
"Kamu mendapatkan benda ini dengan cara mencuri kan? ngaku saja kamu anak baru!" Frank memamerkan ponsel mahal yang tersembul dalam tas Ervin tadi.
"Owh itu ya Pak, itu ponsel temanku yang ingin dia jual tapi sayangnya aku belum menemukan pembeli yang pas," Ervin mencoba untuk tenang.
"Benarkah? seperti apa temanmu itu? coba kamu buka sandi ponsel ini!" pinta Frank.
Gimana inih? bisa gawat kalau aku buka sandinya, bisa-bisa penyamaran aku terbongkar. ( Ervin )
"Saya tidak tahu apa kata sandinya Pak. Lagipula ponselnya mati mungkin habis baterai," Ervin tersenyum simpul.
"Benarkah?" Frank menekan tombol power dan berhasil menyalakannya.
Dia melihat foto Ervin yang tersenyum di depan sebuah taman bersama seorang wanita paruh baya.
"Kenapa wallpaper hape ini make foto kamu? kamu merahasiakan sesuatu padaku?" Frank menatap Ervin intens.
"Sebenarnya itu karena dia--," belum selesai Ervin menjawab, istri tuan D memanggil mereka di depan teras.
"Kalian! kemari semua!" panggil wanita itu dengan gaya angkuhnya.
"Mengganggu saja wanita kasar itu," gerutu Frank dan melangkah menjauh.
Ervin merasa lega karena Frank sudah teralihkan dengan panggilan istri tuan D.
"Hampir saja ketahuan," Ervin mengusap dadanya dengan cepat.
"Ada apa Nyonya?" Frank dan yang lain menyahut cepat setelah berada di depan wanita tersebut.
"Dimana tuan kalian? aku tidak bisa menghubunginya," wanita itu jengkel.
"Kami tidak tahu, tadi dia bilang ingin pergi ke perusahaan," sahut salah satu bodyguard yang lebam.
"Dia tidak ada di perusahaan," wanita itu bersedekap.
"Tuan D berada di rumah sakit Nyonya," Ervin membuka suara.
"Rumah Sakit? siapa yang sakit? dia?" wajah wanita itu terkesan dingin.
"Nona Clara keracunan dan harus di rawat di sana," jawab Ervin jujur.
"Kalau begitu aku pergi dulu, kalian kembali ke tempat masing-masing!" suruhnya sambil mengibaskan tangannya.
Ervin menyambar hape yang dipegang oleh Frank. Dia kemudian tersenyum lebar ketika menatap Frank yang sepertinya geram padanya.
"Kurang ajar ini anak," gerutu pria paruh baya itu.
"Maaf Pak, aku harus memastikan ponsel ini baik-baik saja sebelum dijual," dia beralasan.
"Ervin! kamu bersihkan roortop dan mulai besok kamu harus tidur di atas sana seperti yang lainnya agar bisa bergantian menjaga rumah ini!" suruh Frank dan langsung melangkah meninggalkan Ervin yang tidak percaya dengan pendengarannya.
__ADS_1
"Runyam sudah, bagaimana bisa begini kejadiannya?!" Ervin menjambak rambutnya dengan rasa frustasi.
Ervin berjalan tidak bersemangat, dia harus ke atas sana dan membersihkan rooftop itu lagi. Di sana ruangan yang tertutup itu telah terbuka.
Suara langkah orang yang menaiki tangga besi itu terdengar jelas. Ervin menoleh pada sumber suara.
Dia melihat dua orang yang menjaga pintu belakang. Ervin sangat jarang sekali bertemu mereka karena dia tidak pernah tahu letak pintu belakang rumah ini.
"Hey anak baru! kamu bersihkan semuanya! jangan sampai debu masuk ke ruangan kita!" salah satu dari mereka berdecak malas.
"Baiklah," jawabnya singkat.
"Alasan apa yang harus aku katakan pada Mama dan Papa? pasti mereka akan berpikir macam-macam," Ervin melangkah lunglai dan memulai membereskan ruangan yang akan dia tempati.
"Mereka tidak rapi, sama sepertiku. Kamar sendiri ajah di bersihin si Mbok, eh ini malah beresin tempat orang," Ervin masih menggerutu.
Dia memulai pekerjaannya dengan santai. Akan tetapi, pandangan matanya melihat seorang wanita yang tengah memperhatikan gerak-geriknya.
"Ngapain sih tuh Nyonya," Ervin melihat sekilas.
