
"Kamu siapa?" Frank memicingkan maa.
"Ini aku om, Royan!" Wajah Roy babak belur tak karuan.
"Tolong aku om! Ervin dalang semua ini. Ternyata dia yang menculik Clara," Royan berucap mantap.
"Hei ... apa maksudmu? Dasar b4j1ngan!" Ervin tidak terima.
"Benarkah itu Vin?!"
"Tentu saja dia boong om! Sejak kapan aku menculik wanita yang aku cintai. Aku malahan ingin selalu bersamanya, kalau aku menculik Clara, sama aja aku membuatnya menderita," napas Ervin masih memburu karena mereka baru saja selesai berkelahi.
"Royan! Ikut aku! Ervin kamu cari temanmu tadi! Sepertinya dia dibawa entah kemana sama dua orang," Frank memberitahu.
"Om, kenapa Ervin malah dilepaskan?" Kesal Royan.
Frank mendekati Royan, dia mendorong tubuh Roy dengan keras. Karena Roy sedang lemah setelah berkelahi, dia tidak bisa menjaga keseimbangan dan jatuh terjerembab ke lantai. Bokong Royan terpantul di lantai gudang.
"Aduh," Roy meringis kesakitan.
Frank menarik rambut Royan.
"Om! Lepaskan! Kenapa malah aku yang disiksa?" Roy tak terima.
"Kalau bukan kamu siapa lagi coba?" Frank beralih mencengkram kerah baju Royan.
"Kamu licik dan picik ya Roy! Toni salah mengirimkan orang sepertimu. Ternyata apa yang dikatakan teman Ervin benar, kamu itu manusia tak punya hati nurani," Frank menyeret Royan dengan paksa.
Pria dewasa itu menatap nyalang pada Royan yang dia seret. Sesampainya di luar gudang, Roy ditinju oleh Frank sampai pingsan.
"Mamp0s sana! Berani-beraninya menjadi dalang semua ini." Pria itu menahan emosinya.
Jeffrey diikat pada sebuah tiang, pakaiannya ditanggalkan kecuali segitiga bermuda yang masih menempel. Ervin menendang dua orang pria yang mengikat Jef dari belakang, secara bergantian. Pria itu bagaikan kuda pacu yang masih ada di lintasan. Tenaganya seakan tidak bisa habis.
Ke dua pria tadi mengaduh kesakitan. Mereka menoleh pada Ervin dan melotot tajam.
"Kamu akan kami habisi sekarang juga!" Tangannya mengepal erat.
Mereka berdua bertanding melawan Ervin. Perkelahian yang tidak seimbang karena dua orang lawan satu. Akan tetapi, itu tidak membuat Ervin menyerah. Pria itu bahkan bisa menghadapi keduanya dengan mudah.
Royan bersama satu pria yang pingsan di dalam sana, sekarang sudah berada di dalam mobil yang Frank kendarai.
"Bos, ambulans datang. Sebaiknya bos cepat bawa nona!" Frank menepikan ambulans di pinggir gudang tak jauh dari mobilnya.
Clara digotong masuk ditemani Dendi.
__ADS_1
"Frank, aku serahkan semua ini padamu. Jangan berikan ampunan pada mereka semua. Terutama Roy!" Perintah Dendi sebelum masuk ke Ambulans.
Frank mengangguk mantap.
Dia melihat Ervin yang babak belur, walaupun dia berhasil mengalahkan ke dua orang itu. Tak bisa dipungkiri kalau dia juga terkena bogem mentah mereka.
Ke tiga orang suruhan Tania dan Royan diikat dengan kawat tebal oleh Frank. Ke empat orang itu sudah tidak sadarkan diri. Ikatan Jeffrey dilepaskan oleh Ervin.
"Bos, bos tampanku tidak apa-apa?" Jeffrey yang pura-pura pingsan akhirnya bersuara karena mendengar suara Ervin yang memanggilnya.
Ervin menoyor kepala Jefrey dengan gemas.
"Kamu gimana sih Jef! Udah tampang pas-pasan, miskin, berkelahi juga gak tau. Pantesan aja jomblo sejati. Apa coba yang cewek lihat dari kamu!" Ervin berkacak pinggang di depan Jef.
Jef mengelus kepalanya yang nyeri.
"Bos nggak usah buka kartu gitu dong. Mana semuanya dibongkar," gerutunya kesal.
"Lagian nggak ada yang tau, kan cuma kita berdua di sini," Ervin menoyor lagi.
"Itu bos," Dia menunjuk Frank.
Ervin menoleh ke arah telunjuk Jef.
"Kalian berdua masuk! Kita kasih pelajaran mereka semua! Tapi kamu harus diobati dulu Vin!" Frank prihatin melihat penampilan Ervin.
