
Clara ragu menekan tombol hijau, tapi karena rasa penasarannya begitu besar, akhirnya ia pun menjawab panggilan tersebut.
["Clara! Ini aku sayang. Kenapa kamu susah sekali di hubungi?"]
Mulut Clara menganga, matanya melebar. Ia tak menyangka kalau Ervin selama ini menghubungi dirinya.
"Ngapain kamu nelpon lagi? Bukankah sekarang udah punya seorang tunangan?" Nada suaranya bergetar, namun Clara menahannya.
["Kamu sudah tahu kan, kalau aku tidak akan pernah mencintai Jasmine. Aku hanya mencintai kamu sampai kapan pun."]
"Bohong, semuanya bohong," Clara berusaha menyanggah agar hatinya tidak tersakiti lagi oleh pihak keluarga Ervin.
["Dengarkan aku! Besok aku tunggu kamu di tempat yang akan aku kirimkan alamatnya. Sekarang aku akan menjelaskan rencana ini padamu. Aku berharap kamu percaya padaku!"] Suara Ervin terdengar memohon.
"Apa maksudmu?" Clara merasa penasaran.
Ervin menjelaskan rencana yang dia susun untuk besok sore. Semuanya sudah dia hubungi agar membantu mereka berdua. Ervin dengan detail menceritakannya pada sang kekasih hati.
"Kamu gila Vin! Memangnya kita harus begitu apa? Sepertinya itu tindakan bodoh," Clara tak mampu menyanggupi permintaan Ervin.
["Please, hanya itu yang bisa kita lakukan. Tidak ada cara lain, kamu harus mengikuti langkah yang aku susun agar kita berdua bisa bersama kembali!"] Suara pria tersebut terdengar memohon.
"Entahlah, aku bisa keluar atau tidak. Daddy pasti akan mengikuti kemana pun aku pergi," sahutnya jujur.
["Hanya itu jalan kita satu-satunya. Setelah itu aku yakin kalau mereka tidak akan usil lagi tentang hubungan ini kedepannya."]
Tak ada jawaban, Clara berpikir keras. Lima menit berlalu, Ervin tidak mau melewatkan kesempatan ini. Dia terus menerus memanggil Clara.
Wanita itu mengembuskan napas panjang, akhirnya dia mengiyakan permintaan Ervin. Mereka akan berkerja sama agar rencana besok sore berjalan lancar.
["Aku tunggu di sana sayang! Aku sangat merindukanmu. Maaf kalau tidak bisa berbincang lebih lama, aku harus kembali."]
Panggilan terputus.
Clara memandang ponsel jadul seakan-akan melihat Ervin. Dia harus menyiapkan beberapa dokumen penting. Malam itu juga Clara berkemas dan memasukkannya pada tas selempang yang tergantung.
"Segini aja cukup, tinggal bawa uang tunai biar kartu kreditnya gak terlacak Daddy," gumamnya lirih.
Setelah selesai dengan persiapan, wanita berambut panjang mulai turun dan mencari keberadaan si ayah.
"Daddy masih di sini?" Clara menatap wajah ayahnya yang seperti orang kesepian.
"Kalian selalu saja meninggalkan Daddy. Mommy kamu ninggalin Daddy, si ular itu juga berusaha menyingkirkan Daddy. Tadi kamu ninggalin Daddy. Mungkin suatu saat kamu pasti akan ninggalin Daddy juga," Dendi menatap wajah anaknya.
Clara tersentak mendengar penuturan kalimat akhir dari si ayah. Hatinya merasa ragu untuk mengikuti rencana dari Ervin. Baru kali ini Clara merasa bersalah karena selama ini dia tidak pernah tahu isi hati si ayah.
Dia hanya tahu kalau ayahnya seorang pria yang tidak punya hati. Namun, sisi lain si ayah merasakan kesepian yang mendalam.
"Daddy, maafkan Clara!" Clara menghenyakkan bokong di sofa, dia duduk di samping si ayah dan merengkuh tubuh ayahnya. Mereka berpelukan lama.
***
Pagi menjelang siang.
