
Baru kali ini Ervin melihat nonanya bertengkar di depan umum bahkan dengan orang yang tidak dikenalnya.
"Non ... udah non, minta maaf aja setelah itu kita pergi dari sini," seru Ervin gelisah ketika melihat ibu dan anak di hadapannya.
"Mas ... kasih tahu tuh ceweknya kalau salah harus minta maaf bukannya ngatain!" Kesal ibu tersebut.
"Kalau begitu saya yang meminta maaf mewakilinya," Ervin tersenyum.
"Kamu nggak usah ikut campur deh Vin!" Clara malah melotot tajam pada supirnya.
Ervin menarik tangan Clara dan mendekap tubuh wanita itu.
"Maaf ya bu, dia baru saja keluar dari rumah sakit jadi emosinya belum stabil," Ervin setengah menyeret badan Clara yang memberontak.
Ibu dan anak itu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan mereka berdua.
"Anak jaman sekarang emang nggak punya malu. Di mall banyak orang seperti ini bisa-bisanya berpelukan seperti itu," si Ibu mencibir Ervin dan Clara yang mulai menjauh.
"Lepaskan!" Pekik majikannya.
Setelah jarak mereka sudah jauh, barulah sopir itu melepaskan pelukannya. Mereka menjadi bahan tontonan orang-orang yang berlalu-lalang.
"Nona kenapa nggak sopan begitu?" Ervin mendecak, tangannya dilipat di dada.
"Apa urusannya denganmu, Hah?" Clara tak mau mengalah.
Tiba-tiba saja sebuah tepukan halus membuat Ervin terlonjak. Spontan dirinya menoleh pada orang yang menepuknya. Sementara Clara hanya diam saja dan malas berbicara dengan sopir itu lagi.
"Ervin ... kamu nggak mau pulang ke rumah? Siapa dia?" Tanya seseorang yang sedang memperhatikan mereka berdua.
"Dia ..." Ervin tercekat tak mampu berucap lagi.
"Mas Malik!" Pekik seseorang yang memanggil namanya.
Sontak Malik menoleh dan melihat Jasmine beserta istrinya berjalan mendekati.
"Ervin," Elisa memekik dan menghamburkan dirinya pada sang anak.
"Mama kangen sekali padamu nak," Elisa mendekap tubuh anaknya erat.
"Mama?" Wajah Clara menelisik wajah dan penampilan wanita paruh baya yang memeluk sopirnya.
"Kamu tuh kalau ganti nomor kasih tahu Papa dan Mama dong!" Elisa mengacak rambut anaknya.
"Ih mama," Ervin mulai bete.
Tiba-tiba dia teringat sesuatu, Clara si nona mudanya.
Ervin berbalik dan mendapati majikannya itu terheran-heran dengan kehadiran tiga orang yang berada di hadapannya.
"Maaf aku harus pergi!" Ervin terburu-buru. Sopir itu menarik lengan Clara yang terdiam mematung.
Wanita itu tersadar dan menepis lengan Ervin.
"Siapa mereka Vin? Kenapa ibu itu bilang mama dan anak?" Clara berhenti melangkah.
__ADS_1
Elisa yang masih merindukan anaknya mengikuti langkah Ervin. Malik hanya bisa memanggil si istri. Sementara Jasmine hanya bungkam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tapi, diraut wajahnya terlihat begitu menahan emosi. Tangannya mengepal kuat.
"Ervin! Kamu tuh gimana sih, bukannya mengobrol malah pergi begitu saja!" Elisa menepuk kepala anaknya saking kesalnya.
"Sakit mam," pekik Ervin spontan.
"Siapa dia nak?" Elisa baru menyadari bahwa ada seorang wanita yang berada di samping anaknya.
"Dia pacarku, cantik kan?" Ervin memeluk pinggang Clara, tubuh mereka berdempetan.
Clara berusaha melepaskan diri, namun tenaga Ervin begitu kuat.
"Sebenarnya siapa dia Vin? Sedari tadi kamu menghindari kami," Malik mulai berbicara lagi.
"Duh, bagaimana ini? Apakah aku harus jujur pada mereka semuanya?" Batinnya ragu.
"Ayo kita ke foodcourt! Kita berbincang di sana!" Ajak Malik.
"Tapi Pa ... aku terburu-buru," Ervin enggan.
"Turutin kata papa, Vin!" Malik berkata tegas.
Ervin memasang tampang malas. Mau tak mau dia mengikuti kemauan si papa.
Elisa menggandeng Clara yang terpaku. Senyumnya seperti tidak ikhlas. Clara yang penasaran dengan mereka tentu saja menurut.
"Tante, om, Mimi pulang duluan ya! Ini buat Ervin! Mimi lupa kalau ada janji dengan teman," Jasmine memberikan sebuah kantong belanjaan pada Elisa. Kemudian dia langsung berlari menjauh dari eskalator yang akan mereka naiki. Tetesan air bening menetes membasahi pipinya yang mulus. Hidungnya mulai memerah.
