Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 107 Keterlibatan Tania


__ADS_3

"Ampun ... jangan tembak aku!" Jefrey bergetar hebat ketika melihat seorang pria menodongkan senjatanya.


"Apa maksudnya ini?" Ervin berkacak pinggang pada kedua orang yang mereka kenal.


"Astaga kalian ... aku pikir pembunuh bayaran yang wanita ular itu sewa," ucap salah satu dari mereka. Senjata mereka turunkan kembali.


"Kalian berisik sekali!" Pekik Frank yang menghampiri mereka.


"Maaf om, ada Ervin sama ... entah siapa dia," ucap salah satu dari mereka.


"Cepat masuk Vin! Sebentar lagi akan ada orang lain yang menyusul kemari. Kalian! Cepat pintu kuncinya!" Seru Frank.


Ervin dan Jefrey masuk, anak buah Frank menutup pintunya dan langsung menguncinya.


Ervin mengitari ruangan, ada lima kursi yang berjejer. Satu kursi di jauhkan dari lainnya, mata wanita itu terpejam.


"Lho ... Kenapa dia ada di sini?" Ervin menatap Frank dan Wanita itu bergantian.


"Memangnya kenapa? Menurutmu kenapa dia ada di sini?" Frank malah bertanya balik.


"Entahlah om ... aku tidak bisa menebaknya," Pria itu mengendikkan bahu.


"Dia lah dalang dari semua ini. Intinya Royan dan dia bekerja sama untuk menculik nona," jelas Frank.


Mata Ervin terbelalak, dia melihat ke arah Tania dengan tatapan penuh amarah.


"Jadi, dia ikut campur dalam masalah ini?" Ervin mengepal tangannya.


"Begitulah," Frank bersedekap.


Setelah mendapatkan jawaban dari Frank, Ervin menghampiri Tania yang masih terpejam. Dia menendang kaki kursi sampai Tania terlonjak.


Dengan malas, Tania membuka mata perlahan. Ketika melihat Ervin, sorot matanya terlihat berbinar-binar bahagia. Mungkin yang ada di pikirannya, Ervin akan menolongnya untuk keluar dari tempat ini.


Ervin bersedekap, matanya menatap Tania dengan tajam seperti ingin menelannya hidup-hidup.


"Kamu ... kamu dalang dari semua ini!" Ervin menarik rambut belakang Tania.


"Kamu akan mendapatkan balasan yang setimpal. Tidak peduli dengan status keluargamu," Ervin melepaskan tarikannya pada rambut wanita itu.


Ervin meninggalkan Tania, dia melangkah mendekati daun pintu bersama dua orang lainnya.


Sementara Jefrey yang baru pertama kali berada di ruangan lembab itu, berkeliling mengitari seluruh isi ruangan. Dia melihat dua orang yang menelanjangi dirinya. Ide gila muncul di otak Jefrey ketika melihat orang itu.


"Kalian akan aku balas, siapa suruh macem-macem sama aku, Jefrey anak pak Suhadi," Bibirnya terangkat sebelah.


Jefrey membuka sepatu dua orang itu, kemudian ia menyibak baju yang dua orang itu kenakan.


"Rasakan ini!" Jefrey menggelitik kaki dan pinggang mereka bergantian.

__ADS_1


Kursi yang mereka duduki berguncang karena menahan tawa. Air mata di sudut kelopak mata terlihat jelas.


"Hahaha, awas aja kalian. Aku akan buat kalian mati ketawa," Jefrey mengulangi aksinya.


"Hei kamu! Ngapain kamu?" Frank menjitak kepala Jefrey.


"Aduh om, sakit tau om," Jef meringis menahan nyeri di kepalanya.


"Ngapain? Lagi bercanda sama mereka? Siapa yang nyuruh?" Frank berkacak pinggang.


"Aku lagi balas dendam om. Aku akan menggelitik mereka sampai mereka mati karena kebanyakan tertawa," Jef menatap Frank dengan serius.


"Mana ada manusia yang pernah mati tertawa? Ngaco kamu!" Frank menoyor kepala Jefrey.


"Om sama bos sama aja, sukanya maen jitak kepala orang." Jef kesal.


"Lagian kelakuan kamu aneh. Heran deh dulu ibumu ngidam apa," Frank meninggalkan Jef yang mulai kesal.


"Ibu aku ngidam makan genteng tetangga om. Mana makannya di atas genteng nggak mau turun," Jef teringat ucapan ibunya dulu.


"Pantes aja anaknya modelannya kayak kamu." Frank mencemooh. Dia tidak mau meladeni ucapan Jef lagi.


