
Suara alarm salah satu mobil yang terparkir di sana.
"Sial, mobilnya siapa sih," batin Ervin dongkol.
Dengan terpaksa dia melepaskan Clara. Dia tidak mau ada orang lain yang menyaksikan kejadian itu.
Clara yang tersadar menampar pipi supirnya dengan keras. Setelah itu dia berjalan cepat masuk ke gedung dan naik lift menuju ke ruangannya.
"Nona," panggil supirnya sambil mengelus pipinya yang nyeri.
"Sudah mencium dua kali, kena gampar dua kali," entah kenapa Ervin malah terkekeh dan tidak marah karena tamparan itu.
Supir itu tidak tahu bahwa ada orang yang tengah mengikuti mereka.
Setelah selesai dengan angannya, Ervin melangkah masuk dan berjaga di luar ruangan majikannya.
Beberapa jam sudah berlalu. Ada seorang wanita paruh baya yang memanggil sekretaris Clara. Mereka berbincang sambil berjalan menjauh.
"Kenapa nyonya kemari? Apakah sekretaris itu anggota keluarganya? Sepertinya mereka sering bertemu dan berbincang," supir itu merasa heran.
Jam makan siang sudah tiba. Ervin mengetuk pintu ruangan Clara, membukanya. Kepalanya menyembul dan menanyakan perihal makan siangnya. Namun sayangnya Clara tidak menyahut perkataan supirnya. Wanita itu masih merasa kesal. Ervin menutup kembali pintu itu dan berbalik arah.
"Ngapain kamu dengan Clara di parkiran tadi pagi?" suara seseorang membuat perhatian Ervin teralihkan.
"Memangnya kenapa? memangnya salah kalau saya mencium orang yang saya suka?" Ervin mulai berani.
Dia tidak mau dilecehkan oleh orang di depannya.
"Aku pikir kamu mudah dimanfaatkan, tapi ternyata kamu suka sama Clara Gadis tengil itu," tangannya bersedekap. Matanya menatap Ervin dengan nyalang.
"Iya Nyonya, benar sekali kalau saya memang menyukai nona. Jadi nyonya jangan dekati saya lagi. Saya risih dengan itu," Ervin bergidik.
"Lihat saja nanti apa kata suamiku, dia tidak akan mau punya calon mantu supir seperti kamu," tunjuknya pada Ervin.
"Benarkah? kalau begitu aku akan berusaha lebih keras lagi agar aku tidak menjadi supir selamanya," sahut Ervin enteng.
"Padahal aku sudah tahu kalau dia anak orang kaya," batin nyonya besar.
"Wanita tua itu gak tau aja kalau aku anak orang kaya," batin Ervin yang merasa bangga.
"Kamu mau bekerjasama denganku? Aku akan membuatmu lebih kaya dari sebelumnya," Wanita paruh baya tersebut mencoba membujuk Ervin agar mau bersekongkol dengannya.
"Maaf saya tidak tertarik nyonya," Pria itu meninggalkan majikannya begitu saja.
Ervin kehilangan rasa hormatnya setelah tahu sifat majikannya seperti apa.
Pria itu tidak tahu bahwa ada seorang wanita yang tengah tersenyum lebar di balik pintu ruangannya.
"Ternyata dia benar-benar suka padaku," Clara berkata lirih.
__ADS_1
Senyumnya terkembang sempurna. Hatinya terasa hangat. Sudah lama dia tidak merasakan rasanya jatuh cinta.
"Tapi tunggu dulu, kenapa perasaanku tidak karuan begini? Aku jatuh cinta pada supir itu?" Dia menutup mulutnya setelah mengatakan itu.
"Tidak, tidak mungkin. Apa bagusnya supir itu?" Dia menolak dengan logika yang ada.
Clara mondar-mandir dalam ruangannya. Tanpa dia sadari perutnya sudah berbunyi minta diisi, namun dia tidak peduli dengan rasa lapar yang mendera.
Suara gagang pintu yang bergerak pun tidak dia pedulikan atau memang dia terlalu fokus pada pikirannya.
"Nona, ini saya bawakan makan siang Anda," Ervin berjalan dan meletakkan bungkusan plastik di atas meja kerja Clara.
"Lho kamu kenapa bisa masuk?" Clara heran.
"Pintunya kan tidak dikunci Non, jelas aja saya bisa masuk," sahut Ervin terkekeh.
"Kamu ngetawain aku ya?" Nona mudanya berkacak pinggang.
Matanya melotot tajam ke arah Ervin.
Ervin menggelengkan kepalanya. Pria itu malah meraih tangan Clara dan menariknya pelan.