"Jadi dia itu beneran pacar kamu Vin," lirih Jasmine sambil terisak pelan. Wanita itu mengusap air matanya agar tak menjadi pusat perhatian orang yang berlalu lalang. Jalan Jasmine semakin dipercepat.
"Seperti yang dia bilang ma, ada janji dengan temannya, mungkin saja itu pacarnya," Ervin menyahut.
"Kalian ini kalau tidak berdebat bisa nggak sih? Ayo kita ke atas!" Ajak Malik yang sudah tidak sabar mendengarkan penjelasan dari anaknya.
Mereka berempat melangkah naik ke eskalator.
Setelah memilih restoran yang tepat dan lebih privat, mereka masuk begitu saja dan memesan ruangan VIP di sana. Mereka diantar ke ruangan yang baru saja dipesan. Ervin dan Clara duduk bersebelahan, sementara Malik dan Elisa duduk di seberang meja.
"Jelaskan pada kami! Apa maksudnya ini?" Malik membuka percakapan. Kecanggungan itupun mulai mencair.
"Jelaskan apa lagi Pa? Kan Ervin sudah bilang kalau Clara ini pacarku," Ervin berusaha santai.
Clara menoleh padanya.
"Sembarangan! Aku ini majikan kamu Vin," Clara melipat tangannya di dada, wanita itu tidak terima dengan penjelasan si sopir.
Orang tua Ervin saling berpandangan dengan raut wajah tak mengerti dengan apa yang diucapkan wanita di depannya.
"Apa maksud wanita itu Vin?" Malik meminta penjelasan.
Suaranya mulai meninggi.
"Sabar mas!" Elisa menepuk punggung suaminya.
"Sebenarnya ... " suara Ervin tercekat, dia tidak bisa menjelaskan semuanya dengan jujur.
__ADS_1
"Sebenarnya begini Ibu dan bapak, Ervin ini bekerja sebagai sopir di rumah saya. Jadi wajar 'kan kalau saya bilang kalau saya ini memang majikannya," Clara masih bersedekap. Matanya kemudian beralih menatap Ervin dengan tajam.
"Apa? Sopir? Apa maksudmu? Dia ini bekerja di tiga cabang apotek kepunyaannya sendiri. Kami ini keluarga berada. Apotek kami sudah ada dimana-mana kenapa dia bisa menjadi seorang sopir?" Malik berkata dengan nada sedikit tinggi. Suara baritonnya terasa lebih dingin.
Clara yang mendengarnya pun tersentak. Dirinya tak menyangka bahwa Ervin adalah seorang yang kaya raya. Tapi, yang ada dipikirannya kini adalah kenapa Ervin mau menjadi sopirnya?.
"Terus kenapa dia bisa bekerja sebagai sopir di rumah saya pak?" Clara mengernyit.
"Kalau dia memang orang kaya seharusnya dia bekerja di Apotek yang orang tuanya punya dong," ucap Wanita itu lagi.
"Jelaskan sekarang juga Vin!" Malik mulai emosi.
Dia tidak terima kalau anaknya dianggap sebelah mata oleh wanita di sampingnya tersebut. Apalagi, wanita itu diakui Ervin sebagai pacarnya.
Ervin menatap mereka bergantian, kemudian dia berusaha mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.
"Begini lho Mam, Pa ..." Pria itu menggantung ucapannya.
"Cepatlah Vin!" Elisa semakin tak sabar.
Terdengar suara ketukan pintu yang membuat perhatian mereka teralihkan. Semua orang menatap pada pintu yang tertutup.
"Selamat," batin Ervin bernapas dengan lega.
*
*
*Bersambung
*
π Give Away Alert π
π£οΈDimulai tanggal 02-01-2022 pukul 23.00 WIB
π£οΈ Berakhir tanggal 16-01-22 pukul 22.59 WIB
π£οΈ Caranya dengan like tiap chapter, komen tiap chapter, favorit, rate β 5, vote dan gift sebanyak mungkin.
Pemenang ditentukan oleh banyaknya dukungan dari pembaca. Ranking mingguan dua kali berturut-turut di nomor 1-3 dalam peringkat.
Hadiah utama
π» Pulsa 50k (Bisa diganti saldo dana atau token listrik PLN) pilih salah satu.
π» Pulsa 25k (Bisa diganti saldo dana)
π»Pulsa 10k plus 300 poin.
π» Dua komentar terbanyak dan terpilih akan mendapatkan pulsa masing-masing 10k.
π Pengumuman pemenang akan diumumkan pada tanggal 17-01-22.
Dukung terus novel yang berjudul NONA, JADIKAN AKU SUPIRMU!!
__ADS_1
Semoga beruntung yang ikutan Giveaway πππ.