"Clara ... Clara mana om?" Mendadak Ervin mengingat sesuatu yang penting.
"Nona dan tuan pergi ke RS. Ambulans yang membawa mereka," jelas Frank.
"Kenapa aku jadi pikun begini," Ervin tersenyum simpul.
Pria itu hendak masuk ke mobil yang sudah dibuka oleh Frank. Karena terlalu letih dan kehabisan tenaga, Ervin pingsan tak sadarkan diri sebelum masuk mobil.
Jeffrey refleks menangkap tubuh bos-nya.
"Bos pingsan pak. Gimana ini?" Jeffrey cemas.
"Pasti aku kena marah tuan besar," Jefrey ketakutan.
"Masukkan dia! Aku akan bawa dia ke RS terdekat. Kamu ikuti kami dari belakang," Frank mengendarai mobil dengan cepat. Jeffrey sibuk memakai pakaiannya, barulah dia mengendarai motor yang masih berada di luar gudang.
"Mampus, aku pasti dipecat tuan besar," batin Jef masih ketakutan.
Mereka tidak menemukan rumah sakit, tapi puskesmas. Ervin dilarikan ke sana dan mendapatkan pertolongan. Setelah satu jam, Ervin akhirnya sadarkan diri. Matanya terbuka dan melihat sekeliling ruangan dengan lemah. Bau obat yang menguar membuatnya mual. Jeffrey ada di samping brankar tengah bersandar di tembok. Matanya terpejam.
__ADS_1
"Jef!" panggil Ervin.
"Iya bos, bos sudah sadar?" Jef girang, ia bisa bernapas lega.
"Jef," panggil Ervin lirih.
"Kenapa bos? Ada yang sakit nggak?" Jeff memegang tangan Ervin.
"Jef, aku laper. Belikan makanan sana!" Ervin menepis tangan Jefrey.
"Kupikir ada yang sakit atau apa gitu, taunya laper." Jef dongkol, dia keluar begitu saja dari kamar perawatan Ervin.
Setelah membeli makanan, Jefrey langsung kembali ke kamar Ervin. Dengan lahap Ervin menghabiskan makanannya.
Jeffrey menelan ludahnya ketika melihat cara makan bos-nya.
"Jadi laper nih perut liat orang lahap makan," Jef mengusap air liur yang hendak menetes.
"Jef! Minumku mana?" Ervin melihat sekeliling, dia tidak menemukan botol minuman.
"Astaga lupa, maaf bos. Bentar ya!" Jefrey berlari menuju toko kelontong yang ada di samping puskemas. Dia cepat memberikan botol minuman itu pada Ervin.
"Om Frank mana?" Tanya Ervin setelah perutnya kenyang. Ternyata dia butuh asupan makanan karena tenaganya habis terpakai berkelahi. Kini badannya segar bugar. Dia berniat meninggalkan puskesmas tersebut.
"Bapak tadi pergi untuk menghukum penculik itu bos. Dan ini dari si bapak tadi," Jefrey menyerahkan sebuah kertas.
Ervin membacakan, dia tersenyum lebar.
"Kita pergi ke kantor Clara Jeff! Kamu tahu, kan? Dimana kantor itu?" Ervin menunjukkan kertas itu pada Jefrey.
Di sisi lain, Frank tengah menunggu kedatangan Ervin. Dia sudah berada di ruang penyiksaan bersama beberapa anak buahnya yang lain. Royan dan orang suruhan Tania di dudukkan pada sebuah kursi. Kaki tangan mereka diikat kencang. Mulut mereka di plester agar tidak menimbulkan suara yang berisik.
"Katakan padaku! Siapa yang menyuruh kalian? Tidak mungkin Roy punya uang untuk membayar kalian. Sebutkan siapa namanya!" Bentak Frank pada ke tiga orang itu. Anak buah Frank mengenal salah satu dari mereka Mereka adalah orang yang sanggup berbuat apapun demi uang.
Setelah mendapatkan jawaban, kini giliran Royan. Pria itu disetrum menggunakan tenaga listrik yang besar sampai badannya lemas tak berdaya.
Royan tidak bisa memberontak, kepalanya menggeleng terus-menerus hingga akhirnya tidak sadarkan diri.
"Tau rasa kamu! Siapa suruh bermain-main dengan nona kami," frank meludah di wajah Roy yang pingsan.
"Kalian berdua! Siksa mereka bertiga! Kalau baj1n94n yang satu ini bangun, panggil aku, mengerti!" Frank melangkah pergi.
"Bos," panggil salah seorang dari mereka.
Frank terbelalak ....
__ADS_1