
"Lepaskan pa! Kenapa jadi begini? Clara itu wanita yang aku cintai," Ervin meronta dan berusaha lepas dari pegangan tangan papanya.
Tamparan keras mendarat di pipi Ervin, Pria itu terkejut karena baru kali ini tangan si ayah melayang di pipinya.
"Mas," Elisa melerai mereka berdua.
"Masuk atau papa cabut semua akses kartu kredit kamu!" Ancam Malik.
"Nggak mau," Ervin bersikeras.
"CLARA! KELUAR RA!" Teriak Ervin.
"Kino! Seret ini anak masuk ke mobil!" Malik yang emosi seolah mempunyai kekuatan untuk menarik anaknya yang masih muda.
Menantunya itu menuruti keinginan mertuanya. Ervin berhasil dipaksa masuk ke mobil. Mobil meluncur dengan cepat karena Malik sendiri yang menyetir.
"Mas, istighfar! Kino, ganti kamu ajah yang nyetir! Biar papamu menenangkan dirinya dulu," seru Elisa khawatir.
Mobil berhenti sejenak, Malik mencoba menenangkan diri dan berganti posisi dengan Kino. Pak sopir ada di bagian belakang mobil, pria tua itu merasa kebingungan karena acara tersebut batal. Ervin yang semula berontak akhirnya terdiam setelah Elisa menenangkan dirinya.
Sementara Clara yang diseret ayahnya agar masuk ke kamar terus-menerus berontak dan berteriak.
"Daddy jahat, kenapa dengan papanya mas Ervin dad? Mereka baik sama Clara," pekik Wanita itu.
"Diam kamu! Kamu jangan pernah bertemu anak pengkhianat itu!" Setelah sampai di depan kamar anaknya, tubuh Clara didorong masuk oleh ayahnya dan tuan D menguncinya dari luar.
Firda yang tidak mengerti berusaha untuk mengambil hati suaminya.
"Ceritakan padaku Di, siapa orang tua Ervin sebenarnya?" Bujuknya.
"Kamu tidak perlu ikut campur dalam urusan ini!" Suaminya berkata lantang dan meninggalkannya masuk ke ruangan kerja miliknya.
"Lihat saja Di! Sebentar lagi gudang barang produksi akan aku binasakan," gumamnya sambil tersenyum licik.
Firda mengambil ponselnya di atas meja di ruang tamu. Dia menghubungi seseorang yang sedang menunggu diberikan perintah.
__ADS_1
"Bagaimana? Kalian siap?" Tanyanya.
["Tentu saja siap bos, sekarang kami sudah berada di lokasi. Kami siap menyerbu masuk setelah mendapat instruksi."]
"Bagus, sekarang juga kalian serang! Barang baru itu harus aku miliki semuanya," Firda menyeringai lebar.
Setelah berbincang dengan orang suruhannya dia memutuskan panggilan begitu saja.
"Kita lihat saja Dendi, sebentar lagi hari kehancuranmu akan tiba. Harta milik Diana sebentar lagi akan berpindah atas namaku. Hahaha," Firda tertawa puas.
Sepasang mata menatap pundak Firda yang berguncang karena tertawa. Dengan cepat dia melangkah kembali ke dapur dan menutup mulutnya karena tak percaya dengan apa yang didengar dan dilihatnya barusan.
"Wanita licik, pantas saja akhir-akhir ini dia berubah menjadi sosok wanita yang penurut. Ternyata ini rencana yang sudah dia susun," Bibi melangkah mencari seseorang.
Wanita tua itu tergopoh menghampiri Frank di kursi malas yang berada di taman. Frank terlihat frustasi.
"Frank, aku ada informasi penting untukmu," Bibi menepuk pundak Pria di depannya.
Frank menghela napas panjang dan berat. Dia menyayangkan acara hari ini gagal total. Padahal tadi dia salah satu orang yang bersemangat dengan acara ini. Pria itu menoleh pada bibi dengan malas.
"Memangnya Informasi apa bi?" Tanyanya tak menanggapi dengan serius.
Ekspresi Frank melotot dan mengepalkan tangannya dengan kuat. Dia spontan berdiri dan pergi menghampiri semua anak buahnya satu per satu. Frank hanya menyisakan satu orang untuk menjaga rumah ini. Mereka semua masuk ke mobil bergantian agar tak dicurigai oleh Firda.