Ervin sudah siap dengan semua yang dia rancang dari balik kamarnya.
"Tinggal mengarang cerita kalau aku harus keluar dari rumah ini," lirihnya sambil berpikir keras.
"Jasmine ... aku harus beralasan kalau pergi ke rumahnya," senyum lebar merekah sempurna.
"Vin! Cepat turun sayang! Makan siang udah siap," panggil si ibu dari depan kamar anaknya.
"Oke Mam," sahutnya seraya bersiap untuk pergi.
__ADS_1
Ervin menaruh suatu benda di sepatunya, dia harus bisa menyembunyikan apa yang akan dia bawa agar tidak ketahuan. Tas pinggang melekat di tubuhnya. Di dalamnya sudah tersedia beberapa berkas dan dokumen penting.
"Sorry mam, paβkali ini aku harus pergi demi kebahagiaan kami berdua. Jasmine harus dikorbankan perasaannya," Ervin tidak sabar lagi.
Pria berambut pendek mulai turun dari tangga. Ia mendekati meja makan di mana anggota keluarga yang lain sudah menunggu.
"Kak Nissa belum pulang?" Ervin menatap si kakak yang tengah sibuk dengan anak bungsunya. Sementara Kian si sulung duduk di samping Kino.
"Mereka harus menginap di sini selama tiga hari. Mama sudah tidak tahan karena kesepian," yang menjawab malah Elisa.
"Owh," tanggapnya singkat.
Ervin tak mau berlama-lama berbicara, ia duduk dengan nyaman dan mengambil makan siang secukupnya. Selesai makan, barulah dia meminta izin untuk bertemu Jasmine.
"Tumben," Malik mengernyit.
"Mau ngobrol aja sama dia pa," sahutnya enteng.
"Boleh aja sih, asalkan dua pengawal ikut. Kamu bebas kemana pun pergi dengan Jasmine," Malik memberikan syarat.
"Siap pa," Ervin santai.
"Ah, cuma dua pengawal doang. Itu mah kecil," batinnya.
Sudah jam dua siang, Ervin pergi diantar pak sopir dan dikawal dua orang pengawal. Dia pergi ke rumah Jasmine dan membawa masuk wanita itu ke mobil setelah mendapatkan izin dari orang tuanya.
"Memangnya ada apa sih Vin?" kali ini Mimi begitu antusias dan bersemangat.
"Ikut saja! Enggak usah banyak drama!" sahutnya dingin.
Sampai di sebuah pantai yang menjadi tujuan mereka, Ervin mengecoh si sopir agar menghentikan kendaraan. Dia berpura-pura pergi ke toilet. Semua orang menunggunya tanpa curiga sedikit pun karena sikap Ervin yang terlihat tenang dan dingin seperti biasanya.
"Kenapa Clara lama sekali? Apa dia tidak jadi datang?" Pria tersebut begitu cemas.
"Kamu dimana? Aku udah ada di pantai yang kita maksud. Sementara ini aku belum menghajar pengawal dan sopir papa. Lekaslah kemari!" serunya tak sabar.
["Ta-ta-tapi sepertinya aku ...."] Wanita cantik tak melanjutkan ucapannya.
"Apa? Kamu ragu? Atau kamu memang tidak benar-benar cinta padaku?" Ervin merasa frustasi.
Kalau begini rencana yang sudah dia susun hancur sudah kalau Clara tidak datang menyusulnya.
["Aku sudah berada di pantai, Daddy ada di belakang mobil yang aku kendarai sekarang ini. Aku bingung harus kemana."]
"Kamu pergi ke toilet sekarang juga! Aku menunggumu!" Ervin tak sabar.
Panggilan terputus, Clara menatap si sopir yang tak lain adalah Frank, orang kepercayaan si ayah.
"Om, aku sakit perut. Aku ke toilet dulu ya!" serunya mencoba bersikap biasa.
"Belum juga parkir ini mobil Non. Tunggu sebentar ya! Biar om antar ke toilet," kendaraan menuju arah toilet sesuai petunjuk.
