Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 93 Siasat Roy


__ADS_3

"Ternyata kalian saling mengenal satu sama lain," Clara kembali ke mobil sebelum mereka melihatnya.


Clara seolah tidak peduli apa yang di lakukan oleh sopir barunya. Namun sudut matanya melirik melihat kedatangan Roy yang seperti tengah terburu-buru.


"Maaf non kalau lama, tadi perut sakit banget," Roy yang membuka pintu masih berdiri.


"Cepetan masuk! Kita pulang sekarang!" Perintah Clara.


Roy tersenyum lebar tatkala melihat pantulan wajah Clara yang merengut sambil memegang ponselnya.


Ponsel yang sudah dimodifikasi oleh orang suruhan Dendi agar tidak bisa dihubungi oleh nomor asing yang tak dikenal.


Roy menyeringai licik, dia teringat obrolannya dengan Tania tadi.


Roy POV


Aku hendak menyalakan mesin mobil. Namun, kemunculan seorang wanita yang berjalan sembari menelpon membuatku teringat seseorang.


"Dia, dia Tania," ucapku dalam hati.


Aku ingin memastikan bahwa wanita itu benar-benar Tania. Dengan beralasan pergi ke kamar kecil, aku diijinkan Clara yang memainkan ponselnya.


Aku turun dari mobil dan berjalan tergesa-gesa menyusul Tania yang sudah tidak terlihat lagi. Ku tatap sekeliling area parkir ini. Ada suara yang terdengar, aku mengikuti asal suara dan ternyata itu benar dia.


"Tania!" Panggilku seraya melambaikan tangan padanya.


Aku mendekat padanya, untung saja dia belum masuk mobil. Dia menutup panggilan teleponnya begitu saja.


"Hei ... Kamu Royan yang kemarin ya?!" Tanyanya memastikan.


"Iya, aku melihatmu tadi sepertinya sedang terburu-buru," ucapku sembari menelisik wajahnya.


"Biasalah, urusan bisnis." Sahutnya sumringah.


"Kamu ngapain ada di sini?" Tanyanya heran.


"Anak muda wajarlah pergi ke emall," jawabku tertawa renyah.


Dia tertawa kecil dan meninju dadaku dengan pelan.


"Aku harus memanfaatkan peluang. Situasi saat ini memungkinkan sekali," batinku.


"Aku ingin berbicara denganmu dilain waktu dan tempat. Boleh ya?!" Tanyaku memastikan.


"Astaga jadi kamu menyusulku hanya untuk itu? Kan bisa telpon kapanpun," Tania berdecak sembari menggelengkan kepala.


"Selain itu aku hanya ingin memastikan kalau yang aku lihat benar-benar kamu," Kutatap wajahnya.


"Ya sudah, nanti aku hubungi lagi! Maaf mengganggu waktumu. Aku kembali ke dalam dulu, temanku pasti sedang menunggu," Ku lambaikan tangan setelah pamit padanya. Aku berbohong untuk menutupi keadaan yang sebenarnya.


Aku berlari ke mobil Clara, aku khawatir dia curiga padaku karena telah meninggalkannya agak lama.


Ku lihat dari kaca mobil, dia masih sibuk dengan ponselnya. Seringaiku lebar sekali karena rencana ini pasti berhasil dan akan membuat Ervin sekaligus Clara jera.

__ADS_1


Aku masuk mobil setelah meminta maaf seraya menundukkan kepala. Ya, aku harus berakting sopan di depannya agar wanita itu tidak curiga dengan gerak-gerikku selanjutnya.


Aku menyetir mobil dengan santai, Senja telah turun ke peraduannya. Kami pun tiba di rumah tuan Dendi yang megah.


***


Kediaman Malik


Elisa bersiap untuk pergi ke sebuah pertemuan.


Para orang tua berencana untuk mengajak anak mereka makan bersama di sebuah restoran terkenal di pusat kota. Selesai bersiap, dia hendak ke kamar anaknya.


"Biar aku saja yang memanggil Ervin," Malik menghentikan langkah istrinya.


Kini dia sudah bisa bergerak bebas dan aktif walaupun harus di batasi. Malik melangkah ke kamar ujung tempat dimana kamar anak lelakinya berada.


"Vin! Kita udah siap, ayo lekas keluar!" Panggil Malik mengetok pintu kamar.


"Bentar lagi Pa," pekik anaknya dari dalam kamar.


Ervin mengambil ponsel jadulnya. Dia menaruh ponsel itu pada kantong blazer yang dia kenakan karena ukurannya tak seberapa besar.


