
"Lepaskan dia!" Salah satu dari mereka mengarahkan pistolnya padaku.
"Sebenarnya siapa kalian? Siapa wanita ini?" Aku tak bisa berkutik.
Mereka menghampiriku dan melihat wanita itu dengan raut wajah yang cemas.
"Hubungi bos secepatnya!" Ucap salah satu dari mereka.
"Hei! Kamu harus pergi bersama kami!" Pria yang berambut pendek mengunci kedua tanganku.
"Apa-apaan ini?" Aku berontak.
"Kamu sudah mencelakai nona kami!" Serunya.
"Lihatlah di dalam toilet!" Seruku tak terima.
Salah satu dari mereka merangsek ke toilet dan melihat seorang pria yang sudah aku kalahkan tadi.
"Sial, dia tunangan nona. Kamu yang menyebabkan ini semua!" Mereka geram padaku.
Aku tak mengerti kenapa aku yang menyelamatkan wanita itu merasa menjadi tersangka.
"Lepaskan aku!" Aku semakin memberontak.
"Bawa mereka ke markas! Jangan sampai pihak kepolisian tahu tentang ini! Perintahkan orang untuk membersihkan area ini!" Ucap pria yang lebih tua dari mereka.
Aku dibawa lewat pintu belakang restoran, tak ada satu pelanggan pun yang tahu bahwa aku di bawa paksa oleh mereka. Mulutku disumpal dengan kain, tanganku terikat erat. Mereka menyuruhku masuk ke dalam mobil hitam. Setelah masuk kepalaku dipukul sampai aku tak sadarkan diri.
Aku memicingkan mata, mengerjapkannya, kulihat sekeliling ruangan. Bau obat menguar dari indra penciumanku.
"Dimana ini?" Tanyaku lemas tak berdaya.
"Maafkan kami! Ternyata kami salah paham terhadapmu," salah satu dari pria yang kulihat di restoran tadi merasa bersalah.
"Kalian sebenarnya siapa? Dimana wanita itu?" Aku mengkhawatirkan keadaannya.
"Nona kami ada di kamar perawatan sebelah. Kamu berada di sini karena luka lebam dan kepala yang sudah dipukul sangat keras," Pria itu merasa tak enak hati. Gelagatnya sungguh tak biasa.
"Duh," kepalaku terasa berat, telinga pun berdenging.
"Ada yang sakit? Nanti saya panggilkan dokter," Dia dengan cepat berlari keluar.
"Sial, kenapa aku malah berakhir di kamar rumah sakit ini? Ibu dan bapak pasti berpikiran yang tidak-tidak tentangku yang tidak pulang ke rumah," batinku menjerit. Tanganku memegang kepala dengan erat.
"Kamu sudah bangun?" Seorang wanita masuk dan menghampiri.
__ADS_1
"Kamu? Kamu tidak apa-apa?" Kuraih lengannya karena merasa khawatir.
"Aku sudah sembuh, tapi kamu malah seperti ini. Terimakasih karena telah menolongku," senyumnya tulus.
"Sebenarnya apa yang terjadi padaku?" Aku mencoba mengingat tapi tetap tidak bisa mengingatnya.
"Bodyguard aku memukulmu sampai pingsan setelah kamu keluar dari mobil. Aku menghentikan mereka yang sudah salah paham terhadapmu," Wanita itu duduk di pinggiran brankar.
"Terimakasih, aku tidak menyangka kalau bodyguard yang seharusnya melindungi kamu malah kecolongan dan menyebabkan kamu ...." Aku tak melanjutkannya, kutatap wajah wanita di hadapanku. Aku takut dia teringat kejadian kemarin.
"Semua ini salahku, aku yang menghindar dari mereka dan bertemu dengan pria dajjal itu," Wanita itu mengepal kuat. Aku meraih tangannya seolah ingin menguatkan dirinya.
"Namaku Dendi," Senyumku mengembang.
Dia membalas genggaman tanganku.
"Aku Diana, dan mereka tadi bodyguard aku sekaligus anak buah Papi," ucapnya.
"Papi kamu kemana? Kenapa kamu malah kemari? Nanti dia pasti mencarimu di kamar," Aku menoleh ke arah pintu masuk.
Diana menggelengkan kepalanya pelan.
"Daddy masih dalam perjalanan pulang. Dia menghadiri rapat penting di Italia," Wanita itu menghela napasnya.