Clara bergegas turun, ia melihat ke belakang. Langkahnya semakin cepat tatkala Frank mengikuti jejaknya.
"Mas Ervin!" panggilnya di pintu toilet pria.
Ervin yang mendengar suaranya langsung bergegas menghampiri.
"Bagaimana? Kamu udah siap?" tanyanya.
Clara mengangguk ragu, wajahnya menatap seorang pria di belakangnya.
"Kamu ngapain di sini? Pergi sana?" Frank mengusir Ervin. Pria itu berusaha menarik tubuh Clara, namun Clara menghindar dan berusaha menghampiri Ervin.
__ADS_1
"Sekarang!"
Ervin dan Clara langsung berlari kencang, mereka menuju laut dan menanjak tebing di atas sana.
Frank berusaha mengejarnya namun mereka sungguh cepat sekali berlari seakan dikejar oleh binatang buas.
"Tuan, nona dibawa kabur Ervin. Sekarang aku berusaha mengejar mereka." Frank menghubungi Dendi. Dendi langsung memanggil anak buahnya untuk menolong Frank.
Sisi lain, sopir, dua orang pengawal dan Jasmine sudah lama menunggu kedatangan Ervin. Namun, mereka sepertinya sudah tak sabar lagi. salah satu dari mereka menyusul ke toilet. Tapi, tak ada satu orang pun di sana.
"Kita kehilangannya, ayo cepat cari!" pengawal itu menghubungi rekannya.
Jasmine yang merasakan kejanggalan berusaha untuk mengikuti pengawal keluar dari kendaraan.
Ervin dan Clara mengatur napas yang memburu karena berlari dan menanjak.
Kita sudah berada di atas sini, di bawah sana tidak ada karang sama sekali. Laut juga begitu tenang. Kita tinggal menunggu mereka menyusul ke sini," Ervin berusaha berbicara dengan napas memburu.
Clara hanya mengangguk saja. Tak sampai lima menit beberapa orang memanggil mereka berdua.
"Ervin! Kembalikan anakku!" Dendi berteriak dari bawah tebing.
"Kami akan berdua selamanya. Walaupun sudah tidak ada di tempat ini lagi," Ervin menyeringai lebar.
"Mas, kamu yakin?"
"Yakin, kamu tenang saja!"
Jasmine menghubungi Malik setelah melihat kehebohan tersebut. Ternyata Ervin dan Clara sudah merencanakan pertemuan ini.
"Selama kalian tidak merestui hubungan kami, selama itu pula aku tidak akan pernah kembali lagi," teriak Ervin dengan lantang.
"Ervin! Turun!" panggil Mimi berlinang air mata. Baru semalaman dia merasakan kebahagiaan, tapi semuanya hanya semu belaka.
"Clara sekarang!" mereka berdua saling berpandangan.
Mereka bergandengan tangan dan melompat ke laut.
"TIDAAKKK!" Dendi dan Jasmine berteriak kencang.
"Clara anakku!" kaki Dendi bergetar hebat.
Jasmine menutup mulutnya, dia tidak menyangka bahwa mereka berdua akan melakukan aksi nekad tersebut.
"Panggil orang agar mencari keberadaan mereka di laut! Cepat Frank!" pekik Dendi tak sabar.
Ervin dan Clara berusaha berenang ke daratan, namun tiba-tiba ombak menerjang mereka berdua.
Genggaman tangan keduanya tidak terlepas sampai ada sebuah boat yang menghampiri.
"Bos ... semua sudah kami persiapkan," ucap si pengendara speed boat.
Ervin dan Clara berpandangan, mereka tersenyum lebar. Hari cerah menanti keduanya di tempat baru.
Tempat yang jauh dari orang-orang yang mereka kenal.
*
*
*TAMAT.
Akhirnya bersatu juga kan si Ervin dan Clara. Eits mau tau kelanjutan mereka berdua akan hidup dimana?
__ADS_1
Tunggu saja novel lainnya ππ Untuk sementara Hiatus dulu dari NT. Terimakasih banyak atas dukungannya selama ini ππ.