
"Kamu..." pekik mereka bersamaan dengan pandangan terkejut.
"Kapan kamu pulang?" Ervin menepuk celananya yang kotor.
"Kemarin pagi," jawabnya acuh.
"Oke, kalau begitu lain kali awas aja kalau sampai membuat tubuhku lecet," ia menuding wanita itu dan pergi meninggalkannya.
"Masih aja sombong dan gak mau meminta maaf atas kesalahan yang dulu," Jasmine kesal.
Ervin tak peduli pada Jasmine, ia berjalan menghampiri motornya dan mencoba untuk mengembalikan posisi motornya.
"Sial, berat banget sih ini motor," keluhnya.
"Gara-gara dia motorku jadi begini dan aku ketinggalan sebuah kejadian penting hari ini," ia menggerutu.
Ervin mencoba untuk menyalakan mesin motornya, setelah bisa menyala ia memakai helmnya kembali dan langsung mengendarai motor itu untuk pulang.
Di suatu rumah mewah kediaman salah satu sahabat Ervin.
"Gak biasanya dia telat begini apalagi kamu baru datang dari LA," ucap pria pirang.
"Mungkin dia gak mau ketemu aku lagi, kamu ingat kalau aku yang menyebabkan dia berantem dengan Jasmine?" ia menerawang.
"Alah, lupakan itu semua! kejadian lama gak usah diungkit dan dibahas bro," ia menepuk pundak sahabatnya.
"Kamu istirahat saja dulu sebelum bertemu teman-teman yang lain, nanti malam kita reuni di cafe Racer jam delapan malam," ia pamit untuk pulang karena hari sudah mulai gelap.
***
Ervin turun dari motornya, ia berjalan tertatih dan memaksakan langkahnya. Ia membuka helm dan masuk ke dalam rumah.
Elisa yang tengah berada di ruang keluarga melihat kedatangan anaknya. Netranya terbelalak melihat Ervin yang terlihat kesakitan dan berantakan.
"Ervin? kamu kenapa nak? kamu berantem sama siapa?" Elisa panik setengah berlari mendekati anaknya.
"Stop Mam! Ervin gak berantem, ini semua karena Jasmine jas hujan itu," ia berkata kesal.
"Jasmine? kamu ngigau sore-sore gini? Jasmine ada di Aussie sayang," ia mengelus rambut anaknya.
"Dia udah pulang dan karena dia menyebrang sembarangan aku jadi begini," pria itu sangat kesal.
"Owh, kasian sekali anak Mama," ia mengecup kening anaknya.
"Mama bisa gak sih kalau perlakukan Ervin itu seperti pria dewasa. Ervin bukan anak kecil Mam," ia mengusap bekas kecupan Elisa.
"Bagi Mama kamu tetap anak kecil yang Mama sayang," Elisa tak peduli.
"Minggir Mam, aku mau mandi dulu. Nanti malam aku pergi keluar bersama teman-teman lamaku," ia melangkah pelan menuju kamarnya.
__ADS_1
Elisa hanya bisa menggeleng melihat tingkah anaknya yang keras kepala.
"Ada apa sih ribut-ribut?" Malik keluar dari kamarnya.
"Itu si Ervin pulang-pulang udah kesel ajah," sahut istrinya.
"Owh, aku pikir kalian berantem," Malik pergi meninggalkan istrinya yang masih berdiri mematung.
"Assalamualaikum," suara salam di luar membuat mereka bersemangat.
"Anak kita dateng," Elisa menyambut Nissa dengan suka cita. Selesai bersalaman mereka masuk ke dalam rumah. Terlihat jelas perut Nissa yang membesar, ia datang bersama suaminya.
"Kalian nanggung amat sih datengnya, kenapa gak dari tadi pagi kemari?" Elisa protes.
"Mas Kino masih kerja tadi pagi Ma, makanya kami baru bisa datang sore ini," sahut Nissa.
Mereka semua duduk di sofa ruang keluarga, dan bercengkrama dengan santai sambil menunggu malam tiba.
Semua sudah bersiap untuk makan malam, sementara Ervin berdandan rapi ala pria metropolitan. Ia pamit pada keluarganya untuk pergi bersama teman-temannya.
"Pergi aja sana Vin! kalau bisa sih besok gak usah pulang sekalian," Malik berucap dengan nada menyindir anaknya.
"Oke Pa, Ervin pulang Minggu depan, bye all," ia melangkah meninggalkan mereka tak peduli tatapan mata ayahnya yang mendelik.
"Anak itu masih saja berulah," Nissa menggelengkan kepalanya.