Matanya bulat, hidungnya mancung, bibirnya tipis dan berkulit putih. Aku memandangnya sampai tak berkedip. Walaupun aku tidak begitu tampan, tapi lesung pipi membuatku terlihat lebih manis kalau tersenyum. Selebihnya, badanku tentu saja tidak kalah dengan pria-pria berotot di luar sana. Diana bercerita kalau tunangannya itu sudah di proses di kantor polisi. Aku dan dia harus secepatnya melapor untuk menjadi seorang saksi dan korban. Diana tidak mau melepaskan pria itu, pria itu harus mendekam di penjara walaupun dia anak orang kaya, sama seperti Diana.
Setelah beberapa bulan, kami mulai menjalani hubungan percintaan.
Suatu hari aku diajak olehnya ke rumah mewahnya.
Mataku tak sanggup melihat kemegahan sebuah rumah di depanku ini.
"Apakah penampilanku sudah benar?" Aku ragu tentang setelan jas hitam yang dibelikan oleh Diana.
"Kamu tambah macho bang," Dia menarik tanganku agar masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana ini? Kerjaanku ajah cuma sebagai kurir. Nggak mungkin orang tuanya mau menerimaku," batinku ragu.
"Kok berhenti?" Tanyanya sambil menarik tanganku dengan kasar.
"Abang deg-degan," ucapku jujur.
"Santai aja, pasti papi senang bertemu dengan penyelamat anak satu-satunya," Diana tersenyum lebar.
Aku mengangguk mengiyakan, tapi tetap saja langkahku semakin berat.
__ADS_1
Aku sudah tiba di sebuah ruangan berperabot mahal. Sofanya berwarna putih tulang. Ada pembantu yang sedang menyusun beberapa minuman dan camilan di mejanya.
"Kita duduk dulu bang!" Ajak Diana.
Kami menghenyakkan bokong bersamaan di sofa itu.
"Alamak, empuk amat ini sofa," batinku.
"Bi, panggilin papi ya! Abang Di udah datang," Diana menyuruh pembantunya.
Tak lama, pembantu itu melangkah pergi. Dia melangkah ke lantai dua. Aku mengitari seluruh isi dalam rumah ini. Banyak vas keramik yang tertata rapi di sudut ruangan. Televisinya pun besar berlayar datar.
"Diana," Panggil seorang pria yang bersuara bariton.
Aku menoleh padanya, ku tatap wajah yang sepertinya aku mengenalnya. Tapi entah dimana aku pernah melihatnya. Pria paruh baya itu menatapku tanpa berkedip.
"Kamu? Kamu Dendi kan?" Suara bariton yang sangat familiar.
Aku mengernyitkan kening, sebenarnya siapa pria ini? Raut wajahnya terlihat begitu menahan amarah.
"Papi kenal dengan bang Dendi?" Diana tersenyum cerah.
Wanita itu tidak tahu dengan kondisi kami yang sepertinya sedikit tidak nyaman.
"Tentu saja kenal, dia itu pekerja papi dua tahun lalu. Dan papi menjebloskannya dalam penjara karena kecurangannya," Pria paruh baya itu duduk di sofa.
Seketika kenanganku beralih pada beberapa tahun silam.
"Jadi, anda bos David? Bagaimana mungkin Diana itu anak anda?" Aku kebingungan dan menatap wajah mereka bergantian.
"Iya, Diana anakku. Memangnya kenapa? Ibunya sudah meninggal jadi aku yang mengurusnya," David tidak mau menatap wajahku.
"Papi," Diana mulai menyadari kejanggalan ini.
"Aku membesarkan dia waktu aku berumur belasan tahun. Tak heran walaupun aku masih muda, aku sudah punya anak berumur 20 tahun," Ucapnya santai.
Entah kenapa aku masih menyimpan rasa dendam pada David. Tiba-tiba saja di kepalaku muncul sebuah ide. Ide untuk menghancurkan keluarganya dan perusahaan yang sudah dia bangun hingga sekarang.
"Maafkan saya bos David, saya akan menebus kesalahan yang lama dengan menjadi suami anak anda." Aku berucap mantap.
"Hahaha," David tertawa terbahak-bahak, Pria itu jelas-jelas mengejek.
"Bang Dendi," Diana bersemu merah.
"Tidak segampang itu. Apalagi kamu itu adalah seorang yang sudah aku blacklist. Kamu tidak akan pernah menikah dengan Diana!" Ucapnya tegas.
__ADS_1
"Tapi aku akan ....
*Bersambung