapa hari dirawat. Tania dan si sopir bergantian menjaganya karena rasa bersalah mereka. Nasib baik Roy tidak melaporkan kecelakaan itu pada kantor polisi.
Setelah sadar dari pingsannya, mereka mulai berkenalan dan mengobrol. Roy dan Tania mulai berteman dengan lebih dekat.
"Syukurlah kalau hari ini kamu bisa pulang. Jangan lupa hubungi aku kalau ada waktu luang!" Tani tersenyum riang.
"Pasti. Tapi sayangnya untuk saat ini aku akan fokus mencari kerjaan dulu. Aku dipecat secara tiba-tiba dari pekerjaan yang lama," Roy terlihat emosional.
__ADS_1
"Sayang sekali di perusahaan papa sudah penuh. Oh iya, bagaimana kalau aku menghubungi Ervin. Dia punya apotek, kamu pasti bisa bekerja di sana," Tania mengambil ponselnya di dalam tas.
Roy mengerutkan keningnya. Dia masih mencerna perkataan wanita di depannya.
"Ervin? Ervino Prayoga?" Tanya Royan.
"Iya, dia itu calon suamiku," Tania tersenyum lebar.
"Hah? Sejak kapan? Aku tidak pernah melihat kalian jalan berdua," Roy tak percaya.
"Kamu kenal Ervin? Dimana? Kapan?" Tania mengurungkan niatnya.
"Tentu saja aku kenal, dia itu teman yang memanfaatkan kebaikanku. Aku dengan ikhlas bekerja di apotek miliknya, tapi kebaikan aku tidak dihargai malah di pecat tanpa adanya alasan yang tepat," Roy memanipulasi.
"Kasian sekali kamu," Tania berujar sendu.
"Aku sudah terbiasa diperlakukan secara tak adil. Kamu tenang saja! Aku pulang dulu ya!" Pamit Royan.
"Tunggu dulu!" Tania mengambil sebuah amplop dari dalam tas.
"Ini, buatmu! Maaf aku tidak bisa mengantar kamu pulang. Motormu ada di bengkel Repsol dekat sini," Tania menyodorkan apa yang dipegangnya pada Royan.
"Tidak usah, aku tidak apa-apa," Roya berpura-pura menolak.
"Sudah ambil saja! Anggap saja itu bantuan dariku," Tania tersenyum tulus.
Pria itu melambaikan tangannya. Langkahnya sudah berada di luar rumah sakit. Ada suara ponsel membuat perhatiannya teralihkan.
"Om Toni," ucapnya girang.
"Apa kabarnya om? Sudah lama tak bertemu," Roy antusias.
["Baik Roy, kamu sekarang dimana? Sudah ada kerjaan belum?"] Tanya Toni.
"Kebetulan nih," batinnya lega.
"Belum om, sudah seminggu lebih jadi pengangguran, heheh," cengirnya.
["Kalau begitu hari senin kamu pergi ke alamat yang nantinya om kirim ya! Ada kerjaan buat kamu di sana. Kamu baik-baik di sana! Om cuma mau bilang itu aja."]
"Benarkah om? Wah terima kasih banyak ya om. Rejeki nggak kemana nih," Royan sangat antusias.
["Kalau begitu semoga kamu betah di sana. Om tutup dulu telponnya, ada urusan lain."]
__ADS_1
"Iya Om," sahut Roy.
Telpon terputus, senyum Roy merekah sempurna.
"Akhirnya aku akan bekerja lagi. Bersabarlah bu, aku akan menyusul ibu dan pergi dari rumah," Pria itu berjalan di trotoar. Dia menoleh pada bengkel terdekat untuk mengambil motor yang sudah diperbaiki.
Dia sampai pada bengkel yang dimaksud Tania. Motor bekas kebanggaannya sudah siap digunakan lagi.
"Maaf mas, saya pemilik motor ini. Saya mau mengambilnya, tagihannya berapa ya?" Roy berpura-pura tidak tahu.
"Oh jadi mas pemiliknya? Tagihan sudah dibayar lunas oleh mbaknya, kalau nggak salah namanya mbak Tania," Ucap si montir.
"Ternyata dia jujur," batin Roy.
Roy mengambil motornya dan berterimakasih pada si montir. Dia langsung menyalakan mesin motor dan mengendarai motor tersebut ke tempat yang selama ini dia tinggal. Ya, pria itu tinggal di sebuah rumah kosong milik temannya yang berada di luar negeri.
Ervin pulang dengan kondisi bertanya, pria itu sengaja berlama-lama di rumah sakit bukan hanya untuk menjaga si ayah, tapi dia juga ingin memastikan keadaan kekasihnya. Frank dan tuan D bergantian menjaga Clara. Ketika mereka berdua disibukkan oleh urusan penting, Ervin menyelinap masuk ke kamar kekasihnya. Si bibi yang menyaksikan kejadian itu merasa sedih dengan keadaan yang menimpa mereka.
"Yang sabar ya mas! Bibi hanya bisa mendoakan hubungan kalian akan secepatnya direstui," Bibi melangkah pergi setelah melihat Ervin masuk ke kamar majikannya.
Ervin mengangguk mantap sebelum wanita paruh baya tersebut pergi meninggalkan dirinya.
"Ra, please bangun sayang! Ini aku," Ervin berbaring di samping Clara, dia meraih tangan Clara dan menciumnya lembut.
"Eumh," Clara bersuara lemah.
"Ra, ini aku. Bangunlah!" Ervin berbinar bahagia melihat respon kekasihnya yang selama dua hari tidak sadarkan diri. Selang infus masih terpasang di punggung tangannya.
Clara memicingkan mata, membiarkan cahaya masuk ke dalam mata sedikit demi sedikit. Dengan berat kekasih hati Ervin itu berusaha membuka mata.
"Sayang," Ervin bangkit dari tempatnya berbaring. Dia tidak ingin membuat kekasihnya sesak napas.
"Mas Ervin," panggil Clara pelan.
"Iya, aku di sini," Ervin mengelus kening kekasihnya dengan lembut.
Clara menangis dalam diam, Ervin memeluk tubuhnya yang tengah terbaring. Mereka berdua saling merindu karena beberapa hari tak bertemu. Tak ada ucapan yang berarti. Keduanya larut dalam kerinduan yang membuncah selama ini.
Bibi di luar sana melihat dua orang pria yang berjalan beriringan menuju ke arahnya.
"Duh mereka dateng, bagaimana ini mas Ervin yang masih di dalam," Bibi gemetar. Tangannya bergetar hebat, dia hendak membuka pintu kamar perawatan majikannya.
*
__ADS_1
*
*Bersambung