"Ayo pa kita berangkat!" Ervin tersenyum simpul.


Elisa yang menunggu di depan anak tangga tersenyum lebar melihat anaknya yang kali ini terlihat tampan, maskulin dan elegan karena pakaian yang dia kenakan.


"Wah, anak mama tambah ganteng kalau bajunya rapi begitu," Elisa mengulurkan tangannya untuk digandeng sang anak.


"Sejak kapan sih Ervin jelek? Kalau jelek nggak akan dapat cewek cantik," ucapnya penuh percaya diri.


"Mas," sergah Elisa.


Dia tidak menyangka kalau suaminya cerewet seperti ini. Apalagi Dendi itu sebenarnya adalah orang yang berjasa mempertemukan mereka. Seandainya Malik menolak pekerjaan tersebut pasti mereka tidak akan pernah bertemu. Namun Malik selalu beranggapan itu semua takdir dan tak ada hubungannya dengan Dendi.


Mereka bertiga terdiam sambil melangkah keluar rumah. Pak sopir sudah menyiapkan mobil mewahnya yang memang di pakai untuk bepergian ke acara penting.


Mereka sekeluarga masuk ke mobil tersebut.


Ponsel Elisa bergetar, dia merogoh tas pesta dan mengambil ponsel itu.


Senyumnya merekah melihat nama di layar ponsel.


"Kenapa sayang?"


["Mam, kalian udah di jalan? Kami baru aja mau berangkat nih."]


"Baru aja keluar dari kompleks. Setengah jam lagi kalau nggak macet kami pasti sampai kok."


["Tunggu Nissa sama Kino ya mam, si kecil lagi rewel tadi. Kalau nggak dibawa nanti eyangnya bisa uring-uringan."] Suara Nissa terkekeh.


"Tentu saja kamu harus membawa mereka. Biar mereka tahu kalau eyangnya kangen," Elisa riang.


["Ya sudah Nissa pergi dulu mam, mas Kino udah siap nih."]

__ADS_1


Nissa memutuskan panggilan telepon.


"Kenapa lagi tuh anak?" Tanya Malik.


"Biasa, riweuh sama anak-anaknya," jawab istrinya.


Jalanan kota malam ini terlihat lebih gemerlap dari pada biasanya. Di kanan kiri pohon yang berada di trotoar terpasang fairy light yang berwarna warni.


"Sepertinya ada festival musik tuan," Pak sopir memperhatikan spanduk besar di depan sana.


"Sepertinya seru nih, mau ah pergi bareng temen-temen," Ervin mengintip dibalik kaca mobil.


Terbersit ide cemerlang di benaknya.


"Pergi saja sana, asalkan selalu ditemani pak sopir," Malik tersenyum puas melihat reaksi Ervin yang seperti orang kecewa.


"Iya pa. Bapak bisa ikutan nonton konser juga kalau mau," ucapnya acuh.


Mereka terdiam setelah Elisa melerai percakapan.


Mobil sudah berada di depan sebuah restoran yang sudah dipesan oleh Malik.


"Kita langsung turun atau menunggu Nissa dulu?" Malik bingung.


"Kita tunggu Nissa di lobi aja mas." Elisa mengajak mereka keluar dari mobil.


Mereka semua keluar dan melangkah beriringan. Ada sepasang mata memperhatikan gerak-gerik keluarga tersebut di dalam mobil


"Lho, itu kan Ervin. Dia ada di sini?" Ucap seseorang itu.


"Kebetulan banget nih," senyum terkembang sempurna.


Dengan cepat orang itu keluar mobil dan merapikan penampilannya agar terlihat lebih menarik.


Ervin duduk di samping ibunya sembari memainkan ponsel baru yang diberikan Malik.


"Malem om, tante," sapanya ramah.


"Kamu kenal kami?" Malik bingung.


"Siapa pa?" Ervin mendongakkan kepalanya.


"Hai Vin! Kamu sudah lupa siapa aku?" Kerlingnya nakal.


"Ihhh," Ervin merinding.


"Memangnya kamu siapa? Aku nggak kenal. Kenapa juga manggil papa dan mamaku dengan panggilan om dan tante," Ervin bergidik ngeri.


"Masak kamu lupa denganku? Apakah aku terlalu cantik karena penambahan make-up ini?" Dia tersenyum lebar.


Ervin melongo mendengar perkataan orang di depannya.


*

__ADS_1


*


*Bersambung


__ADS_2