"Mumpung masih muda, biarkan saja dia! bentar lagi kalau udah masuk dunia kerja pasti dia berubah," Elisa membela anaknya.
***
Ervin yang sengaja pergi dengan memesan taksi online akhirnya sampai di tempat tujuan. Ia masuk dengan langkahnya yang mantap, sepasang mata memandangnya dengan tatapan penuh arti.
"Ervin..." panggil seseorang ketika ia baru memasuki ruangan.
Ervin menoleh ke asal suara dan mendekati meja mereka. Semua orang yang hadir di sana hanya lima orang saja. Ia langsung duduk di kursi sebelah Edo yang baru datang dari LA.
"Lama di sana udah kayak bulek aja," ia meninju pelan dada Edo.
Edo pura-pura meringis kesakitan.
"Tampang aku masih lokal bro, cuma rambut ajah yang ganti warna," ia terkekeh kecil.
"Kalian pesan makanan aja dulu, setelah acara ini kita pergi ke markasku," Edo menepuk dadanya dengan bangga.
Mereka semua antusias dan mulai membuka buku menu. Semua mengobrol melepaskan kerinduan selama ini. Hampir lima tahun mereka belum pernah berjumpa lagi semenjak kelulusan dari SMP.
Sepasang mata tadi tertuju pada Ervin dan teman-temannya.
"Sayang... kok kamu bengong begitu sih?" pria di sebelahnya menepuk bahunya.
__ADS_1
"Gak apa-apa kok, ayo kita makan lagi!" ia tersenyum kecil sambil melirik ke arah Ervin.
Ternyata dia temenan dengan Edo, lihat saja nanti, aku akan membuat kamu menyesal Ervin.
Sekilas senyuman licik tergambar jelas di sudut bibirnya.
***
"Daddy... aku ingin cepat pulang ke Aussie lagi," rengek Jasmine.
"Tunggu Mommy lahiran barulah kamu bisa pergi ke sana lagi," Evans terkekeh.
"What?? jadi kalian memanggilku kemari hanya untuk itu? nyesel deh aku pulang," gerutu anaknya.
"Ada lagi yang lain dong," Evans tersenyum lebar.
"Apaan itu Dad?" Jasmine penasaran.
"Kita akan pulang kampung ke rumah Mommy, dia kangen sekali pada bapak dan ibu," Evans menoleh ke arah anaknya.
"Dimana itu Dad? sepertinya kalian tidak pernah membawaku kesana," wanita itu berpikir sejenak.
"Kamu pernah hidup di sana ketika bayi, setelah umur kamu 4 tahun, barulah kita semua pindah dan sampai sekarang kita belum pernah mengunjungi rumah itu lagi," Evans merenung dan mencoba untuk melupakan kejadian itu.
"Why Dad? please tell me!" mohon Jasmine.
"Itu karena kedatangan Pakde kamu sayang," ia mentoel dagu anaknya.
Fatma yang masih di kamarnya belum bisa bergerak bebas karena beberapa hari ini adalah tenggat waktu ia akan melahirkan. Jadi, ia tidak tahu bahwa Evans tengah bercerita pada Jasmine mengenai masalalu mereka.
"Pakde? aku punya pakde?" siapa sih dia?" wanita itu mengernyit.
Evans menghela nafasnya dengan panjang, sepertinya sudah waktunya ia menceritakan perihal Toni pada Jasmine.
"Panggil saja dia uncle Toni, anak pertama dan kakak satu-satunya Mommy kamu, ia pernah mendekam di penjara selama 5 tahun lebih karena berurusan dengan obat terlarang," Evans menjeda ceritanya.
Ekspresi Jasmine menjelaskan bahwa ia kecewa dengan sifat pamannya. Dia diam saja tak berani menyahut perkataan ayahnya.
"Waktu itu ia keluar dari penjara dan sudah tidak menyandang gelar tahanan lagi, dengan bangganya ia pulang dan beristirahat santai di rumah tanpa berbuat apa-apa, dia juga tidak bekerja, kehidupan di penjara tidak membuatnya kapok dan jera," Evans menerawang.
Jasmine menatap manik mata ayahnya, ia merasakan ada penderitaan yang tersisa di sana.
"Setelah kamu lahir, rumah nenekmu penuh kegembiraan. Mereka sungguh menyayangi kamu karena kehadiranmu membuat mereka bisa akrab dan harmonis kembali," Evans menjeda ceritanya lagi.
"Setelah itu..." Evans berhenti lagi dan menghela nafas panjang.
"Setelah itu terbersit niat jahat dibenak uncle Toni agar kamu....
*
__ADS_1
*
*Bersambung