Dendi yang ada di ruang kerjanya tak menyangka akan bertemu dengan Malik di kota ini. Dulu, waktu di Lampung mereka tidak pernah bertemu lagi semenjak dirinya di penjara. Kini mereka berdua bertemu kembali karena anak-anak mereka saling jatuh cinta.
"Malik, aku tidak akan pernah mengijinkan anakmu mendekati anakku lagi. Aku tidak mau anakku mempunyai mertua seorang pengkhianat sepertimu," Dendi begitu geram. Dia mengacak rambutnya karena frustasi.
Clara yang berada di kamar mencoba untuk menghubungi kekasihnya. Mereka sempat berbincang sebelum Malik merebut ponsel anaknya dan berbicara pada Clara.
"Hei kamu anak pria berandalan! Jangan pernah lagi menghubungi anakku. Kamu dan ayahmu itu sama saja, mengerti?!" Malik memutuskan panggilan begitu saja. Ponsel Ervin dia matikan dan mengeluarkan kartu di dalamnya serta terus membuangnya keluar jendela mobil begitu saja.
Ervin sudah hilang kesabaran, namun ibunya menggenggam tangan anaknya itu agar tak bertindak seenaknya.
Clara menangis dalam kamarnya, wanita itu menggedor pintu kamar berulang kali sampai tenaganya habis. Dandanannya luntur karena air mata yang terus mengalir. Gaun yang dipakainya kusut tak licin lagi seperti semula.
__ADS_1
Ervin merindukan kekasihnya, dia tak menyangka bahwa semua akan kacau balau seperti ini.
Sesampainya di rumah, Ervin langsung meminta penjelasan pada ayahnya.
"Daddy, kenapa bisa seperti ini? Ada apa dengan kalian? Kalian saling kenal karena apa? Kenapa kalian saling bermusuhan?" Ervin menggeram, mulutnya tak berhenti untuk bertanya hal-hal yang tidak dia ketahui.
"Kamu tidak perlu tahu tentang Dendi! Yang kamu harus tahu bahwa kamu tidak akan pernah lagi bertemu dengan anak pria terkutuk itu," wajah Malik memerah menahan emosi diri.
"Mas, sebaiknya kamu masuk ke kamar! Ayo aku temenin!" Elisa menuntun suaminya, dirinya khawatir dengan emosional suaminya yang meledak-ledak.
Nissa mencoba mengingat siapa Dendi sebenarnya. Namun dirinya tetap tidak bisa mengingatnya. Dulu sepertinya dia pernah kenal dengan orang yang bernama Dendi.
"Duduk dulu dek! Biarkan semuanya reda! Nanti kalau mereka sudah tidak emosi kita bisa bicarakan ini baik-baik," Nissa merengkuh Ervin, pria itu memeluknya erat seakan sedang butuh sandaran.
Kino mematung masih belum paham dengan semuanya. Kian mendekati kakinya dan memeluk erat.
"Pa, Kian takut sama eyang. Eyang galak," bisik bocah berusia sekitar empat tahun itu.
Kino menatap anaknya dan menggendongnya serta membawanya ke dalam kamar. Adik Kian masih tertidur pulas ditemani bibi di ranjangnya.
"Sebenarnya ada apa mas Kino? Kenapa kalian sudah pulang?" Bibi yang mendengar sayup-sayup suara perdebatan anak dan ayah tadi merasa penasaran.
"Entahlah bi, aku juga tak mengerti. Aku titip Kian dulu ya bi! Aku dan Nissa mau membujuk Ervin," Kino berbicara pada anaknya. Kian mengangguk dan menuruti kemauan ayahnya. Kino keluar kamar dan menuju kembali ke ruang tengah tempat istrinya berada.
***
Frank dan anak buah Dendi sudah berada di gudang produk baru. Mereka berpencar sesuai rencana yang sudah disusun waktu masih berada di perjalanan.
"Jangan sampai kalian terkecoh! Gunakan senjata masing-masing kalau mereka nekat!" Frank berbisik pada mereka sebelum berpencar
Mereka sudah berada di titik yang sudah ditunjuk oleh Frank. Namun sayangnya beberapa orang sudah tergeletak tak sadarkan diri di dalam kontainer yang terbuka.
"Sialan ...." Geram Frank ketika melihatnya.
*
__ADS_1
*
*Bersambung