Ervin dan dua orang lainnya mendengar suara langkah beberapa orang. Mereka berpandangan, menajamkan pendengaran. Dua orang suruhan Frank saling menatap dan mengangguk bersamaan.


"Apa yang kalian rencanakan?" Ervin berbisik.


"Bukan urusanmu! Menjauh dari sini!" Seru salah satu dari mereka.


"Kalian siapa?" Tanya orang di depan pintu.


"Kalian pasti suruhannya bos Tania?" Tanya salah satu dari mereka.


Mereka berdua mengangguk mantap.


"Wah ... mana bos Tania? Aku ingin bertemu dan berbincang dengannya," salah satu dari mereka tersenyum lebar.


"Masuklah!" Anak buah Frank menyuruh ke dua orang itu agar masuk ke dalam ruangan penyiksaan.


"Rejeki nomplok," ucap anak buah Tania pada rekan kerja di sebelah.


Kedua orang itu masuk tanpa curiga sedikitpun, setelah berada di dalam dan melihat Tania yang terikat, kedua orang itu mengeluarkan senjata api dengan cepat.


"Kalian terlambat!" Frank menodong senjatanya pada dada kiri salah satu dari mereka.


"Sial, kita ditipu," rahang mereka mengeras.


"Buang senjata kalian! Atau aku akan --," Frank menatap mereka bergantian dan menodongkan senjata di kepala mereka berdua.


Terpaksa kedua orang itu menjatuhkan senjata. Ke dua anak buah Frank menghampiri dan mengikat mereka pada kursi yang ada di samping Tania.

__ADS_1


"Nah sekarang sudah lengkap, kalian bertujuh sebentar lagi akan dieksekusi," Frank tertawa mengejek.


"Aku tidak akan tinggal diam," suruhan Tania yang baru datang memberontak karena diikat. Mulutnya belum sempat di sumpal.


Frank memukul tengkuk mereka bergantian, kedua orang itu pingsan seketika setelah dipukul.


Mereka mulai menyiksa anak buah Tania.


****


Malik belum bisa tidur, dia membangunkan istrinya agar menemaninya begadang.


"Apaan mas?" Elisa memicingkan mata, suaranya serak khas orang bangun tidur.


"Temenin mas ngobrol! Mas nggak bisa tidur," Malik mengguncang tubuh istrinya.


"Jangan ganggu mas! Sana pergi ke kamar Ervin! Maen catur bareng atau battle game online. Sana pergi mas!" Elisa mengusir suaminya.


Dia memejamkan mata dan memeluk guling tanpa mempedulikan keinginan suaminya.


"Mas kan lagi berantem sama Ervin. Kenapa juga mau maen bareng dia," gerutu Malik.


"Uuh ... udah deh mas! Nggak usah gitu sama anak sendiri. Sana pergi aja! Aku mau tidur," rengek Elisa.


Terpaksa Malik beringsut dari tempat tidur. Dia melangkah dengan malas ke kamar anaknya.


"Vin! Papa nggak bisa tidur," Malik mengetuk pintu kamar anaknya.


Tak ada sahutan, dia mengetuk pintu lagi. Malik menempelkan daun telinga di daun pintu kamar. Tak ada suara apapun di dalam.


"Anak ini tidur apa mati?" Malik merogoh kantong, dia mencari kunci kamar di kantong piyama tidurnya. Dengan sekali putaran, kunci terbuka, Malik memutar kenop dan membuka pintu.


"Vin! Temenin papa maen catur!" Malik melangkah masuk. Dia menyingkap selimut di atas kasur anaknya.


"Astaghfirullah, kemana ini anak?" Malik mencari keberadaan Ervin sampai ke kamar mandi. Dia tidak menemukan anaknya di manapun.


Mata Malik menyusuri kamar anaknya, dia melihat gorden yang terlilit.


"Jangan-jangan itu anak kabur," Pria dewasa itu membuka jendela anaknya. Di bawah sana ada beberapa tali dan gorden yang terikat.


"Sialan, punya anak bandel banget," gerutu Malik.


Malik yang emosi mulai memegang dadanya. Dia berjalan perlahan keluar dari kamar Ervin. Malik menuruni anak tangga.


"Awas aja kalau aku bisa menangkapmu. Aku akan memberikan kamu pelajaran," Malik mencoba untuk menenangkan diri.


*


*

__ADS_1


*Bersambung


Maaf ya kak, mas, adek, mbak, om, tante, kalau novel ini telat update. Ada musibah yang menimpa keluarga. Jadi, mohon doanya agar kami sekeluarga mendapatkan keselamatan di manapun berada. Terimakasih banyak bagi yang sudah membaca dan bersedia menunggu novel ini. Lope-lope dariku untuk kalian semua yang tersayang 😘.


__ADS_2