Dia melangkah menghampiri Ervin yang tengah berkeringat. Baju Ervin sudah separuh basah.
"Hey anak muda! kamu tampan juga. Berapa usiamu?" tanya si nyonya rumah.
"Umur saya baru 25 tahun Nyonya," jawabnya santai.
"Tidak terlalu muda sih, kamu bisa menjadi brondongku yang terakhir," dia mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
"Maaf Nyonya, saya sudah punya pacar dan dia seumuran dengan saya," jawab Ervin tanpa menatap majikannya.
'Gilak sih, ini orang udah tua tapi suka amat sama brondong,' batinnya geli.
"Tidak mengapa walaupun kamu punya pacar. Yang aku butuhkan hanya itu," dia menghampiri Ervin dan menunjuk pada benda diantara paha.
"Astaghfirullah Nyonya, saya ini masih--," Ervin tidak melanjutkan ucapannya, dia tidak menyadari tangan wanita itu yang sudah mengelus rambutnya yang setengah basah.
"Kamu membuatku penasaran," wanita itu tersenyum menggoda.
"Maaf Nyonya, saya harus mengerjakan tugas ini dengan cepat," Ervin mengelak dari gapaian tangan majikannya.
"Kalian berdua sedang apa? ada pesan dari tuan D untuk Nyonya," Frank menatap mereka dengan tatapan curiga.
"Apa pesannya?" wanita itu memasang wajah datar.
"Ponsel Anda sepertinya tidak aktif, tuan D ingin membahas sesuatu yang penting dengan Anda," Frank menatap tajam Ervin sekilas.
"Hem, begitu ya. Aku pergi dulu," wanita itu melangkah menuju sebuah pintu yang hanya bisa di akses dari dalam rumah. Terdengar dia mengunci kembali pintunya dari dalam.
"Ngapain kalian tadi?" Frank curiga.
__ADS_1
"Kami tidak berbuat apa-apa Pak, Nyonya hanya sedang menyuruh saya untuk cepat bekerja," alasan Ervin.
"Benarkah? tapi sepertinya kamu sedang menyembunyikan sesuatu," Frank menatap pria itu dengan memicingkan mata.
"Tidak Pak! percayalah padaku," Ervin masih mengelak, tangannya masih berusaha membersihkan ruangan tersebut.
Keduanya terdiam setelah beberapa lama, Frank duduk di kursi yang biasa digunakan untuk nongkrong di sana setiap malam.
"Kenapa dengan Nyonya? sepertinya dia mulai tertarik dengan Ervin," Frank berpikir keras.
"Anak itu memang tampan dan gagah. Namun sayangnya nasib baik tidak berpihak padanya. Nasibnya menjadi orang miskin," Frank terkekeh.
Satu jam kemudian, Ervin sudah selesai dengan tugasnya. Ruangan itu bersih walaupun masih ada beberapa tempat yang tidak rapi.
"Pak, aku akan beristirahat sejenak kemudian pergi makan siang," ucapnya pada Frank.
"Ngapain makan siang di luar? semua orang tuan D harus makan di sini. Memangnya uang kamu banyak?" Frank mencibir.
Ervin terdiam, dia menunggu ucapan lanjutan dari Frank.
"Turun dan makanlah bersama kami di taman samping! di sana tempat makan bagi pekerja tuan D," Frank melangkah menuruni tangga.
"Baiklah kalau begitu," gumam Ervin santai.
Badannya sudah berkeringat, tenggorokannya kering kerontang. Lapar melanda perutnya karena dia tidak sempat sarapan. Apalagi tadi sudah berkelahi dengan beberapa orang.
"Mas supir, ini makanan untukmu!" si bibi memberikan sebuah kotak makan tanpa tutup pada Ervin.
"Kenapa banyak sekali Bik?" Ervin tidak mengerti.
"Tadi Nona bilang kalau saya harus menyiapkan makan siang yang banyak untuk kamu," bibi tersenyum tulus.
"Jadi Clara... eh maksud saya Nona udah sadar dari pingsannya?" Ervin mengerjapkan mata berulang kali.
"Iya, Nona sudah sadar dan menelpon tadi," si bibi pamit dan kembali masuk ke dapur.
"Clara, perhatian juga kamu," Ervin bahagia.
Terdengar suara benda keras yang terjatuh, Ervin meletakkan kotak makan tadi ke atas meja di depannya. Dia berlari menghampiri suara itu.
"Kenapa kalian malah begini?"
Ervin memutar mata dengan malas melihat...
*
*
*Bersambung
__ADS_1