"Sebaiknya nona makan siang dulu sebelum aku suapin. Sudah aku belikan makanan kesukaan nona lho," ucapnya sambil menuntun majikannya menuju meja kerja.
"Jadi kamu masuk ke sini karena makanan itu?" Clara heran.
Dia ternyata tidak sadar bahwa Ervin telah meletakkan makanan di atas meja kerja.
"Hem, begitulah. Terlalu banyak pekerjaan jadi banyak pikiran deh," Dia duduk di atas kursi kebesarannya.
"Mau saya suapin atau tidak non?" tawar Ervin sambil tersenyum.
"Lumayan bisa megang-megang," batinnya bergembira.
"Kamu keluar saja! Aku akan memanggilmu kembali kalau memang ada yang aku butuhkan," sikap Clara mulai dingin lagi.
"Baiklah nona," Ervin permisi dan keluar dari ruangan kerja majikannya.
Clara menghela napasnya dengan lega. Dia sedari tadi berjuang menahan detak jantungnya yang tidak karuan.
"Clara hentikanlah semua ini. Jantung, seharusnya tidak berdebar seperti ini," Clara memegang dada sebelah kiri.
Senyum Ervin di balik pintu merekah. Dia mendengar ucapan Clara di dalam ruangannya.
"Sebentar lagi semua ini akan berakhir, kamu akan menjadi milikku," gumamnya.
"Ngapain kamu di sana sambil senyam-senyum? Kamu sudah gila ya?" seorang wanita bersedekap.
Wanita itu duduk di tempatnya semula setelah berada di sana.
__ADS_1
"Saya hanya teringat kejadian lucu, itu saja tidak lebih," Ervin berkata datar.
Supir itu kembali ke tempatnya semula dan duduk dengan nyaman.
***
Tuan D duduk dengan gelisah, dia ingin mengakhiri semua ini. Dia tidak mau anaknya menjadi korban dari istrinya yang hanya memanfaatkan dirinya selama ini. Sebulan terakhir semenjak anaknya keracunan dia selalu menyuruh salah satu anak buahnya agar mengikuti kemanapun istrinya pergi.
Dering suara smartphone mengalihkan perhatiannya.
["Bos, nyonya sekarang berada di perusahaan. Dia ternyata sering berbincang dengan sekretaris Nona Clara. Saya sudah mengecek semua CCTV yang terpasang. Mereka sepertinya merencanakan sesuatu,"]
Suara di seberang membuat tuan D menggeram. Tangannya mengepal sampai uratnya menyembul.
Emosi mulai membuncah di dadanya.
"Apalagi yang dia rencanakan? Aku sudah bersabar menghadapi tingkah lakunya selama ini," geramnya.
["Saya akan menyelidiki semuanya bos. Nanti sore saya akan mengikuti sekertaris nona,"]
"Kamu harus mendapatkan informasi itu. Provokasi sekertaris itu. Kalau dia perlu uang aku akan berikan asalkan dia mau buka mulut!" Rahang tuan D mengeras.
["Baiklah bos, saya akan berusaha untuk mendapatkan informasi tentangnya dan nyonya,"]
Panggilan terputus. Tuan D menormalkan kembali emosinya. Dia harus melindungi Clara dan perusahaan dari kelicikan istrinya.
"Aku harus menghentikan semua rencana Firda sebelum semuanya terlambat," tuan D meraup wajahnya. Punggungnya bersandar pada sofa, matanya nanar mengingat Diana mantan istri yang sudah tiada.
"Diana, maafkan aku," ucapnya lirih. Terdengar jelas nada penyesalan dalam suaranya.
"Firda ternyata lebih licik," gumamnya.
Suara langkah seseorang terdengar, tuan D menoleh ke asal suara. Dirinya melihat seorang pria paruh baya yang ia percaya.
"Bagaimana? apa kesimpulan kamu?" tanyanya.
Tuan D beranjak dari tempat duduknya, dia berdiri di hadapan anak buahnya itu.
"Saya tidak tahu ini berita baik atau tidak tuan. Tapi, sepertinya saya harus memberikan informasi ini pada tuan seakurat mungkin," jawabnya jujur.
"Baiklah katakan sekarang juga!" tuan D menatap wajah anak buahnya.
Pria di depannya itu merogoh kantong dan mengeluarkan ponselnya. Dia menunjukkan sebuah rekaman pada tuan D.
Reaksi tuan D sungguh terkejut.
"Apa-apaan ini?" dia mengambil alih ponsel itu.
*
__ADS_1
*
*Bersambung